
Tiap-tiap orang pasti punya masalalu. Masalalu Malik yang belum di ketahui oleh Hanifa, karena Malik yang memang tidak mau menceritakan, mengingat dan mengungkit, ternyata berakibat fatal. Ia berpikir tidak akan terjadi apa-apa kedepannya karena itu hanya masalalu, masalalu yang tidak disengaja dan sudah ia lupakan. Tapi ternyata tanpa di duga malah membuat rumah tangga yang baru dibina seumur jagung harus melewati sebuah ujian karena kehadiran sosok wanita masalalu. Bagaimana Hanifa menyikapi tentang masalalu sang suami? Apakah dia akan marah, kecewa, dan protes? Atau apakah Hanifa akan bersikap lapang dada dan menyikapi semua dengan santai.
***
Namanya Shanum Ambarwati, putri tunggal seorang pengusaha sukses asal Indonesia, tapi selama beberapa tahun terakhir mereka menetap di negeri jiran Malaysia. Dia cantik, memiliki postur tubuh tinggi langsing, rambut panjang bewarna hitam bergelombang, kulit putih, matanya bulat bewarna kecoklatan dan hidung nya mancung pas. Bisa di bilang dia gadis yang sempurna, selain cantik dia juga pintar.
''Enak sekali dia berbahagia dengan wanita nya, sedangkan aku sudah lama sekali merindu, berharap dia datang menemui ku dan melamar ku segera.'' gumam Shanum dengan mata berkaca-kaca saat dia melihat vidio di ponsel mahalnya, video pernikahan Malik dan Hanifa.
''Sepertinya aku harus mengingatkan dia kembali tentang siapa aku. Aku adalah wanita yang pernah ia renggut keperawanan, wanita yang tulus mencintai, tapi ia malah menghilang saat aku berjuang melawan maut karena ulahnya.'' gumam Shanum lagi. Setelah itu ia mulai mencari tahu tentang siapa Hanifa, mencari tahu nomor ponsel Malik saat ini dari orang-orang suruhan nya. Baginya yang bergelimang harta, tidak sulit melakukan itu semua. Malam itu setelah mendapat nomor Malik, ia meluncurkan aksinya, ia mengirimkan beberapa foto masalalu dirinya dan Malik, foto yang masih ia simpan, foto saat mereka saling mendekap dan bercumbu mesra.
***
Shanum duduk di dalam mobil sambil mengamati keadaan sekitar butik, setelah beberapa kali ia mendapat penolakan dan makian dari Malik melalui sambungan telepon, akhirnya sekarang ia benar-benar nekat untuk menemui Hanifa secara langsung.
''Akan aku lihat secara langsung wanita yang berhasil mencuri hatimu yang dingin lagi keras itu. Seperti apa rupanya? Hah ... Janda. Janda beranak satu. Janda dikhianati suaminya karena seorang wanita yang lebih kaya. Malik, selera mu benar-benar rendah.'' gumam Shanum tersenyum getir. Setelah itu ia bersiap keluar dari mobil mewah miliknya. Tidak jauh dari mobilnya, tiga buah mobil anak buah yang mengikuti nya terus was-was mengamati, memastikan sang Nona baik-baik saja dan rencananya berjalan semestinya tanpa adanya hambatan.
Shanum menginjakkan kaki di atas lantai semen, kakinya yang dibaluti sepatu hak tinggi nampak sangat elegan. Ia memutari pandangannya, lalu melangkah maju masuk ke dalam butik. Setibanya di dalam butik, ia pura-pura bersikap seperti seorang pengunjung yang hendak membeli pakaian. Ia memilih-milih dengan menyingkap beberapa gamis dan gaun.
Sementara itu, di kantor. Lagi-lagi Malik merasa amat murka setelah mendapat laporan dari orang suruhan nya.
[Maaf Tuan. Sepertinya kami tidak bisa menghentikan wanita itu. Jumlah orang suruhannya jauh lebih banyak dibandingkan kami. Mereka terus saja mengawasi wanita itu, mereka semua rata-rata memiliki postur tubuh tinggi tegap dan kekar berotot. Selain itu ada juga yang memegang pistol. Sekali lagi maafkan kami Tuan.] setelah membaca pesan itu, Malik melangkah keluar dari ruangan nya, ia akan menyusul Hanifa ke butik. Abdillah yang melihat Malik berjalan begitu tergesa-gesa ikut mengejar langkah sang ipar.
''Apa yang terjadi?'' tanya Abdillah.
__ADS_1
''Seseorang sedang berusaha merusak hubungan aku dan Hanifa.''
''Siapa? Aku tidak mengerti.''
''Ikutlah. Nanti kamu juga akan mengerti, maaf karena selama ini aku tidak menceritakan apa-apa tentang masalalu ku kepada kamu dan Hanifa.'' balas Malik sambil menutup pintu mobil keras.
''Baiklah.'' Abdillah juga masuk duduk di samping Malik. Malik mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Dia takut terlambat. ''Kenapa tidak tadi malam saja aku menceritakan tentang masalalu aku dan Shanum kepada Hanifa. Kalau sudah begini, bisa-bisa Hanifa kecewa kepada. Ah ... Kurang ajar Shanum!'' batin Malik sambil memukul setir. Abdillah yang melihat hanya mampu diam dengan rasa penasaran.
***
''Maaf, bisa saya bertemu dengan wanita yang bernama Hanifa?'' ucap Shanum. Sekarang dia telah berdiri di depan meja kasir, di depan Hamidah. Hamidah menatap Shanum seraya tersenyum simpul. Hamidah memindai penampilan Shanum yang begitu elegan dengan tas mahal berada di pundaknya, Hamidah lalu menjawab. ''Maaf, kamu siapa?'' tanya Hamidah. ''Rasanya aku belum pernah melihat kamu di sini.'' sambung Hamidah. Wajah Shanum yang putih mendadak memerah mendengar ucapan Hamidah. Ia tidak suka basa-basi.
''Aku kesini ingin bertemu Hanifa. Aku ingin mengajak nya bekerja sama perihal butik ini.'' ucap Shanum masih dengan gayanya yang elegan. Hamidah mengangguk kecil, lalu mengantarkan Shanum ke depan pintu ruangan Hanifa.
''Iya.'' jawab Shanum angkuh. Setelah itu Hamidah kembali ke meja kasir. Shanum mengetuk pintu beberapa kali sembari mengucap sallam. Hanifa yang sedang menggambar pakaian wanita model terbaru merasa keget. Ia meletakkan pensil di atas buku secara asal lalu bersuara.
''Masuk.''
Tidak lama setelah itu terdengar suara pintu di buka. Shanum melangkahkan kaki, lalu berjalan menghampiri Hanifa. Ia duduk di kursi yang ada di hadapan Hanifa. Hanifa menatap Shanum dengan mata menyipit.
''Em ... Kamu siapa, ya?'' tanya Hanifa. Ia heran melihat wanita cantik yang tidak ia kenali telah duduk di hadapannya. Ia juga telah lupa sama pesan sang suami yang meminta agar ia jangan bertemu sama wanita yang tidak ia kenal. Tapi Hanifa juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena sekarang tanpa di duga wanita itu sudah duduk di hadapannya.
''Perkenalkan nama ku Shanum.'' Shanum menjulurkan tangannya. Hanifa menyambut nya cepat.
__ADS_1
''Shanum?'' tanya Hanifa lagi.
''Iya Hanifa.''
''Kau mengenali aku?''
''Oh ... Tentu saja. Kau 'kan wanita yang pernah viral waktu itu. Kau wanita yang menangis dengan memakai kostum badut karena dikhianati oleh suami mu.'' ucap Shanum santai tersenyum sinis. Ia sengaja menyindir Hanifa. Sedangkan Hanifa merasa ada yang tidak beres. Seketika ia merasa tidak suka melihat gaya Shanum yang angkuh dan tidak ada sopan-sopan nya sama sekali.
''Apa mau mu menemui aku?'' tanya Hanifa to the point.
''Hanifa, aku mau tanya, cantikan aku atau kamu?'' ucap Shanum, lalu ia berdiri ia berjalan memutari tubuh Hanifa yang masih duduk di kursinya.
''Aku tidak mengerti sama arah pembicaraan mu. Semua wanita cantik, tapi akan lebih cantik lagi kalau dibarengi dengan sikap sopan santun dan tutur kata yang lembut.''
''Hah ... Sok bijak sekali kamu. Apa dengan cara itu kau meracuni dan memikat Malik?''
''Kenapa kau bawa-bawa nama suamiku?'' nada Hanifa meninggi.
''Karena aku adalah ....''
Bersambung.
Like, komen, ya. Insyaallah hari ini kita dobel update.
__ADS_1