AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Meninggal


__ADS_3

Begitu sudah tiba di rumah sakit, Abdillah meminta agar Bambang menggendong tubuh Arumi lagi ke dalam. Bambang melakukan tugasnya dengan cepat. Abdillah sungguh tidak mau menyentuh wanita yang bukan muhrimnya, apalagi wanita seperti Arumi. Wanita yang pernah menyakiti Adik dan keponakannya, sekarang Arumi berulah lagi dengan menyakiti orang yang di cintainya. Arumi tak ada kapok-kapok nya. Ia begitu nekat. Dan sekarang ia berulah lagi dengan melompat secara sengaja dari atas mobil yang tengah melaju kencang.


Kondisi Arumi sudah semakin memprihatinkan, dia kehilangan banyak darah di kepala nya, persis dengan apa yang terjadi pada Hamidah. Hanya bedanya, Hamidah mengalami luka di bagian depan kepalanya, sedangkan Arumi mengalami luka di bagian atas kepalanya. Bisa di bilang, keadaan Arumi lebih parah di bandingkan Hamidah. Wajahnya terlihat semakin pucat, karena darah yang semakin banyak keluar. Tidak lama setelah itu tubuh Arumi di letakkan di atas brankar oleh Bambang, para suster mendorong nya setengah berlari menuju sebuah ruangan. Arumi harus segera mendapatkan penanganan, kalau sampai terlambat bisa saja nyawanya melayang, luka di bagian kepala tidak boleh di anggap sepele.


Abdillah meminta Bambang untuk memeriksa tas Arumi yang ada di dalam mobil, ia ingin menggunakan ponsel Arumi sebentar untuk mengabari tentang kondisi Arumi kepada kedua orang tuanya. Orang tua Arumi wajib tahu kondisi putri mereka yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Begitu Bambang sudah menemukan ponsel Arumi, Abdillah menghubungi Mama nya dengan cepat tanpa membuang-buang waktu lagi. Hanya dengan sekali panggilan Mama Arumi mengangkat nya cepat, setelah itu Abdillah menjelaskan semua yang terjadi pada Arumi. Isak tangis tak dapat terelakkan, di seberang sana, Abdillah mendengar Mama Arumi menangis terisak begitu mendengar penuturannya. Abdillah menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Arumi tanpa ada yang di lebih-lebihkan dan tanpa ada yang di kurang-kurangi.


Setelah selesai dengan urusan Arumi, Abdillah berjalan melewati lorong rumah sakit, ia akan menemui Hamidah, ia sudah tidak sabar lagi ingin melihat Hamidah. Begitu sudah sampai di depan pintu rawat inap Hamidah, sebelum masuk Abdillah mengucap salam terlebih dahulu, dan setelah mendapatkan jawaban dari dalam, ia segera masuk. Di dalam kamar itu, Hamidah nampak sedang makan, Bu Ainun tengah menyuapi nya dengan bubur secara pelan. Begitu melihat kedatangan Abdillah, Hamidah tersenyum simpul, Bu Ainun pun berhenti menyuapi Hamidah. Lalu ia pamit ke ruangan lain yang ada di ruangan itu. Wanita paruh baya itu membiarkan Hamidah dan Abdillah berbicara berdua dengan lebih leluasa tanpa merasa terganggu karena kehadiran nya.


''Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga. Aku senang lihatnya.'' ucap Abdillah lembut dengan senyum begitu tulus yang terukir di wajahnya. Sekarang ia sudah duduk di sisi brankar Hamidah.


''Terimakasih, ya.'' ujar Hamidah lagi, ia menatap Abdillah lekat.


''Untuk apa?'' tanya Abdillah.


''Karena kamu sudah selalu ada untukku. Kata Mama dan Papa, tadi malam kamu sudah jagain aku sepanjang malam.''


''Kamu sudah mengetahui tentang orang tua mu?''


''Iya. Tadi mereka sudah menjelaskan semuanya padaku. Awalnya aku tak percaya, tapi begitu mereka menunjukkan buktinya akhirnya aku bisa percaya juga.''


''Kamu memang harus percaya, karena kedua orang tua mu sudah mendonorkan darah mereka untuk mu.''


''Iya. Kata mereka, saat aku masih bayi, mereka tidak pernah membuangku dengan sengaja, tapi aku di culik. Ah, aku merasa berdosa karena dulu aku selalu bilang bahwa orang tua ku telah tega membuang ku.''

__ADS_1


''Kalau begitu minta maaflah sama mereka.''


''Aku sudah menyampaikan permintaan maafku sama mereka tadi.''


''Apa setelah ini kamu akan meninggalkan kami? Meninggalkan aku, Hanifa, dan Arif?''


''Kenapa kamu ngomong begitu Abdillah, aku tidak mungkin melakukan itu.''


''Syukurlah.''


''Itu, kemeja mu kenapa?'' tanya Hamidah seraya melihat ke arah ujung kemeja Abdillah yang terdapat bekas darah.


''Em, ini, nggak kenapa-napa.'' Abdillah masih menutupi tentang kejadian yang menimpa Arumi.


''Kamu berbohong?!'' sanggah Hamidah.


''Aku tahu, tapi bekas darah siapa?'' tanya Hamidah lagi menuntut jawaban yang benar.


''Nanti aku ceritakan semuanya, sekarang beristirahat lah agar kamu cepat pulih.'' ucap Abdillah masih tetap tidak mau menceritakan tentang Arumi. Ia takut kondisi Hamidah memburuk ketika mendengar kabar Arumi yang sedang tidak baik-baik saja.


''Baiklah.'' akhirnya Hamidah mengalah, tak menanyakan lagi.


''Kalau begitu aku pamit dulu, aku akan mengganti pakaian ku. Sampaikan sama Mama dan Papa mu kalau aku pulang dulu.''

__ADS_1


''Iya.'' jawab Hamidah.


Setelah kepergian Abdillah, orangtua Hamidah menghampiri nya lagi. Mama Hamidah melanjutkan menyuapi sang putri. Tadi saat Yusuf dan keluarganya berkunjung melihat Hamidah, Yusuf dan kedua orang tuanya merasa begitu kaget saat mengetahui bahwa Hamidah adalah putri dari seorang konglomerat, seseorang yang sering kali membantu orang tua Yusuf menyumbang dana untuk membangun usaha, Masjid, Musholla, yang ada di sekitaran tempat tinggal mereka. Bahkan kostum badut yang pernah di pinjam oleh Hanifa, Arif, Hamidah dan Setya dulu adalah kostum badut yang sumber dananya berasal dari orang tua Hamidah. Dan niat kedua sahabat itu untuk menjodohkan putra-putri mereka sepertinya tidak akan berlanjut lagi, karena baik Hamidah maupun Yusuf, mereka sudah menemukan kebahagiaan mereka sendiri dari orang pilihan mereka.


***


Di ruangan yang terlihat penuh dengan alat-alat medis, Dokter terlihat putus asa, begitu pun dengan para suster yang membantu menangani.


''Bagaimana, Dok?'' tanya sang suster yang memakai seragam bewarna putih dan masker.


''Sepertinya pasien sudah tidak dapat tertolong lagi, benturan yang terjadi di kepala cukup keras, hingga membuat saraf dan otak di kepala nya tak dapat berfungsi lagi.''


''Baiklah, Dok.''


''Urus jenazah pasien, saya akan menemui keluarganya.'' ucap Dokter. Lalu ia melepaskan masker dan sarung tangannya. Setelah itu ia berlalu keluar dari ruangan dengan perasaan berduka. Begitu pintu terbuka, Dokter melihat sepasang suami istri yang tak lagi muda tengah duduk menangis di ruang tunggu, Dokter juga melihat seorang anak perempuan. Tidak hanya itu, Dokter juga melihat dua orang pria tampan tengah duduk di ruang tunggu yang sama.


''Dok, bagaimana keadaan putri kami?'' tanya orangtua Arumi, menghampiri sang Dokter seperti kebanyakan yang dilakukan orang-orang sebelumnya.


''Maaf, Pak, Bu, kami sudah berusaha semampu kami, tapi takdir berkata lain, putri Ibu dan Bapak tidak dapat kami selamatkan, putri Bapak dan Ibu sudah di panggil oleh yang maha kuasa terlebih dahulu.'' ucap Dokter hati-hati. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Ini bukanlah kali pertama seorang pasien meninggal di depan matanya, ini yang kesekian kalinya, tetapi tetap saja ia merasa sedih melihat anggota keluarga pasien yang begitu kehilangan.


Setelah mendengar penjelasan sang Dokter, Mama Arumi menangis meraung, ia berlari menuju di mana Arumi berada, begitu juga Papa Arumi, susah payah Papa Arumi menahan tangisnya, tapi akhirnya tangis pria paruh baya itu pecah juga. Sang anak tunggal sekarang telah pergi meninggalkan nya terlebih dahulu. Apalagi saat ia melihat wajah Caca, Papa Arumi sungguh merasa kasihan melihat bocah wanita yang baru berusia tujuh tahun tersebut. Di usianya yang masih belia, ia sudah kehilangan kedua orang tuanya, Caca telah menjadi yatim piatu.


Bambang dan Abdillah yang berada di dekat mereka juga merasa sedih atas meninggalnya Arumi. Mereka turut berdukacita. Mereka tidak menyangka akan begini akhirnya, padahal mereka tidak berniat sama sekali untuk membuat Arumi celaka. Abdillah berjalan dengan langkah kaki gondai menuju toilet rumah sakit, begitu sudah sampai di dalam toilet, Abdillah menghubungi Hanifa, untuk mengabarkan kalau Arumi sudah tiada, Arumi sudah meninggal.

__ADS_1


Di kediaman nya, Hanifa merasa begitu kaget mendengar berita kematian Arumi yang begitu tiba-tiba. Hanifa tak kuasa untuk menahan air matanya, meski sejahat apapun Arumi semasa hidupnya, tetapi Arumi juga pernah bersikap baik padanya. Waktu itu Arumi pernah menolak untuk berkerja sama dengan Shanum. Dan hal yang paling membuat Hanifa merasa sedih adalah, saat ia teringat akan Caca. Nasih Caca sama dengannya, di tinggalkan kedua orang tua saat masih belia.


Bersambung.


__ADS_2