
''Ini uang kes, aku kasih semuanya untukmu kalau kau bersedia bekerjasama dengan ku.'' bujuk Shanum seraya meletakkan amplop bewarna kuning di atas meja, amplop yang di dalamnya berisi uang tunai sepuluh juta rupiah.
''Maaf, aku tetap tidak mau.'' tolak pria itu tegas masih tetap mempertahankan keteguhan awal.
''Alahhh .... Sok jual malah sekali kamu. Lihatlah, kau terlihat sungguh menyedihkan. Tubuhmu begitu kurus, rambut acak-acakan, wajah kusam, pakaian jelek. Duh, duh, duh ... Aku yakin hidup mu akan semakin terpuruk kalau kau terus bekerja sebagai seorang Badut. Pekerjaan yang sungguh tak menjamin. Dan, istrimu yang cantik itu, aku yakin perlahan dia akan pergi meninggalkan mu. Wanita mana yang tahan lama-lama hidup dalam kemiskinan bersuamikan laki-laki pecundang yang tak bisa membahagiakan. Sementara di luaran sana, aku yakin banyak sekali lelaki kaya dan lebih tampan dari mu yang menyukai nya. Dan ... Adik mu, aku yakin semua orang akan menjauh saat kau tak punya apa-apa.'' ucap Shanum lagi sambil tersenyum sinis. Ia menatap Setya lekat. Mencoba menyelami apa yang Setya rasa dan pikirkan saat ini. Usai Shanum berkata seperti itu, Setya terlihat gelisah. Tangannya yang kurus memilin ujung baju yang kumuh. Setelah gagal menghasut Arumi, Shanum tetap tidak menyerah, ia mencari mangsa baru yang memiliki hubungan dekat dengan Hanifa dan Malik. Ia memerintahkan orang suruhan nya untuk mencari Setya dan mematai-matai kehidupan Setya saat ini. Dan saat ini, Arumi telah tahu segalanya tentang Setya, dan kini Arumi berhasil menemui dan berbicara langsung dengan Setya di taman kota. Mereka mengobrol di warung kaki lima yang menjual bakso dan minuman sachet. Tadi Shanum juga memesan semangkuk penuh bakso untuk Setya, Setya makan dengan lahap. Tapi Shanum hanya melihat saja. Ia sungguh tidak berselera sama sekali makan di pinggir jalan yang di anggap nya kotor.
''Em ... Apa kau merindukan putra mu bersama Hanifa?'' tanya Shanum lagi, masih berusaha membujuk.
''Tentu saja, aku sangat merindukan nya. Dia putraku, di dalam darahnya juga mengalir darahku.'' jawab Setya.
''Tapi kenapa kau tidak pernah menemui nya? Apa dia tidak mau bertemu dengan Ayah miskin dan jelek seperti mu? Ckckck ...'' ucap Shanum sambil terkekeh kecil.
''Hentikan omong kosong mu itu! Kau baru saja mengenali aku, tapi kau berlagak seperti sudah mengetahui semuanya tentang aku, tentang masalalu ku! Dasar wanita aneh!'' ucap Setya dengan nada sedikit keras, wajahnya sedikit memerah.
''Aku tahu, aku tahu semuanya Setya! Makanya aku datang ke sini berniat untuk membantu mu. Ambil uang ini, kasih kepada istri mu, adik mu dan Ibu mu. Aku yakin mereka pasti akan senang mendapatkan uang ini dan pastinya mereka akan lebih menghargai mu sebagai seorang lelaki. Aku akan menambah jumlahnya kalau kau benar-benar bersedia berkerjasama denganku. Dan putra mu, aku akan membuat kau bisa bertemu dengannya. Kau bahkan bisa memeluk nya kalau kau mau bekerjasama dengan ku.'' bujuk Shanum dengan kata-kata manis. Setya terlihat gelisah, menurutnya, setiap perkataan yang keluar dari mulut Shanum ada benarnya juga. Ia tidak mungkin terus hidup dalam kemelaratan yang tak tahu ujungnya. Bahkan, di rumah, Hellen dan Siska selalu ribut memperebutkan makanan yang sedikit. Sampai saat ini Hellen masih belum dapat pekerjaan. Karena dia yang suka memilih-milih pekerjaan. Ia akan bekerja kalau pekerjaan itu di perkantoran. Tapi setelah beberapa kali ia mengirim surat lamaran ke perusahaan, ia selalu di tolak.
''Apa kau bisa memberikan pekerjaan untuk Adik perempuan ku?'' tanya Setya penuh harap. Ia sudah mulai masuk perangkap Shanum dengan di iming-iming harta. Harta, tahta dan wanita. Ketiga hal tersebut merupakan godaan yang berat bagi kaum pria.
''Oh ... Tentu saja. Mau bekerja sebagai apa? Penjaga toko, atau apa?'' jawab Shanum pasti dengan senyum merekah.
__ADS_1
''Aku ingin Adikku bekerja di perusahaan. Pekerjaan itu yang ia idam-idamkan selama ini. Karena ia pernah kuliah, dan dia juga telah meraih gelar S1.'' tutur Setya. 'kalau Hellen bekerja di Perusahaan, pasti dia akan senang, bukan dia saja yang akan merasa senang, Ibu pun pastinya akan merasakan hal yang sama.' ucap Setya di dalam hati.
''Waw, oke kalau begitu. Papa ku punya beberapa perusahaan besar di Jakarta. Besok kau bisa menyuruh Adik mu untuk memasukkan surat lamaran nya di perusahaan milik Papa ku. Aku akan memberikan jabatan yang bagus untuk nya di sana.'' ucap Shanum, lalu ia mengambil pulpen dan kertas kecil dari dalam tas nya, ia menuliskan alamat perusahaan sang Papa. ''Ini alamat nya. Kasih ke Adik mu.'' ucap Shanum sambil menjulurkan kertas kepada Setya, saat Setya hendak mengambil kertas itu, Shanum berbicara lagi, '' Eitss ... Tapi, kamu sudah setuju 'kan untuk berkerja sama dengan ku?'' tanya Shanum lagi.
''Mm ... Iya, aku setuju.'' jawab Setya sedikit ragu. Tapi ia sudah menyetujui semua nya.
''Oke, ini ambil.'' Setya mengambil kertas yang bertuliskan alamat itu.
''Dil!''
''Dil!''
Setya dan Shanum saling berjabat tangan. Setelah itu Shanum mulai berbicara mengenai rencana awal mereka untuk menghancurkan rumah tangga Hanifa. Saat Shanum menjelaskan hal apa-apa saja yang harus dilakukan Setya, Setya bergidik takut dan tak tega. Tapi ketika ia ingat akan uang dan jabatan yang telah Shanum janjikan, akhirnya ia hanya mampu menurut dengan keraguan keraguan yang bersarang di benaknya.
''Baiklah.''
''Ini uangnya. Ambillah.''
''Terimakasih.''
__ADS_1
''Iya.''
Setelah itu Shanum masuk ke dalam mobil. Lalu mobilnya melaju membelah jalanan yang remang-remang.
''Jika aku tidak bisa mendapatkan Malik. Maka aku tidak akan membiarkan Hanifa hidup tenang bersama Malik. Sampai kapanpun Malik tetap milikku.'' gumam Shanum berapi-api.
Sedangkan Setya tersenyum senang sambil memegang uang yang lumayan banyak. Lalu ia berjalan pulang, ia mampir ke rumah orangtua Yusuf terlebih dahulu untuk mengembalikan kostum badut. Begitu ia tiba di depan rumah Yusuf, ia melihat Yusuf tengah berbicara dengan seorang wanita cantik di teras rumah.
''Setya, tumben sudah pulang? Sudah banyak dapat uang malam ini?'' tanya Yusuf ramah begitu ia melihat keberadaan Setya di depannya.
''Em ... Iya Yusuf. Alhamdulillah.'' jawab Setya sedikit berbohong.
''Alhamdulillah. Ya sudah kostum badut nya langsung di taruh di tempat biasa, ya. Umi sama Abi sedang tidak ada di rumah.''
''Baiklah.'' usai berkata seperti itu, Setya masuk kedalam rumah untuk meletakkan kostum badut. Sementara Yusuf dan Ameera menatap nya dengan perasaan sedikit iba melihat penampilan Setya.
''Kasihan sekali dia sekarang, ya. Nasibnya sungguh berbanding terbalik dengan Hanifa.'' ucap Ameera dengan suara lirih.
''Iya. Tapi dia sekarang sudah berubah menjadi lebih baik, dia sudah mengakui semua kesalahannya dulu. Semoga saja dia tidak berulah lagi dengan rumah tangganya yang saat ini.'' sahut Yusuf. Ameera hanya mengangguk kecil. Lalu mereka melanjutkan lagi obrolan mereka tadi yang sempat terhenti karena kehadiran Setya. Tidak lama setelah itu Setya keluar, lalu dia pamit pulang kepada Yusuf dan Ameera. Ia menyimpan amplop berisi uang nya di balik baju, agar Yusuf dan Ameera tak banyak bertanya. Pikirnya.
__ADS_1
Bersambung.
Sudah tahu 'kan siapa pria itu. Ternyata Setya belum juga insyaf, ya. Dia masih gampang tergoda.