AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Arif tidak ada


__ADS_3

Aku menatap Arumi lekat, menunggu nya berbicara. Aku penasaran sama apa yang hendak dia katakan, kira-kira di mana dia bertemu dan bisa berkenalan dengan Shanum? Pikirku bertanya-tanya.


''Kemarin tuh, ya, Si Shanum itu makan di Restoran milik aku. Aku tak mengenali nya, tapi dia mengenali aku. Katanya dia bisa mengenali aku karena dia melihat vidio kita saat kita saling dorong-dorongan waktu di taman kota. Waktu kita memperebutkan Setya. Hehehe ...'' ucap Arumi tersenyum cengengesan. Kalau menurut penilaian aku, Arumi orangnya cukup baik dan lucu, tapi ia sepertinya mesti harus banyak di bimbing dan di arahkan dalam bersikap dan melangkah.


''Lalu?'' tanya ku lagi meminta penjelasan yang lebih detail.


''Dia mengajak aku ngobrol, aku iyakan. Lalu saat kami mengobrol dia meminta agar aku membantu nya.'' terang Arumi lagi sembari menarik nafas dalam.


''Membantu apa?'' tanyaku.


''Membantunya untuk ... Merusak rumah tangga kamu dan suami mu.'' Arumi menjeda, aku kaget mendengar penuturan nya. Lalu Arumi melanjutkan lagi.


''Eh, kamu jangan salah paham dulu, ya, Hanifa. Aku sama sekali tidak tertarik sama sekali dengan tawaran dan permintaan nya itu. Aku tolak mentah-mentah. Percaya deh! Aku mah dah tobat. Aku nggak mau lagi berurusan sama suami orang. Aku mau cari yang bujang dan lajang aja.'' jelasnya dengan wajah serius.


''Kamu nggak bohong 'kan?'' tanyaku lagi memastikan.


''Kita sekarang 'kan udah jadi teman Hanifa, mana mungkin aku bohong. Peristiwa masalalu saat bersama Setya sudah cukuplah jadi pelajaran dan pengalaman paling buruk untuk aku.''


''Alhamdullillah, terimakasih, ya, Arumi.'' ucapku. Ternyata Arumi benar-benar telah berubah menjadi lebih baik. Ternyata dia memang telah menganggap aku sebagai temannya.


''Iya, sama-sama. Kamu dan suami mu harus tetap hati-hati, ya. Aku lihat Shanum itu orangnya begitu ambisius. Dia sepertinya sangat menginginkan suami mu yang tampan itu. Aku yakin dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk menghancurkan rumah tangga mu.'' ucapnya lagi. Aku mengangguk. Dan mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada nya.


''Sekali lagi terimakasih kasih banyak, ya, Arumi.''


''Iya. Sesekali kamu main lah ke restoran aku yang ada di dekat tikungan itu. Aku kasih kamu makan gratis, makan sepuasnya. Ajak suami dan anak mu sekalian. Eh, sekalian ajak Abdillah juga.'' Arumi menawarkan aku dengan senyum simpul nya.


''Oke. Lain kali aku akan kesana sama keluarga ku.''


''Ya sudah kalau begitu aku pamit, ya.'' Arumi menjulurkan tangannya, aku menyambutnya cepat.


''Iya, hati-hati di jala, ya.'' balas ku, tangan kami saling menjabat.


''Baiklah. Jangan lupa besok ajak Abdillah juga ya kalau mau mampir di restoran ku.''

__ADS_1


''Oke, siipp.'' jawabku. Usai berkata seperti itu aku mengantarkan Arumi Kedepan pintu. Melepaskan kepergian nya.


Aku sih terserah Mas Abdillah ingin mencari istri yang bagaimana. Aku tak akan memaksa nya untuk menikah sama Teh Hamidah atau Shanum, bahkan Hellen. Aku tahu ketiga wanita itu menyukai Mas Abdillah. Kita lihat aja kedepan, bagaimana kisah perjalanan cinta Mas Abdillah dalam menggapai jodoh halal nya, Mas Abdillah pasti mana yang terbaik untuk nya.


Aku melihat jam di ponsel, ternyata sebentar lagi Arif akan pulang sekolah. Aku bersiap, menyandang tas ku, lalu keluar dari ruangan.


''Teh, aku pamit dulu, ya.'' pamit ku. Teh Hamidah tidak lagi sibuk, para pengunjung baru mulai berdatangan.


''Kok cepat banget pulangnya Hanifa?'' tanya nya.


''Iya, aku pengen jemput Arif di sekolah soalnya.''


''Ya sudah hati-hati, ya.''


''Iya. Sampai jumpa.''


''Sampai jumpa semuanya.'' aku melambaikan tangan ke arah para karyawan. Mereka pun balas melambaikan tangan dengan senyum simpul.


''Terimakasih, Pak.'' ucapku ketika aku sudah duduk di dalam mobil.


''Iya, Non.'' balas Pak Agus. Lalu ia duduk di kemudi dengan cepat.


Mobil melaju membelah jalanan, panas sudah mulai terik. Jangan sampai aku telah jemput Arif. Nanti putraku gelisah menunggu kedatangan ku. Pak Agus memacu kendaraan roda empat kami dengan kecepatan tinggi.


''Pak, kok ngebut banget? Kita udah telat, ya, jemput Arif?'' ucapku. Aku memegang perutku, agar anak yang ada di kandungan ku tidak merasakan goncangan.


''Sepertinya iya, Non. Telat sedikit, sekarang sudah pukul sepuluh lewat lima puluh lima menit. Den Arif pulang jam sebelas pas, sementara waktu kita ke sekolah Arif masih sekitar lima belas menit lagi.'' jelas Pak Agus. Pandangan nya fokus kedepan. Jarak butik dan sekolah Arif lumayan jauh.


''Iya udah, kalau gitu ngebut aja, Pak. Kasihan Arif kalau harus nunggu kita lama.'' timpal ku.


''Baik, Non.''


Lalu mobil melaju dengan kecepatan semakin tinggi dari tadi. Aku diam duduk di belakang. Mulutku komat-kamit membaca sholawat.

__ADS_1


Setelah melewati perjalanan sekitar lima belas menit lamanya, akhirnya kami tiba di depan sekolah Arif. Di depan sekolah, terlihat sudah sepi. Aku keluar dari dalam mobil. Lalu berjalan memasuki gerbang yang masih terbuka, aku berjalan hilir mudik mencari keberadaan Arif dan anak-anak lain. Setelah beberapa menit aku masih tidak melihat keberadaan putraku dan yang lainnya. Aku berjalan ke ruang guru. Begitu sudah sampai di ruang guru aku melihat seorang wanita berjilbab pasmina akan segera keluar.


''Maaf, Bu. Apakah Ibu melihat putra ku?'' tanyaku antusias. Aku sungguh panik karena dari tadi aku tidak melihat keberadaan Arif.


''Ibu, Ibunya Arif, ya?'' tanya Ibu guru itu. Kami berdiri di dekat pintu masuk.


''Iya. Aku terlambat menjemput Arif. Aku sudah mencari keberadaan nya di sekitaran sekolah tapi tidak ada.'' jelasku cepat.


''Anak-anak sudah pulang sekitar dua puluh menit yang lalu, Bu. Sekolah hari ini emang sedikit dipercepat jadwal pulangnya, karena sebagian guru ada yang pergi rapat ke kantor kedinasan. Hanya aku dan beberapa guru lain yang tinggal di sekolah. Guru lain udah pada pulang barusan.'' jelas guru tersebut. Aku semakin gelisah setelah mendengar penjelasan nya. Lalu dia berbicara lagi, ''Kalau Arif, em .... Coba aku ingat-ingat dulu. Oh, ya, tadi aku lihat Arif naik ke dalam mobil Lamborghini bewarna hitam, ia naik kedalam mobil dengan dibimbing oleh seorang pria. Aku kira itu pamannya atau sopir yang biasa menjemput nya. Coba Ibu hubungi Pamannya dulu, atau keluarga Ibu yang lain. Siapa tahu salah satu di antara mereka yang menjemput Arif. Kita jangan panik dulu.'' terang guru itu masih terlihat santai. Sementara aku dari tadi sudah di landa kecemasan yang amat.


''Ya sudah, kalau begitu aku akan coba menghubungi Kakakku dulu.''


''Iya, hubungi cepat.''


Aku mencari nomor Mas Abdillah lalu melakukan panggilan. Hanya dengan sekali panggilan Mas Abdillah langsung mangangkatnya.


''Iya, Hanifa.''


''Mas, apa Arif Mas yang jemput ke sekolah tadi? Em .... Maksud ku apakah Arif bersama, Mas sekarang?'' tanyaku cepat, nafasku memburu.


''Mas lagi di kantor Hanifa. Mas dan suami mu sebentar lagi akan meeting. Arif tidak sedang bersama Mas dan Mas tidak menjemput nya. Emang kenapa?'' jawaban Mas Abdillah seketika membuat tungkai kakiku terasa lemas, air mata mendadak mengenangi pelupuk mata. Membuat penglihatan ku menjadi tidak jelas. Mama tak mungkin menjemput Arif, karena Martuaku sedang ada arisan bersama teman-temannya. Lalu siapa? Berbagai praduga bersarang di benakku.


''Arif nggak ada di sekolah, Mas. Aku sudah mencarinya di sekitaran sekolah. Kata gurunya Arif tadi di jemput sama pria yang memakai mobil milik punya Mas.'' terangku lagi. Aku menutup mulut lalu berjalan mondar-mandir di lorong sekolah. Guru itu masih berdiri di dekat ku.


''Ya ampun! Kamu tenang Hanifa. Mas akan memberi tahu suami mu dan kami akan membantu mencari Arif segera. Jangan jangan terlalu cemas dan jangan terlalu capek juga.'' ucap Mas Abdillah terdengar panik, lalu panggilan di putuskannya.


''Nggak ada juga Arif nya, Bu? Ya Allah, semoga Arif nggak kenapa-kenapa, ya, Bu.'' ucap guru tersebut, wajahnya terlihat panik.


Aku langsung saja berlari ke gerbang, aku akan memberi tahu Pak Agus dan aku akan mencari putra ku segera.


.....


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2