AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Berhasil meringkus Shanum


__ADS_3

Suara tangisan Arif begitu melengking menembus keheningan malam. Lokasi rumah yang sepi, yang jauh dari hiruk-pikuk kendaraan, jauh dari dari penduduk setempat, membuat suara tangisannya terdengar jelas hingga keluar rumah.


Abdillah yang telah berdiri tepat di pintu belakang rumah merasa amat geram mendengar suara tangisan itu. Ia tahu itu adalah suara tangisan Arif. Kedua buku tangannya mengepal erat, nafasnya memburu menahan amarah yang hendak meledak, giginya terdengar bergemeletuk. Begitu juga Malik. Malik juga merasa amat murka dengan apa yang ia dengar. Ia sudah tidak sabar lagi ingin memberi pelajaran kepada Shanum. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membantu Arif.


Mereka belum mau masuk ke rumah karena mereka masih menunggu kedatangan anggota polisi dan orang-orang suruhan mereka. Tidak lama setelah itu polisi dan orang suruhan mereka yang lumayan banyak datang . Sebagian dari mereka telah berpencar mengelilingi rumah. Malik menatap ke arah polisi yang seusia dengan nya, polisi itu mengangguk mantap. Lalu mereka mendobrak pintu belakang secara bersamaan. Satu kali dobrakan gagal, dua kali masih gagal, hingga dobrakan yang ketiga kalinya pintu itu terbuka lebar di iringi dengan suara dentuman keras, suara pintu beradu dengan dinding.


Mereka berlari masuk ke dalam rumah, mencari ke arah asal sumber suara yang mereka dengar tadi. Tapi sayangnya saat mereka masuk suara itu tak terdengar lagi.


''Arif, dimana kamu, Nak? Ini Papa.'' teriak Malik sambil membuka satu persatu pintu ruangan yang lumayan banyak.


''Arif. Di mana kamu Sayang, Paman dan Papa datang menjemput mu. Keluar lah!'' teriak Abdillah lagi dengan wajah pias begitu cemas.


''Pintu ini sepertinya di kunci dari dalam.'' seru Pak polisi sambil memutar-mutar engsel pintu. Malik dan Abdillah lalu berjalan ke arahnya.


''Benar, tidak salah lagi. Sepertinya wanita iblis itu tengah bersembunyi di dalam sini.'' ujar Malik. Lalu mereka mendobrak pintu itu lagi sekuat tenaga. Hanya dengan sekali dobrakan pintu terbuka lebar. Begitu pintu terbuka, Malik dan yang lainnya di buat melongo menatap pemandangan yang ada di depan mata mereka.


''Shanum! Apa yang kau lakukan? Lepaskan putraku!'' bentak Malik dengan suara lantang. Di depannya Shanum terlihat tengah menekan leher Arif dengan kedua tangannya. Mulut Arif telah ia tutup dengan perban bewarna hitam.

__ADS_1


''Putra mu?! Mana putra mu hah? Dia ini bukan putra mu! Sadar Malik, sadar! Kau itu telah di guna-guna sama Ibu anak ini.'' balas Shanum dengan nafas memburu.


''Hey, ini masalah kita orang dewasa, ngapain kamu bawa-bawa anak kecil yang tak berdaya dan tak tahu apa-apa!'' Malik berjalan pelan hendak mendekati Shanum dan Arif. Arif terlihat sudah kesulitan bernafas karena Shanum yang semakin kuat menekan tangannya ke leher Arif.


''Hah, gara-gara Ibu ni bocah, kamu berani menolak aku! Aku tak ingin menderita sendiri, aku akan menghabisi nyawanya biar kalian semua menjadi gila karena kehilangan nya. Hahaha .... Terutama Hanifa dan kamu Malik! Dasar pria tak bertanggung jawab!'' umpat Shanum menatap Malik lekat dengan mata memerah dan tawa sumbang.


''Jangan mendekat!'' ucapnya lagi memberi peringatan ketika Malik, Abdillah dan Pak polisi berjalan semakin mendekat ke arahnya.


''Semakin kalian mendekat, maka aku akan semakin kuat menekan leher ini bocah. Aku akan membuat ia kehilangan nafas dalam sekejap. Hahaha ...'' racau Shanum lagi dengan semakin kuat menekan jarinya di leher Arif. Kali ini Arif benar-benar seperti hendak kehilangan nafas, kedua matanya melotot melihat ke atas, kedua tangannya bergerak-gerak ke atas seperti hendak menggapai sesuatu, kaki nya pun seperti hendak kejang. Abdillah dan Malik menggeleng sembari menahan nafas melihat itu. Lalu,


Dorrrr ....


''Paman, Papa ...'' ucap Arif lirih.


''Iya, Sayang.'' jawab Malik dan Abdillah bersamaan.


''Aku ingin pulang. Aku ingin ketemu Bunda dan Oma. Aku kangen kalian semua.'' ucapnya lagi dengan mata sayu dan wajah pucat. Ia menggigil kedinginan, karena pakaiannya yang basah, rambutnya pun basah, bekas air yang di siram Shanum tadi.

__ADS_1


''Iya. Sebentar lagi kita pulang.'' Abdillah mengangguk. Tes! setetes air matanya jatuh membasahi pipi Arif. Dadanya terasa begitu sesak melihat keadaan sang keponakan yang begitu ia sayangi sangat lah miris. Shanum ternyata telah meng*niaya Arif dengan begitu keji.


''Abdillah, kau bawa Arif pulang terlebih dahulu. Ajak satu orang, orang suruhan kita untuk menemani mu. Bawa Arif kerumah sakit segera, ia harus segera di tangani. Urusan di sini biar aku dan yang lainnya yang urus dan bereskan.'' titah Malik dengan suara terdengar serak. Ia sungguh takut kalau nyawa Arif tak bisa di selamatkan. Kalau itu sampai terjadi, tentunya Sang Mama dan Sang Istri akan begitu terluka. Abdillah mengangguk setuju. Lalu dia berjalan tergopoh-gopoh keluar dari rumah membawa tubuh Arif, di ikuti satu orang, orang suruhannya. Begitu sampai di dekat mobil, orang suruhannya itu membuka pintu mobil untuk Abdillah, Abdillah masuk dengan cepat dengan Arif masih di dalam dekapannya. Lalu setelah itu mobil meluncur membelah jalanan menuju rumah sakit terdekat.


Setelah kepergian Abdillah, Pak Polisi meringkus Shanum, kedua tangan Shanum telah di borgol.


''Hahaha ... Kurang ajar kalian semuanya. Berani kalian memperlakukan aku begini, ya. Awas saja, akan aku laporkan perbuatan kalian ini kepada Papa ku! Kalian tidak akan bisa mengurungku di dalam penjara. Karena Papa ku akan segera membantu!'' racau Shanum sambil menunjuk ke arah polisi. Lalu polisi itu menggiring tubuh Shanum keluar dari kamar.


''Jalan ...'' desak Pak Polisi yang ke ketampanannya hampir mendekati Malik. Ia mendorong kasar tubuh Shanum.


''Aku tidak kuat untuk berjalan Pak Polisi. Bagaimana kalau Malik saja yang menggendong tubuhku yang molek ini. Auh ... Kaki ku sungguh sakit, Sayang.'' ujar Shanum manja tidak tahu malu. Malik dan Pak Polisi hanya mampu menggeleng kepala melihat tingkah aneh dan konyol Shanum. Sepertinya otak Shanum memang telah sedikit geser.


''Ayo jalan.'' titah polisi lagi.


Shanum hanya mampu menurut, ia berjalan dengan kaki pincang. Mereka berjalan ke ruang keluarga. Begitu sudah sampai di ruang keluarga, nampak dua orang anak buah Shanum juga telah berhasil di ringkus oleh polisi.


''Katakan! Apakah masih ada tersangka lain yang ikut membantu mu?'' tanya Polisi kepada Shanum. Shanum hanya diam sambil melirik dan berpikir ke mana larinya Setya.

__ADS_1


''Katakan cepat! Kamu jangan membuang-buang waktu!'' bentak Malik.


Bersambung.


__ADS_2