AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Tujuh tahun yang lalu


__ADS_3

Malam itu, sekitar tujuh tahun yang lalu, seorang pemuda yang sudah sukses di usia muda karena warisan yang di tinggal sang Papa dan karena ketekunannya dalam bekerja. Ia tengah duduk bersama rekan kerjanya sembari menikmati segelas wine, mereka sedang menghadiri acara pesta yang berlangsung di salah satu hotel ternama di Malaysia. Sesekali mereka tergeletak karena obrolan yang cukup menggelitik. Mereka yang terdiri dari tiga orang pria dan dua orang wanita. Di antara mereka hanya Malik saja yang belum mempunyai pasangan.


''Malik, apakah kamu masih belum mempunyai pasangan yang tepat? Kamu masih sendiri saja menghadiri pesta sebesar ini. Sepertinya hanya kamu saja yang tak membawa pasangan malam ini. Sungguh menyedihkan, percuma saja tampan.'' ujar temannya tergeletak, di ikuti yang lain.


''Pasangan? Hah, mudah saja bagiku untuk memiliki pasangan. Tapi aku tidak berminat sama sekali.'' balas Malik pongah, lalu ia meneguk minumannya lagi hingga minuman itu tandas.


''Oh ya? Malik, kau lihat wanita muda cantik itu?'' ucap temannya sembari menunjuk kearah gadis yang tengah duduk sendiri. Malik mengarahkan tatapannya kearah sana sambil mengangguk kecil. ''Coba kau rayu gadis itu, ajak dia berkencan dengan mu malam ini. Setahu ku dia adalah putri semata wayang Tuan Tirta, pengusaha kaya yang membuat pesta ini.''


''Iya Malik. Coba dekati dia. Kami tidak yakin dia akan tergoda dengan mu, karena menurut orang-orang dia merupakan gadis yang sulit untuk di dekati, dia juga begitu ketus orangnya.'' timpal temannya yang satu lagi. Yang lainnya mengangguk setuju mengiyakan.


''Heh, kalian jangan meremehkan aku. Mudah bagiku untuk mendekati wanita manapun yang aku mau.'' jawab Malik sambil merapikan kerah kemeja, lalu ia melipat lengan kemejanya yang panjang hingga ke siku.


''Kalau begitu coba dekati dia sekarang.''


''Iya, Malik. Buktikan omongan mu itu.'' desak temannya lagi. Malik akhirnya berdiri dari duduknya, lalu ia berjalan menghampiri gadis muda yang sedang menikmati wine sendirian. Saat sudah sampai di depan gadis itu, Malik menjulur tangan.


''Hay Nona cantik.'' sapa Malik sambil tersenyum simpul. Gadis itu menatap Malik lekat dengan wajah datar. Lalu mengalihkan tatapannya tanpa memperdulikan uluran tangan Malik. Ia mengacuhkan Malik. Malik tidak menyerah, ia lalu duduk di samping gadis itu. Teman-temannya masih menatap nya dari jarak cukup jauh.


''Siapa nama mu? Sepertinya kamu sedang butuh teman.'' tanya Malik lembut. Gadis itu tetap tidak menjawab. Tetapi siapa sangka, ternyata diam-diam dia sedang mencoba meredamkan desiran halus di dadanya. Ia tidak menyangka seorang pemuda tampan yang terkenal sukses memimpin beberapa cabang perusahaan datang menyapa nya. Malik yang merasa diabaikan lalu bersiap hendak pergi. Ia merasa tidak tertarik lagi merayu gadis itu.


''Nama ku Shanum.'' ujarnya ketika Malik telah melangkah satu langkah. Malik akhirnya berbalik dengan senyum kemenangan.


''Waw, nama yang cantik, secantik orangnya.'' ucap Malik lalu ke kembali duduk di samping Shanum.


''Kamu bisa saja. Kamu Malik 'kan?'' ucap Shanum malu-malu.


''Iya. Rupanya kau sudah mengenali aku Nona cantik.''


''Siapa yang tidak mengenalmu. Pria muda yang begitu sukses dan handal dalam memimpin perusahaan, selain itu kau juga sangat tampan.'' ujar Shanum terus terang. Ia yang terkenal susah di dekati ternyata mudah saja bagi Malik untuk mendekati nya.


''Terimakasih atas penilaian nya. Tapi sayangnya aku tidak punya uang kecil. Ckckck ...'' balas Malik tergeletak kecil. Shanum pun ikut-ikutan.

__ADS_1


''Aku tak butuh uang kecil. Aku akan senang kalau kau menemaniku minum malam ini.''


''Waw, tentu, aku akan dengan senang hati menemanimu hingga pagi.'' balas Malik. Mereka memegang satu gelas wine lalu saling mendekatkan gelas itu hingga mengeluarkan sedikit bunyi. ''Cheerss ...'' ujar Shanum.


Setelah itu Malik dan Shanum mengobrol panjang lebar sambil menikmati wine yang tidak terhitung sudah berapa gelas mereka teguk. Mereka juga berdansa bersama, menghabiskan malam panjang di temani lampu kelap-kelip dan musik disko. Selesai dansa, mereka menikmati wine lagi. Tapi entah mengapa jelang beberapa saat setelah Malik menghabiskan satu gelas wine terakhir, ia merasa kepalanya berputar dengan pandangan buram, dadanya terasa panas. Jiwa lelakinya tiba-tiba memberontak mintak di salurkan. Sebisa mungkin ia mencoba menahan hasrat yang mendadak datang, tapi ia tidak bisa. Apalagi saat ia melihat lekuk tubuh Shanum yang begitu menggoda seperti gitar spanyol, gaun yang dipakai Shanum dengan belahan dada yang rendah membuat Malik bisa melihat gundukan yang begitu menantang milik Shanum.


''Tolong temani aku ke kamar. Aku rasa kepala ku sedikit pusing.'' bisik Malik di telinga Shanum. Shanum mengangguk lalu membimbing Malik berjalan ke salah satu kamar hotel. Setibanya mereka di kamar hotel, Malik langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan mata ia pejamkan. ''Oh ... ****! Apa-apaan ini! Aku bisa mati kalau harus menahan hasrat ini. Sepertinya seseorang telah menjebakku dengan memasukkan obat perangsang kedalam minuman ku.'' batin Malik. Shanum yang menganggap Malik akan segera tidur dengan senang hati membantu Malik melepaskan sepatunya. Begitu sepatu Malik sudah terlepas, Shanum bersiap hendak keluar kamar. Tapi saat ia akan menuju pintu, tiba-tiba saja ia merasakan pelukan hangat di punggung nya. Malik memeluk nya erat sembari menciumi tengkuknya yang terbuka.


''Malik, kamu belum tidur? Ah ....'' ujar Shanum kaget disertai desah*n kecil. Ia merasa terangsang sama apa yang dilakukan Malik. Tangan Malik telah bergerak lincah menyusuri gundukan keny*l milik Shanum.


''Aku tidak bisa tidur.'' gumam Malik dengan suara serak. ''Temani aku malam ini, aku sangat membutuhkan mu Sayang.'' sambung Malik lagi yang telah berada di alam bawah sadar. Shanum membalikkan tubuhnya hingga ia berdiri saling berhadapan cukup dengan dengan Malik.


''Malik, kamu seperti mabuk.'' ucap Shanum memegang rahang kokoh Malik. Ia menatap Malik lekat, ''Oh ... Tampan sekali kamu Malik, betapa beruntungnya aku bisa melihat kamu langsung dari jarak sedekat ini.'' batin Shanum terkagum-kagum.


''Tidak. Aku mencintaimu.'' ucap Malik lagi secara asal.


''Secepat itukah?'' tanya Shanum. Hatinya mendadak berbunga-bunga mendengar pengakuan Malik.


''Iya, kamu sangat cantik Sayang. Apakah kamu mencintaiku?''


''Kalau begitu mari kita habiskan malam ini berdua.'' ucap Malik. Shanum mengangguk dengan malu-malu. Setelah itu Malik ******* bibir Shanum begitu rakus. Shanum tak bisa berkata-kata karena ia menikmati setiap sentuhan yang Malik berikan. Lalu Malik membawa tubuh Shanum keatas kasur king size, dengan cepat ia melepaskan pakaiannya, setelah itu ia melepaskan gaun berwarna merah yang menutupi tubuh Shanum. Shanum menatap kagum dada bidang, perut sixpack milik Malik. Setelah itu Malik mengunci tubuh Shanum dari atas. Mereka berpagutan cukup lama, di sela-sela pagutan itu, Shanum menyempatkan diri mengabadikan momen langka baginya, ia mengambil foto beberapa kali. Sedangkan Malik tidak peduli sama apa yang dilakukan Shanum. Karena sepertinya obat perangsang itu semakin membuat nya mabuk kepayang.


''Aku masih perawan.'' bisik Shanum saat Malik hendak menancapkan pertahanan nya.


''Benarkah? Huh hah huh hah ...'' tanya Malik sedikit ngos-ngosan tidak sabar lagi.


''Iya. Apakah kamu mau bertanggung jawab setelah ini? Apakah kamu akan menikahi ku?'' tanya Shanum. Malik mengangguk kecil, di alam bawah sadarnya ia tidak peduli apapun, yang ia pedulikan saat itu hanyalah hasratnya bisa tersalurkan agar ia bisa tenang. Setelah itu mereka menghabiskan malam dengan keringat bercucuran. Shanum yang memang baru pertama kali melakukan itu bersama Malik merasa bagian intimnya sedikit nyeri, tapi ia sangat menikmati. Setelah beberapa saat Malik tergeletak di tempat tidur, setelah berhasil menyalurkan hasratnya yang begitu membuncah, akhirnya ia merasa lebih tenang. Ia tertidur dalam sekejap. Shanum yang masih belum mau tidur terus saja menatap Malik dengan kekaguman. Ia memotret Malik beberapa kali dengan ponsel mahal miliknya, lalu ia berbaring di atas dada bidang Malik yang masih terbuka, ia mengambil foto lagi dengan berbagai macam ekspresi. Bahkan ia juga mengecup bibir Malik tanpa Malik sadari, lalu ia memotret lagi.


Saat pagi datang.


Malik perlahan membuka mata, ia merasa lengannya pegal. Saat tatapan nya sudah bisa melihat dengan jelas, ia merasa kaget luar biasa melihat seorang wanita tengah tertidur di dalam dekapan. Apalagi ia melihat wanita itu dan dirinya tidak memakai pakaian sama sekali, semakin bertambahlah rasa kagetnya.

__ADS_1


''Astaga, apa-apaan ini!'' ujar Malik dengan nada sedikit keras. Ia menyingkirkan Shanum dari lengannya. Shanum yang mendapat perlakuan mendadak seperti itu langsung bangun.


''Sayang, kamu sudah bangun? Huahhh ....'' tanya Shanum seraya menguap kecil.


''Hey ... Kamu? Ah ....'' ucap Malik sambil menyugar kasar rambutnya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Hingga setelah mencoba mengingat-ingat ia akhirnya menyadari perbuatannya tadi malam. Malik langsung meraih pakaiannya yang tergeletak dilantai, ia berjalan ke kamar mandi. Shanum menatap keheranan dengan tingkah aneh Malik.


Setelah keluar dari kamar mandi.


''Em ... Shanum, lupakan peristiwa tadi malam. Aku, aku sebenarnya tidak terlalu mengingatnya. Maaf.'' ucap Malik hati-hati. Shanum yang mendengar perkataan Malik langsung saja menatap Malik nyalang. Ia melepaskan satu tamparan keras di pipi Malik. Hatinya merasa sakit.


''Apa kau tidak mengingat janji mu tadi malam?''


''Aku tidak mengingat apa-apa.''


"Nikahi aku Malik! Kamu telah menodai aku.''


''Ta-tapi ... Sepenuhnya aku tidak menyadari dan menginginkan itu.''


''Kurang ajar kamu. Kamu harus bertanggung jawab.'' Shanum memukul dada bidang Malik membabi buta.


''Baiklah. Aku akan bertanggungjawab. Pakaikan pakaian kamu segera, dan tutup mulut mu tentang apa yang telah kita lakukan dari siapapun.'' Shanum melakukan apa yang diperintahkan Malik.


''Lamar aku segera kerumah ku.'' ucap Shanum sebelum Malik meninggalkan kamar hotel.


''InsyaAllah.'' jawab Malik dengan keraguannya. Bagaimana tidak, usianya masih cukup muda untuk membicarakan masalah pernikahan.


Setelah itu Malik pulang ke rumahnya. Selama dalam perjalanan ia terus memukul setir, ia merasa kesal dengan keteledoran nya meniduri seorang wanita putri dari seorang pengusaha sukses sama seperti dirinya.


Setelah itu, beberapa hari, minggu, bulan terlewati. Malik dan Shanum tidak pernah bertemu lagi. Malik selalu berusaha menghindar jika Shanum mengajaknya ketemuan. Hingga suatu ketika, karena Shanum yang telah habis kesabaran dan merasa prustasi mendapat perlakuan cuek dari Malik mencoba bersikap konyol. Shanum menyimpan rahasia dia dan Malik dengan begitu rapat. Bahkan kedua orangtuanya pun tidak tahu. Papa Shanum merupakan sosok yang keras, Shanum belum siap jika Papa dan Mama nya mengetahui tantang hubungan semalam antara dirinya dan Malik. Selain itu Shanum juga tidak mau membuat nama Sang Papa menjadi buruk karena ulahnya.


''Temui aku sekarang juga di taman indah asri, kalau tidak aku tidak akan segan-segan untuk menggoreskan ini di pergelangan tangan ku.'' ancam Shanum seraya mengirimkan foto pisau kater dan lengannya. Malik yang sedang sibuk meeting tidak menyadari itu. Hingga beberapa saat setelah lelah menunggu akhirnya Shanum membuang kasar pisau itu.

__ADS_1


''Dasar pria egois.'' umpat Shanum lalu ia berlalu dari taman dengan perasaan dongkol. Ia mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan. Lalu .... brakkkk! Mobil yang dikendarai Shanum menabrak pohon besar dipinggir jalan. Tubuhnya terpental keluar dari mobil karena pintu mobil yang tidak ia tutup dengan sempurna.


Bersambung.


__ADS_2