
Di sebuah rumah mewah di pinggiran kota, rumah dengan desain modern yang jauh dari pemukiman warga dan rumah itu hanya hanya berdiri kokoh sendiri dengan di sekitaran nya di tumbuhi pohon-pohon tinggi dengan daun lebat. Keributan kecil terjadi di pagi hari di rumah itu, suara omelan wanita terus saja menggema. Ia memarahi seorang bocah yang terus saja menangis dan tidak mau menurut ucapan nya.
''Ayo cepat makan anak manis!'' ucap wanita itu sedikit memaksa dengan sendok yang berisi makanan sudah terdapat di depan mulut mungil bocah menggemaskan.
''Tidak!'' bantah Arif kekeh tetap tidak mau makan.
''Kamu mau mati apa hah?!'' wanita itu memaksa dengan menyumbatkan sendok ke dalam mulut.
''Dari kemarin nggak makan-makan! Kamu membuat aku kesal aja.'' bentak Shanum dengan wajah kesalnya. Satu sentok makanan yang telah masuk ke dalam mulut Arif, ia sembur kembali keluar, hingga nasi beserta lauk berhamburan di lantai. Membuat Shanum semakin naik pitam.
''Aku pengen Bunda, aku pengen pulang! Huhuhu ....'' rengek Arif dengan mata sembab. Karena ia terus menangis dari kemarin. Wajahnya yang tampan pun terlihat lemas tak bertenaga.
''Bunda! Bunda! Bunda Terus! Nurut nggak? Kalau tidak aku akan menghukum mu!'' Shanum hendak memasukkan nasi lagi dengan paksa.
''Bukankah sekarang anda sudah menghukum ku! Lepaskan aku, kembali 'kan aku ke rumah. Aku ingin berkumpul bersama keluarga ku. Dasar mak lampir jelek!'' balas Arif melawan. Walaupun usianya baru menginjak enam tahun tapi ia punya keberanian yang tak perlu di ragukan. Ia tahu harus bagaimana menghadapi orang-orang jahat seperti Shanum. Pahitnya masalalu yang pernah ia jalani bersama sang bunda membuat ia tak mau di tindas lagi sama siapapun.
''Kau .... Plak!'' Shanum mendaratkan sebuah tamparan keras ke pipi mulus Arif. Hingga Arif tersungkur di lantai.
''Augh! Huhuhu .... Bunda ... Tolong ....'' tangis Arif semakin menjadi. Ia berteriak sekeras yang ia bisa. Meluapkan kekesalannya terhadap Shanum. Satu tangannya memegang pipinya yang terasa perih dan rasa panas yang menjalar hingga ke kepala.
''Sudah, jangan kasar-kasar kamu, kamu membuat dia takut!'' timpal seorang pria yang menghampiri Arif. Pria yang menutupi wajahnya dengan topeng dan suaranya ia samarkan menjadi lebih besar.
''Habis dia bandel sih!'' balas Shanum.
''Biar aku yang bujuk.''
''Ini, kasih dia makan!'' Shanum menyerahkan piring yang berisi makanan ke tangan pria itu.
__ADS_1
''Oke.'' sahut pria itu mengambil alih piring. Sementara Shanum berlalu dari ruangan yang pengap itu.
''Sayang ... Ini kamu makan, ya. Kamu tenang saja kami tidak akan menyakiti mu kalau kamu menurut.'' ucap pria itu lembut hendak menyuapi Arif.
''Tidak mau!'' tolak Arif kasar seraya menyingkirkan sendok dari hadapannya. Hinga lagi-lagi makanan berhamburan jatuh di lantai.
Pria itu menarik nafas dalam, lalu tubuhnya perlahan ia dekatkan kepada Arif. Setelah itu ia memeluk Arif erat sembari mengelus pipi Arif yang memar akibat tamparan Shanum. Arif memberontak, tapi ia tetap memeluk Arif dengan dada terasa sesak. Berulangkali ia mengecup pucuk kepala Arif. Ia tidak menyangka akan berada sedekat ini dengan Arif.
***
Di tempat berbeda, Abdillah melajukan kendaraan roda empat miliknya ke kantor polisi terdekat. Waktu hilangnya Arif sudah memasuki satu kali dua puluh empat jam lamanya, waktu yang sudah diperbolehkan untuk melaporkan kasus kehilangan ke kantor polisi.
Sedangkan mobil milik Malik melaju ke sekolah Arif, Malik dan Hanifa akan memeriksa cctv sekitar sekolah. Kemarin sudah ada satu cctv yang di periksa oleh pihak guru, cctv yang menghadap ke jalan raya, tapi sayangnya wajah pria yang membawa Arif tidak kelihatan karena di tutupi masker, plat mobil pun tidak bisa di lihat dengan jelas. Sepertinya para penculik telah merencanakan semuanya dengan rapi agar jejak mereka tidak di ketahui dengan mudah. Entah apa tujuan para penculik itu. Mungkin para penculik itu memendam rasa dendam yang amat terhadap Hanifa atau Malik. Iya, begitulah zaman sekarang, banyak orang-orang dewasa yang memanfaatkan anak kecil sebagai pelampiasan rasa kesal dan dendam nya terhadap kedua orangtua anak bersangkutan. Karena mereka tahu, bagi orangtua anak adalah merupakan sumber kekuatan dan kelemahannya. Anak adalah merupakan harta yang paling berharga di bandingkan apapun. Maka mereka menjadikan anak sebagai umpan untuk bisa membalas rasa sakit hati dan dendam tersebut. Maka ada baiknya anak-anak kita di jaga dan di awasi selalu, agar tidak kecolongan.
''Aisshh ... Mobil itu bergerak begitu cepat, sepertinya kita masih belum bisa menemukan jejaknya. Lihatlah Sayang, plat mobilnya saja sengaja mereka tutupi, sepertinya para penculik itu telah merencanakan semuanya. Tapi kamu tenang saja, masih banyak cara lain bagi kita untuk menemukan keberadaan Arif.'' tutur Malik. Ia melihat rekaman cctv yang di putar di kantor security di dekat sekolah Arif.
''Baiklah, Sayang.'' balas Malik.
''Terimakasih Pak, atas bantuan nya.'' ucap Hanifa kepada security.
''Iya sama-sama Pak, Bu. Semoga saja putra kalian bisa segera di temukan dalam keadaan baik-baik saja.'' sahut Security berusia sekitar tiga puluhan. Security yang mempunyai tubuh atletis.
''Amin.'' sahut Malik dan Hanifa bersamaan. Lalu mereka berlalu pergi.
Saat mobil sudah melaju, Malik meminta agar Hanifa tidak usah ikut dengannya mencari keberadaan Arif. Selain takut kandungan Hanifa kenapa-kenapa, ia juga akan mengunjungi suatu tempat. Ia akan menemui seseorang yang dicurigainya sebagai dalang di balik penculikan Arif.
Ia akan mengantarkan Hanifa kembali ke rumah, mobil ia pacu dengan kecepatan sedang. Saat sedang menyetir sesekali tangan Malik yang satu nya mengelus perut Hanifa. Ia merasa bersyukur, karena kehamilan Hanifa tidak begitu merepotkan siapapun. Meskipun begitu, ia tetap tidak boleh lengah membiarkan sang istri melakukan apapun yang berat-berat. Malik begitu menjaga sang istri dan sang calon buah hati yang mulai berkembang.
__ADS_1
''Dia pintar sekali, Mas.'' ucap Hanifa. Hanifa menggenggam tangan sang suami yang masih berada di perut nya.
''Mas tahu. Anak-anak kita sama seperti mu. Mereka kuat dan bisa memahami situasi. Tumbuhlah dengan baik Sayang.'' sahut Malik dengan mengelus perut rata Hanifa lagi. Tidak lama setelah itu mobil nya berbelok memasuki pagar, lalu berhenti di depan teras rumah.
''Beristirahatlah Sayang. Jangan lupa minum susu dan vitaminnya. Dan do'akan selalu agar usaha Mas dan Mas Abdillah dalam mencari keberadaan Arif membuahkan hasil dengan cepat.'' ucap Malik seraya mengelus pucuk kepala Hanifa.
''Baiklah, Mas. Aku keluar. Hati-hati.'' sahut Hanifa. Ia mengambil tangan sang suami lalu mengecupnya takzim. Setelah itu ia turun dari mobil. Hanifa melambaikan tangan melepas kepergian Malik. Lalu setelah itu ia berjalan gontai masuk ke dalam rumah. Beberapa orang pelayan menatap prihatin ke arah nya. Mereka berharap Arif akan segera di temukan. Karena hubungan mereka selama ini juga begitu dekat dengan Arif. Arif yang selalu menganggap orang-orang punya kedudukan yang sama dengan nya. Arif yang tak pernah sungkan becanda dan bermain bersama para pelayan di rumah. Para pelayan di rumah itu sudah di anggap sebagai teman.
Setelah mengendarai kendaraan roda empat miliknya cukup jauh, akhirnya Malik menginjak pedal gas tepat di pelantaran sebuah hotel berbintang. Ia keluar dari dalam mobil lalu berjalan dengan langkah kaki lebar memasuki hotel. Begitu sudah sampai di dalam hotel, ia berbicara bersama sang resepsionis.
''Ada yang bisa kami bantu, Tuan?'' tanya Resepsionis yang mempunyai tubuh tinggi semampai dengan rambut di sanggul. Wajahnya tersenyum simpul.
''Saya mau ketemu dengan wanita yang bernama Shanum. Bisakah anda menunjukkan kamarnya?'' sahut Malik to the point.
''Tunggu, kami periksa dulu. Apakah Nona Shanum Ambarwati ada di kamar nya.'' ucap resepsionis tersebut sembari melihat layar laptop. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard. Malik mengangguk kecil. Setelah itu ia berbicara lagi.
''Em ... Maaf Tuan. Sepertinya Nona Shanum sedang tidak ada di kamarnya. Dia keluar tadi malam, habis itu belum kembali juga.'' jelas sang resepsionis.
''Oke, terimakasih atas informasinya.'' ujar Malik.
''Iya Tuan.''
''Oh, ya. Kalau dia kembali, jangan katakan kalau Saya pernah ke sini menanyai keberadaan nya.'' pesan Malik kepada Resepsionis.
''Baiklah Tuan.'' jawab Resepsionis itu lagi. Ia menatap kagum ke arah Malik. Siapa yang tidak mengenal Malik. Penguasaan muda yang memiliki wajah amat rupawan.
Setelah itu Malik kembali ke mobil. Begitu tiba di dalam mobil Malik memukul kecil setir mobil. Ia merasa kesal karena lagi-lagi ia tetap tidak berhasil menemukan apa-apa perihal keberadaan Arif. Saat ia hendak melajukan mobilnya meninggalkan area Hotel, ia melihat sebuah mobil berhenti tepat di samping mobilnya, lalu seorang wanita seksi keluar dari mobil tersebut. Malik tersenyum simpul dengan sedikit menundukkan kepalanya. Untungnya ia memakai mobil yang berbeda dari mobil yang kemarin-kemarin. Mobil yang pastinya tidak kenali oleh Shanum.
__ADS_1
Bersambung.