
Setelah acara lamaran kecil-kecilan tersebut, mereka yang tadi ikut berpartisipasi lalu duduk berunding di atas karpet tebal yang memiliki kualitas terbaik. Mereka duduk berunding untuk menentukan hari pernikahan antara Hamidah dan Abdillah. Mereka tidak ingin menunda-nunda lagi, niat baik sebaiknya segera di segerakan, agar tidak masuk angin, lalu kembung.
Pelayan yang berjumlah dua orang membawa cemilan dan minuman untuk menemani obrolan mereka. Ada cake, buah-buahan dan lain-lainnya. Orangtua Hamidah begitu ramah dan sangat baik terhadap rombongan Hanifa, mereka sudah menganggap rombongan Hanifa seperti keluarga sendiri. Begitu juga antara Sarah dan Ainun, mereka begitu nyambung dalam membicarakan topik apa saja, apalagi masalah kecantikan dan perawatan. Karena memang, mereka masih terlihat cantik di usia mereka yang tak lagi muda. Dan karena mereka juga merupakan wanita sultan yang memiliki banyak uang, tapi mereka sama-sama rendah hati, tidak sombong.
''Kalau bisa lebih cepat, lebih baik.'' Bu Ainun bersuara memberi masukan. Ia ingin melihat putri semata wayangnya segera merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan bersuamikan Abdillah. Dan benar saja, setelah ia berkata seperti itu, wajah Hamidah mendadak bersemu dan mengangguk kecil. Abdillah pun sama.
''Ibu ada benarnya.'' timpal Hanifa tersenyum manis. Sedangkan para lelaki hanya mengangguk seakan setuju-setuju saja. Lalu Pak Andra memutuskan pernikahan Hamidah dan Abdillah akan di laksanakan tiga minggu yang akan datang. Semuanya setuju, dengan harapan semua akan berjalan lancar semestinya tanpa ada gangguan dan hambatan yang berarti.
Setelah itu rombongan Hanifa pamit pulang dengan perasaan lega, akhirnya Abdillah akan segera berumah tangga dengan wanita yang baik dan tentu mencintainya. Setelah kepulangan rombongan Hanifa, sebuah mobil tampak masuk ke dalam pagar tinggi menjulang, lalu mobil itu berhenti tepat di depan halaman yang berhadapan dengan pintu utama. Dua orang yang berada di dalam mobil keluar, setelah itu mereka masuk ke dalam rumah keluarga Andra.
''Mana Om dan Tante?'' tanya pria muda itu kepada pelayan wanita.
''Tuan dan Nyonya sedang berada di kamar, Den.'' jawab pelayan seraya menunduk kecil.
''Tolong panggilkan. Katakan kami mau bertemu.'' perintah wanita yang sedikit lebih muda dari Ainun.
''Baiklah.'' balas pelayan itu lagi, lalu ia bersiap naik ke lantai atas untuk memanggil sang majikan. Namun, saat baru dua langkah ia berjalan, tiba-tiba wanita yang merupakan Adik dari Bu Ainun memanggil nya lagi.
''Eh, kau, pelayan, tunggu dulu!'' seru nya.
''Iya, ada apa, Nyonya?'' tanya pelayan berbalik.
''Apakah wanita yang mengaku sebagai putri dari Mas Andra dan Mbak Ainun sudah tinggal di sini?'' tanya wanita itu terdengar tak suka.
''Iya, Nyonya. Non Hamidah sudah tinggal di sini. Mereka baru pulang dari rumah sakit, sekarang Tuan dan Nyonya besar sedang berada di kamar atas, di kamar Non Hamidah.'' jelas pelayan itu hati-hati dan apa adanya.
__ADS_1
''Ya sudah, sana kamu. Panggilkan Mbak ku sekarang juga!'' titahnya lagi dengan nada ketus. Pelayan itu mengangguk, lalu ia naik kelantai atas dengan sedikit terburu-buru. Selepas kepergian pelayanan itu, Ibu dan Anak itu lalu duduk di sofa di ruang tamu.
''Hah, gampang sekali Mbak Ainun tertipu sama anak yang nggak jelas dari mana asal-usulnya, padahal mereka baru bertemu. Mama yakin, wanita yang bernama Hamidah itu pasti sedang berbohong dengan mengaku-ngaku kalau dia adalah putri dari Mas Andra dan Mbak Ainun. Wanita itu pasti ingin menguasai semua harta keluarga Andra.'' ucap wanita yang bernama Santi dengan wajah bete.
''Iya, Ma. Mama benar. Bukankah putri Om dan Tante sudah lama hilang?!'' timpal putranya yang sepantaran dengan Abdillah dan Malik.
''Itulah, Sayang. Mama mengajak mu ikut ke sini untuk melihat secara langsung seperti apa wajah wanita yang bernama Hamidah itu. Sekalian, Mama juga ingin menasehati Tante Ainun supaya dia tidak terlalu cepat percaya sama orang asing.''
''Tapi, bisa saja 'kan, Ma, wanita itu beneran putri nya Om dan Tante, bukankah kemarin Om Andra sudah memberitahu bahwa hasil tes darah mereka memiliki kesamaan sama wanita itu.''
''Alaaah .... Zaman sekarang jangan gampang percaya sama omongan orang asing, bisa saja wanita itu sudah bekerja sama dengan teman atau keluarga nya yang berada di rumah sakit untuk menipu Om dan Tante, mu. Dengan memalsukan tes darah itu.'' ucap Santi lagi menyangkal. Sedangkan putranya tidak bersuara lagi. Tidak lama setelah itu, Ainun, Andra dan Hamidah datang menghampiri mereka. Saat Hamidah sudah berada di dekat Santi, Santi menatap penampilan Hamidah dengan begitu lekat, memperhatikan dari ujung kepala hingga kaki. Hamidah yang sadar dirinya tengah di tatap sebegitu lekat merasa salah tingkah. Ia lalu duduk di samping Ainun.
''Jadi ini putri kalian?'' tanya Santi langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Iya, Santi. Bagaimana, cantikkan?'' balas Andra tersenyum simpul.
''Terimakasih, Em .... Siapa, ya? Eh ... Maksudnya aku panggil Tante atau apa?'' sahut Hamidah sedikit salah tingkah sambil melihat ke arah orang tuanya, karena ia belum tahu siapa sebenarnya Santi dan pria yang sepantaran dengannya itu.
''Perkenalkan Sayang, ini Tante Santi dan putranya Rian, sepupu mu.'' ucap Ainun kepada Hamidah memperkenalkan mereka.
''Oh, maaf Tante. Salam kenal, ya, Tante dan Mas Rian.'' Hamidah bersalaman dengan Santi dan Rian.
''Iya, salam kenal kembali Sayang.'' ucap Santi ramah. Setelah itu mereka mengobrol dengan topik yang ringan. Hingga akhirnya Hamidah pamit untuk segera beristirahat di kamarnya, karena tubuh nya masih terasa sedikit lemas. Setelah kepergian Hamidah, akhirnya Santi mengambil kesempatan menanyakan perihal asal usul Hamidah.
''Kalian yakin wanita itu putri kalian?'' tanya Santi menatap Ainun dan Andra bergantian dengan tatapan meremehkan. Selama ini Santi memang terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga Ainun dan Andra.
__ADS_1
''Kamu kenapa bertanya seperti itu, Santi?'' sahut Andra dengan suara sedikit keras. Dia merasa tidak suka dengan pertanyaan sang adik ipar.
''Em, sorry, aku was-was aja, takut kalau wanita itu cuma menipu kalian.'' ucap Santi lagi.
''Kamu tenang saja, Santi. Kami ini bukan orang bodoh yang gampang di kibulin. Kami sudah punya bukti yang begitu meyakinkan, kami memiliki golongan darah yang sama, selain itu,'' ucap Ainun yakin dengan menjeda beberapa detik, ''ini, kami merasakan ada yang berbeda di dalam sini. Ikatan batin antara orangtua dan putri kandungnya begitu kuat kami rasakan.'' ucap Ainun sembari memegang dadanya.
''Yaaaa terserah kalian saja deh, aku hanya mencoba memperingatkan kalian.'' ucap Santi melemah. Andra dan Ainun tak menanggapi lagi, Andra lalu berbicara sama Rian.
''Oh, ya, Rian, ada yang ingin Om katakan sama kamu,'' ucap Andra lembut, selama ini ia sudah menganggap Rian seperti putra nya sendiri.
''Apa itu, Om?'' sahut Rian.
''Begini, putri Om tidak lama lagi akan menikah dengan seorang pria yang di cintainya.'' ucap Andra menjeda sebentar.
''Lalu?'' tanya Santi dengan kening berkerut.
''Kami ingin, setelah mereka menikah, suami Hamidah yang akan menduduki jabatan utama di perusahaan, Om harap kamu mengerti Rian.'' ucap Andra lagi dengan pelan dan hati-hati. Ainun mengangguk kecil sembari tersenyum ke arah Rian.
''Tapi kamu tenang saja, kamu masih sangat-sangat Om butuhkan untuk berada di perusahaan. Kamu bisa menjadi Asisten suaminya Hamidah.'' lanjut Andra lagi.
''Kalian ini apa-apaan! Seenaknya ingin menggantikan posisi Rian di perusahaan dengan orang yang belum di kenal pasti dan belum pasti kinerjanya. Kalian mau perusahaan itu bangkrut? Rian sudah capek-capek bekerja selama ini untuk memajukan itu perusahaan.'' sanggah Santi. Sementara Rian hanya diam saja.
''Memajukan? Setahu aku perusahaan itu sudah maju sebelum Rian menduduki jabatan sebagai direktur utama, Santi.'' balas Andra.
''Sudah, sudah ...'' Ainun mencoba menenangkan Adik dan Suaminya yang nampak sudah sama-sama naik pitam.
__ADS_1
''Aku terserah Om dan Tante saja. Bagaimana bagusnya, menjadi seorang Asisten CEO pun aku tak apa-apa.'' ucap Rian santai yang berhasil membuat Mamanya meradang. Mamanya menatap Rian dengan wajah tak bersahabat, setelah itu ia menarik tangan Rian agar segera berlalu dari hadapan Andra dan Ainun. Mereka pulang tanpa pamit terlebih dahulu kepada Andra dan Ainun.
Bersambung.