
''Keluar!'' bentak Abdillah seraya mengetuk pintu mobil Arumi dengan keras dan berulang. Arumi duduk membeku di dalam mobil dengan wajah mendadak pucat pasi, rasanya seketika jantungnya berhenti berdetak mendengar suara Abdillah yang menggelegar.
''Cepetan keluar kamu, Arumi!'' ulang Abdillah karena Arumi tak kunjung membuka pintu.
''A-ab-abdillah, kamu mau ngapain? Kenapa kamu mengikuti aku?'' ucap Arumi gugup, ia masih mencoba mengelak.
''Nggak usah ngeles lagi, aku sudah punya semua bukti tentang peristiwa tabrak lari tadi malam! Aku sudah memeriksa semua cctv di tempat kejadian dan melihat mobil kamu lah yang telah menabrak Hamidah.'' ucap Abdillah dengan suara keras.
''Buka pintunya sekarang juga, atau aku pecahkan kacanya.'' Abdillah mengambil sebongkah batu yang ada di pinggir jalan, lalu ia dekatkan di dekat kaca mobil Arumi. Arumi terlihat semakin ketakutan.
''A-aku tidak mengerti sama apa yang kau katakan, Abdillah.'' lagi, Arumi pura-pura bodoh.
''Baiklah, kalau begitu aku akan menyerahkan semua buktinya kepada polisi sekarang.'' ancam Abdillah tersenyum sinis.
''Abdillah, maafkan aku. Semua itu aku lakukan karena aku mencintaimu.'' Arumi bersuara lantang, akhirnya ia mengaku karena merasa terancam. Posisinya masih berada di dalam mobil.
''Cinta apaan?! Cinta seperti apa yang kamu miliki itu? Cinta itu tidak memaksa dan tidak egois. Aku tidak mencintaimu, mengerti kamu sekarang!'' ucap Abdillah tegas yang berhasil membuat hati Arumi terasa sakit. Sakit tapi tak berdarah.
''Cepetan buka pintunya.''
''Iya, iya.'' Arumi lalu membuka pintu mobil. Setelah pintu terbuka tangisnya pecah. Abdillah bersiap hendak menyeret nya keluar dari dalam mobil. Tapi urung ia lakukan karena tangis Arumi yang semakin menjadi-jadi.
''Jangan apa-apa kan aku, Abdillah, jangan kamu penjarakan aku. Aku mengakui semua kesalahan ku. Kasihan anakku dan orangtuaku kalau mereka tahu aku masuk penjara.'' mohon Arumi, ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan air mata yang masih terus berderai.
''Heh, makanya sebelum bertindak, kau pikirkan dulu akibat yang akan timbul karena tindakan konyol mu itu, kau hampir saja menghilangkan nyawa seseorang yang begitu spesial bagiku. Ayo, keluar, dan jalan ke mobil ku.'' titah Abdillah sedikit memaksa. Akhirnya Arumi menurut, ia keluar dari dalam mobilnya, lalu ia berjalan menuju mobil Abdillah. Abdillah mengikutinya dari belakang. Begitu ia sudah sampai di dekat mobil, Abdillah membuka pintu mobil bagian depan, lalu berkata,
''Masuk.'' Arumi mengangguk, lalu Arumi duduk di sebelah Bambang. Setelah itu Abdillah menutup pintu mobil kembali.
__ADS_1
''Jaga dia, kamu ikuti mobil yang aku bawa, ya.'' ucap Abdillah memberi perintah kepada Bambang.
''Siap, Bos.'' jawab Bambang. Setelah itu Abdillah berjalan dengan langkah kaki lebar menuju mobil milik Arumi, lalu Abdillah memasuki mobil itu, begitu sudah sampai di dalam mobil, Abdillah memutar setir, menginjak pedal gas, lalu mobil mulai bergerak maju.
Bambang mengikuti mobil yang di kendarai oleh Abdillah dengan tatapan fokus ke depan. Di sampingnya Arumi nampak duduk dengan gelisah.
''Kalian mau membawa aku ke mana?'' tanya Arumi kepada Bambang.
''Diamlah kau wanita jahat!'' bentak Bambang, dengan memasang wajah serius dan sangar. Ia terlihat begitu berwibawa. Padahal di dalam hati, susah payah Bambang menahan tawa melihat wajah Arumi yang ketakutan setelah mendengar bentakan nya. Bambang merupakan pria yang tampan dengan tubuh tinggi atletis ideal. Ia merupakan pria yang berasal dari desa. Ia memiliki jiwa yang sedikit humoris. Ia sangat suka becanda. Setelah itu Arumi tak berani bersuara lagi, hanya saja sepertinya ia tengah merencanakan sesuatu.
''Aku tidak mau masuk penjara, bagaimana ini? Apa aku kabur saja?'' Arumi berbicara di dalam hati.
''Ah, iya. Aku akan lompat dari mobil ini. Kalau aku berhasil melompat dari mobil ini dengan selamat, maka aku akan melarikan diri ke dalam hutan. Tapi kalau aku melompat lalu tidak berhasil selamat, sudah pasti aku akan mengalami kecelakaan hebat atau bahkan mati. Hanya ada dua kemungkinan. Iya, lebih baik aku mati konyol dari pada aku harus di kurung di penjara lalu membuat malu orang tua ku lagi.'' batin Arumi lagi dengan mengangguk-angguk kepalanya. Setelah itu ia mulai membuka pintu mobil dengan pelan. Bambang yang merasa curiga melihat gerak-gerik Arumi, lalu bersuara.
''Mau ngapain kamu?!" seru Bambang.
Sedangkan Abdillah, saat ia tengah menyetir, tiba-tiba ponselnya yang berada di saku celananya berdering. Ia mengangkat nya cepat.
''Iya, Ani.'' sahutnya.
''Pak Abdillah, Bu Hamidah sudah sadarkan diri sekarang.'' ujar Ani memberi kabar baik.
''Alhamdulillah.'' kata Abdillah.
''Begitu Bu Hamidah sadar, ia langsung menanyakan keberadaan Pak Abdillah. Jadi cepatlah ke sini, orang tua Bu Hamidah meminta agar Pak Abdillah segera datang ke rumah sakit.'' ucap Ani lagi.
''Baiklah.'' jawab Abdillah, lalu panggilan itu ia akhiri. Ia merasa begitu senang dan lega mendengar Hamidah yang telah sadar, apalagi kata Ani, Hamidah menanyakan dirinya, maka semakin berbunga-bunga lah hati Abdillah ia rasa. Ia semakin cepat melajukan mobil yang di kemudinya. Ia akan menuju kantor polisi. Tapi, baru saja ia menyimpan ponselnya di dalam saku celana, tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Abdillah mengangkat nya cepat.
__ADS_1
''Iya, Bambang.'' sahut Abdillah.
''Bos, mundur kebelakang, wanita ini bertindak nekat, ia melompat dari mobil, Bos.'' jelas Bambang dengan suara terdengar panik. Setelah itu Abdillah memutuskan panggilan, ia menyimpan kembali ponselnya, lalu Abdillah melihat kebelakang, benar saja, mobil yang di kendarai oleh Bambang tampak telah berhenti, lalu dengan cepat Abdillah memundurkan mobil yang di kendarai nya. Begitu di rasa sudah cukup, Abdillah menginjak pedal rem, lalu ia keluar dari dalam mobil. Begitu sudah tiba di luar, ia merasa begitu kaget melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini, ia melihat Arumi telah terbaring di atas aspal dengan darah berlumuran. Jantung nya nampak masih berdetak. Bambang berdiri di depan tubuh Arumi, ia merasa bingung harus melakukan apa. Jalanan masih dalam keadaan sepi, karena jalanan itu memang bukan jalanan utama. Jalan itu merupakan jalan pintas yang tidak semua orang tahu.
''Angkat tubuhnya, Bambang, kamu masukkan kedalam mobil yang aku kendarai saja.'' ucap Abdillah memberi perintah.
''Baik, Bos.'' jawab Bambang, lalu ia menggendong tubuh Arif dengan sedikit kesulitan.
''Kenapa bisa sampai terjadi, Bambang?'' tanya Abdillah.
''Wanita ini sepertinya sengaja hendak bun*h diri, Bos.'' jawab Bambang apa adanya.
''Dasar menyusahkan saja.'' ucap Abdillah sambil membuka pintu mobil. Begitu pintu mobil terbuka, Bambang lalu meletakkan tubuh Arumi di kursi belakang.
''Kasihan juga wanita ini, Bos.'' ujar Bambang.
''Apa kau menyukai nya?'' goda Abdillah.
''Tidak! Dia bukan tipe ku. Ck.'' sahut Bambang tersenyum kecut. Di saat lagi dalam keadaan genting begini, masih sempat-sempatnya Abdillah menggodanya.
''Dia lebih cantik dan Sholehah.'' Bambang berbicara di dalam hati sambil tersenyum simpul. Ia jadi teringat sama wanita yang tinggal bersebelahan dengan kontrakannya.
Setelah itu Abdillah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Sebenarnya Abdillah juga merasa ketar-ketir, ia takut nyawa Arumi tidak dapat di selamatkan.
Sedangkan Bambang mengendarai mobil yang satu lagi.
Bersambung.
__ADS_1