
Aku melangkahkan kaki keluar dari perusahaan, dengan Vira berada di sampingku. Beberapa orang karyawan yang kami lewati sedikit menunduk dengan wajah tersenyum simpul, aku pun membalas dengan senyuman yang sama.
Aku dan Vira akan makan siang bersama di luar, perlahan aku akan mulai mendekati Vira. Belajar mencintai seorang wanita dengan pilihan hatiku sendiri, tanpa paksaan apalagi perjodohan. Selama ini aku sama sekali tidak pernah benar-benar suka sama yang namanya kaum Hawa. Dulu, saat zaman-zaman sekolah, aku pernah menaruh hati dan merasa kagum sama seorang wanita yang paling cantik dan pintar di kelas, tapi hanya sebatas kekaguman biasa, tidak aku ungkapkan dan rasa itu terhapus sendiri seiring berjalannya waktu. Jujur, aku belum pernah pacaran. Rasa trauma saat melihat Mama sering menangis karena cinta, membuat ku urung untuk bermain cinta.
Vira sudah mengetahui tentang status aku, tentang aku yang telah memiliki istri. Tapi, saat aku mengajaknya makan di restoran, ia menerima ajakan ku dengan begitu antusias, matanya berbinar bahagia. Kentara sekali kalau ia benar-benar menaruh hati padaku.
***
''Terimakasih, ya, Pak. Karena Bapak sudah mentraktir aku.'' ucap Vira tersenyum simpul, aku lihat wajahnya merona. Makanan yang kami pesan sudah terhidang sempurna di meja.
''Iya, ayo makan.'' balasku. Lalu aku dan Vira mulai menyantap makanan. Saat aku sedang makan, tiba-tiba ponsel yang ada di saku celanaku berdering, aku mengambilnya cepat, lalu melihat ke layar ponsel. Di sana tampak nama Intan tertera, Intan tidak melakukan panggilan, tapi ia hanya mengirimkan beberapa pesan.
[Mas, jangan lupa makan siang, ya.]
[Aku juga lagi makan siang ini.]
[Baik-baik, ya, saat bekerja.]
[Sampai ketemu lagi di rumah.]
Aku membaca pesan yang dikirim Intan dengan menghembus nafas kasar. Aku tak mambalasnya, aku kembali menyimpan ponselku ke saku celana. Vira menatap ku heran, mungkin ia merasa penasaran siapa sang pengirim pesan. Tapi ia tak berani banyak bertanya, ia seperti masih sungkan dengan ku. Karena memang selama ini saat di kantor aku selalu bersikap dingin dan berbicara seperlunya saja sama bawahan.
***
__ADS_1
Sore harinya sekitar pukul empat, aku pulang kerumah, rumah yang di huni oleh Intan. Iya, hari ini aku memilih pulang tepat waktu. Sengaja, perlahan aku ingin membuat Intan mencintai aku dan percaya sepenuhnya terhadap diriku, saat ia benar-benar sudah merasa nyaman dan bergantung padaku, aku akan menghempaskan nya, meninggalkan nya begitu saja. Aku akan mengenalkan Vira kepadanya, mengatakan bahwa Vira adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Aku yakin, ia pasti akan merasa terluka, merasa sakit hati. Aku harus membalas rasa sakit hati Mama karena ulah Mamanya dulu. Aku harap rencana ku ini bisa berjalan dengan sempurna tanpa melibatkan perasaan. Jangan sampai aku menyukai Intan.
Jahat? Aku tidak jahat, hanya saja hatiku masih belum bisa menerima Intan. Menerima wanita yang berasal dari keturunan wanita yang pernah merampas kebahagiaan masa kecil ku. Menerima pernikahan yang terjadi karena permintaan Mama dan permohonan Papa, pernikahan yang terjadi tanpa dilandasi rasa cinta, tapi terjadi hanya karena paksaan dan rasa kasihan semata. Hanya ada dendam dan bayang-bayang masalalu bila aku terus hidup serumah bersama Intan.
Untuk urusan anak, jangan tanyakan itu. Aku tak berniat sama sekali ingin punya anak dari Intan, aku tak mau melukai malaikat kecil yang belum mengerti apa-apa karena keegoisan orang tua. Seperti yang aku alami dulu. Jangankan punya anak dari Intan, menyentuh Intan saja rasanya aku malas.
Intan adalah wanita yang cantik, bahkan menurut ku dia lebih cantik dari Vira. Aku tidak percaya selama ini dia tidak pernah pacaran dan dekat dengan pria lain, itu sungguh mustahil menurut ku. Saat berada di hadapan ku, mungkin Intan hanya pura-pura menjadi wanita polos, lugu, penurut dan penyabar. Aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya, dan seberapa banyak pria yang sudah menjadi mantan pacarnya.
***
''Mas, tumben pulang cepat,'' sapa Intan saat aku baru menginjakkan kaki di ruang keluarga. Di sana Intan sedang duduk di sofa sembari menyaksikan televisi yang menyala. Saat melihat kedatanganku, ia berdiri cepat, lalu menghampiri aku, ia menyalami tanganku dan mencium punggung tanganku. Akupun dengan sedikit ragu mengelus pucuk kepalanya, saat aku mengelus pucuk kepalanya, Intan menatapku lekat dengan mata sedikit melotot, mungkin ia merasa kaget atas apa yang aku lakukan.
''Kenapa? Tidak boleh?'' tanyaku.
''Mm bo boleh, Mas.'' balas Intan dengan wajah merona, ia terlihat salah tingkah.
''Iya, Mas.''
Kami berjalan dengan saling berdampingan menuju lantai atas, aroma parfum Intan menguar menusuk indra, Intan sepertinya juga baru pulang. Karena ia masih memakai pakaian formal.
Setibanya di dalam kamar, perlahan aku melepaskan jas, Intan membantu aku mengambil jas dari tangan lalu menggantungnya di hanger, begitu juga dirinya, ia juga melepas jas nya.
''Mas, kamu mandi aja duluan, ya.'' ucapnya lembut.
__ADS_1
''Iya.'' jawabku seraya melepaskan sepatu. Setelah itu aku berjalan ke kamar mandi dengan membawa handuk bewarna putih. Saat aku hendak membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba Intan bersuara lagi.
''Mas, kalau kamu bersedia, nanti malam aku mau mengajak mu untuk menjenguk Papa. Kasihan Papa, sesekali Papa siuman dan selalu dirimu yang ia tanyakan, Mas.''
''Baiklah.'' balasku dengan berat hati. Terpaksa.
Setibanya di dalam kamar mandi, aku melepaskan satu persatu pakaian yang menutupi tubuh, setelah semua pakaianku tertanggal, aku menghidupi shower lalu aku berdiri di bawahnya, kucuran air begitu deras perlahan membasahi rambut serta tubuhku, aku begitu menikmati sensasi dingin dari setiap tetes air yang menerpa kulit. Pikiranku menerawang, menduga-duga apa yang akan terjadi nanti saat aku melihat si tua bangka yang tak bertanggung jawab itu, si tua bangka yang menyebut dirinya sebagai Papa ku saat aku sudah bisa berdiri sendiri tanpa perlu uluran tangannya lagi. Kenapa baru sekarang? Kemana dia saat aku butuh?!
Argh!
Aku meninju dinding kamar mandi, hingga buku tanganku sedikit mengeluarkan darah.
***
Setelah selesai mandi, aku mengambil handuk, melilit di pinggang ku serta menyugar rambut yang basah. Sekarang tubuhku terasa begitu segar. Aku keluar dari kamar mandi, aku lihat Intan duduk di atas tempat tidur dengan pakaian yang telah berganti, kini ia hanya memakai piyama. Aku rasa ia tak mendengar suara tinjauan ku tadi, karena bunyi air yang jatuh dari shower lebih berisik dan dominan.
''Sudah, sekarang kamu lagi yang mandi, nanti keburu malam. Nggak bagus untuk kesehatan.'' ucapku. Aku lihat Intan sedikit tertegun. Entah karena apa, apa karena mendengar suaraku atau karena melihat aku yang bertelanjang dada. Karena ini kali pertamanya aku bertelanjang dada di depannya.
Intan mengangguk cepat, lalu ia berjalan ke kamar mandi dengan sedikit terburu-buru. Hingga tanpa ia sadari ia menabrak pintu kamar mandi.
''Aduh!'' seru Intan memegang keningnya. ''Aku tak apa-apa, Mas.'' ucapnya lagi saat aku hendak menghampiri nya. Setelah itu tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Aku hanya mampu menggeleng melihat tingkah konyolnya.
Bersambung.
__ADS_1
Bagaimana akhir kisah perjalanan hidup dan cinta Rian? Apakah ia akan benar-benar balas dendam atau akankah ia jatuh cinta terhadap sosok Intan?
komen, ya? Kalau udah bosan kita tamatin aja.