AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Anak kandung


__ADS_3

Abdillah berjalan begitu tergesa-gesa, hingga beberapa kali dengan tidak sengaja ia menabrak orang-orang yang sedang berada di tempat yang sama dengan nya. Ia berlari menyusuri lorong rumah sakit sambil menggenggam kotak beludru bewarna silver, di dalam kotak itu terdapat cincin indah bermata berlian yang rencananya akan ia berikan kepada Hamidah. Tapi naasnya, rencana indah yang begitu ia idam-idamkan gagal total karena musibah yang datang tanpa di duga-duga. Padahal ia sudah menyiapkan kejutan kecil untuk Hamidah.


Setelah melewati lorong-lorong rumah sakit, akhirnya Abdillah menghentikan langkahnya begitu ia melihat dua orang karyawan butik tengah duduk di kursi tunggu. Abdillah sedikit terengah-engah, ia duduk di kursi yang sama dengan menjaga jarak dari karyawan, perlahan ia mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal. Setelah tarikan nafas mulai normal, ia berjalan perlahan hendak masuk ke dalam ruangan di mana Hamidah mendapatkan tindakan.


''Pak Abdillah, di larang masuk sama Dokter, kecuali yang bersangkutan. Dokter tengah menangani Bu Hamidah, karena kondisi Bu Hamidah sungguh memprihatinkan.'' ujar karyawan butik yang bernama Ani.


''Memprihatinkan? Aku hanya ingin melihatnya sebentar!'' bantah Abdillah dengan suara serak. Ini kali pertamanya susah payah Abdillah menahan tangis karena seorang perempuan, perempuan lain, selain Hanifa, mendiang Ibu nya dan neneknya. Sekarang jelas lah sudah, kalau Hamidah mudah tempat istimewa di hati Abdillah. Di hati pria dingin yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun selama ini.


''Bersabarlah, Pak. Kata Dokter, Bu Hamidah kehilangan banyak darah, sekarang lagi di lakukan transfusi darah.'' jelas Ani.


''Apakah darahnya sudah ada? Aku juga ingin mendonorkan darah ku untuk Hamidah.''


''Darahnya sudah ada, Pak. Tadi kami berdua juga sudah cek darah tapi golongan darah kami tidak cocok sama golongan darah Bu Hamidah. Beruntungnya ada Ibu dan Bapak yang begitu baik hati ingin mendonorkan darah mereka untuk Bu Hamidah.''


''Ibu, Bapak siapa?'' tanya Abdillah merasa penasaran.


''Ibu, Bapak yang membantu membawa Bu Hamidah ke rumah sakit dengan mobilnya, Pak. Mereka sangat dermawan orangnya.'' jawab Ani. Teman sebelahnya mengiyakan. Setelah itu Abdillah kembali duduk di ruang tunggu, sambil duduk ia berdoa, memohon kepada sang kuasa agar Hamidah di beri umur panjang. Agar bisa mengarungi hidup yang lebih lama dengan nya, Abdillah berjanji akan membuat wanita yang berhasil mencuri hatinya itu merasa bahagia selalu.


***


Di ruang tempat pengambilan darah, sepasang suami istri itu tengah berbaring di atas ranjang. Mereka di perintahkan oleh suster untuk beristirahat sebentar, untuk kembali menstabilkan kondisi tubuh mereka setelah proses pengambilan darah tadi. Usia mereka memang sudah enam puluh tahun, tapi kondisi tubuh mereka masih fit dan bugar. Karena mereka yang rutin berolahraga dan mengkonsumsi makanan sehat dan bernilai gizi tinggi sesuai dengan usia mereka. Mereka bukanlah orang sembarangan, mereka merupakan salah satu pengusaha yang sukses, mereka memiliki hati yang baik dan dan suka berbagi. Mereka tidak biasa menonjolkan kekayaan mereka di depan orang orang, mereka bukanlah orang yang haus akan pujian. Setelah beberapa menit mereka beristirahat di atas ranjang, seorang suster masuk lagi sambil membawa selembar surat.


''Alhamdulillah, beruntung kita cepat melakukan transfusi darah hingga nyawa putri Bapak dan Ibu dapat di selamatkan.'' ucap Suster itu sambil tersenyum simpul. Mendengar perkataan suster, sepasang suami istri itu merasa begitu kaget, mereka saling memandang satu sama lain, tak mengerti sama apa yang dikatakan oleh sang suster.


''Ma-maksudnya gi mana, Suster?'' tanya sang istri serius.


''Korban kecelakaan tabrak lari itu putri Bapak dan Ibu, 'kan?'' tanya Suster memastikan.


''Em, iya, Sus.'' terpaksa sang istri mengatakan iya. Karena ia tak mau banyak bertanya lagi.

__ADS_1


''Ya sudah, ini surat yang menyatakan kalau kalian memiliki DNA yang sama dengan putri kalian. Ibu dan Bapak bisa baca sendiri surat hasil pemeriksaan darah ini.'' Suster menyerahkan surat itu, sang istri mengambil cepat dengan tangan sedikit gemetar. Setelah itu sang suster keluar lagi dari ruangan. Setelah kepergian sang suster, Sepasang suami istri tersebut membaca dengan teliti isi surat yang ada di hadapan mereka. Setelah mereka selesai membaca surat, keduanya sama-sama menangis haru, mereka lalu berpelukkan.


''Ya, Allah, Pa. Ini beneran, Pa. Dia beneran putri kita.'' ujar sang istri antusias.


''Iya, Ma.'' jawab sang suami yang tak kalah antusias.


''Begitu cepat Allah menunjukkan kuasa nya, baru kemarin kita pulang dari umroh, sekarang Allah sudah memberikan jawaban atas doa-doa kita selama di sana, doa yang selalu rutin kita panjatkan sehabis sholat, doa yang tak pernah putus. Ya Allah putri ku, setelah dua puluh tujuh tahun lamanya kau di culik oleh orang jahat, akhirnya Mama bisa menemukan mu sekarang. Tapi yang Mama sedih kan, kenapa kita bertemu saat kondisi mu tak baik-baik saja.'' racau sang istri. Setelah itu mereka berjalan keluar dari ruangan dengan saling bergandengan. Saat berjalan, sang istri berucap.


''Pa, bagaimana kalau anak itu ada orangtuanya? Em, maksud, Mama, bagaimana kalau dia sudah ada orang tua angkat yang mengasuhnya sedari dia bayi, apakah mereka mau memberikan anak itu kepada kita?'' ucap sang istri menduga-duga.


''Semoga saja langkah kita di mudahkan oleh Allah untuk berkumpul bersama putri yang kita rindu-rindu kan selama ini.'' sahut sang suami.


''Amin.''


''Sepertinya, Papa akan menelpon seseorang untuk mengabari perihal kabar baik ini, Ma.''


''Papa mau menghubungi Pak Ahmad, Papa akan mengatakan kepada nya kalau putri kita sudah di temukan.''


''Ide bagus tu, Pa. Tapi apa tidak terlalu cepat?''


''Tidak.'' sahut sang suami.


Setelah itu sepasang suami istri tersebut duduk di kursi, sang suami mulai menghubungi seseorang, seseorang yang merupakan teman dekatnya. Ia berbicara dengan binar bahagia, tidak hanya wajahnya saja yang berbinar, tetapi nada suara pun terdengar begitu senang.


''Putri kami sudah di temukan, Ahmad. Sekarang kami sedang berada di rumah sakit.'' ucap sang suami begitu panggilan di angkat.


''Alhamdulillah. Aku, istriku dan Yusuf rencananya akan menjenguk nya besok.'' ucap seseorang di seberang sana setelah temannya menjelaskan semuanya perihal di temukan nya sang putri.


''Iya, kami tunggu kedatangan kalian.''

__ADS_1


''Sepertinya rencana kita untuk menjodohkan mereka akan segera tercapai. Untungnya Yusuf sekarang juga masih belum menikah.''


''Iya. Tapi, aku masih belum tahu status putri kami sekarang, sudah menikah atau belum kah dia. Besok aku akan kembali mengabari mu.''


''Baiklah. Aku tunggu lagi kabar baiknya, Tuan Alex. Assalamualaikum.''


''Walaikumsallam Ustadz Ahmad.''


Setelah panggilan terputus, sepasang suami istri tersebut berjalan lagi menuju ruangan tempat Hamidah di tangani. Begitu mereka telah sampai di depan ruangan, mereka melihat sudah ramai orang-orang. Rombong Hanifa juga sudah datang.


***


Di tempat berbeda, seorang wanita tengah di landa rasa gelisah. Setelah menabrak Hamidah, ia merasa tak tenang. Ia berjalan mondar-mandir di balkon kamarnya.


''Ah, tindakan aku sudah benar!''


''Aku cuma ingin memuluskan jalanku untuk mendapatkan pria yang aku cintai.''


''Tapi, kasihan juga sama Hamidah, bagaimana kalau dia meninggal lalu dia menghantui aku.''


''Tapi tidak, tidak mungkin.''


''Duh, kalau Hanifa tahu aku yang menabrak Hamidah bagaimana reaksi nya, ya? Padahal aku 'kan sudah berjanji kepadanya untuk berubah dan menjadi wanita baik-baik. Tapi pesona Kakaknya begitu dahsyat, hingga membuat aku memimpikan nya siang dan malam.''


''Tenang, pokoknya tenang!''


Gumam Arumi menduga-duga dan menenangkan dirinya sendiri. Iya, Arumi lah orang yang telah tega menabrak Hamidah. Tadi saat Arumi tengah mengunjungi salah satu restoran miliknya yang ada di pinggiran kota, ia iseng-iseng membaca daftar nama-nama orang yang akan membooking restoran miliknya, di daftar nama tersebut tidak sengaja ia membaca ada nama Abdillah dan Hamidah. Setelah itu Arumi menyelidiki, ia menanyakan kepada karyawan nya tentang itu. Dan karyawan nya mengatakan kalau nanti malam Abdillah membooking tempat itu untuk melamar seorang wanita yang bernama Hamidah. Setelah mendengar itu, Arumi mendadak di landa emosi, tanpa pikir panjang ia merencanakan niat jahatnya tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2