
Lama aku menatap gundukan tanah bewarna kuning yang lengket, serta di atasnya di taburi bermacam-macam bunga bewarna warni. Di dekat nisannya, terpampang foto pria yang begitu tampan di masa muda nya. Dan sekarang tubuh pria itu telah terkubur di dalam tanah, seorang diri. Hanya amal kebaikan semasa hidupnya lah yang bisa menjadi penerang di dalam kuburnya. Serta doa anak-anak yang Sholeh dan Sholehah. Aku, walaupun aku tidak pernah merasakan kasih sayangnya, tapi aku berjanji, aku akan selalu mendoakannya sehabis sholat ku. Karena walau bagaimanapun di tubuhku mengalir darahnya. Tidak ada satu orang dan satu hal apapun yang dapat memutuskan hubungan darah. Aku tak lagi dendam, aku sudah memaafkan Papa. Aku ikhlas menerima takdir hidup yang harus aku jalani hingga tumbuh sebesar ini.
Dua orang wanita berbeda usia yang berada di sisi kanan dan kiri ku begitu meratapi kepergian pria yang begitu mereka kasihi dan sayangi. Mereka menangis, terisak, dengan mata memerah dan sembab. Suara keduanya pun terdengar serak.
''Sudah, matahari sudah semakin tinggi, ayo kita pulang.'' ucapku seraya menyentuh bahu dua orang wanita yang harus aku jaga. Intan dan Mama lalu berdiri, setelah itu kami berjalan berdampingan meninggalkan kuburan, meninggalkan area pemakaman. Beristirahatlah yang tenang, Pa. Tak ada kepuasan di diriku saat aku melihat bagaimana Papa berjuang melawan ajal, mengejang hebat lalu terkulai lemah tak berdaya dengan tubuh tak bernyawa lagi. Yang ada, aku merasa ikut prihatin dan sedih. Sekarang tinggal diriku, bagaimana dengan diriku menjalani kehidupan kedepannya, aku harap aku bisa menjadi Imam dan orangtua yang baik dan patut di jadikan panutan untuk keluarga kecilku. Tanpa menghakimi kesalahan Papa di masa lalu lagi.
***
Malam harinya, di rumah peninggalan papa, rumah keluarga Intan.
''Mas, coba kamu lihat ini,'' ucap Intan seraya menyodorkan beberapa album foto, ada yang berukuran kecil, sedang, dan ada pula yang berukuran lumayan besar.
''Apa ini?'' tanyaku menyipit dengan memegang album foto yang paling kecil. Aku dan Intan duduk di atas kasur lantai, tempat tidurku. Rencananya tadi aku akan segera tidur, tapi Intan datang dan menunjukkan sesuatu padaku.
''Buka, Mas.'' ucapnya lembut seraya tersenyum simpul. Aku pun lalu perlahan membuka album foto. Pada halaman pertama, aku melihat foto seorang bayi laki-laki yang begitu menggemaskan, foto bayi yang sedang berada di taman bermain bersama seorang wanita dewasa. Aku menatap wanita itu dengan intens, wanita itu mirip sekali dengan Mama. Mama terlihat cantik di usia mudanya. Hingga membuat aku sedikit pangling.
''Ini, Mama, dan ini, aku?!'' tanyaku memastikan, menatap Intan lekat dengan jari menunjuk ke arah foto.
__ADS_1
''Iya, kamu benar, Mas. Coba kamu buka semua halaman demi halaman, setelah selesai dengan album yang kecil, kamu bisa membuka album yang berukuran sedang lalu lanjut yang berukuran paling besar lagi.'' tutur Intan antusias. Aku pun mengangguk pelan, lalu menuruti apa yang di jelaskan oleh Intan.
Di album foto yang berukuran kecil, terdapat foto aku semasa bayi dan balita, semuanya saling berurutan sesuai dengan tumbuh kembang ku.
Di dalam album foto yang berukuran sedang, terdapat foto aku waktu masih TK dan foto aku semasa sekolah dasar.
Dan di dalam album foto yang besar, terdapat foto aku waktu SMP hingga kuliah dan wisuda. Dan juga foto aku waktu menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan Om Andra. Setelah selesai melihat semua foto-foto itu, aku bertanya kepada Intan.
''Dari mana kamu dapat foto ini?'' tanyaku penasaran. Bisa-bisanya Intan memiliki album-album foto yang berisikan foto diriku, sementara aku tak pernah sadar kalau seseorang telah memotret ku dengan sengaja.
''Papa, semua foto ini Papa yang mengumpulkan lalu memasukkannya ke dalam album dengan begitu rapi.''
''Iya. Papa selalu memerintahkan orang suruhannya untuk mengambil foto Mas secara diam-diam, mungkin itulah caranya untuk mengobati rasa rindunya terhadap, Mas. Papa tidak ada pilihan lain. Karena, jikalau Papa berani ketemu sama, Mas, secara langsung, maka Mama akan sangat murka. Bahkan dulu, aku seringkali mendengar Mama dan Papa bertengkar hanya karena papa ketahuan mengumpulkan foto-foto, Mas. Mama marah besar dan akhirnya Papa menyerahkan semua foto ini kepada ku. Papa menitipkannya, agar aku simpan dan bisa aku tunjukkan kepada Mas secara langsung seperti saat sekarang ini. Dan sekarang aku sudah merasa begitu lega dan bahagia karena aku sudah menyampaikan amanah Papa dengan baik.'' jelas Intan dengan binar bahagia.
''Terimakasih,'' ucapku singkat. Aku tidak menyangka, ternyata Papa peduli terhadap diriku, tapi, rasa pedulinya itu ia abaikan karena ia takut sama sang istri. Aku dapat memahami, mungkin Papa memang tidak punya pilihan lain. Papa termasuk pria yang bucin.
''Untuk? Aku melakukan semuanya dengan ikhlas, Mas.'' ucap Intan tersenyum manis. Ia membelai pipi ku, tapi dengan cepat aku tepis pelan. Bukan apa-apa, untuk saat ini, aku masih harus memahami diriku sendiri. Apa yang sebenarnya aku inginkan. Karena aku tidak ingin menyakiti siapapun pada akhirnya. Aku rasa aku masih belum mencintai Intan.
__ADS_1
Aku lihat Intan menunduk setelah aku tepis, lalu ia berdiri dan berjalan pelan ke tempat tidurnya dengan tetap memalingkan wajahnya dariku. Setelah itu suasana hening kembali tercipta antara kami. Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri. Dan Intan, aku yakin ia pasti juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang aku tidak tahu, apa yang tengah ia pikirkan.
Om Andra, Tante Ainun, Hamidah dan Abdillah tadi siang juga ikut melayat, mereka juga menyempatkan diri untuk mengantarkan jenazah Papa ke tempat peristirahatan terakhir. Aku merasa senang, akhirnya Om dan Tante bisa bertemu dengan putri kandung mereka. Dan sekarang Hamidah tengah hamil, tidak lama lagi Om Andra dan Tante Ainun akan memiliki cucu.
***
Keesokan harinya, aku pamit kepada Intan untuk mengunjungi rumah Mama. Karena sudah hampir seminggu lamanya aku tidak berkunjung ke rumah itu. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Mama. Tentang sikap Mama yang begitu baik terhadap Papa, dan tentang sikap Mama yang begitu ketus terhadap Om Andra dan Tante Ainun.
Setelah mengemudi lumayan jauh, akhirnya aku tiba di tempat tujuan. Aku memarkirkan kendaraan roda empat milik ku di halaman rumah. Lalu aku masuk dengan tak sabaran, jujur, aku merasa sangat rindu dengan suasana rumah tempat aku tumbuh dan besar di dalamnya.
''Ma,''
''Mama ...'' panggil ku sedikit berteriak saat aku sudah tiba di dalam rumah. Aku melewati ruang tamu, ruang keluarga lalu naik ke lantai atas ke kamar Mama. Begitu sudah sampai di depan pintu kamar Mama, aku mendengar Mama tengah berbicara. Aku semakin merapatkan telinga ku ke pintu, mencoba menguping.
''Pokoknya semua harta peninggalan Papanya Rian harus di serahkan sepenuhnya untuk Rian dan atas nama Rian. Kamu tidak punya hak untuk mengatur-ngatur Intan. Sudah cukup kamu ambil kebahagiaan Rian di masa kecilnya, kamu tidak boleh mengambil perusahaan dan rumah peninggalan mantan suamiku. Itu semua hak Rian.''
''Rian pasti mau, lambat laun dia pasti mau memimpin perusahaan itu. Kalau dia masih tetap tidak mau, maka aku yang akan mengelola semuanya.'' aku bisa mendengar dengan jelas apa yang Mama ucapkan. Mendadak tanganku mengepal erat dengan debar kemarahan di dada. Mama, apa Mama masih Mama yang sama? Apa Mama masih gila harta dan menghalalkan semua cara seperti yang pernah ia lakukan terhadap Om Andra dan Tante Ainun.
__ADS_1
Bersambung.