AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Mulai bekerja di perusahaan yang sama


__ADS_3

Setelah lama menatap Intan dengan perasaan tak menentu dan sulit di artikan, akhirnya Rian beranjak ke kasur lantai yang terbentang rapi. Ia bersiap tidur. Tapi sebelum itu, ia mengambil minyak kayu putih yang terdapat di dalam laci, dia mengoles minyak kayu putih ke dada dan perutnya. Untuk membantu meredamkan rasa mual yang menderanya. Setelah di rasa cukup mengoles minyak kayu putih, Rian merapatkan selimut nya, lalu bersiap tidur.


Sementara itu, Intan menarik nafas lega setelah Rian berlalu dari hadapannya. Intan membuka mata perlahan, mencoba mengintip, membetulkan posisi tidurnya agar terasa lebih nyaman dari tadi. Ia merasa lega, karena Rian tak muntah-muntah lagi. Ia bisa tidur dengan nyenyak, meskipun sejujurnya ia ingin bertanya dari mana saja sang suami hingga pulang begitu larut. Tapi Intan tak punya keberanian lebih untuk bertanya. Ia sadar, saat ini Rian belum mencintainya. Tapi ia akan terus bersabar untuk mendapatkan cinta sang suami.


Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Intan terlelap sempurna. Keberadaan sang suami yang satu kamar dengannya membuat nya bisa tidur dengan nyenyak karena tak merasa khawatir lagi. Begitulah kebanyakan para istri, belum bisa tidur dengan nyenyak bila sang suami yang di cintai masih belum pulang dan tidak tahu di mana keberadaan nya.


"Syukurlah, untungnya aku bisa menahan diri dari godaan Vira."


"Ternyata Vira termasuk wanita yang begitu agresif. Kalau aku tidak menghindar tadi, mungkin dia sudah *****4* bibirku yang masih suci ini dengan begitu rakus." ucap Rian di dalam hati seraya menyibak selimut, ia masih belum bisa masuk ke alam mimpi, meskipun ia ingin sekali tidur. Ia akhirnya memilih kembali duduk, berjalan kearah balkon kamar untuk menghirup udara segar sebentar.


***


Keesokan paginya, Rian dan Intan sudah duduk di meja makan. Mereka menyantap menu sarapan pagi masih seperti hari-hari kemarin, saling diam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka telah siap dengan pakaian kerja. Intan terlihat sangat cantik dengan rambut terurai, rok formal bewarna merah maroon dengan panjang di bawah lutut dan atasan kemeja bewarna senada, serta di padukan dengan jas bewarna hitam.

__ADS_1


''Apa boleh mulai hari ini aku bekerja satu perusahaan dengan mu?'' tanya Rian dengan nada terdengar datar. Ia menatap Intan lekat. Intan yang mendengar pertanyaan yang tak biasa dari mulut sang suami merasa kaget, hingga ia terbatuk kecil. Dengan cepat Rian menyodorkan segelas minuman kepada nya. Intan mengambil nya cepat lalu menandas segelas air penuh. Rian yang melihat sang istri minum begitu banyak merasa aneh, lalu ia berucap lagi.


''Apa kamu sehat, Intan?''


''Em, tentu. Aku sehat.''


''Syukurlah.''


''Tidak, aku beneran ingin bekerja satu perusahaan dengan mu.''


''Oke. Kalau begitu, mulai hari ini aku akan mengenalkan Mas sebagai CEO baru di perusahaan.'' ucap Intan dengan senyum mengembang.


''Tidak harus sebagai seorang CEO. Menjadi bawahan mu saja aku sudah sangat senang.'' balas Rian lagi dengan senyum simpul.

__ADS_1


''Mas, jabatan CEO seharusnya memang di duduki oleh, Mas. Aku hanya menggantikan posisi untuk sementara saja menjelang Mas bersedia bekerja di perusahaan Papa.''


''Terserah kamu saja, Intan.''


''Oke deh.''


''Oke. Kita berangkat satu mobil saja, ya.''


''Baiklah.'' ucap Intan dengan senyum mengembang sempurna. Intan merasa hatinya berbunga-bunga mendengar perkataan sang suami. Akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu datang juga. Hari di mana pria yang di cintainya sudi berangkat satu mobil dengannya. Hari di mana ia bisa melihat wajah sang suami selalu, karena mereka sudah bekerja di perusahaan yang sama.


Rian memutuskan bersedia bekerja di perusahaan milik sang Papa karena ia ingin menyelamatkan harta peninggalan sang Papa. Ia tidak ingin sang Mama ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Ia juga tak ingin Intan mendapat masalah karena sang Mama yang gila harta.


Rian sudah mengundurkan diri dari perusahaan milik Andra. Abdillah sangat menyayangkan keputusan Rian yang mengundurkan diri, padahal Abdillah sudah merasa nyaman mempunyai rekan kerja seperti Rian yang sangat dapat di andalkan.

__ADS_1


__ADS_2