
Malam hari, di dalam kamar yang luas nampak kelopak bunga mawar merah bertaburan di sprai bewarna putih, kamar yang masih begitu khas seperti kamar pengantin baru, Sarah selalu rutin meminta pelayan untuk membersihkan kamar Hanifa dan Malik setiap harinya. Tidak tertinggal ia meminta agar pelayan rutin menabur kelopak bunga mawar merah terkadang mawar putih, agar suasana romantis selalu tercipta di kamar itu. Semua itu ia lakukan agar sang menantu bisa segera hamil, agar ia segera mendapatkan seorang cucu, agar rumah mewah dan megah yang mereka huni terdengar ramai dengan suara anak-anak, agar Arif segera punya teman. Harapan Sarah begitu dalam.
Di kamar yang wangi itu, suasana kaku tercipta antara Malik dan Hanifa. Mereka sholat berjamaah bersama, masih melakukan kebiasaan bersama, tapi mulut keduanya seakan terkunci. Malik tetap memandang sang istri dengan penuh cinta selama berada di kamar, tapi Hanifa selalu berusaha menghindar tiap kali Malik hendak menyentuh dan melihatnya dari jarak dekat. Mata Hanifa terlihat sembab, bekas-bekas tangis tadi siang masih tergurat jelas di wajah cantiknya. Malik pun sama, matanya juga sembab, tapi hanya sedikit. Selama ia berada di ruangan Hanifa tadi, ia terus berpikir mencari solusi menyelesaikan masalah yang tengah di hadapinya tanpa harus menikahi Shanum. Lalu disela-sela pikiran nya itu ia juga mengeluarkan air mata, ia merasa amat bersalah karena telah membuat sang istri menangis karena kecewa, sedangkan janji nya dulu sebelum menikahi Hanifa, ia berjanji akan selalu membuat wanita yang di cintainya merasa bahagia. Itu untuk pertama kalinya Malik menangis karena seorang wanita. Sekarang jelas sudah, bahwa perasaan cinta, sayang yang ia punya begitulah besar untuk Hanifa.
''Sayang.'' panggil Malik lembut. Hanifa berbaring di ranjang dengan tubuh membelakangi Malik. Malik duduk di pinggir kasur. Hanifa tetap diam tak merespon. Hanya tarikan nafasnya yang terdengar menderu tak beraturan.
''Maaf yangg. Kamu jangan bersikap seperti ini sama, Mas. Mas tidak kuat yangg ...'' ucap Malik lagi terdengar bergetar, ia masih berusaha membujuk Hanifa. Tapi ia tidak berani menyentuh sang istri, ia takut Hanifa malah semakin marah kepadanya. Beberapa menit setelah Malik berkata seperti itu, Hanifa masih enggan bersuara. Lalu tidak lama setelah itu terdengar pintu kamar di ketuk dari luar.
''Bunda, Papa, cepat keluar dari kamar. Oma udah nunggu di bawah, mari kita makan malam sama-sama.'' teriak Arif. Begitu Hanifa mendengar suara sang putra, ia langsung bangkit dari kasur lalu berjalan kearah pintu. Malik mengekorinya dari belakang.
''Ayo, Sayang.'' ucap Hanifa begitu pintu ia buka. Ia menggendong tubuh Arif. Mereka berjalan menuju lantai bawah. Malik tersenyum kecil mendengar sang istri bersuara. Meskipun suaranya itu bukan untuknya.
Saat sudah sampai di meja makan, Sarah memandang sang menantu dengan begitu intens, ia melihat ada yang berbeda pada wajah ayu sang menantu, Hanifa hanya mampu menundukkan kepala saat sadar sang mertua tengah menatapnya. Setelah itu Sarah melihat ke arah Malik. Malik lalu menyengir kecil. ''Apaan sih, Ma. Lihatnya kok gitu amat.'' ujar Malik berusaha bersikap santai. Ia tidak mau sang Mama mengetahui masalah yang tengah ia hadapi. Abdillah yang duduk di samping Sarah juga berusaha bersikap sesantai mungkin. Setelah itu Hanifa mulai menggerakkan tangannya, ia memasukkan nasi ke piring sang suami, memasukkan lauk seperti biasa. Ia juga tidak mau sang mertua sampai tahu masalah mereka. Sudah pasti, kalau sang mertua mengetahui masalah yang tengah mereka hadapi, pasti menjadi beban pikiran bagi Sarah. Ia takut sang mertua yang tidak lagi muda jatuh sakit karena memikirkan ulah masalalu sang putra semata wayang yang sungguh memalukan.
''Terimakasih yangg.'' ucap Malik ketika Hanifa sudah selesai memasukkan nasi, Malik tersenyum senang ke arah Hanifa. Mereka bersikap seperti biasa untuk menghargai Sarah. Sarah masih saja melihat sepasang pengantin baru itu lekat. Ia seperti tengah menyelidiki sesuatu.
''Iya. Sama-sama, Mas.'' balas Hanifa lembut, volume suaranya terdengar begitu kecil.
Setelah itu mereka makan malam bersama. Sepanjang makan malam tidak ada yang bersuara, hanya suara denting sendok beradu dengan piring sesekali terdengar.
Hamidah telah menginap di butik bersama beberapa orang karyawan, karena pada malam hari butik masih tetap buka. Akan di tutup saat jam sepuluh malam.
''Aku sudah selesai.'' seru Arif riang. Piring nya telah kosong, hanya tersisa beberapa butir nasi dan tulang ayam. Ia lalu lanjut meneguk segelas susu.
__ADS_1
''Cucu Oma pintar sekali.'' puji Sarah sambil menghapus sedikit sisa-sisa makanan di bibir Arif menggunakan sapu tangan. Sarah lalu melihat ke arah piring Hanifa. Hanifa hanya makan sedikit saja. Ia semakin curiga kalau Hanifa tidak sedang baik-baik saja.
''Hanifa, kenapa makanannya tidak kamu makan, Nak?'' tanya Sarah lembut.
''Em ... Aku tidak berselera, Ma.'' jawab Hanifa sekenanya.
''Apa kamu merasa mual?''
''Apa?'' jawab Hanifa repleks sambil menggeleng. Ia bingung mendengar pertanyaan sang mertua.
''Wajahmu terlihat sedikit pucat. Apa jangan-jangan kamu ha ....'' lanjut Sarah penuh harap dengan wajah sumringah. Hanifa tiba-tiba memotong ucapan sang mertua.
''Sepertinya tidak, Ma.'' jawab Hanifa. Malik dan Abdillah tersenyum mendengar obrolan Sarah dan Hanifa.
''Malik, kamu jadi suami peka dikit kenapa.'' lanjutnya lagi.
''Istriku belum hamil, Ma. Nggak mungkin secepat ini. Lagian kami menikah baru memasuki dua minggu lamanya.'' sahut Malik ia tersenyum hangat menatap Hanifa. Sedangkan Hanifa mendadak wajahnya merona.
''Ya sudah, terserah kalian aja deh. Tapi Mama mau nanya, itu, mata kamu kenapa sembab gitu, Sayang? Apa kamu habis menangis? Apa Malik menyakiti mu?'' tanya Sarah beruntun sambil menatap Hanifa lekat. Hanifa mendadak salah tingkah mendengar pertanyaan sang mertua. Wajah Malik yang tampan juga sedikit menegang.
''Iya, aku tadi emang habis nangis kejer, Ma.'' balas Hanifa dengan disertai anggukan kecil. Abdillah dan Malik makin menegang mendengar pengakuan Hanifa. Mereka takut Hanifa akan menceritakan semuanya kepada Sarah.
''Kenapa, Hanifa?'' tanya Sarah. Lalu ia melotot melihat Malik. ''Malik, kamu apakan istri mu?''
__ADS_1
''Em ... Aku, ak ...'' Malik sedikit tergagap. Hanifa kemudian bersuara.
''Aku nangis bukan karena Mas Malik, Ma. Aku nangis karena habis baca novel, novel nya sedih banget. Novel itu menceritakan seorang wanita masalalu sang suami yang tiba-tiba masuk diantara sepasang suami istri yang baru menikah. Lalu ...'' ujar Hanifa. Malik sedikit lega mendengar ucapan sang istri. Lalu Abdillah memotong kata-kata yang hendak dilanjutkan Hanifa.
''Hanifa, kamu tidak boleh baca novel yang begitu, Dek. Carilah novel yang bisa membuat mu tersenyum bahagia. Jangan yang sedih-sedih gitu. Biar mood mu selalu baik.'' titah Abdillah ikut meluruskan perkataan Hanifa.
''Iya, tapi aku 'kan juga merasa penasaran Mas pengen tahu endingnya, aku pengen tahu bagaimana sepasang suami istri itu melewati cobaan yang tiba-tiba datang menerpa.'' balas Hanifa. Malik tersenyum mendengar penuturan sang istri. Ia merasa Hanifa telah memberi tanda-tanda akan memaafkan nya.
''Duh, Mama kira Malik yang telah menyakiti mu. Ya sudah, baca novelnya dilanjutkan lagi, ya, Sayang. Kalau sudah selesai baca sampai ke ending nya cerita kan lagi sama, Mama. Mama juga pengen tahu.''
''Aa ... Siap, Ma.'' jawab Hanifa.
''Ya sudah, makanan nya di habiskan, ya. Nanti kamu sakit lagi,'' pesan Sarah. Lalu Sarah berlalu dari meja makan dengan Arif di gandeng nya.
''Mas senang melihat kalian seperti ini. Hadapi masalah sama-sama. Ingat, pernikahan kalian itu belum ada seumur jagung. Jangan pernah berpikir untuk berpisah barang sedikitpun.'' tutur Abdillah sedikit memberi nasihat usai kepergian Sarah. Mereka bertiga masih duduk di meja makan.
''Iya, Sayang. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh lagi. Dan jangan banyak pikiran. Masalah Shanum biar Mas dan Mas Abdillah yang selesai kan.'' ucap Malik, ia berkata seraya melihat Hanifa.
''Tapi aku merasa kasihan sama Shanum. Ia pasti amat terluka karena perbuatan mu dulu.'' balas Hanifa. Lalu ia pergi begitu saja dari meja makan. Tiap kali membahas Shanum, ia merasa tidak kuat. Karena menurutnya saat ini hanya ada dua pilihan untuk menyelesaikan masalah Malik dan Shanum, yang pertama kalau Malik tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Shanum, sudah pasti Shanum akan menyebarkan foto-foto mesra antara Malik dan Shanum ke media sosial. Dan tentu setelah itu akibatnya akan fatal dan urusannya akan semakin panjang. Yang kedua, kalau Malik bersedia bertanggungjawab sudah pasti jalan satu-satunya adalah Malik dan Shanum akan menikah. Lalu Hanifa? Ia tidak mau di madu.
''Sudah, biarkan dia sendiri dulu. Hanifa memang begitu orangnya, dia itu masih terlalu polos dan gampang kasihan sama seseorang. Dia belum begitu mengenal dunia luar. Tadi aku sudah memerintahkan orang suruhan kita untuk mengambil ponsel milik Shanum secara diam-diam di hotel tempat dia menginap sekarang. Aku juga memerintahkan orang suruhan kita yang ada di Malaysia untuk mengambil leptop milik Shanum secara diam-diam di rumah orangtuanya. Aku yakin Shanum pasti juga menyimpan foto-foto itu di leptopnya sebagai cadangan.'' tutur Abdillah. Malik manggut-manggut mendengarkannya.
''Terimakasih Abdillah, karena kamu sudah bersedia membantu. Aku tidak sebrengsek itu. Aku menghindari Shanum selama beberapa tahun ini ada sebabnya, aku bukan pria bodoh yang gampang dia kibulin. Aku hanya tidak mau banyak bicara, aku merasa muak dengan ulah gilanya.'' ucap Malik sungguh-sungguh. Ia seperti tengah menerawang ke masalalu.
__ADS_1
Bersambung.