
Siska berjalan dengan langkah kaki lebar ke rumahnya, Hamidah pun mengikuti nya dari belakang.
''Permisi, kalau boleh saya tahu ada keperluan apa Bapak polisi kesini?'' tanya Siska sopan, namun wajahnya terlihat cemas.
''Apakah ini rumah Bapak Setya?'' pak polisi nanya balik. Mereka sekarang berdiri saling berhadapan di depan pintu rumah Siska.
''Iya, benar sekali, ini rumah suami saya.''
''Ibu Istrinya?''
''Iya.''
''Baiklah, kebetulan sekali kalau begitu, kami kesini cuma ingin memberitahukan, bahwa Pak Setya sekarang sedang berada di kantor polisi, ia di tahan tadi malam karena terlibat kasus penculikan anak di bawah umur,'' jelas pak polisi hati-hati. Siska yang mendengarkannya merasa begitu kaget, begitu juga Hamidah. Mereka menutup mulut dengan tangan. Siska menggeleng tak percaya.
''Tidak, tidak mungkin, Pak. Suami saya pria yang baik. Dia sudah berubah, Pak Polisi pasti salah orang.'' bantah Siska dengan air mata sudah mengenangi pelupuk. Hamidah mengelus pelan punggung Siska. Sambil mengelus punggung Siska, ia menduga-duga sendiri apakah Setya yang telah menculik Arif? Kalau iya, jahat sekali dia. Pikir Hamidah. Karena memang Hamidah tidak tahu siapa yang telah menculik Arif, Hanifa dan Abdillah tidak bercerita apa-apa kepada nya mengenai siapa yang telah menculik Arif sebenarnya.
''Maaf, kami datang ke sini cuma mau menyampaikan itu saja, terserah Ibu mau percaya atau tidak, kalau Ibu mau tahu lebih detail nya, Ibu bisa datang sendiri ke kantor polisi. Bicaralah sendiri sama suami Ibu. Kami datang ke sini atas permintaan suami Ibu sendiri, karena kondisinya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Kalau begitu kami permisi.'' tutur pak polisi lalu pamit pulang.
Selepas kepergian pria berseragam coklat itu, Siska menangis terisak. Ia tidak percaya sang suami tega menculik anak di bawah umur.
''Mbak, apa Mbak bisa menemani aku ke kantor polisi? Aku mau ketemu Mas Setya, Mbak. Plis, temani aku sekali ini saja.'' mohon Siska menatap Hamidah lekat.
''Em ... Gimana, ya,'' Hamidah sedikit ragu, ia takut semakin merepotkan orang suruhan Abdillah. Melihat wajah Siska yang begitu menyedihkan, akhirnya Hamidah mengangguk. Setelah itu Hamidah kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaiannya, Siska juga telah masuk ke rumah hendak bersiap-siap, sedangkan Hellen belum pulang kerja. Selesai bersiap-siap, Hamidah dan Siska masuk ke dalam mobil.
''Antar kami ke kantor polisi, ya, Mas.'' seru Hamidah.
''Baik, Non.''
__ADS_1
Setelah itu mobil melaju membelah jalanan menuju kantor polisi, selama dalam perjalanan Siska nampak tak tenang, ia merasa resah, gelisah yang teramat sangat. Baru saja merasa senang, kini ia malah mendapatkan kabar yang tak mengenakan perihal sang suami.
Hamidah yang seakan mengerti dengan kegelisahan Siska lalu menggenggam tangan Siska, membantu menguatkan. Iya, sebaik dan sepeduli itu Hamidah dengan sesama. Ia tahu, wanita muda yang berada di samping nya saat ini juga telah banyak merasakan pahitnya hidup. Hamidah tahu Siska adalah wanita yang kuat, terlepas dari apa yang pernah ia lakukan kepada Arumi dulu, itu cukup menjadi pelajaran baginya untuk mendewasakan diri dan kepribadian nya.
Setelah itu mobil yang membawa mereka berhenti di parkiran kantor polisi. Siska dan Hamidah keluar bersamaan, lalu mereka berjalan masuk ke dalam kantor polisi. Sedangkan Bambang, ia memotret Hamidah lagi dengan diam-diam, lagi-lagi dia mengirimkan nya kepada Abdillah.
''Pak, saya mau ketemu sama suami saya, apa benar suami saya di tahan di sini?'' tanya Siska kepada salah satu polisi yang menjaga di depan.
''Siapa nama suami Ibu?'' tanya polisi.
''Namanya Setya.''
''Oh, benar. Anda bisa duduk di ruang tunggu. Biar teman saya yang membawanya keluar.''
''Baiklah.''
''Maaf, Ibu boleh ikut saya langsung, karena kondisi Pak Setya tidak memungkinkan untuk berjalan.'' tutur polisi wanita.
''Ba-baik, Bu.'' jawab Siska.
Siska dan Hamidah lalu mengikuti langkah kaki wanita berseragam coklat, berambut pendek itu. Setelah sampai di tempat mereka tuju, betapa kagetnya Siska melihat keadaan sang suami, Hamidah pun tak kalah kaget.
''Mas,'' panggil Siska, lalu pecahlah tangis nya, tangis yang terdengar begitu nyaring dan menyedihkan. Siska melihat Setya sedang berbaring meringkuk sendiri di sudut ruang yang sempit tanpa ada selimut yang menutupi tubuhnya, hanya baju berwarna oren dan celana di atas lutut yang ia pakai. Kondisi nya terlihat begitu miris. Setya yang sayup-sayup mendengar namanya di panggil lalu perlahan membuka mata, begitu matanya sudah bisa melihat dengan sempurna, ia begitu kaget melihat sang istri yang datang dengan di temani Hamidah. Setya duduk dengan pelan, lalu dia ngesot di lantai kotor berdebu menuju di mana sang istri berada. Melihat itu tangis Siska semakin menjadi-jadi.
''Mas, kamu kenapa bisa berbuat sebegitu hina dan senekat ini? Itu kaki mu kenapa, tubuhmu kenapa? Kamu terlihat begitu menyedihkan. Aku tak percaya sama apa yang telah kamu lakukan, katakan kepada ku kalau ini semua hanya salah paham, kamu nggak mungkin menculik 'kan, Mas?'' racau Siska saat Setya sudah berada di hadapannya. Siska duduk, ia mensejajarkan tubuhnya dengan sang suami. Keduanya sama-sama berpegangan pada jeruji besi yang menjadi penghalang bagi keduanya untuk lebih dekat.
''Maaf, maafkan, Mas, Siska. Semuanya benar, Mas memang telah melakukan kesalahan yang begitu fatal. Mas telah menculik putra Mas sendiri hanya karena uang dan pekerjaan yang dijanjikan oleh seorang wanita licik. Ini, kaki Mas kena tembak karena Mas berusaha untuk kabur, hingga membuat Mas tak bisa berdiri dan berjalan sekarang, rasanya sungguh perih dan sakit. Tubuh Mas bisa babak belur begini karena Malik, Papa sambung Arif yang telah menghajar, Mas, habis-habisan, karena dia sangat menyayangi Arif. Sementara, Mas. Mas memang Ayah dan suami yang tak berguna. Huhuhu ....'' tutur Setya seraya menangis pilu. Sepasang suami istri itu terus saja menangis dengan saling bersahutan. Sahutan kecil yang terdengar di tahan. Hamidah yang melihat itu akhirnya memilih untuk berlalu dari sana. Ia tidak tahan melihat penderitaan yang dirasakan oleh sepasang suami istri tersebut. Sebenarnya Hamidah ingin marah begitu ia tahu kalau Setya lah yang telah menculik Arif, tapi saat ia melihat Setya yang telah mengakui semua kesalahannya sendiri dengan diiringi tangisan yang begitu memilukan membuat Hamidah tak tega untuk menghakimi. Biarlah, biar dia merenung sendiri, lagian dia juga telah mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah ia perbuat. Pikir Hamidah.
__ADS_1
''Aku, aku rasa, aku tak sanggup lagi untuk terus hidup dengan mu, Mas. Aku tak mau sisa-sisa usiaku terbuang cuma-cuma hanya karena menunggu mu terbebas dari sini entah kapan itu. Aku masih punya orang tua yang harus aku bahagia kan di sisa-sisa usia mereka. Aku tak pernah menuntut banyak darimu selama ini, sudah makan saja aku sudah sangat bersyukur, meskipun tak mustahil saat kau memberikan aku segepok uang berwarna merah muda waktu itu aku merasa sangat senang, tapi kalau aku tahu kau mendapatkan uang itu dari cara hina dengan menculik anak mu sendiri, aku takkan menerima nya. Aku memang bukan orang baik, tapi semenjak peristiwa saat itu aku sudah bertekad untuk menjadi orang baik seperti mantan istrimu, Mbak Hanifa. Tapi kamu tidak, percuma kalau niat dan pemikiran kita tak sejalan. Kau masih sama seperti Setya yang dulu. Aku pergi, Mas. Maaf. Aku akan memberi tahu kepada Hellen dan Ibu kalau kau berada di sini.'' tutur Siska panjang lebar. Setya tak sanggup berkata-kata. Ia menunduk dengan isakan yang terdengar ia tahan.
''Mas, lihat aku. Sekarang tolong jatuhkan talak mu untukku, Mas.'' pinta Siska pelan.
''Ba-baiklah, Dek.'' balas Setya ragu. Setelah beberapa saat hening, keduanya diam, hanya suara tarikan nafas yang terdengar.
''Cepatlah.'' desak Siska.
''Siska, aku jatuhkan talakku untukmu, sekarang kau bukan lagi is, istriku ... Hiks.''
''Terimakasih, Mas. Jaga dirimu baik-baik selama berada di sini. Aku pamit, besar harapan ku, saat kau telah bebas besok, semoga kau benar-benar telah bertaubat, tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.'' ucap Siska berpesan. Lalu setelah itu ia meninggalkan jeruji besi, meninggalkan Setya yang semakin terluka setelah mengucapkan kata talak. Sekarang ia telah menduda lagi, menduda untuk yang ketiga kali.
Siska menghampiri Hamidah yang duduk sendiri di ruang tunggu, lalu ia mengajak Hamidah untuk pulang.
''Aku sudah menjadi janda, Mbak.'' kata Siska lirih saat mereka telah berada di dalam mobil, mobil telah melaju menuju rumah mereka.
''Sungguh?''
''Iya, aku bukannya jahat dan tak setia, tapi aku harus melangkah maju untuk menggapai hidup yang lebih baik lagi. Dengan masih bersama Mas Setya aku rasa hidup ku akan begitu-begitu saja. Apalagi sekarang Mas Setya telah masuk penjara.''
''Lakukanlah apa yang menurut mu baik, Siska. Setelah ini semoga kamu bisa hidup dengan tenang dan damai dan semoga saja kamu bisa mencari rizki dengan cara yang halal dan berkah.''
''Iya, Mbak. Nanti, saat sampai di rumah, aku ingin menutupi anggota tubuh ku seperti Mbak dan Mbak Hanifa. Aku ingin berhijab, Mbak.'' ungkap Siska pelan, lalu tangisnya pecah kembali.
''Alhamdulillah, Siska.'' Hamidah memeluk tubuh Siska, ia merasa senang mendengar niat Siska yang hendak berhijrah. Hamidah juga berjanji, nanti setelah mereka tiba di rumah, Hamidah akan memberikan beberapa helai gamis dan jilbab nya kepada Siska.
Bersambung.
__ADS_1