AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Kekecewaan Hanifa


__ADS_3

Dari awal ia tak begitu peduli, tak bertanya dan tak mengharapkan sang suami menceritakan masalalu yang baginya bukan urusan dia. Dia punya masalalu, sang suami punya masalalu, semua orang pastinya punya masalalu. Pikirnya tak mau terbebani apapun terkait masalalu saat ia mantap menerima lamaran sang suami dulu.


Tapi hari ini, kehadiran wanita asing di hadapannya yang mengaku sebagai masalalu sang suami berhasil memporak-porandakan hatinya, melemaskan tungkai-tungkainya, meloloskan air mata yang sudah lama tak keluar.


Tangannya gemetar melihat foto-foto sang suami sedang bercumbu dan saling mendekap mesra tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh di atas ranjang bersama wanita lain. Ia tidak menyangka, ternyata sang suami mempunyai masalalu yang kelam, ternyata sang suami pernah bercampur keringat diatas ranjang bersama seorang wanita tanpa adanya ikatan suci, tanpa adanya ikatan sakral pernikahan. Ia tidak pernah menyangka sang suami yang begitu ia kagumi dari segala hal yang ada pada dirinya ternyata pernah berbuat zinah, melakukan salah satu dosa besar yang dilarang agama. Sama seperti Setya mantan suaminya. Sekarang ia malah beranggapan kalau semua pria itu sama. Tidak cukup sama satu wanita.


''Sini.'' ucap Shanum merebut ponselnya yang berada ditangan Hanifa. Hanifa diam membeku. Meski cuma masalalu, tapi hatinya terasa amat sakit melihat itu. Mengetahui kenyataan yang tidak pernah ia duga-duga sebelumnya.


''Suamimu itu bukan pria baik-baik. Setelah dia meniduriku, dia malah menghilang tanpa kabar, dia selalu berusaha menghindar setiap kali aku menghubungi nya. Dan hal yang paling membuat aku sakit dan kecewa adalah ... Dia sama sekali tidak peduli terhadap diriku yang mengalami kecelakaan hebat karena terus saja memikirkan nya. Kata orangtuaku, dia pernah menjenguk aku sekali saat aku masih koma di rumah sakit. Tapi setelah beberapa waktu aku siuman, aku menunggu nya datang lagi menemui ku setiap hari, minggu, bulan, dan tahun-tahun berganti, tanpa lelah, tapi dia tidak pernah lagi datang menemui aku. Kau tahu, ini,'' Shanum menunjuk kakinya, ''kakiku, kakiku selama beberapa tahun tidak bisa digerakkan pasca kecelakaan, aku selalu rutin tiap minggu melakukan terapi, aku ingin sekali sembuh. Dan setelah melewati proses terapi dan berbagai macam pengobatan akhirnya sekarang aku bisa berdiri disini, akhirnya selama satu tahun belakangan kaki ku dinyatakan sembuh dan aku sudah bisa berjalan seperti biasa tanpa rasa khawatir lagi. Setelah kaki ku sembuh, aku berdiam diri di kamar, memikirkan tindakan apa yang harus aku ambil, aku terus saja berpikir, berpikir bagaimana caranya agar Malik mau mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kami melakukan itu memang hanya sekali, tapi peristiwa satu malam itu begitu membekas di hatiku, membuat aku sulit berpaling kepada pria manapun. Karena Malik adalah pria pertama yang menyentuhku, pria yang membuat aku tak perawan lagi. Pria yang aku cintai.'' ucap Shanum panjang lebar. Matanya berkaca-kaca sembari bercerita. Hanifa yang melihat merasa bersalah atas apa yang pernah dilakukan sang suami. Ternyata dibalik kebahagiaannya selama beberapa hari ini, ada wanita yang harus menanggung rasa sakit.


''Sekarang apa mau mu? A-aku baru saja menikah sama Mas Malik. Kenapa kau menemui aku setelah aku dan Mas Malik sudah resmi menjadi suami istri?!'' tanya Hanifa dengan suara serak seraya meremas dada, meredamkan rasa sakit yang datang tiba-tiba. Di kira nya dia adalah wanita pertama yang di sentuh oleh sang suami, eh, ternyata dugaannya salah besar.


''M ... mau aku? ya ... Mau ku tetap satu, aku mau Malik bertanggungjawab. Dulu aku tidak punya cukup keberanian untuk menemuinya. Aku kira dia tidak akan pernah menikah dan mencintai wanita manapun setelah menodai aku. Eh ... Ternyata sekarang dia lebih memilih menikahi barang bekas yang sudah beranak ketimbang menikahi aku yang jelas-jelas dia lah pria pertama yang menyentuhku. Aku harus menuntut keadilan darinya, sampai kapan pun.'' tutur Shanum dengan wajah memerah. Hanifa merasa jengkel mendengar Shanum yang mengatakan ia barang bekas. Semakin bertambah tambah lah rasa sakitnya. Bahkan, rasa sakit yang ia rasakan sekarang jauh lebih sakit di bandingkan rasa sakit ketika Setya mengkhianati nya.

__ADS_1


''Sudah selesai? Kalau sudah mendingan kamu keluar sekarang juga dari ruanganku.'' ucap Hanifa. Ia ingin sendiri menenangkan dirinya.


''Aku mohon Hanifa, lepaskan Malik dan ....''


''Hentikan kekonyolan mu Shanum.'' tiba-tiba terdengar suara menggelar diiringi suara sepatu beradu dengan lantai. Suara itu berirama cepat semakin dekat ke arah Hanifa. Hanifa tidak mampu melihat sang suami, ia menunduk dengan air mata menetes. Ia menyembunyikan wajahnya dari sang suami. Sementara Shanum sama sekali tidak merasa takut akan kehadiran Malik, memang itu yang ia inginkan, ia ingin melihat wajah tampan Malik yang telah lama ia rindukan.


''Sa-sayang ... Kamu tidak kenapa-kenapa 'kan?'' tanya Malik dengan wajah pias. Ia takut Hanifa akan menuntut cerai darinya setelah ini. Ia langsung saja menghampiri Hanifa tanpa memperdulikan Shanum yang terus saja melihat nya.


''Hiks ...'' isakan Hanifa terdengar, susah payah ia menahannya. Lalu ia ingin berlari keluar menghindari Malik. Tapi dengan cepat sang Kakak menghentikan nya. Abdillah memeluk tubuh sang Adik. Memberikan sedikit rasa nyaman. Meskipun ia belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi ia yakin sang Adik sedang tidak baik-baik saja. Hanifa menangis, sudah pasti ada hal yang begitu melukai hatinya. Malik ingin menghampiri Hanifa lagi, tetapi Abdillah mencegah nya.


''Kamu ngapain repot-repot datang kesini? Kamu membuat semuanya kacau!'' bentak Malik semakin keras. Mereka berdiri saling berhadapan.


''Aku hanya ingin menuntut hak aku. Tidak ada wanita manapun yang pantas mendampingi mu selain aku!''

__ADS_1


''Sudahlah Shanum. Jangan banyak berharap lagi. Aku sama sekali tidak tertarik dengan mu, dan kejadian tujuh tahun yang lalu adalah suatu kesalahan, seseorang telah menjebakku dengan memasukkan obat perangsang kedalam minuman ku. Hingga aku tidak sadar telah melakukan hal memalukan itu dengan mu.'' ucap Malik lembut. Berharap Shanum akan mengerti dengan keadaan nya. Sementara Hanifa masih berdiri dengan posisi menjatuhkan kepalanya di dada bidang sang Kakak. Abdillah mengelus punggung Hanifa yang tertutup jilbab lebar. Hanifa hendak keluar dari ruangan yang terasa pengap menurut nya tapi Abdillah masih menahan langkahnya.


''Aku tidak bisa terima alasan apapun. Yang aku tahu kau adalah pria yang telah merenggut kesucian ku. Kau harus bertanggung jawab, kalau tidak,'' Shanum tersenyum sinis, lalu berkata lagi, ''Kalau kau tidak mau bertanggung jawab aku akan menyebarkan semua foto tentang kita di media sosial.'' ancam Shanum dengan air mata hendak terjatuh dari kelopak. Lalu setelah itu ia berjalan keluar dengan begitu angkuh. Di ikuti oleh Hanifa juga. Sekarang tinggal lah Malik sendirian di ruang kerja Hanifa. Malik menyugar kasar rambutnya, ia berjalan ke dinding lalu. Dug dug dug, ia meninju dinding beton beberapa kali. Hingga buku tangannya mengeluarkan darah.


''Kenapa jadi seperti ini semuanya? Semua ini bukan mau ku. Semua terjadi begitu cepat. Hanifa, Mas sangat mencintai mu. Mas tidak akan pernah rela kehilanganmu.'' racau Malik. Ia duduk dilantai dengan kedua tangan berada di kepala. Dada nya terasa begitu sesak. Ia yakin Hanifa pasti sudah sangat kecewa terhadap nya, bukan hanya kecewa, mungkin Hanifa juga merasa amat jijik dengan nya. Begitulah pikirnya. Ia memutar otak, berpikir keras bagaimana caranya ia bisa membuat Shanum tak lagi menuntut apa-apa darinya, ia juga berpikir keras bagaimana caranya membujuk Hanifa agar Hanifa tidak mendiamkan nya. Ia tidak mau rumahtangga yang baru di bina kandas begitu saja.


***


"Mas, ternyata suamiku tidak sebaik yang aku kira. Kenapa Mas tidak menceritakan apa-apa kepada ku sebelum aku memutuskan menerima nya?'' ucap Hanifa lesu. Sekarang ia dan sang Kakak tengah duduk di bangku taman kota.


''Mas memang tidak tahu apa-apa tentang hubungan Malik dengan wanita itu. Yang Mas tahu, Malik adalah seorang atasan yang begitu baik dan sangat royal dengan para karyawan dan bawahannya. Untuk urusan asmara nya Mas tidak terlalu ikut campur.''


''Aku harus bagaimana sekarang Mas? Wanita itu? Ah .... Hiks.'' Hanifa kembali terisak, selain merasa kecewa, ia juga merasa bingung harus bersikap bagaimana kedepannya menghadapi Malik. Apakah ia masih bisa melanjutkan bahtera rumah tangga, atau harus kandas untuk kedua kalinya.

__ADS_1


''Kamu lebih baik pulang, ya, Dek. Ambil wudhu lalu sholat dengan khusyuk. Minta petunjuk sama yang maha kuasa.'' Abdillah memberi saran. Sebenarnya Abdillah merasa sedikit kecewa juga terhadap Malik. Tapi menurut nya tidak perlu ada yang di salahkan. Lagian Malik sudah menjelaskan semuanya tadi. Terkadang bagi para petinggi perusahaan dan orang-orang yang memiliki kekuasaan mereka rela melakukan apapun untuk menjatuhkan nama seseorang yang menjadi saingannya. Malik merupakan salah satu pengusaha termuda dan tersukses. Ia yakin pasti ada seseorang yang telah menjebak Malik. Atau apa jangan-jangan orang yang memasukkan obat perangsang itu Shanum sendiri. Pikir Abdillah menduga-duga, mencoba berpikir jernih tanpa berpihak kepada siapapun.


Bersambung.


__ADS_2