AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Kata Talak lagi


__ADS_3

''Sudah, Pa. Hentikan dulu!'' cegah Arumi dengan suara lantang saat Sang Papa hendak memukul Setya lagi. Arumi tidak ingin Setya pingsan sebelum waktunya, sebelum ia mengucap kata talak kepada Arumi. Papa Arumi pun menurut, ia menurunkan buku tangannya yang menggantung di udara. Dadanya turun naik dengan tarikan nafas tak beraturan, terlihat sekali ia kesulitan mengontrol emosinya. Wajar saja, orangtua mana yang tidak sakit hati melihat anak perempuannya di sia-sia, di kecewakan, dan hartanya di porot oleh orang yang seharusnya menjaga, melindungi dan menafkahi. Arumi mengelus punggung Sang Papa dengan perlahan agar Sang Papa sedikit lebih tenang.


Setya yang tadi telah tersungkur di lantai kembali berdiri dengan sedikit sempoyongan, ia menatap Arumi lekat, tangannya berada di pipinya yang terasa panas dan nyeri setelah mendapat satu bogeman keras dari pria yang masih berstatus sebagai mertuanya itu. Ia melihat kearah perut Arumi yang telah datar, lalu ia berucap pelan, ''Arumi ... Perut kamu kenapa jadi datar? Mana bayi kita?'' tanya Setya seperti orang bodoh tanpa rasa bersalah. Sedangkan Siska masih berdiri di sisi Setya dengan mengelus lengan Setya. Melihat itu, Arumi jadi teringat dengan dirinya dulu, dulu ... Saat Abdillah menghajar Setya ia membela Setya habis-habisan dengan berbagai umpatan yang keluar dari mulutnya yang ia tujukan kepada Abdillah dan Hanifa. Arumi merasa jijik mengingat momen itu. Sekarang Arumi baru mengerti dan merasakan di posisi Hanifa. Meskipun Hanifa tidak punya Ayah lagi, tapi perasaan Abdillah sang Kakak laki-laki pastilah sama seperti perasaan Papa nya sekarang. Orang pertama yang akan membela, memberi pelajaran kepada pria yang telah menggoreskan luka di hati wanita yang begitu di kasihi dan di sayangi. Mengingat kejadian itu semakin bertambahlah rasa penyesalan di diri Arumi terhadap Hanifa dan keluarga Hanifa. Setelah urusan ia dan Setya selesai, Arumi berjanji akan mencari Hanifa kemana saja sampai ia menemukan nya. Ia akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, ia tidak mau rasa bersalah dan penyesalan terus menghantuinya seumur hidup.


''Heh ... Kamu mau tahu kenapa perut aku kempes?'' Arumi menunjuk Setya dengan jari nya. Setya mengangguk kecil.


''Itu karena kamu! Karena kamu tidak becus menjadi seorang suami. Bayi yang ada di kandungan aku udah meninggal. Puas kamu Setya?! Selain berselingkuh, ternyata kamu juga diam-diam telah menggelapkan uang hasil Restoran milikku. Padahal aku sudah memberi nafkah yang cukup banyak untukmu selama ini, dasar pria tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih! Aku akan melaporkan semua perbuatan mu ini ke Polisi, karena kamu telah mencuri uang aku. Bersiaplah sebentar lagi kamu akan menginap di penjara!'' ucap Arumi lantang penuh penekanan.


''M-mm, ma-maaf ...'' Setya berucap gugup dengan wajah memucat, tubuhnya mendadak gemetar dengan berkeringat dingin setelah mendengar perkataan Arumi. Ia tidak mau di penjara, Ia tidak menyangka bayi yang dikandung Arumi telah tiada, dan ia juga tidak menyangka Arumi akan menemukan tempat persembunyiannya secepat ini.


''Mas, kenapa kamu malah minta maaf sih, lawan dia Mas. Jangan mau mengalah.'' lirih Siska berucap tepat di telinga Setya. Setya merasa kesal mendengar ucapan Siska. Gampang sekali Siska berbicara. Mana mungkin dia melawan Arumi setelah Arumi mengancam akan memenjarakan nya. Dan Sedangkan di belakang Arumi juga terdapat empat orang pria berbadan kekar dengan wajah sangar. Hanya dengan melihat mereka saja membuat nyali Setya menciut, Setya tidak mau mati muda. Arumi yang bisa mendengar ucapan Siska tersenyum sinis, lalu berkata.


''Heh wanita kampung, kamu mau pria kampung ini?! Ambil dia, pungut dia! Kalian berdua sangat pantas dan serasi, sama-sama kampungan! Kamu juga akan aku laporkan ke Polisi karena kamu juga ikut menyicipi uang aku!'' Ujar Arumi menunjuk Siska. Siska pun menunduk, ia juga takut mendengar ancaman Arumi.


''Eh ... Tapi, Sebelum itu, aku ingin kamu mengucapkan kata talak terlebih dahulu untukku Setya. Agar semua urusan diantara kita selesai.''


''A-apa semuanya tidak bisa kita bicarakan baik-baik Arumi?'' bujuk Setya dengan wajah memelas dengan kedua tangan mengatup di depan dada.


''Tidak!'' balas Arumi singkat. Ia sudah lelah berkata panjang lebar.


''Baiklah, aku bersedia menjatuhkan talak terhadap dirimu, asalkan kamu berjanji tidak akan mengambil harta mu yang telah aku ambil secara diam-diam dan kamu juga tidak akan melaporkan aku ke Polisi.'' ucap Setya mengajak bernegosiasi.


''Cepat jatuhkan talak mu kepada Putri ku! Atau kalau tidak aku akan menghajar mu sampai m*mpus! Jangan banyak omong!'' desak Papa Arumi dengan mata melotot menatap Setya.


''Ba-baiklah. Tapi janji dulu kalian tidak akan melaporkan aku ke Polisi.'' Setya akhirnya mengalah, tapi tetap saja di ujung katanya ia memohon agar tidak di laporkan. Siska mengangguk mendengar perkataan Setya.


''Oke! Cepat jatuhkan talak mu sekarang juga!'' desak Arumi sudah tidak sabar. Siska dan Setya tersenyum simpul. Mereka merasa senang karena Arumi tidak jadi melaporkan mereka. Dan Arumi juga tidak membahas masalah harta yang telah ia curi.


''Arumi, malam ini aku jatuhkan talakku pada dirimu. Mulai detik ini kamu bukan lagi istriku dan tanggungjawab. Kita bukan lagi suami istri.'' ucap Setya lancar.


''Alhamdulillah.'' gumam Arumi sambil mengusap wajahnya dengan tangan.

__ADS_1


''Alhamdulillah.'' batin Siska di dalam hati, ia merasa menang mendapat Setya.


Setelah itu.


''Pegang mereka berdua.'' perintah Arumi kepada orang suruhan nya. Orang suruhan Arumi bergerak cepat, mereka meringkus Setya dan Siska, memegang kedua tangan mereka, membuat Siska dan Setya tak dapat berkutik. Mereka berteriak protes.


''Apa yang ingin kamu lakukan Arumi? Lepas! Antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, lebih baik sekarang kamu dan rombongan mu pergi dari sini.'' teriak Setya geram. Sedangkan Arumi sudah berjalan pelan menyusuri kamar, mengambil sesuatu yang ada di saku celana Setya.


''Aku masih perlu mengambil beberapa barang milikku, termasuk ini. Ini dan ini.'' Arumi berucap dengan senyum simpul sembari memperlihatkan kunci mobil, dan ATM yang sudah berada di tangannya. ATM yang ia ambil dari dompet Setya.


''Arumi jangan lakukan itu. Itu milikku! Aku mohon. Jangan di ambil, Mas sangat membutuhkan nya.'' Setya memberontak berusaha melepaskan diri dari pegangan orang suruhan Arumi. Ia ingin merebut kembali apa yang Arumi ambil.


''Mimpi! Ini semua milikku. Masih untung aku berbaik hati meminjamkan mu dan tidak melaporkan kamu ke polisi.''


''Heh, kamu jangan rakus jadi perempuan. Dasar jahat!'' teriak Siska.


Plak!


''Kasih dia pelajaran terlebih dahulu, ajak dia bermain-main sebentar. Buat wajahnya yang belagu dan sok kecapekan itu sedikit penyok dan babak belur.'' perintah Arumi dengan senyum sinis.


Cih!


Papa Arumi meludah ke arah Setya.


''Baik Bu Arumi.'' jawab orang suruhan Arumi. Setelah itu.


Bugh, bugh, bugh ....!


Orang suruhan Arumi menghajar Setya beberapa kali, Setya berteriak meminta ampun, begitu juga Siska, Siska menjerit dengan air mata berlinang tidak tega melihat Setya yang di pukuli.


''Sudah, berhenti, kalian bisa membuat calon suamiku mati! Huhuhu.''

__ADS_1


''Berhenti.'' titah Arumi begitu tubuh Setya telah terkulai lemah di atas lantai. Setelah itu Arumi dan rombongan mulai melangkah pergi meninggalkan Setya dan Siska yang menyedihkan.


Arumi merasa puas, meskipun ada sedikit perasaan iba terhadap pria yang pernah memberi warna di hari-harinya itu. Tapi, Setya pantas mendapatkan itu, supaya kedepannya ia bisa lebih menghargai perempuan dan tidak mengulangi hal yang sama.


''Kamu bawa mobil ini, ya.'' Arumi menyerahkan kunci mobil kepada salah satu orang suruhan nya. Ia memerintahkan orang suruhannya untuk membawa mobil nya yang telah di bawa oleh Setya. Kebetulan penjaga Villa sudah mengeluarkan mobil itu dari bagasi. Penjaga Villa sudah tahu siapa Arumi, karena tadi Arumi sudah menceritakan semuanya.


''Terimakasih atas bantuan nya, Pak. Kami pamit pulang.'' ujar Arumi, ia sudah berada di dalam mobil. Hujan telah reda, hanya menyisakan gerimis.


''Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan, Neng, Tuan.''


Setelah itu mobil melaju meninggalkan halaman Villa. Sedangkan Siska menuntun Setya menuju pintu utama, saat sudah berada di teras.


''Arumi .... Berhenti, jangan bawa mobil ku. Berhenti Arumi!'' teriak Setya sambil melihat bagian belakang mobil yang semakin menjauh. Ia berdiri gemetar, rasa perih setelah di pukuli membuat ia sedikit tak berdaya.


Bapak penjaga Villa tersenyum sinis melihat Setya dan Siska, lalu ia berjalan menghampiri mereka.


''Buruan bereskan pakaian kalian. Enyahlah dari sini, saya tidak mau tempat ini ketiban sial karena menampung tukang maksiat seperti kalian.'' ucap Bapak penjaga Villa saat ia sudah berdiri di hadapan Setya dan Siska.


''Bapak tidak bisa main usir aja, Pak. Kami udah membayar sewa tempat ini!'' protes Siska dengan wajah memerah.


''Iya. Tapi uang yang kalian beri untuk menyewa tempat ini udah di ambil separonya oleh Neng Arumi. Neng Arumi sudah menceritakan semuanya tentang kalian.''


''Ya itu salah Bapak sendiri, kenapa uangnya Bapak kasih ke wanita rakus itu. Pokoknya kami tidak akan pergi dari Villa ini!'' balas Siska lagi dengan ketus.


''Pak, beri kami waktu, kami akan pergi dari tempat ini besok pagi saja. Sekarang malam sudah semakin larut, hujan juga belum reda sepenuhnya. Dan kami juga tidak punya kendaraan yang bisa di gunakan untuk pergi dari sini. Apa Bapak tidak kasihan melihat keadaan ku.'' ucap Setya dengan wajah iba. Ia mengalah, ia sudah tidak ingin ribut, yang ia inginkan sekarang adalah merebahkan dirinya di atas kasur, beristirahat sejenak supaya rasa sakit di tubuhnya sedikit membaik. Ia tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup kedepannya. Ia seperti orang linglung, mencari solusi di tengah rasa sakit.


....


Bersambung.


Di part ini khusus masalah Arumi, ya.

__ADS_1


__ADS_2