AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Pengakuan Intan


__ADS_3

Mobil melaju membelah jalanan, kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit di mana si tua bangka itu mendapatkan perawatan intensif. Tatapan mataku lurus kedepan, aku fokus menyetir. Sepanjang Jalan malam ini lumayan sepi, mungkin karena gerimis yang tengah melanda, membuat orang-orang malas keluar rumah. Awalnya gerimis, tapi semakin lama, suara tetesan air hujan terdengar semakin bising berjatuhan di atap mobil, begitu juga di jalan dan tempat-tempat lain, terlihat basah karena tetesan air hujan. Sekarang tidak lagi gerimis, tapi telah berganti menjadi hujan yang cukup deras. Aku merasakan ponsel ku yang berada di saku celana bergetar berulangkali, mungkin Vira yang menghubungi, karena tadi aku sempat berjanji untuk menelpon nya pada malam hari. Tapi aku lupa mengabari nya lagi, mengatakan kalau aku tidak sempat menghubungi nya malam ini.


Aku sadar, dari tadi Intan selalu mencuri pandang ke arahku, kedua tangannya saling menyilang di depan dada, ia memeluk tubuhnya, mengelus bahunya.


''Dingin?'' tanyaku singkat dengan nada sedikit keras.


''Tidak, aku 'kan pake outer yang lumayan tebal, Mas.''


''Tapi sepertinya kamu lagi kedinginan.''


''Dingin sih, dikit.'' balas Intan menyengir. Menampakkan barisan giginya yang rapi dan putih. Aku tak membalas lagi, karena aku sedang fokus menyetir. Malam ini Intan nampak cantik. Ia memakai dress bewarna merah maroon dengan panjang di bawah lutut, dan di baluti dengan outer sepaha, outer yang memiliki kualitas terbaik dengan dasar nya cukup tebal. Aku bisa menebak dengan melihatnya, meskipun aku tak merasakan. Rambutnya yang lurus dan tebal ia ikat kuda hingga menampakkan tengkuk dan leher jenjangnya yang putih mulus. Tapi, aku sama sekali tidak tergoda melihat itu.


Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Aku memarkirkan mobil, lalu bersiap keluar. Sebelum keluar dari dalam mobil, aku mengambil satu payung yang tergeletak di kursi belakang, payung yang sengaja disiapkan. Hujan masih belum reda.


''Tunggu, jangan keluar dulu!'' seruku saat melihat Intan hendak membuka pintu mobil.


''Iya, Mas.'' jawabnya dengan nada begitu lembut.


Setelah payung sudah berada di tanganku, aku keluar lebih dulu dari dalam mobil, membuka payung, lalu berjalan memutari bagian depan mobil.


''Ayo, cepat.'' ucapku dengan nada sedikit keras, berusaha mengalahkan bunyi rintik hujan.


''Iya, Mas.'' balas Intan. Setelah itu ia keluar dari dalam mobil. Lalu kami berjalan dengan saling berdempetan masuk ke dalam rumah sakit, berlindung dari air hujan dengan berteduh di bawah payung yang lebarnya tak seberapa.


''Baju mu basah sepertinya, Mas.'' ucap Intan ketika kami telah tiba di dalam rumah sakit.

__ADS_1


''Basah sedikit.'' jawabku. Tanpa kami sadari, ternyata tangan kami masih saling berpegangan memegang gagang payung yang sama. Begitu sadar, aku menarik tanganku cepat. Apa-apaan ini, bisa-bisanya aku lengah hingga membuat wajah Intan kembali bersemu merah. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana, bersikap sesantai mungkin. Sedangkan Intan, ia melipat payung, setelah itu ia meletakkan nya di salah satu sudut ruangan di rumah sakit.


Kami berjalan dengan saling berdampingan melewati lorong-lorong rumah sakit, menuju di mana tempat Papa di rawat.


''Terimakasih karena kamu sudah bersedia menginjakkan kaki mu disini, Mas.''


''Berhentilah mengucapkan kata terimakasih.''


''Mm, maaf. Maaf untuk semua yang terjadi.''


''Maksud mu?''


''Aku minta maaf yang sedalam-dalamnya, Mas. Atas kesalahan Papa dan Almarhumah Mama.'' ucap Intan, kini kami berdiri saling berhadapan.


''Aku tak mengerti.'' ujarku pura-pura bodoh. Setelah itu aku mendengar Intan menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Dan ia berkata lagi.


''Stop, Intan!'' aku tak bisa mengendalikan emosi setelah mendengar perjelasan Intan.


''Mas, aku beneran tidak tahu apa-apa, aku tidak tahu kalau Papa dan Mama tega menyakiti kamu dan Mama mu karena mereka ingin hidup bersama. Aku baru mengetahui ternyata Papa bukanlah Papa kandungku, dia adalah Papa kandungan mu.'' Intan berkata dengan nada terdengar bersalah, matanya berkaca-kaca. Tapi aku masih sulit untuk percaya sama apa yang ia katakan.


''Hentikan bualan mu itu!'' ucapku lantang dengan penuh penekanan. Lalu aku berjalan lebih cepat, meninggalkan Intan.


''Mas, kamu marah lagi sama aku?'' ujar Intan berusaha mengejar langkah kakiku.


''Tidak!''

__ADS_1


''Lalu?''


''Diamlah!''


''Aku tidak bisa kamu gini'in, Mas. Padahal aku sudah senang banget dengan perubahan sikapmu yang telah mau menerima ku.''


''Jangan kege'eran.''


''Mas, aku minta maaf.''


''Jadi ini tujuan kamu mengajak aku ke rumah sakit? Kamu ingin mengolok ku, menghina ku, karena si tua bangka itu lebih memilih hidup bersama kamu dan Mama mu di bandingkan hidup dengan aku dan Mama ku.''


''Tidak seperti itu, Mas.''


''Lebih baik aku pulang saja.'' aku berbalik arah.


''Jangan, Mas. Asal kamu tahu, Papa sangat-sangat menyayangi mu.''


''Kalau dia sayang dan peduli terhadap aku, mana mungkin dia tega meninggalkan aku lalu memilih hidup bersama mu.''


''Lupakan, Mas. Lupakan semua masalalu itu. Aku berjanji, aku yang akan menebus semuanya, semua kesalahan mereka. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Aku mencintaimu, Mas.'' Intan berkata dengan suara serak, ia sudah menangis, isakan terdengar tertahan. Ia telah merengkuh tubuhku, memeluk tubuhku dari belakang. Tubuhnya bergetar karena menangis. Aku diam mematung, ikut merasakan sesak di dada. Apa benar semua yang dikatakan Intan? Kalau dia tidak tahu apa-apa? Ah, dasar orang-orang tua egois, karena kesalahan mereka di masalalu, berdampak buruk di kehidupan ku dan juga Intan. Tapi, aku masih belum bisa mempercayai Intan sepenuhnya.


''Kita jenguk Papa, yuk.''


''Papa dan Mama sudah mendapatkan balasan buah dari kesalahan mereka karena telah menzolimi kamu.''

__ADS_1


''Papa seperti kesulitan menghadapi sakaratul maut, mungkin dia masih menunggu maaf dari, Mas. Anak kandungnya sendiri.'' bujuk Intan, ia merengkuh tubuhku semakin erat, kepalanya bersandar di punggung ku. Mau tidak mau akhirnya aku mengalah. Untungnya lorong-lorong rumah sakit dalam keadaan sepi, hingga hanya beberapa orang saja yang sempat menyaksikan keributan kecil antara aku dan Intan.


Bersambung.


__ADS_2