AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Kejutan


__ADS_3

Di atas brankar, tubuh yang tak lagi bernyawa itu terbujur kaku, kulitnya yang semula putih cerah berubah menjadi putih pucat dan terasa dingin. Tadi ia masih bisa berbicara dan bergerak, tetapi dalam sekejap, Allah mencabut semua nikmat itu. Arumi sekarang sudah berada di alam yang berbeda, alam kekal, alam yang tak akan pernah bisa di ketahui oleh manusia yang masih bernyawa, kecuali untuk sebagian orang yang mendapat mukjizat dari Allah SWT.


Mama Arumi mengguncang-guncang tubuh sang putri, berharap sang putri akan bangun. Namun nyatanya, sang putri tak memberi respon sama sekali.


Suara tangis wanita paruh baya itu terdengar begitu memilukan, kepalanya menggeleng tak percaya, tak percaya sang putri telah pergi untuk selama-lamanya.


''Bangun, Nak. Bangun! Kenapa begitu cepat kau pergi. Kasihan putri mu, apa kau tak memikirkannya sebelum kau berbuat nekat tadi? Bangun ....''


''Bangun, sayang ...'' racau Mama Arumi tersedu-sedu. Ia mengusap wajah Arumi yang tak berekspresi.


''Ma, sudah. Lebih baik kita ikhlaskan saja kepergian putri kita.'' sang suami tiba-tiba menghampiri. Berat, tapi ia mencoba untuk ikhlas. Caca pun sama, Caca menangis-nangis memanggil sang Mama, meminta Mama nya bangun, anak sekecil itu belum mengerti apa-apa.


Keesokan harinya, jenazah Arumi langsung di kebumikan. Hanifa dan anggota keluarganya ikut melayat, ikut berbela sungkawa, mereka menyaksikan proses pemakaman hingga selesai. Harapan mereka, Arumi akan beristirahat dengan tenang di tempatnya yang barunya. Hanifa, Abdillah dan Hamidah sudah memaafkan semua kesalahannya semasa hidupnya.


***


Hari berganti, sudah seminggu lamanya Hamidah di rawat di rumah sakit, hari ini keadaannya sudah mulai membaik, ia sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter yang menangani nya.


Abdillah selalu rutin menemui dirinya setiap hari selama ia di rawat. Tapi saat Hamidah mau pulang, Abdillah tak datang menemuinya dan begitu sulit di kabari.


''Ayo kita pulang, Sayang.'' kata Mama Hamidah. Ia mendorong kursi roda Hamidah. Sedangkan Papa nya membawa tas yang berisi beberapa keperluan saat mereka di rumah sakit. Hamidah tampak gelisah menunggu kedatangan Abdillah. Dari tadi ia berusaha menghubungi Abdillah, tapi nomer Abdillah tak aktif-aktif. Hamidah merasa sedikit kecewa, karena Abdillah tak menemaninya saat ia akan pulang. Dari tadi malam Abdillah tak memberinya kabar. Beragam praduga bersarang di benak Hamidah. Ia menduga-duga, ke mana perginya Abdillah?

__ADS_1


''Kamu nunggu Abdillah?'' tanya sang Mama yang bisa menebak kegelisahan sang putri.


''Em, iya, Ma.'' jawab Hamidah jujur.


''Sepertinya dia tidak akan datang, lebih baik kita pulang saja. Mungkin Abdillah tengah sibuk dengan pekerjaannya.'' timpal sang Papa.


''Iya, Sayang. Nanti saat kita sudah sampai di rumah, coba kamu hubungi dia lagi.'' tambah sang Mama.


''Iya, Ma, Pa.'' sahut Hamidah lemah tak bersemangat.


Setelah itu mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, begitu sudah sampai di parkiran rumah sakit, seorang supir pribadi keluarga Andra sudah menunggu mereka, ia membuka pintu mobil, membantu memasukkan beberapa barang ke dalam bagasi, setelah itu mobil bergerak maju meninggalkan rumah sakit. Orangtua Hamidah akan segera membawa putri tunggal mereka pulang ke rumah. Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mobil berbelok memasuki gerbang lebar dan tinggi, tidak lama setelah itu mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah megah dan mewah.


''Ayo, turun Sayang. Ini rumah kita, sudah lama sekali rumah ini menanti kedatangan mu.'' ucap Sang Mama seraya mengelus bahu sang putri. Hamidah menatap takjub bangunan yang ada di depan matanya, mewah dan megah. Ia tidak menyangka bahwa orang tua nya merupakan orang terpandang. Sangat jauh dari apa yang ia pikirkan selama ini.


Beberapa orang pelayan menunduk hormat begitu mereka melihat sang majikan datang, Hamidah balas menunduk dengan senyum kecil.


Setelah itu mereka berjalan memasuki ruang keluarga yang cukup luas, setelah tiba di ruang keluarga, Hamidah di buat takjub dengan dekorasi yang nampak indah di ruangan itu, balon-balon bewarna silver berbentuk love memenuhi ruangan. Tidak hanya itu, di sana juga terdapat foster berukuran besar yang masih di lipat dan di gantung di dekat tangga, begitu Hamidah datang, foster itu langsung terbuka dan Hamidah membaca tulisan yang ada di foster itu dengan jantung mendadak berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


''Hamidah, Will You Marry Me?'' Hamidah menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya tiba-tiba berembun.


Setelah itu Abdillah keluar dari sebuah ruangan yang ada dirumah itu, dengan membawa buket bunga mawar merah di padukan dengan mawar putih. Abdillah tampak sangat tampan dengan celana panjang bewarna hitam dan kemeja bewarna abu-abu. Lengan kemeja nya ia gulung hingga ke siku. Ia berjalan pelan menghampiri Hamidah di sertai senyum simpul, sedangkan Hamidah masih diam di tempat menunggu Abdillah menghampiri nya. Hamidah tak menyangka, ternyata Abdillah telah menyiapkan sebuah kejutan untuknya. Sepertinya keduaorangtua nya juga ikut andil di balik kejutan yang sedang berlangsung, keduaorangtua Hamidah tersenyum senang, lalu setelah itu, Hanifa, Malik, Arif dan Sarah keluar dari ruangan yang sama dengan Abdillah tadi. Semakin merasa kagetlah Hamidah melihat kehadiran mereka, ia sungguh merasa bahagia, tak menyangka.

__ADS_1


''Ini untukmu,'' Abdillah menyerahkan buket bunga itu kepada Hamidah. Hamidah menerima nya dengan hati berbunga-bunga.


''Terimakasih banyak.'' ucap Hamidah malu-malu dengan wajah bersemu. Sekarang ia dan Abdillah berdiri saling berhadapan, mereka saling memandang lekat, saling mengagumi satu sama lain.


''Em, bagaimana?'' tanya Abdillah ragu.


''Bagaimana apa nya?'' tanya Hamidah balik.


''Itu,'' Abdillah menunjuk ke arah foster yang tergantung. Sebenarnya Abdillah merasa begitu gugup dan grogi, ini kali pertamanya ia mengungkapkan isi hatinya kepada seorang wanita, ia tidak berpengalaman sama sekali untuk urusan hati. Beruntung ada Hanifa dan yang lain yang ikut membantu nya dan memberinya semangat.


Semua orang yang menyaksikan, yang ada di ruangan itu ikut senyum-senyum melihat Hamidah dan Abdillah yang menurut mereka begitu kaku. Wajar saja, bagi Hamidah ini juga pengalaman pertama nya di lamar oleh seorang pria.


''Kamu melamar ku?'' tanya Hamidah.


''Iya Hamidah. Apakah kamu bersedia menjadi pendamping ku? Aku rasa, kamu adalah tulang rusukku yang selama ini aku cari. InsyaAllah aku akan menjadi seorang suami dan imam yang baik untukmu.'' ucap Abdillah sungguh-sungguh.


''Iya, aku mau Abdillah. Aku menerima lamaran mu.'' jawab Hamidah, ia menundukkan wajahnya. Malu, itu yang ia rasakan. Abdillah tersenyum lega mendengar jawaban yang keluar dari mulut Hamidah, ia berucap syukur. Setelah itu Arif menghampiri Hamidah, ditangan Arif ada beberapa tangkai bunga mawar, lalu ia menjulurkan ke arah Hamidah.


''Ibu, selamat datang di keluarga kami. Kami semua sayang sama Ibu.'' ucap Arif dengan senyum lebar. Hamidah mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Arif, lalu ia mengambil bunga yang di berikan oleh Arif. Ia menghirup aromanya dalam-dalam.


''Terimakasih anak Ibu. Ibu juga sayang banget sama Arif, Bunda, Oma Sarah, Papa dan Paman.'' ucap Hamidah dengan air mata hendak menetes dari pelupuk, ia merasa begitu terharu. Setelah itu Hamidah mengecup pipi Arif berulangkali.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2