
''Tidak seharusnya kamu berada di sini!'' Abdillah berkata lirih namun penuh penekanan. Matanya menatap manik hitam Setya lekat, memancarkan kekesalan yang amat sangat. Ia sungguh tidak menyangka Setya berani datang ke acara pesta pernikahan Hanifa. Dan sekarang ia malah mengotori pakaian nya. Pakaian yang dibuat khusus untuk pesta.
''Ta-tapi ... Aku berani datang ke sini karena menemani Istriku, Istriku mendapatkan undangan, emm ... meskipun aku tidak.'' Setya berucap gugup dengan suara tercekat. Ia lalu menundukkan kembali kepalanya. Kali ini ia benar-benar merasa malu dan terhina. Dulu, ia dan Abdillah berteman sebegitu dekat, tapi sekarang, bahkan hanya untuk menatap wajah Abdillah ia merasa tak punya keberanian, semua kesalahan yang telah ia perbuat sungguh berakibat fatal, sekarang ia baru menyesali banyak hal. ''Andaikan waktu bisa di putar kembali ke masalalu, maka akan aku jaga Hanifa dan Arif dengan sepenuh hati, akan aku tolak rayuan Arumi yang murahan itu.'' batin Setya sambil memilin-milin ujung bajunya. Sedangkan Siska yang melihat dari jarak lumayan jauh merasa kasihan melihat wajah Setya yang pucat dan tegang. Meskipun ia tidak mendengar apa yang tengah di bicarakan oleh Setya dan Abdillah, tapi ia bisa menduga bahwa sang suami sedang tidak baik-baik saja. ''Kira-kira siapa ya, pria tampan itu? Duh ... Kasian Mas Setya, lagian nggak becus banget sih jadi orang, bisa-bisanya nasi dan lauknya tumpah mengenai pakaian Mas tampan itu.'' batin Siska mendengus kesal.
''Oh ... Baiklah. Nikmati saja makanan yang tersedia di sini. Jangan bikin ribut di pesta pernikahan Hanifa. Kamu cukup duduk manis dan saksikan sendiri kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh Hanifa dan Arif. Ingat! Jangan berulah. Aku tidak mau para tamu undangan yang merupakan para petinggi perusahaan mengetahui bahwa kau itu adalah mantan suami Hanifa. Cihhh, memalukan sekali. Lihatlah penampilan mu, sungguh menyedihkan.'' ucap Abdillah lagi tepat di telinga Setya. Membuat Setya semakin gemetaran. Abdillah memindai penampilan Setya dari ujung kaki hingga ujung kepala, penampilan yang jauh dari Setya yang ia kenal dulu. Dulu, Setya selalu menjaga penampilannya, tetap bersih dan rapi. Tapi kini penampilannya terlihat sedikit kumuh, rambut mulai panjang, jenggot dan kumis yang mulai tumbuh, celana dan kemeja yang terlihat kusam dan juga tubuhnya yang semakin kurus. Tidak ada keren-keren nya sama sekali.
''Te-terimakasih Abdillah. Maaf ... Maaf untuk semua yang terjadi dulu dan kini.'' ucap Setya dengan suara serak disertai mata berkaca-kaca.
''Maaf mu terlambat, sekarang sudah tidak ada gunanya.'' lontar Abdillah, lalu ia berlalu dari hadapan Setya. Sebenarnya ia merasa kasihan melihat keadaan Setya saat ini, tapi, jika mengingat apa yang telah Setya lakukan kepada Hanifa dan Arif dulu, ia merasa amat geram, rasanya ia ingin menghajar Setya. Karena Setya yang tidak mendengar amanahnya untuk menjaga Hanifa dengan baik.
Setya mengambil nasi lagi, begitu nasi dan lauk sudah bersatu di dalam piring lalu ia menghampiri Siska. Siska tersenyum lega melihat sang suami yang tidak di apa-apain oleh Abdillah. Sedangkan Abdillah masuk ke rumah untuk mengganti pakaiannya.
''Apa kamu perlu bantuan ku? Pakaian mu kotor sekali Abdillah.'' tanya Hamidah yang berjalan mengekori Abdillah ke dalam rumah.
''Nggak usah Hamidah, aku bisa mengambil pakaian ganti sendiri. Terimakasih.'' Abdillah beralih menghadap Hamidah, lalu melempar senyum simpul.
''Oh baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu, ya.''
''Iya.''
Hamidah berjalan keluar menemui tamu undangan yang merupakan tetangga nya, lalu ia bercengkrama bersama mereka. Tidak lama setelah itu ia melihat Yusuf datang bersama seorang wanita yang tidak ia kenal.
''Akhirnya Yusuf datang juga.'' ucap Ibunya Yusuf tersenyum hangat. Ia duduk bersebelahan dengan Hamidah.
''Emm ... Siapa wanita itu Ustadzah?'' tanya Hamidah penasaran.
''Itu Ameera, temannya Yusuf Hamidah.'' jawab ibu Yusuf.
''Oh ...''
''Cantik, ya.'' celetuk ibu-ibu yang duduk bersama mereka.
''Apa tidak lama lagi Pak Yusuf akan segera menyusul Hanifa?'' sahut ibu yang lain lagi di sertai tawa kecil.
''Maksud nya?'' tanya Ibu Yusuf.
''Maksud aku, apakah Pak Yusuf dan wanita itu juga akan segera menikah Ustadzah? Mereka terlihat serasi.''
__ADS_1
''Ah ... Kita doakan saja, semoga Yusuf segera menemukan jodohnya. Supaya kita bisa membuat pesta di gang kita.''
''Amin ...'' ucap mereka bersamaan.
Yusuf dan Ameera berjalan langsung menuju Hanifa dan Malik yang ada di pelaminan. Hanifa dan Malik tersenyum melihat kedatangan Yusuf dan Ameera, mereka menyambut hangat.
''Wih ... Datang barengan kalian rupanya. Sepertinya ada kemajuan nih.'' goda Malik seraya bersalaman sama Yusuf, Ameera dan kedua orang tua Ameera.
''Iyalah.'' Ameera balas dengan senyum malu-malu dan wajah merona.
''Selamat, ya, Hanifa, Malik. Semoga keluarga kecil kalian selalu di berkahi kebahagiaan dan juga semoga Samawa selalu.'' ucap Yusuf tulus. Ia menatap Hanifa masih dengan perasaan yang sama, dada berdesir halus. Apalagi Hanifa yang terlihat sangat cantik membuatnya beristighfar di dalam hati. Ia senang melihat Hanifa bahagia, meskipun kebahagiaan Hanifa tidak bersumber dari dirinya, tapi ia merasa lega.
''Iya. Terimakasih karena sudah berkenan datang Mas Yusuf, Ameera dan juga Om, Tante. Sepertinya setelah ini aku dan Mas Malik yang akan menjadi tamu undangan.'' balas Hanifa dengan senyum mengembang.
''Kalian doakan saja, ya,'' sahut Mama Ameera dengan tawa berderai. Ameera salah tingkah, sedangkan Yusuf bersikap biasa saja. Lalu setelah itu mereka melakukan sesi pemotretan. Selesai berfoto bersama, rombongan Ameera menuju kursi yang telah tersedia. ''Silahkan di nikmati hidangan yang tersedia, ya.'' ucap Hanifa kepada rombongan Yusuf.
Yusuf yang melihat keberadaan ibunya langsung berjalan ke arah ibunya lalu memperkenalkan Ameera kepada ibunya dan tetangga nya yang lain.
''Hamidah.''
''Ameera.''
''Capek, ya, Sayang?'' tanya Malik, ia mengelus punggung Hanifa pelan. Begitu tamu sudah lengang mereka duduk sebentar dengan tenang.
''Iya, lumayan. Tapi aku bahagia. Terimakasih Sayang.'' jawab Hanifa menatap Malik dengan penuh cinta.
''Sama-sama Sayang. Nanti malam biar mas pijitin, ya, yangg.'' bisik Malik lirih yang berhasil membuat wajah Hanifa menghangat.
''Iya.'' balas Hanifa.
Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba tamu undangan datang lagi.
''Ayah.'' ucap Hanifa ketika ia melihat siapa yang datang menghampiri nya.
''Hanifa, kamu cantik sekali, Nak.'' pria paruh baya itu berucap dengan suara serak.
''Ayah. Aku tidak menyangka Ayah bakalan datang. Terimakasih, ya. Dan terimakasih juga untuk Ibu dan Hellen.'' ucap Hanifa tulus, tidak ada kebencian di hatinya untuk keluarga Setya. Dan ia juga telah memaafkan Setya. Baginya tidak ada gunanya menyimpan dendam dan kebencian. Karena sekarang ia sudah bahagia bersama Malik, pria yang menyayangi dirinya dan sang putra dengan tulus. Hellen dan Ibunya memasang wajah datar. ''Ih .... Kok Hanifa beruntung banget sih, sekarang ia malah mendapatkan suami yang tampan dan kaya raya. Calon suamiku mana, ya?'' batin Hellen sambil celingukan mencari keberadaan Abdillah. Ibu Setya menatap Mama Malik yang berdiri di samping Hanifa, dari tadi Mama Malik tersenyum ramah ke arahnya, tapi ia malah memasang wajah tak bersahabat. ''Uh ... Kapan aku akan mempunyai cincin dan gelang yang indah seperti itu, ya.'' batin Ibunya Setya iri melihat Mama Malik, dari tadi fokusnya tertuju ke tangan Mama Malik. Jari yang melingkar cincin berlian indah dan pergelangan tangan yang melingkar gelang mutiara yang berkilau.
__ADS_1
''Selamat, ya, Hanifa dan Tuan Malik. Cucu Kakek, tampan sekali kamu.'' Ayah Setya membawa Arif ke dalam gendongannya. Ia sedikit kesulitan menggendong tubuh Arif yang berisi.
''Kakek. Apakah Kakek tengah sakit? Kenapa wajah Kakek terlihat sedikit pucat?'' ujar Arif melihat Kakeknya itu lekat.
''Kakek sehat Arif.'' balas Ayah Setya dengan senyum merekah. Ia merasa senang karena Hanifa dan Arif menyambut kedatangannya dengan baik.
''Sungguh?''
''Iya.''
''Kakek, tadi Arif lihat Ayah.'' ucap Arif yang berhasil membuat semua kaget.
''Ayah, di mana?'' tanya Ayahnya Setya.
''Di situ ....'' tunjuk Arif ke arah kursi tamu. Tadi saat ia memanggil Abdillah dan Hamidah ia melihat Ayahnya tengah makan bersama Siska.
''Nggak mungkin Setya datang ke sini. Anak kecil suka mengada-ada.'' sahut Ibunya Setya tak percaya.
''Beneran, Arif nggak bo'ong. Tadi Arif lihat Ayah begitu rakus makan bersama seorang wanita. Ayah sekarang kok berubah jadi jelek, ya. Apa Ayah telah mendapat balasan dari Allah karena Ayah dulu pernah jahat sama Bunda dan Arif.'' oceh Arif dengan suara khas anak-anak. Hanifa percaya percaya saja karena Arif memang tak pandai berbohong.
''Eh Sayang, nggak boleh ngomong gitu.'' ucap Hanifa menasehati.
''Arif masih benci sama Ayah! Sekarang Arif cuma punya Papa tampan.'' Ayah Setya merasa sesak mendengar ucapan Arif. Lalu ia meletakkan tubuh Arif kembali. Karena ia sudah tidak kuat menggendong tubuh Arif.
''Ayah.'' tiba-tiba Abdillah menghampiri.
''Abdillah''
''Sama siapa ke sini, yah? Sudah sehat kah?''
''Kami naik taksi tadi Mas Abdillah. Kondisi Ayah sudah mendingan. Ini berkat bantuan Mas Abdillah waktu itu.'' sahut Hellen melempar senyum semanis mungkin ke arah Abdillah.
''Kenapa tidak mengabari aku kalau kalian mau datang, aku 'kan bisa mengirimkan orang untuk menjemput kalian ke kampung.''
''Kami tidak mau merepotkan kalian lagi. Uhukk ... uhukk ... Mana Setya, apakah kau melihatnya di sini Abdillah? kalau iya, tolong panggilkan dia.'' ucap Ayah Setya dengan suara serak di sertai batuk. Ia terlihat sesak dengan wajah semakin pucat.
Abdillah menatap Hanifa dan Malik secara bergantian meminta pendapat, Malik dan Hanifa mengangguk kecil. Lalu setelah itu Abdillah berjalan ke arah kursi tamu. Wajah Ayah Setya semakin pucat dengan batuk yang semakin menjadi. ''Setya harus minta maaf kepada kamu secara langsung Hanifa, Ayah ingin sekali melihatnya, dengan begitu Ayah bisa pergi dengan tenang. Uhukk .... Uhuukk, uhukk.'' ucap Ayah Setya. Hanifa, Malik dan yang lainnya merasa khawatir melihat keadaan Ayah Setya.
__ADS_1
Bersambung.