AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Om bertopeng


__ADS_3

Waktu subuh datang, sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang, Arif perlahan membuka mata sambil mengerjap-ngerjapkan nya, begitu matanya sudah terbuka dengan sempurna, orang pertama kali yang ia lihat berada di dekatnya adalah Malik. Malik duduk di kursi di sisi brankar dengan kepala berpangku pada brankar, tangannya menggenggam tangan Arif. Malik sudah memejamkan mata, sepertinya ia baru saja terlelap tanpa ia sadari.


''Papa.'' panggil Arif lirih.


''Pa,'' panggilnya lagi. Arif menarik pelan tangannya yang di genggam oleh Malik lalu ia mengelus lembut kepala sang Papa sambung. Papa sambung yang begitu peduli dengannya. Arif sangat menyayangi sang Papa.


''Papa ...''


Malik yang baru hendak memejamkan mata langsung mendongak ke arah Arif ketika sayup-sayup ia mendengar Arif memanggil nya, ia memasang wajah tersenyum hangat menatap Arif.


''Anak Papa sudah bangun ternyata. Huahhh, maaf, sepertinya Papa ketiduran barusan.'' sapa Malik sambil menguap lebar. Matanya terasa sangat berat menahan kantuk, tapi karena ingin menjaga Arif ia paksa untuk menghalau rasa kantuk itu.


''Sudah, Pa. Bunda dan Oma mana?'' tanya Arif lirih.


''Ada. Tunggu Papa panggilkan mereka dulu, ya.'' balas Malik.


''Iya.'' Arif mengangguk kecil.


Malik menatap ponselnya, ternyata sudah mau pukul lima subuh. Ia berjalan ke arah Abdillah lalu membangunkan Abdillah dengan pelan, setelah itu ia berjalan ke arah sang istri dan sang Mama, hanya dengan dua kali panggilan saja kedua wanita itu bangun lalu langsung berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan wajah, mereka menghampiri Arif. Arif merasa sangat senang karena bisa berada di tengah-tengah keluarga nya lagi.


''Sayang, Oma kangen banget sama kamu. Muah, muah, muah ...'' sapa Sarah kepada Arif. Ia lalu mengecup pelan kening dan pipi Arif.


''Aku juga kangen Oma.'' Arif tersenyum kecil.


''Bunda juga kangen banget sama Arif. Cepat sembuh, ya, Sayang,'' timpal Hanifa, ia juga menciumi Arif berulangkali.


''Iya, Bunda. Arif juga kangen banget sama Bunda, sama Oma, sama Papa, sama Paman, sama Ibu, pokoknya Arif kangen banget sama rumah dan penghuni nya.'' Tutur Arif lancar. Hanifa dan yang lainnya tersenyum melihat Arif yang begitu bersemangat dalam berucap. Sepertinya kondisi Arif sudah baik-baik saja. Benar kata dokter, tidak ada yang perlu di khawatirkan terkait kondisi Arif.


''Kamu mau makan apa, Sayang?'' tanya Oma Sarah.


''Sekarang Arif tidak mau makan apa-apa Oma. Karena sekarang 'kan udah mau subuh. Oma, Bunda, Papa dan Paman lebih baik sholat dulu.''


''Iya, kita akan sholat anak sholeh. Arif berbaring lah di sini sebentar, ya.'' ucap Abdillah bangga. Ia merasa bangga bisa memiliki keponakan yang pintar seperti Arif.


''Iya Paman.''


Setelah nya mereka semua bersiap-siap lalu mereka sholat berjamaah bersama di ruang rawat inap Arif, dengan Malik yang menjadi imamnya. Bacaan sholat Malik terdengar begitu merdu. Selain tampan dan baik hati, Malik juga begitu handal dalam berbagai hal. Wajar saja Shanum sampai tergila-gila kepadanya. Hanifa adalah wanita beruntung yang bisa mendapatkan nya.


Setelah selesai sholat, Sarah mulai menyuapi Arif dengan menu bubur ayam yang di antar oleh suster. Arif makan dengan lahap. Di sela-sela suapannya, ia bercerita kepada Sarah. Hanifa, Abdillah dan Malik yang duduk di sofa tersenyum mendengarnya.


''Oma, Oma tahu nggak, wanita yang menculik Arif itu jahat banget lho, dia yang membuat pipi Arif terluka begini dengan kukunya, menyiram tubuh Arif pake air dingin dan dia juga yang mencekik leher Arif hingga Arif merasa susah untuk bernafas. Dia udah kayak mak lampir atau monster jadi-jadian aja, wanita itu mungkin aslinya emang monster kejam, tapi waktu dia sedang berhadapan dengan aku dia berubah wujud jadi wanita cantik. Ternyata Monster emang ada di dunia nyata, ya, Oma. Aku kira cuma ada di tv, tv aja.'' tutur Arif yang membuat kening Oma Sarah berkerut. Mendengar penuturan Arif semakin bertambah lah rasa penasaran Sarah dengan wajah si penculik. Nanti dia benar-benar akan menemui penculik itu di penjara. Hanifa dan yang lainnya merasa terluka mendengar penuturan Arif. Anak kecil memang masih sangat polos.


''Monster emang pantas untuk sebutan orang sejahat itu, Sayang.'' timpal Sarah geram.


''Iya, Oma. Eh, tapi Oma, waktu Arif di culik, Arif juga di temani oleh Om pake topeng. Om itu baik deh, dia tidak pernah mukulin Arif, dia selalu berbicara baik sama Arif. Tapi yang membuat Arif heran kenapa Om itu selalu pakai topeng, ya, waktu ketemu Arif?'' tutur Arif lagi. Yang semakin membuat Sarah di landa rasa penasaran. Hanifa dan Abdillah juga merasa penasaran di buat nya, hanya Malik yang tidak karena Malik sudah tahu semuanya. Hanifa dan Abdillah menatap ke arah Malik.

__ADS_1


''Emang beneran, Mas, ada penculik bertopeng di tempat kejadian?'' tanya Hanifa menatap Malik lekat.


''Mm, iya, Sayang.'' jawab Malik sedikit ragu.


''Apa dia sudah ketangkep? Emang kenapa wajahnya pake topeng sih, Mas?''


''Semua penculik udah ketangkep, Sayang. Nggak tahu, mungkin wajahnya jelek kali makanya dia pake topeng. Hahaha ...'' ucap Malik sedikit becanda dengan tawa di ujung katanya. Mengingat wajah Setya yang ada di balik topeng tadi malam membuat Malik kembali merasa geram, tapi ia menyembunyikan rasa geramnya itu dengan tawa sumbang.


''Ihh apaan sih, aku serius tauk.'' ujar Hanifa mencubit kecil pinggang sang suami.


''Iya, Malik. Emang kenapa orang itu pake topeng?'' tanya Abdillah lagi.


''Kalian bisa tahu jawabannya nanti saat kalian melihat sendiri orang itu di penjara. Aku nggak mungkin ngomong di sini, soalnya di sini ada Arif.'' ucap Malik sedikit berbisik dengan wajah serius.


''Rahasia dan penting banget kayaknya, Mas.'' ucap Hanifa. Malik tak menjawab lagi.


''Ya sudah. Nanti siang kita-kita akan ke kantor polisi.'' ucap Abdillah.


''Iya. Aku juga mau ikut.'' sahut Hanifa.


Setelah itu Hanifa dan Malik permisi keluar dari kamar terlebih dahulu, mereka akan mencari makanan di sekitar rumah sakit, sekalian mereka akan membelikan untuk Sarah dan Abdillah juga. Mereka berjalan di lorong rumah sakit dengan saling bergandeng tangan. Sebenarnya gampang saja sih kalau mereka ingin makan, mereka bisa saja meminta pelayan atau anak buah Malik untuk mengantarkan makanan ke rumah sakit, tapi kata Hanifa, ia ingin jalan-jalan di pagi hari melenturkan otot-otot kakinya.


''Sayang, nanti kamu jaga Arif saja di sini, ya, kamu nggak usah ikut ke kantor polisi.'' ucap Malik tiba-tiba.


''Emang kenapa, Mas? Aku cuma pengen ngeliat wajah orang yang menculik Arif. Aku nggak bakalan ngapa-ngapain di sana, aku nggak akan bertindak di luar batas. Nanti aku akan menghubungi Pas Agus, agar Pak Agus membawa Mbak Marwah ke rumah sakit untuk menjaga Arif sementara waktu menjelang aku datang.'' ujar Hanifa.


''Mas tenang aja, nggak akan terjadi apa-apa sama aku.''


''Ya sudah, terserah kamu aja deh yangg.''


''Kamu mau makan apa?''


''Apa aja.''


''Tadi Mas sudah mengirim pesan kepada orang suruhan Mas, Mas minta orang suruhan Mas mencari rujak untukmu, rujak yang kamu minta tadi malam yangg.''


''Serius?''


''Iya, Sayang.''


''Ah ... Makasih Sayang.''


''Iya, sama-sama Sayangku.'' mereka saling berpelukan di depan kantin rumah sakit. Karena asik mengobrol tidak terasa mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju. Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka, Malik dan Hanifa hanya tersenyum menanggapi tatapan orang-orang.


***

__ADS_1


Di tempat berbeda, di rumah yang begitu sederhana. Siska telah selesai masak, dia memasak menu makanan yang lumayan banyak hari ini, ada ikan panggang, ayam goreng, tumis kangkung, ada lalap dan sambel nya juga. Wajah Siska terlihat begitu ceria, penampilan juga terlihat berbeda. Ia memakai dress di bawah lutut berwarna merah muda yang ia beli kemarin, dress itu begitu pas di tubuhnya, membuat ia terlihat semakin cantik. Ia menghidangkan makanan di atas meja, sesekali matanya melihat ke arah jendela, bahkan saat sedang mencuci piring ia memasang telinga nya, berharap ia mendengar suara sang suami yang datang memanggil dirinya.


Setelah beberapa menit menunggu kepulangan sang suami, ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda Setya akan pulang. Ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomer sang suami. Tapi hasilnya membuat nya kecewa, nomer sang suami masih tidak aktif seperti semalam. Mendadak rasa gelisah melanda Siska.


''Kenapa sih? kok wajah kamu kayak lagi gelisah gitu?'' tanya Hellen. Ia duduk di kursi kayu, lalu mulai memasukkan nasi dan lauk kedalam piring. Hellen telah siap dengan pakaian Kantoran nya, sebentar lagi ia akan berangkat kerja.


''Aku lagi mikirin Mas Setya. Dari tadi malam nomernya tidak aktif terus.'' balas Siska dengan suara terdengar panik.


''Alahh, lebay banget sih. Namanya juga lagi kerja cari uang. Mungkin Mas Setya lagi sibuk.''


''Tapi kemarin Mas mu tidak pulang, masak hari ini tidak pulang juga.'' kata Siska lagi.


''Udah, nggak usah terlalu di pikirin. Santai aja napa sih. Mending makan aja dulu.'' sahut Hellen santai. Siska akhirnya mencoba berpikir positif dan kembali bersikap tenang, ia lalu memasukkan nasi ke dalam piring nya. Ia akan makan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


***


Hamidah yang hendak membuka pintu butik terpaksa harus menghentikan aktivitas nya ketika ia mendengar ponselnya berdering. Ia melihat layar ponsel, tersenyum simpul, lalu mengangkatnya cepat ketika ia tahu orang yang menghubungi nya adalah Abdillah.


''Assalamu'allaikum Abdillah.''


''Walaikum'sallam Hamidah. Udah lama bangunnya?''


''Pertanyaan macam apa itu? Pastinya udah dari tadi lah, aku 'kan selalu sholat subuh lebih awal.'' ungkap Hamidah.


''Alhamdulillah, kamu benar-benar calon istri idaman, wanita Sholehah.'' ucap Abdillah dari seberang sana yang berhasil membuat pipi Hamidah merona.


''Iihhh, apaan sih! Tumben kamu menghubungi aku pagi-pagi gini?''


''Iya, aku cuma mau bilang, Arif sudah di temukan, sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit.''


''Alhamdulillah, beneran? Kalau gitu aku akan ke rumah sakit sekarang. Tolong kirimkan alamat rumah sakit nya, ya.'' sahut Hamidah antusias.


''Apa perlu kamu aku jemput aja?'' tawar Abdillah.


''Nggak usah, aku nggak mau merepotkan mu.''


''Aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Tunggu di butik, ya. Kamu jangan kemana-mana dulu sebelum aku datang.''


''Em, baiklah. Hati-hati di jalan. Aku akan bersiap dulu.''


''Oke. Sampai ketemu.''


''Iya.''


Setelah itu panggilan terputus. Hamidah tersenyum simpul mengingat obrolannya barusan dengan Abdillah. Tapi ia juga merasa khawatir mendengar kabar Arif yang di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2