
Setelah itu Abdillah mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, nafas keduanya terdengar semakin memburu dengan dada sama-sama berdebar tak karuan. Lalu Abdillah memberanikan dirinya untuk mengecup pelan bibir tipis merah muda sang istri. Hamidah hanya mampu pasrah dan menurut saja, ia begitu menikmati sentuhan pertama sang suami di bibirnya. Abdillah tak melepaskan kecupannya itu, kecupan itu kini telah berubah menjadi ciuman, ciuman yang semakin lama semakin dalam. Sepasang pengantin baru itu begitu menikmati sensasi aneh yang baru kali ini mereka rasakan, sensasi aneh yang membuat keduanya mabuk kepayang dan tak ingin saling melepas lagi. Mereka saling bertukar saliva, tangan Abdillah bergerak pelan menyusuri tubuh sang istri. Mulai dari leher, punggung, dada, dan berhenti pada buah dad4 yang terasa begitu keny4l. Buah dad4 yang belum pernah terjamah oleh pria manapun. Tangannya bermain-main di sana, merem4snya dengan begitu lembut. Hingga sang pemiliknya mengeluarkan suara lenguhan yang terdengar begitu indah di telinga Abdillah. Setelah itu Abdillah menurunkan tali piyama yang ada di bahu sang istri, hingga piyama itu kini telah melorot sempurna dari tubuh sang istri. Abdillah merebahkan tubuhnya dan tubuh Hamidah dengan pelan di atas kasur, pagut4n di bibir keduanya masih belum terlepas, sesekali mereka melepaskan untuk menghirup nafas lalu kembali berp4gutan lagi.
''Mas ...'' ucap Hamidah lirih begitu Abdillah telah berganti posisi, sekarang Abdillah telah berpindah pada dua gundukan kecil, ia bermain-main di sana, membuat Hamidah semakin merasakan sensasi aneh yang membuat tubuhnya menghangat disertai rasa nikmat yang begitu luar biasa. Tangan Hamidah berpegang pada kepala sang suami, meremas rambut sang suami saat sang suami *****4* habis dua gundukan kenyal miliknya, hingga meninggal bekas kemerahan di sana. Setelah itu perlahan posisi Abdillah turun ke bawah, lalu ia melepaskan benda segitiga berbahan dasar kain yang melekat pada tubuh sang istri. Sarung yang di pakai Abdillah tadi pun sudah terlepas, dan Hamidah sekarang sedang menarik baju yang di pakai sang suami agar terlepas.
''Mas, jangan ...'' Hamidah memejam mata, menggigit bibir, saat sang suami semakin menenggelamkan wajah di bagian bawah pusarnya.
''Izinkan Mas memuaskan mu di malam pertama kita ini, Sayang.'' Abdillah berkata dengan nafas tersengal-sengal.
''Ya udah, tapi jangan di situ, aku nggak tahan, Mas ... Ah ...'' ucap Hamidah lagi. Tapi Abdillah tak mengindahkan perkataan sang istri. Abdillah semakin bersemangat bermain-main di area sensitif sang istri. ''Kamu akan terbiasa setelah ini Sayang, bahkan Mas yakin besok pasti kamu semakin ketagihan dan meminta Mas sering-sering melakukan ini, hehehehe ....'' Abdillah terkekeh kecil.
Plak! Hamidah menepuk punggung sang suami.
''Kamu bisa saja.'' sungutnya. Keduanya saling memandang lekat lalu tersenyum simpul. Setelah itu Abdillah telah bersiap-siap untuk melepaskan keperjakaan nya, begitu juga Hamidah, sebentar lagi keperawanan nya akan segera hilang.
''Hati-hati, Mas.'' pinta Hamidah dengan senyum malu-malu.
''Iya, Sayang.''
Perlu kerja keras bagi Abdillah untuk membobol pertahanan sang istri, apalagi sang istri yang mengatakan sakit dan perih dengan air mata mengenangi pelupuk, membuat Abdillah tak tega.
''Sepertinya besok saja kita lanjutkan Sayang.'' Abdillah menjatuhkan dirinya tepat di samping sang istri, dengan keringat membasahi kening dan sebagian tubuhnya.
''Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa menahannya.'' jawab Hamidah lirih. Ia merasa kasihan kepada sang suami kalau harus menahan sesuatu yang harus di salurkan.
''Tapi Mas tidak tega melihat wajahmu menahan sakitnya.''
__ADS_1
''Aku nggak apa-apa.''
''Yakin?''
''Hu'um.''
Setelah itu Abdillah kembali naik ke tubuh sang istri, dengan pelan ia menancapkan senjata miliknya, beberapa saat setelah berusaha akhirnya ia berhasil, senyum kelegaan terbit di wajahnya. Sementara Hamidah merasa sakit sekaligus nikmat. Abdillah dengan pelan menggoyang-goyangkan pinggulnya, dengan nafas tersengal-sengal dan suara des4han keluar dari bibir mereka berdua. Lalu setelah itu permainan mereka sudah sama-sama mencapai puncak. Malam pertama mereka sudah berhasil dengan sempurna.
***
Beberapa minggu setelah itu, Hamidah mengalami mual-mual hebat di sertai kepala yang terasa berkunang-kunang. Dengan sigap Abdillah membawa sang istri ke dokter Obgyn untuk memeriksa keadaan sang istri. Ia yakin sang istri pasti tengah mengandung benih cintanya yang selalu ia semai setiap malamnya. Keduaorangtua Hamidah juga begitu berharap Hamidah segera hamil, mereka sudah tidak sabar lagi ingin menimang cucu.
Setelah melakukan beberapa tahap pemeriksaan, akhirnya sudah di pastikan oleh dokter yang memeriksa kalau Hamidah benar-benar telah mengandung. Hamidah dan Abdillah begitu senang mendengar kabar baik itu. Begitupun Ainun dan Andra, mereka juga sangat bahagia. Mereka juga mengabarkan tentang berita baik itu kepada Hanifa.
''Bunda, terimakasih udah jemput Arif.'' Arif mengambil tangan sang bunda, lalu ia menciumi nya.
''Iya, Sayang.'' Hanifa mengelus lembut pucuk kepala Arif dengan senyum simpul.
''Bunda kalau capek mending istirahat saja, Mbak Marwah kan bisa jemput Arif.'' Arif merasa kasihan melihat sang bunda yang kesulitan berjalan.
''Bunda nggak capek kok, Bunda senang bisa menjemput mu Sayang.''
''Baiklah, ayo kita pulang Bunda.''
Arif dan Hanifa berjalan berdampingan menuju mobil dengan senyum simpul terbit di wajah keduanya, tangan Arif bergantung pada tangan Bundanya. Saat mereka mau memasuki mobil, mereka mendengar ada suara yang tengah memanggil mereka.
__ADS_1
''Hanifa, Arif ...'' Hanifa dan Arif menoleh kearah asal sumber suara.
''Hellen, Ibu?!'' Hanifa sedikit kaget melihat Hellen dan Ibunya tengah berdiri tidak jauh dari mereka.
''Hanifa, cucu Nenek ... Huhuhu ...'' tangis Ibunya Setya pecah saat ia sudah berada tepat di depan Arif dan Hanifa. Ia menundukkan kepalanya.
''Ibu kenapa?'' tanya Hanifa heran.
''Hanifa, maafkan Ibu atas kesalahan-kesalahan ibu di masa lalu. Ibu tahu Ibu sudah banyak berbuat salah dan melukai hati kamu dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut Ibu.'' ucap Ibunya Setya dengan suara sedikit serak. Hellen mengangguk kecil seakan ikut meminta maaf.
''Aku sudah memaafkan kesalahan Ibu dan kamu Hellen.''
''Arif, kamu mau 'kan memaafkan nenek'' tanya Ibunya Setya, ia menatap Arif lekat.
''Tidak!'' jawab Arif mengalihkan pandangannya kearah lain, wajahnya merenggut.
''Sayang, tidak boleh gitu. Tidak baik, Nak. Biar bagaimanapun nenek dan tante Hellen tetap keluarga Arif.'' Hanifa memberi nasihat.
''Ya sudah, kalau begitu aku maafkan Nenek dan Tante. Tapi setelah ini jangan galak-galak lagi, ya.''
''Iya, iya, itu pasti Sayang.'' Ibunya Setya memeluk erat tubuh Arif. Hellen dan Hanifa merasa terharu melihat itu.
Setelah itu Hellen dan Ibunya menyampaikan niat mereka kepada Hanifa. Mereka ingin Hanifa dan Arif menjenguk keadaan Setya di rumah sakit jiwa walaupun hanya sebentar saja. Berharap dengan kehadiran Hanifa dan Arif akan membuat Setya sembuh dari penyakit jiwanya. Awalnya Hanifa menolak, tapi karena Hellen dan Ibunya yang terus membujuk membuat Hanifa merasa kasihan. Ia pun bersedia menjenguk Setya di rumah sakit jiwa. Sebelum ia berangkat ke rumah sakit jiwa, ia menghubungi sang suami terlebih dahulu, meminta izin kepada sang suami. Hanifa menceritakan semuanya kepada Malik, menceritakan tentang kondisi Setya lewat sambungan telepon. Malik yang awalnya melarang keras Hanifa agar jangan menjenguk Setya, akhirnya ia mengizinkan Hanifa. Dengan syarat orang-orang suruhannya akan terus memantau keberadaan sang istri dan sang putra. Peristiwa-peristiwa masalalu cukup menjadi pelajaran baginya agar tidak lengah barang sedetik pun dalam menjaga Hanifa dan Arif.
Bersambung.
__ADS_1