
Yusuf dan Ameera menyantap hidangan dengan menu yang berbeda, restoran tempat mereka makan memang menyediakan makanan dengan berbagai macam menu, yang memiliki harga cukup fantastis. Yusuf memesan nasi putih beserta lauk biasa, karena lidahnya yang terbiasa makan makanan rumahan itu tidak bisa makan makanan yang aneh-aneh. Sedangkan Ameera memesan Skirt steak, makanan yang terbuat dari olahan daging sapi. Di sela-sela menikmati makanannya, sesekali Ameera mencuri pandang ke arah Yusuf. Tidak ia pungkiri, Yusuf memiliki wajah yang tampan dan teduh, yang ketampanannya tidak kalah jauh dari Malik. Yusuf juga sopan dan memiliki sifat yang lembut, lembut dalam bertutur kata. Entah kenapa dada Ameera selalu berdesir aneh setiap kali melihat Yusuf. Pria kedua yang mampu membuat ia merasakan perasaan aneh itu setelah Malik. Ini kali keduanya mereka makan bersama setelah hari itu. Semenjak Yusuf memberi tumpangan kepada Ameera waktu itu, hubungan keduanya terjalin cukup baik, mereka bertukar nomer ponsel lalu terbiasa saling menghubungi, menanyakan tentang aktivitas setiap hari, sesuatu yang terkadang bisa dibilang tidak penting-penting amat.
''Bagaimana hari ini? Apakah Mahasiswa di kampus berulah lagi?'' Ameera bersuara setelah makanan di piringnya tandas.
''Hari ini lebih baik dari kemarin. Alhamdulillah, Mahasiswa sedikit demi sedikit mulai berubah dan menurut. Ya namanya juga Dosen baru, mungkin mereka hanya ingin menguji sedikit rasa sabarku.'' jawab Yusuf dengan senyum simpul. Ia juga sudah menghabiskan makanannya. Ia menghapus mulutnya dengan tissue.
"Iya. Apalagi Dosen muda seperti kamu, para Mahasiswi yang cantik-cantik pasti senang menggoda. Ckckck ...'' ucap Ameera di sertai tawa kecil.
''Kamu bisa saja Ameera. Kamu sendiri bagaimana dengan klie ....'' belum selesai Yusuf berbicara seseorang terdengar menyapanya.
''Ehm, Assalamu'alaikum, Mas Yusuf?'' sapa Hanifa, Hanifa dan Malik telah duduk di meja yang bersebelahan dengan meja Yusuf dan Ameera. Hanifa dan Malik berpura-pura sedikit kaget, seakan baru melihat Yusuf.
Yusuf dan Ameera mengalihkan tatapan mereka ke arah sumber suara, mereka kaget melihat Malik dan Hanifa yang berada sudah di sebelah mereka. Sedangkan Hanifa dan Malik juga tidak kalah kagetnya melihat siapa perempuan yang tengah bersama Yusuf.
''Mbak Ameera?'' seru Hanifa.
''Hanifa, Malik.'' ujar Ameera.
''Kalian saling kenal?'' tanya Yusuf.
''Kalian?'' ujar Malik, jarinya menunjuk Ameera dan Yusuf secara bergantian. Setelah itu mereka berempat mulai mengobrol, Yusuf menceritakan awal mulanya berkenalan dengan Ameera. Setelah itu Ameera menceritakan hubungannya dengan Malik dan Hanifa kepada Yusuf, begitu juga sebaliknya. Disela-sela obrolan mereka, tidak pernah sekalipun Malik menceritakan tentang Ameera yang pernah mengungkapkan perasaan khusus kepada nya. Begitu juga Hanifa. Mereka mengobrol seperti biasa, layaknya seperti teman biasa.
''Jadi kapan nih kalian akan menikah?'' tanya Ameera dengan senyum mengembang. Sedangkan Yusuf begitu mendengar pertanyaan itu merasa masih ada yang sakit di sudut hatinya. Ia menunduk, lalu menenggakkan wajahnya kembali, mencoba bersikap biasa saja. Melihat Hanifa yang semakin hari semakin cantik dengan gamis dan jilbab lebarnya membuat Yusuf susah move on. Baginya Hanifa tetap yang teristimewa.
''Tidak lama lagi. Insya Allah Jum'at depan. Kalian datang ya, undangannya memang belum di sebar, rencananya besok lusa undangannya akan mulai di sebar. Kalian adalah orang pertama yang aku dan Hanifa undang.'' kata Malik dengan senyuman manis nya.
''Wah, selamat, ya. Semoga lancar-lancar menuju hari H.'' ucap Ameera tulus. Sebenarnya Ameera juga merasa ada yang sakit di sudut hatinya ketika mengatakan itu. Tapi rasa itu ia anggap wajar, perlahan rasa cintanya terhadap Malik akan hilang seiring berjalannya waktu. Tidak lama setelah itu makanan yang di pesan oleh Hanifa dan Malik datang. Bertepatan dengan itu juga Yusuf dan Ameera pamit dari hadapan mereka. Setelah kepergian Yusuf dan Ameera, Malik bersuara.
''Kalau di lihat-lihat mereka serasi, ya, Dek.''
''Iya. Mereka sepertinya cocok menjadi pasangan. Aku senang melihatnya. Tapi ....'' Hanifa kepikiran dengan Hamidah yang sudah lama memiliki perasaan suka terhadap Yusuf.
''Tapi apa, Dek?''
''Em ... Tidak. Ayo makan Tuan. Jangan lupa baca doa dulu.''
__ADS_1
''Iya calon istriku yang sholehah.''
''Iish ...''
***
Beberapa hari terlewati.
Di rumah yang cukup kecil sepasang suami istri yang baru kemarin menikah sedang duduk di meja makan kayu. Wajah keduanya nampak lesu.
''Makanlah, hari ini hanya ada lauk tempe sama tahu goreng saja.'' ucap Siska dengan wajah kusut terlihat lelah.
''Iya. Mas akan makan, terimakasih Siska. Dan maaf ...'' balas Setya dengan dada terasa sesak. Begitu cepat hidupnya berubah karena ia yang berulah.
''Iya. Nggak apa-apa, Mas.'' balas Siska lagi. Kemudian mereka mulai menyantap sarapan pagi itu dengan tak bersemangat. Mereka makan dengan diam, pikiran keduanya berkelana memikirkan makanan untuk esok hari. Sedangkan uang di tangan sudah tidak ada lagi. Kondisi Setya juga belum sembuh total, ia masih perlu istirahat memulihkan kondisinya pasca di hajar oleh orang suruhan Arumi. Setelah menghabiskan sepiring nasi. Setya berjalan keluar duduk di teras rumah mencari udara segar agar pikirannya yang buntu sedikit mencair. sedangkan Siska mencuci piring dan berberes rumah. Setya duduk di kursi kayu sambil menghisap sebatang rokok. Di rumah tetangga sebelah, nampak Ibu-ibu tengah berkumpul. Ibu-ibu yang merupakan tetangganya melihat ke arah nya dengan berbisik lirih, Setya tak menghiraukan itu, telinganya sudah tebal. Semenjak kedatangannya dan Siska kemarin tetangga begitu heboh membicarakannya. Ia tahu, tetangga bersikap seperti itu memang karena salahnya, dulu saat ia masih hidup bersama dengan Hanifa dan sang putra, tidak sekalipun Ibu-ibu itu bersikap kurang ajar terhadap dirinya, Ibu-ibu itu selalu baik dan menyapanya dengan ramah setiap kali melihat nya. Ia sadar, semua ini memang kesalahannya, kesalahan fatal yang ia lakukan di dalam hidupnya. Di saat Setya tengah merenungi hidupnya, ia melihat Hamidah datang, setelah itu ia mendengar Ibu-ibu berucap antusias. Setya memasang telinga mencoba mendengarkan.
''Hamidah, kami sudah kangen banget sama kamu, akhirnya kamu pulang juga. Sepertinya kamu nyaman, ya, tinggal di butik milik Hanifa.'' ucap seseibu yang memiliki tubuh gempal.
''Aku juga kangen sama kalian, aku pasti pulang lah. Aku pulang ingin melihat rumahku sekalian ingin memberikan ini sama kalian, ini titipan dari Hanifa. Hanifa sangat berharap Ibu-ibu datang di hari bahagianya. Maaf, dia tidak bisa mengantar undangan ini secara langsung, namanya juga calon pengantin, pasti sibuk dan harus di pingit.'' ucap Hamidah dengan senyum mengembang sambil memberikan satu persatu undangan kepada Ibu-ibu. Ibu-ibu itu sedikit kaget mendengar Hanifa akan menikah lagi. Mereka menatap dan membaca tulisan yang ada di undangan dengan seksama.
''Ganteng sekali, ya, calon suami Hanifa.''
''Iya ganteng banget. Kayak aktor-aktor tampan di televisi. Cocok banget sama Hanifa yang cantik dan kalem.''
''Pasti orang kaya.''
''Pastilah. Lihat saja tulisan di undangan. CEO. Wah seorang CEO, udah kayak di novel-novel online yang sering aku baca aja. Suami Hanifa orang kaya banget ternyata.''
''Kita pasti akan datang.''
''Iya. Kita pasti akan datang.'' ujar Ibu-ibu antusias dengan riang bahagia.
''Baiklah, kalau begitu aku ke sana dulu ya, Ibu-ibu.'' Hamidah menunjuk rumah yang di huni Hanifa dulu. Ia juga merasa penasaran melihat Setya yang duduk di teras, karena setahunya rumah itu sekarang di huni oleh Siska. Ibu-ibu itu mengangguk dengan senyum sinis melihat ke arah Setya yang menunduk. Setya menunduk dengan air mata mengenangi pelupuk, ia tidak menyangka Hanifa akan mendapatkan penggantinya begitu cepat. Ia merasa hatinya sangat sakit mendengar penuturan Ibu-ibu.
Hamidah berjalan ke arah rumah Setya, begitu sampai ia mengucap sallam pada Setya yang duduk menunduk.
__ADS_1
''Assalamu'allaikum.''
''Eh ... Walaikumsallam.'' Setya menegakkan wajahnya seraya menghapus air mata yang hendak jatuh membasahi pipi.
''Setya, kamu ngpain di sini?'' tanya Hamidah dengan mata menyipit, ia berdiri di depan Setya menatap Setya lekat.
''Aku sekarang sudah kembali tinggal di sini, Teh.'' Setya memang memanggil Hamidah dengan sebutan Teh. Ia mengikuti panggilan Hanifa dulu.
''Arumi? Siska?'' seru Hamidah.
''Aku sudah bercerai dengan Arumi. Dan sekarang aku sudah menikah sama Siska.''
''Waw hebat sekali kamu...'' Hamidah berucap lantang sedikit menyindir dan tidak menyangka.
Setya hanya mampu diam, ia duduk salah tingkah dengan tangan di paha saling meremas.
''Em, maaf. Aku kesini cuma pengen kasih ini ke Siska. Ini titipan Hanifa. Semua warga sini juga dapat undangan ini. Emm Siska Mana?''
''Siska ada di dalam lagi beres-beres rumah.''
''Ya udah, ini tolong kasih ke Siska, ya.'' Hamidah menjulurkan undangan kepada Setya. Setya mengambilnya dengan tangan gemetar.
''Aku permisi.''
''Iya.'' jawab Setya.
Setelah kepergian Hamidah, Setya membuka undangan itu pelan dengan tangan masih gemetar. Ia mulai membaca nama dan menatap foto prewedding yang terdapat di undangan dengan pandangan mengabur. Sesak, dadanya sungguh sesak melihat itu, lalu setelah itu.
Brukkk!
Setya terduduk di lantai, lalu menjerit, ia menangis pilu.
''Hanifa, Arif, huhuhu ....'' racau Setya begitu saja tanpa malu. Undangan itu ia dekap erat. Di dalam undangan itu ia melihat foto Hanifa dan Malik, di tengah-tengah Malik dan Hanifa, terdapat Arif. Malik dan Hanifa memeluk Arif. Sedangkan Arif tersenyum mengembang. Mereka seperti keluarga kecil yang amat bahagia, Setya begitu terluka melihat itu. Siska yang tengah menyapu di dalam rumah, begitu ia mendengar Setya menjerit langsung berlari tergopoh-gopoh. Begitu ia sampai di luar ia melihat Setya duduk di lantai berdebu dengan kedua tangan memeluk lutut, wajahnya menunduk. Siska merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi pada sang suami.
Bersambung.
__ADS_1