
Setya yang sedang duduk santai sambil mengobrol dan menyesap sebatang rokok di sofa ruang keluarga bersama dua orang temannya begitu kaget ketika mendengar suara pintu belakang di dobrak, tidak lama setelah itu ia mendengar suara Malik dan Abdillah saling bersahutan memanggil nama Arif. Setya mendadak di landa rasa panik dan takut yang teramat sangat. Ia takut kalau sampai ketahuan oleh Malik dan Abdillah. Setya membuang rokok nya yang menyela masih setengah ke lantai lalu menginjaknya kasar. Setelah itu dia menutupi kembali wajahnya dengan topeng, lalu berlari ke arah jendela, di ikuti oleh dua orang temannya. Ia membuka jendela lebar-lebar lalu kabur lewat sana, mereka bertiga sudah berhasil keluar dari rumah, namun saat sudah berada di luar mereka di buat kaget karena melihat polisi dan orang-orang suruhan Malik telah berdiri di sana. Polisi dan orang suruhan Malik menatap mereka bertiga dengan senyum menyeringai, ''Mau kabur ke mana kalian?'' seru seorang polisi. Dua orang teman Setya mendadak gelagapan dan mati langkah melihat lawan yang tak sepadan dengan mereka. Tapi Setya tidak, ia membantin bagaimanapun caranya ia tidak boleh tertangkap. Karena kalau sampai ia tertangkap tentu akan menjadi petaka, aib dan masalah besar untuk dirinya dan keluarganya. Dua orang temannya pasrah ketika polisi memasang borgol di kedua tangan mereka, namun Setya melawan, ia berlari sekencang yang ia bisa menembus lawan lalu masuk ke dalam hutan. Polisi dan orang suruhan Malik mengejarnya, mereka berlari melewati semak belukar, punggung Setya masih bisa mereka lihat. Lalu seorang polisi akhirnya terpaksa melepaskan satu tembakan sebelum Setya semakin jauh kabur ke dalam hutan.
''Aughh ....'' lolong Setya terdengar tersendat ketika ia merasa betisnya tertembak, tertancap benda tumpul dan kasar. Ia mencoba untuk berlari lagi, tapi tidak bisa. Akhirnya ia terduduk di atas rumput yang panjang-panjang. Kini ia hanya bisa pasrah. Sakit dan nyeri ia rasa di bagian betisnya yang mengucur darah.
''Bagaimana rasanya? Enakkah? Ck ...'' ujar Sang Polisi yang sudah berada di dekatnya. Lalu polisi itu mengeluarkan borgol lalu memasang borgol di kedua tangan Setya.
''Pasti enak lah. Di kasih kemudahan malah lari. Kau kira kau bisa lari dari kejaran kami!'' timpal seorang polisi bertubuh sedikit gempal. Setya hanya diam mendengar perkataan polisi. Mulutnya seakan terkunci, karena pikirannya tertuju bagaimana dan apa yang akan terjadi kepada nya setelah ini. Tubuhnya lalu di giring menuju rumah.
***
''Katakan apakah masih ada orang lain yang ikut membantu mu?'' tanya Malik mendesak Shanum.
''Ada Tuan. Tadi polisi dan teman kita sedang mengejar orang itu, orang itu memakai topeng, ia berlari ke dalam hutan.'' sahut orang suruhan Malik.
''Besar juga nyali tuh orang.'' timpal polisi seusia Malik.
Tidak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki semakin mendekat ke arah mereka. Mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Shanum meringis melihat kaki Setya yang berdarah seperti kakinya. Lalu polisi yang menggiring Setya mendorong kasar tubuh Setya hingga Setya terduduk di lantai berdekatan dengan Shanum. Malik menatap Setya aneh. Ia merasa heran kenapa pria yang ada di depannya memakai topeng, hanya dia sendiri yang memakai topeng. Pikir Malik. Sedangkan Setya terus saja menunduk, dada nya berdebar tak karuan.
Malik mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Setya, ia berjongkok lalu ia menarik rambut Setya bagian belakang, membuat Setya mendongak menatap nya. Lalu ia mulai menghitung, satu, dua, tiga ... Malik menarik topeng yang menutupi wajah Setya dengan kasar. Dan ....
''Kau?!'' ucap Malik geram, kaget tak menyangka.
''A-aku bisa jelaskan Malik.'' ucap Setya gugup dengan wajah memucat. Tanpa berpikir lagi Malik lalu mendaratkan bogeman keras ke pipi Setya. Ia memukul Setya berulangkali meluapkan emosinya yang menggebu, ia sungguh tak menyangka, seorang Ayah kandung tega menculik anak sendiri lalu tidak melakukan apa-apa ketika sang anak menangis menjerit ketika dianiaya oleh orang lain.
__ADS_1
''Sudah, kau bisa membuatnya mati Malik.'' tegur polisi yang merupakan teman Malik, ia menepuk-nepuk pundak Malik. Sedangkan Setya sudah terkapar lemah di lantai dengan wajah lebam dan tarikan nafas semakin cepat. Matanya ia pejamkan.
''Ampun, ampun Malik.'' gumam Setya lirih dengan suara serak.
''Tidak ada kata ampun untuk pecundang seperti mu! Apakah karena uang kau tega menculik anakmu sendiri, darah daging mu sendiri? Di mana hati nurani mu?!'' bentak Malik dengan dada naik turun. Setya mengangguk kecil.
''Kalau kau memang lagi kesulitan ekonomi dan tidak ada pekerjaan, kau bisa menemui aku dengan cara baik-baik. Aku akan membantu mu dengan memberikan pekerjaan kepada mu! Bukan dengan cara hina seperti ini kau memberi Istri mu makan! Ternyata kau masih belum berubah juga Setya!'' ujar Malik lagi. Lalu ia menendang keras tubuh Setya, ia seakan gelap mata mengetahui bahwa Setya sendiri yang menculik Arif. Sedangkan dirinya yang bukan orang tua kandung Arif begitu menyayangi Arif. Setya lalu menangis tergugu. Shanum tersenyum mencebik melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
''Bawa mereka ke penjara. Terimakasih atas bantuannya Pak Polisi.'' ucap Malik kepada temannya. Temannya mengangguk mantap, ''Sama-sama Tuan Malik.'' jawabnya tersenyum. Malik lalu meninggalkan mereka, di ikuti oleh semua orang suruhannya. Mobil mereka lalu meluncur meninggalkan rumah megah tersebut dengan saling beriringan.
***
Di tempat berbeda, di dalam kamarnya Hanifa tengah berbaring sambil mengelus perut nya yang sudah mulai membuncit, jujur sebenarnya dia lagi menginginkan sesuatu untuk di makan, tapi masih berusaha ia tahan keinginan nya itu karena pikirannya yang masih tertuju kepada sang putra. Tiba-tiba ponsel nya yang berada di dalam saku piyamanya berdering. Ia bangkit, lalu mengangkat nya cepat ketika ia melihat nama sang kakak tertera di layar benda pipih tersebut.
''Walaikum'sallam Mas.'' balas Hanifa.
''Hanifa, sekarang juga kamu kerumah sakit Cendana, ya. Arif sudah Mas bawa ke rumah sakit.'' ucap Abdillah.
''Ya Allah, alhamdulillah.'' Hanifa merasa begitu lega mendengar kabar baik itu, ia tersenyum lega. Lalu dia bertanya lagi kepada sang kakak.
''Ngapain ke rumah sakit, Mas?''
''Kondisi Arif sedang tidak baik-baik saja Hanifa. Sekarang Dokter sedang menangani nya. Kamu ke sini, ya. Ajak Mama juga. Ternyata benar, Shanum yang ada di balik ini semua.'' perkataan Abdillah seketika membuat senyum di wajah Hanifa lenyap.
__ADS_1
''I-iya, baiklah Mas.'' balas nya lirih dengan perasaan kacau. Hanifa mengutuk kejahatan yang Shanum lakukan.
Hanifa lalu mengambil sweater panjang dan jilbab nya, lalu ia turun guna mengabari dan memanggil sang mertua.
''Ma, Arif sudah di temukan, Ma. Sekarang dia sedang berada di rumah sakit Cendana. Kata Mas Abdillah kondisi Arif sedang tidak baik-baik saja.'' tutur Hanifa saat ia sudah berada di depan sang mertua. Ia berkata dengan wajah sedih.
''Alhamdulillah. Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit sekarang Sayang.'' sahut sang mertua bergerak cepat.
Mereka lalu berangkat bersama Pak Agus. Pak Agus juga merasa senang mendengar kabar kalau Arif sudah di temukan. Tapi ia merasa gelisah ketika tahu Arif berada di rumah sakit. Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mobil mereka berhenti di parkiran rumah sakit. Hanifa dan Sarah turun dengan cepat dari mobil lalu mereka berjalan dengan langkah kaki lebar menuju dimana Arif di tangani. Mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dengan perasaan tak tenang. Dari jarak jauh Hanifa melihat Abdillah duduk di kursi tunggu sendirian. Lalu ia semakin melebarkan langkahnya.
''Hati-hati jalannya Sayang, nanti kandungan mu kenapa-napa.'' tegur sang mertua. Hanifa mengangguk kecil.
''Mas,'' sapa Hanifa memanggil sang kakak. Lalu ia duduk di kursi di samping sang Kakak. Abdillah menoleh ke arah Hanifa dan Sarah.
''Mas Malik mana, Mas?'' tanya Hanifa.
''Dia lagi ada urusan mengurus para penculik itu.'' jawab Abdillah.
''Siapa yang menculik Arif, Abdillah? Dan di mana dia di temukan?'' tanya Sarah penasaran.
Abdillah dan Hanifa saling berpandangan, mereka bingung harus menjawab apa karena Sarah tidak mengenali Shanum dan tidak tahu apa-apa tentang masalah masalalu Malik. Kalau mereka mengatakan semuanya, takutnya Sarah marah kepada Malik.
''Nanti, biar Malik saja yang menjelaskan semuanya, Ma.'' jawab Abdillah. Sarah hanya mengangguk. Setelah itu mereka menunggu dengan gelisah di depan ruangan Arif. Mereka berharap Arif tidak kenapa-kenapa.
__ADS_1
Bersambung.