AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Bab 50


__ADS_3

Di dalam ruang kerja nya, Malik duduk di depan laptop dengan tangan memegang kepala. Sesekali ia mengacak kasar rambutnya. Ia tidak bisa fokus mengecek laporan dari perusahaan karena ponselnya yang dari tadi terus berdering, kepala nya terasa pusing. Panggilan dari nomor baru terus saja masuk, sedari semalam sudah ada lima nomor yang ia blokir. Malik menatap ponselnya yang berada di samping laptop, layar ponsel terus menyala menandakan ada panggilan masuk, karena merasa kesal, Malik akhirnya mengangkat panggilan tersebut.


''Berhentilah mengganggu ku!"


"Aku sekarang sudah menikah dan telah memiliki istri yang amat aku cintai. Jadi, jangan terus meneror ku dengan foto-foto masalalu yang memuakkan itu."


"Dasar wanita j*lang!"


Umpat Malik kasar penuh penekanan. Beberapa detik berlalu, sang penelepon masih enggan mengeluarkan suara. Saat Malik handak memutuskan panggilan, terdengar suara serak wanita di seberang sana.


"Hanya dengan mendengar suaramu saja aku sudah merasa amat senang."


"Aku tahu kau menikahi seorang janda. Rendah sekali selera mu Sayang." ucap wanita itu pelan, yang berhasil membuat emosi Malik semakin bertambah.


"Apa mau mu hah?" Malik berbicara membentak. Ia berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di ruangan nya.


"Aku masih menginginkan mu. Kenapa kau meninggalkan aku sendiri di negeri seberang ini? Padahal dulu kau pernah berjanji untuk selalu setia menunggu ku hingga aku sembuh. Sekarang aku sudah sembuh Sayang."


"Heh ... Lupakanlah! Ingat, itu hanya masalalu, sudah tujuh tahun berlalu. Aku sudah melupakan semua tentangmu! Kau juga tidak ada kabar selama ini, kenapa setelah aku menikah kau baru menghubungi! Apa kau sengaja ingin merusak rumah tangga ku?!"


"Tapi Sayang. Ah ... Tunggu aku, aku akan segera menyusul mu ke Jakarta."


"Dasar gila!"


"Jangan pernah lakukan itu!"


"Awas saja kalau kau nekat, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu!" Ancam Malik. Di situasi seperti ini ia memang harus mengambil sikap tegas.


Malik memutuskan panggilan, lalu ia memblokir nomor itu lagi.


"Astaghfirullah, mungkinkah ini ujian rumah tangga untukku? Hanifa tidak boleh sampai tahu tentang masalalu ku. Aku tidak ingin membuat ia merasa sedih barang sedikitpun." batin Malik bermonolog. Lalu ia menekan tombol off, ia kembali duduk di kursinya. Pikirannya menerawang ke masa lalu, dulu ia memang merupakan pria yang cukup bandel dan suka bermain wanita. Tapi itu dulu, sekitar tujuh tahun yang lalu.


Tidak lama setelah itu Hanifa datang menghampirinya dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat teh dan cemilan. Malik memasang senyum semanis mungkin menyambut sang istri.


"Mas, ini minum lah " Hanifa meletakkan nampan di atas meja.


"Iya, terimakasih Sayang." ucap Malik seraya menutup leptop.


"Kenapa wajah Mas terlihat sedikit kusut? Apa ada masalah?" Tanya Hanifa lalu ia duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja sang suami.


"Em ... Tidak Sayang. Sini duduk di atas Mas." ucap Malik. Ia menepuk-nepuk pahanya meminta agar Hanifa duduk di sana. Malik menatap lekat ke arah sang istri, Hanifa terlihat cantik dengan piyama lengan pendek dan sedikit transparan. Ia berani berpakaian seperti itu karena di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Arif lagi sekolah dengan di temani Oma Sarah. Abdillah dan Hamidah masih di butik.


"Aku berat taukk." ujar Hanifa tersenyum malu. Malik berjalan kearah sang istri lalu langsung menggendong tubuh Hanifa yang sedikit berisi.


"Berat apanya? Ringan gini."


"Ih ... Mas apaan sih. Turunin." Hanifa protes ia memukul kecil dada bidang sang suami.

__ADS_1


"Nggak mau, Mas akan memberi jatah dulu untukmu Sayang." Malik tersenyum nakal sambil mengedipkan-ngedipkan matanya. Lalu ia membawa Hanifa keluar dari ruang kerja, ia berjalan menuju kamar mereka.


"Malu sama pelayan, Mas."


"Pelayan nggak ada Sayang. Mereka lagi di belakang."


Hanifa lalu diam, ia pasrah, tangannya melingkar pada leher sang suami. Setiba di dalam kamar, Malik meletakkan tubuh Hanifa dengan hati-hati di atas kasur. Lalu secepat kilat tubuhnya telah berada di tubuh sang istri. Ia menatap Hanifa lekat, mengelus pipi sang istri lembut, "Tidak akan Mas biarkan seorang pun merusak hubungan yang baru kita bina ini Sayang." batin Malik. Ia sungguh takut wanita masalalu nya itu muncul lagi di dalam hidupnya, lalu menemui Hanifa dan mengatakan yang tidak-tidak. Sedangkan Hanifa merasa ada yang aneh sama sang suami, tapi ia tidak berani banyak bertanya. Ia selalu setia menunggu sampai sang suami menceritakan sendiri.


***


Di tempat berbeda.


"Sorry, aku tidak tertarik." Abdillah meninggalkan Arumi yang masih berdiri di pelantaran butik. Abdillah menyusul Hamidah yang sedang membuka pintu butik. Arumi tidak menyerah, ia ikut menyusul mereka.


"Hey, ayolah. Ada yang ingin aku katakan kepada mu." Bujuk Arumi dengan wajah memelas.


"Katakan di sini saja."


"Tidak bisa. Di kafe aja yuk ..."


"Aku harus menemani Hamidah. Katakan di sini saja. Kalau tidak mau mending pergi saja dari sini.'' seru Abdillah sedikit tegas.


Hamidah hanya bisa menggeleng kepala mendengar perdebatan kecil antara Abdillah dan Arumi.


"Apa dia kekasih mu? Wanita ini 'kan temannya Hanifa yang pernah aku lihat pakai kostum badut dulu di taman kota bersama Hanifa." Arumi menatap Hamidah dengan intens. Memindai penampilan Hamidah. Hamidah yang dari dulu memang tidak pernah menyukai Arumi langsung masuk ke butik tanpa permisi. Abdillah juga bersiap masuk ke butik. Tapi kali ini Arumi menahan langkahnya. Ia berdiri di depan Abdillah dengan kedua tangan di rentangkan.


"Itu tidak penting."


"Mm baiklah. Abdillah, aku ingin meminta maaf kepada mu atas apa yang pernah aku lakukan dulu. Dulu aku pernah mengata-ngatai mu saat kamu menghajar Setya. Maaf, ya." Akhirnya Arumi menyerah. Dia merasa sudah lelah membujuk Abdillah.


"Hanya itu?" tanya Abdillah menatap Arumi. Kali ini penampilan Arumi sudah berubah, ia tidak memakai pakaian terbuka lagi. Ia memakai dress dibawah lutuh yang longgar dan tertutup.


"Em ... Iya."


"Aku sudah memaafkan mu. Jadi pergilah dari sini sekarang juga. Kalau kamu mau ketemu sama Hanifa, temui sekarang."


"Sungguh? Kau benar-benar sudah memaafkan aku?"


"Ais ... Cerewet banget sih!"


"Hehehe maaf. Abdillah apa boleh aku meminta nomor ponsel mu?''


"Tidak boleh!"


"Tapi?"


"Tidak. Pergilah." Abdillah mendorong sedikit punggung Arumi agar ia segera keluar dari butik. Abdillah merasa kesabaran nya sedang di uji melihat tingkah Arumi yang begitu genit. Akhirnya Arumi keluar.

__ADS_1


"Lain kali aku akan menemui lagi." Teriak Arumi dari luar. Abdillah tak menanggapi nya lagi.


Setelah itu Arumi masuk kedalam mobil, ia melajukan kendaraan roda empat miliknya meninggalkan pelantaran butik, ia akan menemui Hanifa.


"Sepertinya, ia menyukai mu." Seru Hamidah. Sekarang ia dan Abdillah sedang membersihkan lantai yang sedikit berdebu. Mereka menyapu lantai di bagian yang berbeda. Para karyawan memang belum datang, karena Hamidah belum menghubungi mereka.


"Masak?" balas Malik singkat.


"Iya.''


"Biarkan lah."


"Kenapa sampai saat ini kau masih belum punya kekasih?" Tanya Hamidah.


"Belum ada yang cocok aja."


"Kamu sepertinya terlalu pemilih."


"Memilih calon istri itu penting, karena ia tidak hanya menjadi seorang istri, tapi ia juga akan menjadi seorang ibu, guru pertama yang akan mengajari anak-anak kami kelak. Makanya harus teliti." jelas Abdillah sungguh-sungguh.


Hamidah manggut-manggut mendengar penuturan Abdillah.


"Kamu sendiri kenapa masih betah menyendiri?" tanya Abdillah lagi.


"Sama seperti mu. Aku juga tidak mau sembarangan memilih calon suami." jawab Hamidah. Tiba-tiba bayang-bayang wajah Yusuf memenuhi pikirannya.


Kali giliran Abdillah yang manggut-manggut mendengar penuturan Hamidah.


Setelah mengendarai cukup jauh, akhirnya Arumi tiba di rumah Hanifa.


"Beruntung sekali Hanifa. Setelah lepas dari pria kere dan pengkhianat itu ia malah mendapatkan pria lajang, tampan dan kaya raya." batin Arumi seraya membuka pintu mobil. Setelah itu ia berjalan berlenggak-lenggok menuju pintu utama. Ia menekan bel dan mengucap sallam berulang kali.


"Iya, anda mau cari siapa?" seorang pelayan membuka pintu dan menanyai Arumi. Pelayan yang berusia sekitar empat puluh tahun.


"Aku mau ketemu sama Hanifa." jawab Arumi.


"Sepertinya Non Hanifa sedang tidak bisa di ganggu sekarang." balas pelayan seraya tersenyum. Tadi ia tidak sengaja melihat Malik yang tengah menggendong Hanifa begitu mesra. Ia tahu apa yang sedang dilakukan oleh sepasang pengantin baru itu.


"Em emang dia lagi ngapain?" tanya Arumi penasaran.


"Non Hanifa lagi berduaan sama suaminya, Tuan Malik. Anda datang di waktu yang kurang tepat."


"Apa tidak bisa kau memanggilnya sebentar?" Arumi sedikit memaksa.


"Maaf, saya tidak berani melakukan itu." balas pelayan itu pasti. Mana mungkin ia berani mengganggu sang majikan yang tengah bersenang-senang. Ia takut di pecat.


Arumi merasa kesal. Setelah itu yang kembali pulang dengan wajah tak bersahabat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2