
''Mama?!'' kataku begitu kaget, saat aku melihat Mama sedang duduk di kursi tunggu di depan kamar rawat inap mantan suaminya itu.
''Rian, akhirnya kamu mau datang ke sini juga, Nak.'' ucap Mama, ia berdiri dari duduknya lalu mengelus pipiku pelan. Rona wajahnya nampak begitu bahagia melihat kedatangan ku.
''Mama ngapain di sini? Sejak kapan? Dia bukan lagi suami Mama.'' protes ku dengan nada sedikit pelan namun penuh penekanan. Aku mencoba menyelami manik mata wanita yang telah melahirkan aku, dari sorot matanya, aku tahu Mama terlihat begitu sedih. Apakah sebesar itu rasa cinta Mama terhadap Papa? Sehingga, walaupun sudah di sakiti dari puluhan tahun yang lalu Mama masih sudi menjenguk sang mantan suaminya yang tengah sekarat.
''Sudah, Nak. Kamu jangan membuat keributan di sini. Kasihan papa mu. Sana masuk sama istrimu.'' ucap Mama lagi seraya tersenyum ke arah aku, lalu bergantian melihat ke arah Intan yang berdiri tepat di sebelah ku. Intan lalu menyalami tangan Mama dan menciumnya dengan takzim. Mereka berpelukan beberapa detik. Aku lihat, Mama sama sekali tidak menaruh rasa dendam dan benci terhadap Intan. Berbeda dengan diriku yang masih belum bisa menerima Intan sepenuhnya.
''Ah ...'' desis ku seraya mengalihkan wajah ke samping, aku begitu kesal sama sikap aneh Mama yang sulit untuk aku pahami. Saat bersama Tante Ainun, Om Andra dan Hamidah, Mama sering kali menunjukkan ketidak sukaannya terhadap mereka. Tapi dengan Intan, wanita yang jelas-jelas merupakan bibit dari pelakor, wanita yang di lahirkan dari rahim wanita yang pernah merebut suaminya, Mama terlihat begitu menyayangi Intan. Mama sungguh aneh.
__ADS_1
''Ma, aku dan Mas Rian masuk dulu, ya.'' ujar Intan akhirnya setelah beberapa detik kamu saling diam.
''Baiklah. Mama akan tunggu di sini.''
Setelah itu Intan membuka pintu kamar rawat inap Papa, aku mengikutinya dari belakang. Sebelum melihat Papa, kami mengambil dan memakai pakaian yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit, pakaian khusus untuk menjenguk pasien.
''Papa, aku sudah berhasil membujuk Mas Rian agar sudi menjenguk, Papa di sini. Papa, buka mata Papa. Lihatlah, putra Papa yang begitu gagah dan tampan tengah berdiri menatap Papa.'' racau Intan dengan suara terdengar serak. Intan menggenggam jari-jari tangan yang telah begitu kurus. Sedangkan aku hanya diam mematung melihat kondisi Papa, kondisi yang sangat memprihatikan. Tak ada rasa sedih, puas pun tidak. Aku merasa hampa dan kosong, semuanya terasa hambar.
''Mas, coba kamu panggil Papa.'' ucap Intan seraya melihat ke arah ku.
__ADS_1
''Buat apa?'' tanya ku pura-pura bodoh.
''Mas, aku mohon, sekali ini saja kamu panggil pria yang tak lagi berdaya yang ada di hadapan kita ini dengan sebutan Papa.'' bujuk Intan memelas dengan kedua tangan mengatup di depan dada.
''Tak lagi berdaya? Lantas, saat ia masih berdaya dulu kemana dia? Kenapa dia tak pernah mencari ku, meminta maaf kepada ku dan membujuk ku agar aku sudi memanggil nya dengan sebutan Papa?'' ucapku yang hanya mampu aku ucapkan di dalam hati. Aku malas ribut-ribut lagi dengan Intan hanya karena pria tua bangka yang tak pernah menganggap ku ada di dunia ini.
Padahal, sawaktu aku kecil dulu, aku sangat ingin memanggil seorang pria dewasa dengan sebutan papa, aku merasa iri dengan teman-teman sekelas ku yang berteriak nyaring meninggalkan halaman sekolah memanggil sang papa yang menjemput nya. Tapi aku? Aku yang juga berdiri di halaman sekolah hanya bisa mengelus dada, merasa sesak yang tak dapat lagi di tahan melihat kedekatan teman ku dan Papanya. Aku merasa iri dengan keberuntungan anak-anak lain. Lalu setelah itu tangis ku pecah seketika. Sejak kejadian waktu itu, Om Andra selalu mengantar dan menjemput ku di sekolah. Bahkan saat di sela-sela kesibukannya, ia selalu meluangkan waktunya untuk menemani ku. Sedari kecil aku hanya mengenal sosok seorang Om berhati tulus seperti malaikat, aku sama sekali tak mengenal sosok seorang papa berhati binatang yang tega mengabaikan dan meninggalkan putranya kandung nya sendiri.
Bersambung
__ADS_1