
Di part ini khusus Ameera dan Yusuf ya manteman. Selamat membaca.
***
''Aku menc ...''
Hus, huss .... Hussss ...
Hembusan angin menerpa tubuh Yusuf dan Ameera, membuat Ameera urung untuk melanjutkan kata-katanya dan urang untuk menyatakan perasaannya, ia sibuk memegang gamis dan jilbabnya agar tak tersingkap angin. Hembusan angin yang semakin lama semakin terasa kencang menerpa membuat mereka ingin berpindah tempat, mereka yang duduk di luar lalu berpindah ke meja dalam. Yusuf tak begitu jelas mendengarkan apa yang hendak di katakan Ameera tadi.
Saat mereka sudah duduk di meja dalam, mereka memulai obrolan lagi.
''Apa? Tadi kamu mau bicara apa Ameera? Tadi aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang hendak kau kata, karena suara desauan angin yang mengganggu.'' Yusuf menatap Ameera lekat. Bersamaan dengan itu hujan turun membasahi bumi, hujan yang begitu deras dengan tetesan air yang lumayan besar.
''Em ... Yusuf, aku mau tanya, apakah kamu belum kepikiran untuk menikah di usia mu yang tidak lagi muda ini? Apakah kamu tidak butuh seorang pendamping yang akan menemani hari-hari mu agar lebih berwarna, seseorang yang akan menghormati mu sebagai kepala keluarga dan seseorang yang akan memperlakukan kamu dengan sangat istimewa?'' tanya Ameera serius. Yusuf mengerutkan keningnya, pertanyaan Ameera terdengar aneh di telinga nya. Tapi akhirnya ia membalas ucapan Ameera.
''Aku belum menemukan seseorang yang tepat Ameera.'' jawab Yusuf singkat dengan senyum simpul.
''Hingga saat ini masih juga belum?'' tanya Ameera.
''Iya.''
''Emang wanita seperti apa yang kamu inginkan?''
__ADS_1
''Wanita yang mampu membuat jantung ku berdebar saat aku menatapnya, wanita yang dengan kesederhanaan nya mampu menciptakan senyum indah di bibir ku.'' jelas Yusuf. Lagi-lagi bayang wajah istri orang berkelebat di ingatan. Sekuat mungkin ia berusaha melupakan tetapi tetap tidak bisa.
''Apakah sebelumnya kamu sudah pernah menemukan wanita seperti itu?'' tanya Ameera lagi.
''Hu'um.'' Yusuf mengangguk kecil, lalu meneguk teh nya untuk menetralisir rasa aneh di dada karena mendapat pertanyaan dari Ameera. Pertanyaan yang menurut nya cukup pribadi. Selama ini tidak ada satupun orang yang berani bertanya hal demikian kepada nya.
''Apakah orang itu Hanifa?'' tanya Ameera dengan suara bergetar.
''Uhuk, uhukk ...'' Yusuf terbatuk mendengar pertanyaan Ameera. Ia merasa kaget.
''Ma-maksud mu?'' lagi-lagi Yusuf bertanya dengan kening berkerut.
''Iya, apakah wanita yang kau cintai itu Hanifa?'' ulang Ameera, susah payah ia menahan rasa cemburu yang mendadak tiba begitu ia menyebut nama Hanifa.
''Dari mana kau tahu Ameera kalau aku pernah mencintai Hanifa?'' tanya Yusuf. Ia memaling wajah kesamping. Ia merasa sedikit malu karena Ameera sudah tahu tentang perasaan nya yang sebenarnya. Padahal selama ini ia tidak pernah mengatakan kepada siapa-siapa tentang rasa cintanya terhadap Hanifa. Setahu nya hanya keduaorangtua nya dan Hanifa saja yang tahu tentang perasaan itu. Perasaan itu ia simpan dan pendam dengan sempurna di dasar hatinya.
''Ameera menurutku pertanyaan mu itu sedikit lancang. Sebagai teman biasa seharusnya kau tidak bertanya sedalam ini menyangkut perasaan ku! Dan masalah pribadi ku.'' ucapan Yusuf penuh penekanan dan sedikit emosi, yang berhasil membuat hati Ameera merasa sakit.
"Aku cuma pengen tahu Yusuf, apakah sampai saat ini kau masih mencintai Hanifa?!'' ulang Ameera terdengar membentak. Tarikan nafasnya terlihat memburu.
''Iya Ameera. Aku masih mencintai Hanifa.'' jawab Yusuf pelan.
''Ooh ... Oke, cukup.'' Ameera menunduk. Matanya seketika di penuhi genangan air mata. Lalu, tes! Setetes air mata meluncur membasahi pipinya yang mulus.
__ADS_1
''Aku cuman teman biasa bagi mu. Padahal kita sudah menghabiskan hari-hari bersama cukup lama dan bisa di bilang dekat. Aku sudah menganggap mu lebih, tapi kau sama sekali tidak menganggap ku berarti.'' Ameera berucap dengan suara gemetar.
''Apa maksud mu Ameera?'' Yusuf semakin tak mengerti. Ia bingung harus bersikap bagaimana menghadapi Ameera.
''Mungkin takdir aku memang harus seperti ini. Cintaku tak bersambut, tak di anggap berharga sama sekali.''
''Ameera, maaf.''
''Sudah. Aku mau pulang.'' Ameera berdiri dari duduknya lalu ia berjalan keluar dari kafe dengan langkah kaki lebar.
''Hujan masih deras Ameera. Nanti kamu sakit!'' Yusuf mengejar Ameera.
''Biarkan saja. Bukankah aku hanya teman biasa bagimu!.''
''Ameera aku tak mengerti apa maksud mu?!''
Mereka telah berdiri di bawah guyuran hujan yang deras. Di samping mobil. Keduanya basah. Mereka berdiri berhadapan dengan saling tatap.
''Aku mencintai mu Yusuf. Tapi kau masih saja mencintai istri orang. Kau sungguh pria yang sangat menyedihkan. Kau tahu? Dulu hubungan aku dan Malik sebegitu dekat, kami berteman. Aku pernah mencintai nya. Aku pernah mengungkapkan perasaan ku kepadanya. Tapi ia lebih memilih Hanifa. Aku sakit, kecewa, terluka. Tapi aku tidak mau berlarut-larut mencintai seseorang yang tak mencintai aku, aku memilih bangkit dan melupakan nya. Malik telah bahagia bersama Hanifa. Mereka telah berbahagia! Sedangkan kita?!''
''Hingga saat bertemu dengan mu, seiring kita yang sering menghabiskan waktu berdua membuat rasa itu tumbuh di hatiku. Aku mencintaimu, aku tidak ingin menjadi wanita munafik yang terlalu lama memendam rasa yang tak berujung dan tak berarah. Makanya aku putuskan untuk mengungkapkan perasaan ku sekarang kepadamu, aku sadar usia aku sudah tidak lagi muda, orangtuaku terus saja mendesak agar aku segera menikah dan memberi mereka cucu, orangtuaku selalu bertanya tentang mu, mereka menganggap kalau kau adalah pria yang akan menjadi suamiku. Tapi ternyata kau masih saja mencintai Hanifa. Mereka telah berbahagi! Hiks ...'' racau Ameera di sertai tangis nya. Yusuf yang melihat nya merasa iba. Sedikit perkataan Ameera ada benarnya, Yusuf merasa tersadar. Lalu ia berucap.
''Kalau kau benar-benar mencintai ku, bantu aku Ameera, bantu aku untuk melupakan Hanifa.'' ucap Yusuf lirih, ia melihat ada ketulusan di mata Ameera. Ameera dan Yusuf telah basah kuyup. Beberapa orang yang ada di kafe menatap aneh kearah mereka.
__ADS_1
Ameera mengangguk mantap. ''Aku akan membantumu.'' jawabnya tanpa ragu. Kali ini ia akan berusaha keras untuk mendapatkan hati pria yang ia cintai. Ia akan memperjuangkan Yusuf semampu nya.
Bersambung.