
Wanita yang sudah berumur, dengan rambut di sanggul ke atas, pakaian nya bewarna merah yang terlihat mewah dengan payet-payet menghiasai lengan dan kerah. Tas di tenteng, semakin menambah kesan modis nya. Ia berjalan dengan langkah kaki lebar menuju sebuah ruangan, di ikuti oleh anak gadisnya. Di depan mereka berjalan terlebih dahulu seorang wanita berseragam coklat berambut pendek, wanita itu menuntun mereka ke sebuah ruangan, ruangan yang baru pertama kali mereka kunjungi. Begitu tiba di tempat yang mereka tuju, wanita yang berpenampilan modis itu menjatuhkan tas nya seketika, begitu juga sang putri, ia menatap pria yang berada di dalam jeruji dengan perasaan sedih dan tak tega. Hellen dan Ibunya menutup mulut, menggeleng lemah melihat Setya yang berbaring meringkuk di sudut ruangan. Tubuh nya terlihat semakin kurus. Ia nampak tengah tidur begitu pulas.
''Bu, sekarang sudah siang, apakah anak saya sudah makan?'' tanya Ibunya Setya kepada polisi wanita yang berdiri di sampingnya.
''Sudah, Bu. Kami sudah memberikan sepiring nasi untuknya tadi, tapi dia hanya memakan sedikit saja.'' jawab polwan dengan wajah datar.
''Bu, sepertinya anak saya tengah sakit, kenapa dia tidak di rawat saja di rumah sakit? Kalau begini terus dia bisa mati! Kalian tidak boleh memperlakukan anak saya dengan begitu kejam!'' ucap Ibunya Setya mencoba protes terhadap polisi.
''Kondisi fisiknya baik-baik saja, tadi malam Dokter sudah memeriksa nya, luka di kakinya dan memar di tubuhnya akan mengering seiring berjalannya waktu, tadi malam Dokter sudah memberikan obat untuknya. Anda tidak perlu khawatir, sepertinya sekarang dia tengah tertidur karena habis minum obat. Yang perlu Ibu khawatirkan adalah kondisi fsikis nya, karena mulai dari tadi malam, Pak Setya terus saja berbicara sendiri dengan tidak jelas, entah apa yang dia bicarakan, terkadang dia menyebut nama Arif berulangkali, terkadang juga dia menyebut nama Hanifa dan Siska. Tapi hanya kadang-kadang saja, saat salah satu anggota kami mengajak nya bicara, dia masih bisa nyambung dan menjawab dengan benar. Pak Setya sepertinya begitu stres. Dan, kalau di biarkan lama-lama bisa berakibat fatal juga. Tapi pihak kepolisian akan terus memantau ke depannya terkait kondisi fsikis Pak Setya, kalau kedepannya malah bertambah parah maka kami akan memindahkan nya ke ruang khusus tempat napi yang terkena tekanan mental atau gangguan jiwa.'' terang polwan itu lagi dengan begitu jelas. Ibu Setya semakin merasa khawatir mendengar penuturan sang polisi.
''Tidak! Anak aku tidak boleh gila, keluarga besar kami tidak ada yang turunan dari orang gila! Mau di taruh di mana muka ku ini kalau sampai orang-orang tahu Setya gila. Sudah masuk penjara, sekarang malah hampir mendekati gila! Kasihan sekali kamu, Nak, Nak!'' racau Ibu Setya dengan dada terasa sesak. Setelah itu polisi wanita meninggalkan mereka.
''Bu, coba bangunkan Mas Setya, aku kangen, Bu. Aku mau berbicara dengannya.'' pinta Hellen memohon.
''Bagaimana caranya Ibu bangunin Mas mu, orang penjara di gembok gini.''
''Iya panggikan lah, Bu. Suara Ibu kan keras dan punya ciri khasnya.''
''Benar juga kamu, ya,'' sahut Ibunya Setya lalu ia mulai memanggil Setya.
''Setya, bangun, ini Ibu, Nak.''
''Setya .... Ibu datang ke sini ingin menemui mu! Bangunlah!''
''Setya, Setya ....''
Setelah mencoba memanggil beberapa kali akhirnya membuahkan hasil, perlahan Setya menggerakkan tubuhnya, lalu matanya mulai terbuka. Hellen dan Ibunya yang melihat itu tersenyum simpul. Tapi setelah mata Setya terbuka dengan sempurna, ia malah menatap langit-langit penjara, ia terdengar berbicara ... ''Arif, maafkan Ayah, Nak. Arif, Arif sini sama Ayah, sini tidur sama Ayah, Nak. Ayah kangen, Ayah kangen tidur bersama mu dan Ibumu. Huhuhu ... Hahaha ... Aku pria yang bodoh!'' gumam Setya yang masih bisa di dengar oleh Ibunya dan Hellen. Ibunya dan Hellen merasa amat sedih mendengar itu, seketika air mata mereka sudah menutupi penglihatan mereka.
''Setya!'' panggil Ibunya lagi dengan suara serak dan lebih keras lagi dari tadi. Setya akhirnya menoleh ke arah mereka.
''Ibu, Hellen ...'' gumam Setya, lalu ia mulai mendekati Ibunya dan Hellen. Ia masih menggunakan tangan dan pantatnya untuk bergerak maju. Ia masih ngesot.
''Setya, kamu sudah makan?'' tanya Ibunya begitu jarak mereka sudah begitu dekat.
''Sudah, Bu. Ibu terlihat begitu cantik. Ibu sepertinya telah menggunakan uang pemberian dari ku dengan benar. Besok aku akan mencari uang yang banyak lagi. Hehehehe ....'' jawab Setya lalu terkekeh kecil.
''Apa yang kamu bicarakan? Ibu tidak butuh lagi uang, yang Ibu butuhkan saat ini adalah kebebasan mu dan kesehatan mu.''
''Bu, Siska meninggalkan aku, apa salahku, Bu?'' ucap Setya lagi tak nyambung, ia menunduk dengan wajah sedih. Tangannya memilin-milin ujung baju bewarna oren yang ia pakai.
''Kau tak salah apa-apa, dasar dianya aja tidak tahu diri!'' balas Ibunya kesal. Ia merasa kesal mengingat wajah Siska. Tadi di dalam perjalanan ke kantor polisi Hellen sudah menceritakan semuanya kepada Ibunya perihal Siska yang meminta cerai dari Setya.
Setelah itu Ibunya lalu mengeluarkan beberapa roti dari dalam tasnya, roti itu sengaja ia bawa untuk Setya.
''Makanlah.'' titah Ibunya membuka bungkusan roti lalu menyerahkan kepada Setya.
''Tidak mau!'' tolak Setya dengan wajah cemberut seperti anak kecil.
__ADS_1
''Kamu bisa mati kalau tidak makan.''
''Aku mau disuapin sama Hanifa.'' ucap Setya lancar.
''Apalagi ini? Dasar anak nggak waras! Hanifa, Hanifa katanya! Bikin kesel aja!'' Akhirnya sang Ibu terpancing juga emosinya, dadanya nampak naik turun.
''Ibu yang sabar dong.'' timpal Hellen. Lalu Hellen mengambil alih roti yang di pegang sang Ibu.
''Mas ...'' panggil Hellen pelan.
''Hellen,'' balas Setya menatap Hellen lekat.
''Makan, ya,'' bujuk Hellen.
''Iya.'' Setya mengambil roti yang di ulurkan oleh Hellen melalui jeruji besi yang berjarak-jarak cukup dekat, lalu ia memakannya dengan cepat. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh sang putra.
***
Di ruang penjara yang berbeda. Seorang pria yang berusia hampir mendekati kepala enam dan seorang wanita yang berusia sama sedang mengunjungi putrinya.
''Akhirnya kalian datang juga. Mama dan Papa kenapa lama sekali menemui aku di tempat sempit dan kotor seperti ini? Aku sungguh tak tahan!'' ucap Shanum ketika kedua orangtuanya datang menjenguk nya.
''Sudah puas kamu sekarang?'' bentak sang Papa dengan wajah terlihat marah.
''Papa apa-apaan sih!'' sahut Shanum santai dengan menggigit-gigit kukunya. Shanum memang terkadang suka bersikap semaunya terhadap kedua orangtuanya. Karena ia yang sedari kecil terbiasa di manja oleh beby sitter nya yang berjumlah tiga orang, keduaorangtua sibuk masing-masing dengan urusan mereka, Papanya sibuk mengurus perusahaan sedangkan Mamanya sibuk arisan dengan genk sosialitanya. Tapi meskipun begitu, barang dan hal apapun yang di inginkan Shanum selalu di penuhi oleh keduaorangtua nya, Shanum hanya kekurangan kasih sayang dari orangtuanya, tidak dengan kekurangan materi. Makanya saat ia dewasa ia begitu terobsesi sama Malik, ia menganggap Malik itu adalah barang yang bisa ia miliki dengan mudah. Tapi kenyataannya, terkadang ada sesuatu yang cukup kita kagumi tidak untuk di miliki. Karena tidak semua hal yang kita inginkan dapat terpenuhi.
''Shanum akan berubah, Pa. Shanum sudah sadar kalau di hati Malik memang tidak ada aku. Tapi Shanum mohon bebaskan aku, Pa.'' balas Shanum.
''Baiklah. Papa akan berusaha untuk membebaskan mu. Papa sudah menyewakan seorang pengacara handal untuk menangani kasus yang menjerat mu ini. Kamu bersabar lah dulu.''
''Terimakasih, Pa.''
''Sama-sama, tapi ingat Shanum, tidak ada yang gratis sekarang. Setelah kau bebas dari penjara, kau harus ikut kami kembali ke Malaysia, Papa telah menjodohkan kamu dengan anak rekan kerja Papa, dan kami juga sudah membicarakan perihal pernikahan kalian.''
''Baiklah.''
''Bagus. Papa senang melihat kau menurut begini.''
''Bersabar dulu, ya, Nak.'' timpal sang Mama.
''Iya, Ma.''
''Mama dan Papa sudah banyak menghabiskan dana untuk membantu mu, Sayang. Bahkan kami juga telah membayar beberapa orang wartawan agar mereka menutupi kasus mu ini dari media, agar kasus mu tidak mencuat ke permukaan umum, kami tidak mau kamu, Mama dan Papa merasa malu karena kecerobohan mu ini. Jadi setelah ini dengar lah kata-kata orangtua mu ini. Setelah menikah besok kau masih boleh kembali ke Indonesia untuk mengurus beberapa perusahaan kita, karena calon suamimu juga berasal dari Jakarta.''
''Baiklah, Ma, Shanum mengerti.''
''Ya sudah, kalau begitu Mama dan Papa akan pulang dulu.''
__ADS_1
''Iya.''
''Jaga diri, ya.'' pesan Mama Shanum sebelum ia berlalu meninggalkan Shanum. Kedua orang tua Shanum akan pulang ke rumah mereka yang ada di Jakarta, rumah yang sudah lumayan lama tidak mereka kunjungi.
***
Di tempat berbeda, kebahagiaan tengah membersamai keluarga Hanifa dan Malik. Semenjak kepulangan Arif, rumah yang selama beberapa hari itu begitu sunyi kini kembali di penuhi dengan tawa dan celoteh Arif. Di ruang keluarga Malik dan Sarah tengah mengobrol, di ruang bermain, Arif, Hamidah dan Abdillah sedang bermain bola bersama. Sedangkan Hanifa berada di kamar sendirian. Hari ini hari minggu, jadi Malik dan Abdillah bisa menikmati quality time bersama keluarga.
''Mama punya usul, bagaimana kalau besok kita pergi berlibur ke luar negeri, kita butuh jalan-jalan dan refreshing. Apalagi Kamu dan Hanifa, kalian 'kan pengantin baru, masak mainnya di rumah dan di perusahaan terus.'' ucap Sarah.
''Ide Mama bagus juga. Tapi Hanifa 'kan lagi hamil muda, Ma. Aku takut terjadi apa-apa sama kandungan nya.'' balas Malik.
''Mama rasa tidak akan terjadi apa-apa sama Hanifa. Menantu Mama itu wanita yang kuat. Besok kalau sudah sampai di luar negeri, kamu 'kan bisa jaga dia dengan baik. Hanifa pasti senang mendengar kita akan berlibur.''
''Mama ada benarnya juga. Kalau begitu aku akan menemui istriku di atas.''
''Baiklah.''
Setelah itu Malik berjalan naik ke tangga menuju lantai atas, ia akan ke kamar untuk menemui istri tercintanya. Saat sudah berada di kamar, ia melihat sang istri sedang duduk menghadap cermin rias. Hanifa nampak begitu seksi dengan piyama tanpa lengan dan panjangnya hanya sepaha. Malik yang melihat itu merasa tergoda, ia menghampiri sang istri lalu memeluk sang istri dari belakang. Ia mencium tengkuk sang istri pelan.
''Sayang, lagi apa?'' tanya Malik dengan nafas terdengar memburu.
''Aku udah mulai gendut Mas.'' ucap Hanifa.
''Iya, istri Mas udah mulai gendut, makin seksi dan cantik.''
''Semakin cantik apa semakin jelek?''
''Semakin cantik, Sayang.'' ucap Malik lirih. Setelah itu ia menggendong Hanifa.
''Mas mau bawa aku kemana?''
''Kesinilah.'' ucap Malik, ia meletakkan Hanifa pelan di atas kasur. Sekarang tubuhnya sudah berada di atas tubuh sang istri.
''Pintunya udah di tutup belum?'' tanya Hanifa dengan wajah merona. Jujur, ia juga sangat-sangat merindukan sentuhan lembut sang suami, karena selama beberapa hari ini mereka disibukkan mencari dan merawat Arif. Hingga mereka tidak sempat menyalurkan hasrat suami istri.
''Sudah dong.'' jawab Malik dengan senyum nakal. Setelah itu mereka mulai bermain-main, Malik menyentuh Hanifa dengan sangat pelan dan hati-hati, menyentuh sang istri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hanifa pun begitu menikmati sentuhan lembut dari sang suami. Bersama Malik, ia merasa begitu di hargai, ia merasa menjadi wanita yang paling beruntung dan bahagia.
''Ah ... '' Malik menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri, keringat sudah membasahi tubuh nya. Mereka telah selesai bermain-main. Hanifa lalu merebahkan dirinya di dada bidang sang suami. Malik mengelus bahu dan kepala Hanifa dengan lembut. Tubuh mereka masih sama-sama polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi.
''Terimakasih, Sayang.''
''Sama-sama Sayang.'' jawab Hanifa.
Setelah itu Malik mengutarakan tentang keinginan sang Mama mengajak mereka berlibur keluar negeri. Mendengar itu, Hanifa merasa bagai mimpi, ia tidak menyangka kalau ia bisa jalan-jalan keluar negeri. Ia sangat senang, dan ia juga menyetujui nya.
Bersambung.
__ADS_1