
Lalu ponsel yang di pegang Shanum berdering, menyala, di layar ponsel nampak nama sang Mama tertera tengah menghubungi nya. Shanum mengangkatnya cepat tanpa pikir panjang.
''Iya, Ma.'' ucap Shanum sopan. Ia berdiri di bawah pohon rindang di pinggir jalan dengan tangan memegang ponsel berada di telinga.
''Shanum, seseorang baru saja masuk ke kamar mu lewat jendela balkon.'' ungkap sang Mama terdengar panik, tarikan nafasnya yang tak beraturan pun bisa jelas di dengar oleh Shanum.
''Apa?! Siapa, Ma? dan untuk apa orang itu masuk ke kamar aku? Apakah ada barang ku yang hilang?'' tanya Shanum bertubi dengan suara lantang. Matanya sedikit melotot mendengar kabar yang tak mengenakan dari sang Mama.
''Iya Sayang. Ini beberapa orang security sedang mengejar orang itu sekarang. Orang itu membawa kabur laptop kesayangan mu. Hanya itu. Hanya leptop saja yang ia curi.'' jelas sang Mama yang semakin membuat Shanum kaget dan emosi.
''What? Ya, ampun!'' Shanum memegang kening nya. Ia berjalan mondar-mandir di bawah pohon di dekat trotoar. Ia semakin kaget mendengar penuturan sang Mama. Ia terlihat tak tenang karenanya.
''Kamu tenang aja, ya. Mama yakin para security pasti bisa menangkap orang itu.'' Mamanya meyakinkan, memberi ketenangan kepada sang anak tunggal kesayangan.
''Iya harus ketangkep, Ma. Pokoknya aku tidak mau tahu! Itu leptop kesayangan aku, banyak sekali memori penting yang tersimpan di sana.''
''Iya. Kamu hati-hati di sana, ya. Jaga diri baik-baik. Nanti kalau sudah ada perkembangan Mama akan menghubungi kamu lagi.''
''Okey, Ma.'' panggilan terputus. Shanum berdecak kesal.
''Argghh ... Siapa yang telah berani mencuri leptop ku?! Kurang ajar sekali! Padahal foto-foto kenangan antara aku dan Malik tersimpan di sana semuanya. Apa jangan-jangan ....'' gumam Shanum dengan kepala mendadak terasa pusing karena mendapatkan kabar yang tak mengenakan itu, ia menduga-duga siapakah gerangan yang telah lancang mengambil leptop nya. Setelah itu ia lanjut berjalan lagi, ia akan menyeberang, di seberang jalan nampak cafe kecil-kecilan yang menjual berbagai macam minuman masih buka. Baru beberapa langkah Shanum berjalan, seseorang terasa menepuk pundaknya. Shanum menoleh kebelakang karena kaget. Ponselnya masih berada dalam genggamannya.
Happpp!
Begitu Shanum menoleh, seorang pria berbadan kekar, tinggi atletis dengan wajah di tutupi topeng langsung merebut ponsel yang ada di tangan Shanum. Gerakannya begitu cepat, tanpa Shanum duga-duga, ponselnya telah berpindah tangan dalam sekejap saja. Setelah itu pria itu berlari cepat menghampiri mobil yang telah menyala, mobil itu memang sedang menunggu nya. Shanum mengejar pria itu sambil berteriak-teriak histeris, ''Hey, berhenti kau copet. Tolong, tolong ... Ada pencuri!'' teriak Shanum dengan nafas tersengal-sengal. Mobil itu telah melaju kencang meninggalkan dirinya yang merasa amat kesal dan sesak. Setelah itu orang-orang sekitaran datang, mereka menanyai apa yang sebenarnya terjadi, Shanum menceritakan semuanya, tapi orang-orang hanya bisa bergumam, ''Ooo ...'' membuatnya merasa semakin kesal.
__ADS_1
''Kenapa kalian hanya ber-oh ria aja?! Cepat bantu aku. Kejar mobil itu!'' ujar Shanum membentak, tatapannya menatap satu persatu orang-orang yang berjumlah sekitar enam orang. Wajahnya memerah.
''Maaf, Nona. Mana mungkin kami mengejar mobil itu. Mobil itu sudah melaju pesat. Entah di mana mobil itu sekarang.'' jawab salah satu pria berbadan gempal.
''Eh, dasar kalian, belum usaha udah nyerah. Pokoknya ponselku harus kembali.'' oceh Shanum.
''Sudah, lebih baik beli HP baru aja, Neng. Lagian sepertinya kamu bukan orang susah.'' jawab Bapak berperut buncit. Setelah itu mereka bubar. Sekarang tinggallah Shanum sendiri dengan tangisnya yang berderai. ''Huhuhu .... Kenapa nasib ku sial banget sih malam ini! Laptop udah di curi, Hp juga. Padahal semua foto-foto Ayang beb ada di kedua benda ajaib itu.'' racau Shanum melangkah lunglai kembali ke hotel. Begitu ia sampai di halaman hotel, dua orang, orang suruhannya menghampiri nya cepat. Mereka mendadak panik melihat sang majikan menangis, tangisan yang terdengar begitu memilukan.
''Apa yang terjadi, Non?'' tanya pria yang berotot kekar begitu ia sudah berhadapan dengan Shanum.
''Ponselku hilang!'' bentak Shanum geram.
''Hilang? Bagaimana bisa?'' tanya mereka bersamaan sedikit tercengang.
''Di copet! Gara-gara kalian kerjanya nggak becus!'' Shanum berucap begitu saja tanpa berpikir.
''Udah! Mana ponselmu? Tolong hubungi nomor aku, dan coba lacak keberadaan nya sekarang.''
''Baik.''
Salah satu orang suruhan Shanum mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi nomor Shanum. Tapi ternyata sudah tidak aktif. Kali ini Shanum merasa benar-benar amat murka. Ia berjalan cepat menuju kamarnya. Begitu sudah sampai di dalam kamar.
''Aaaaaargh ....''
''Aku yakin, ini semua pasti ulah Malik. Pasti dia yang telah memerintahkan orang-orang untuk mengambil Hp dan laptop ku. Pasti dia ingin lari dari tanggungjawab nya. Aku harus bagaimana lagi untuk menjerat Malik? Semua bukti yang aku punya udah hilang dalam sekejap. Pokoknya aku harus menikah sama Malik. Harus!'' racau Shanum sambil melemparkan beberapa helai bantal ke dinding. Lalu saat sudah sedikit tenang, ia memikirkan bagaimana caranya agar Hanifa dan Malik bisa berpisah. Ia tidak menyerah, sekarang semakin bertambah keinginannya untuk menghancurkan rumah tangga Hanifa dan Malik. ''Kalau aku tidak bisa mendapatkan Malik. Wanita manapun juga tidak berhak atas dirinya.'' gumam Shanum tersenyum getir. Ia telah dapat ide dan suatu rencana untuk memisahkan Hanifa dan Malik. Rencana yang di anggap nya akan berhasil.
__ADS_1
***
Pagi hari, kehangatan kembali di rasa di kediaman keluarga Malik. Mereka sarapan pagi bersama dengan penuh tawa bahagia. Lalu setelah itu mereka bersiap melakukan aktifitas seperti biasa. Hari ini Hanifa akan ikut Malik ke perusahaan. Ia nampak cantik dan elegan dengan gamis keluaran terbaru, jilbab segiempat ia bentuk sedikit bermodel. Semua itu ia lakukan agar Malik tidak merasa malu memperkenalkan nya dengan rekan-rekan dan karyawan di perusahaan. Meski sejujurnya Malik tidak akan pernah malu sama kesederhanaan Hanifa. Hanifa saja yang selalu merasa minder.
Mobil melaju membelah jalanan, hari ini Malik membawa mobil sendiri, Hanifa duduk tepat di sampingnya dengan kepala ia rebahkan di pundak kekar sang suami. Sesekali Malik mengecup lembut pucuk kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. Sedang Abdillah mengikuti mereka dari belakang. Abdillah tersenyum simpul mengingat rencana mereka tadi malam yang telah berhasil. Sekarang Hp Shanum telah berada di tangan Abdillah. Kalau laptop masih di jalan.
''Iya, nanti begitu sampai langsung antar saja ke kantor Tuan Malik.''
''Sekali lagi terimakasih atas kerja keras kalian tadi malam. Tuan Malik pasti akan memberikan bonus untuk kalian.'' ucap Malik, setelah itu ia memutuskan panggilan. Barusan orang suruhannya menghubungi. Mereka mengabarkan akan mengantarkan laptop milik Shanum. Orang suruhan yang begitu terlatih dan sangat dapat di andalkan.
***
Begitu tiba di kantor, semua karyawan menunduk hormat seraya melempar senyum simpul kearah Hanifa, Malik dan Abdillah.
''Terimakasih.''
''Terimakasih.'' balas Hanifa sopan seraya menunduk. Ia menyapa para karyawan dengan senyum ramah. Malik dan Abdillah hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hanifa.
''Wah, cantik sekali, ya, istri Tuan Malik.'' puji karyawan laki-laki yang masih lumayan muda usai rombongan Hanifa berlalu. Ia menatap kagum kehadiran Hanifa. Hanifa, Malik dan Abdillah telah masuk keruangan.
''Ish, cantik apaan, norak gitu. Istri bos besar tapi pakaiannya kek gitu.'' sahut karyawan perempuan bagian resepsionis.
''Eh, jangan salah, kami para pria lebih suka dengan wanita berpakaian tertutup begitu. Terlihat lebih anggun dan sopan.'' balas laki-laki itu lagi tak mau kalah.
''Munafik banget! Palingan lihat body bahenol gini melek tuh mata lho, dan kaum laki-laki lainnya.'' perempuan itu membalas lagi dengan meliuk-liukkan tubuhnya yang di balut pakaian seksi. Rok ketat dan atasan ketat yang tertupi jas.
__ADS_1
''Heh, sebagian juga lelaki yang model begituan. Buktinya Tuan Malik yang tampan rupawan bergelimang harta kepincut sama Nyonya Hanifa yang sederhana dan menutupi tubuhnya dengan sempurna. Dia tidak tertarik sama sekali dengan kalian yang berpenampilan seronok.'' balas pria itu lalu berlalu. Perempuan itu hanya mampu berdecak kesal.
Bersambung lagi.