AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Ingin bertemu Hanifa


__ADS_3

Setelah kepergian rombongan Hanifa, Siska langsung berjalan sedikit tergopoh menuju kamar.


''Mau ke mana kamu?'' tanya sang mertua terdengar ketus.


''A-aku mau ke kamar sebentar, Bu.''


''Baiklah. Lama juga nggak apa-apa.'' Ibu Setya tersenyum sinis usai mengatakan itu, karena ia tidak ingin Siska duduk bergabung bersama mereka. Lalu setelah itu ia melihat amplop tebal yang di pegang oleh Setya. Mereka bertiga lalu duduk berkumpul di sofa ruang keluarga, mereka menghitung jumlah uang yang tidak sedikit itu. Hellen dan Ibunya merasa amat senang melihat segepok uang mata merah pemberian Abdillah.


''Ingat! Uang ini Abdillah kasih untuk acara tahlilan Ayah, Bu. Jangan di salahgunakan, ya.'' ucap Setya.


''Iya, Ibu tahu. Sisanya bolehlah untuk pegangan Ibu dan Hellen.'' Ibu Setya tersenyum penuh arti melihat uang itu.


''Baiklah. Ini, pergunakan dengan baik, ya, Bu.'' pesan Setya. Lalu ia menyerahkan semua uang itu kepada Ibunya. Ibunya mengambil dengan senyum lebar.


''Iya Setya. Kamu kayak ngomong sama siapa saja!'' Ibu Setya sedikit protes. Ia tak suka ada orang yang mengaturnya. Termasuk putranya sendiri. Dia dan Hellen terlihat sudah baik-baik saja setelah kematian sang kepala keluarga. Mereka hanya merasa sedikit sedih saja. Tapi, kalau soal uang tetap nomor satu bagi mereka.


***


Setiba di kamar, Siska menutup pintu cepat lalu mengunci nya dari dalam. Ia berjalan, duduk di pinggir kasur, lalu ia membuka amplop bewarna putih yang Hanifa berikan tadi tanpa sepengetahuan mertua, ipar dan suaminya.


''Alhamdulillah.'' ucap Siska mendekap uang itu dengan penuh rasa syukur.


''Sudah lama sekali rasanya aku tidak memegang uang sebanyak ini. Jangankan memegang sebanyak ini, memegang satu lembar pun tak lagi pernah semenjak aku menikah sama Mas Setya.'' gumam Siska lirih. Di tangannya ada sepuluh lembar uang bewarna merah muda. Lalu ia memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop. Ia menyimpannya di dalam dompet berukuran sedang yang ada di bawah lipatan pakaiannya.


''Jangan sampai Mas Setya dan yang lain mengetahui tentang uang ini. Bisa-bisa mereka mengambil nya dari aku. Uang ini biarlah aku simpan sendiri, sesuai sama apa yang di katakan Hanifa. Ya Allah, ternyata mantan istri Mas Setya selain cantik dia juga sangat baik hati.'' ucap Siska lirih. Niatnya untuk meninggalkan Setya gagal total. Sekarang Setya malah membawanya ke kampung halaman Setya. Makin sulit lah bagi Siska untuk meninggalkan Setya. Karena ia tidak tahu jalan pulang. Langkahnya semakin terbatas. Saat Siska tengah melamun, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Siska membuka nya cepat.


''Mas.'' ucap Siska. Lalu mempersilahkan Setya masuk.


''Kamu ngapain aja? Kenapa pintunya kamu kunci segala dari dalam?'' tanya Setya curiga. Ia lalu duduk di ujung kasur, Siska pun duduk di samping sang suami.


''A-aku ... Aku tadi cuma tiduran aja, Mas.''


''Kamu nggak apa-apa 'kan, Dek?'' tanya Setya karena ia melihat wajah Siska yang sedikit pucat. Ia mengelus pipi sang istri yang sedikit tirus.


''Nggak.''


''Kenapa pakaianmu lusuh sekali? Apa tidak ada yang lebih bagus dari ini?'' tanya Setya lagi. Ia menatap lekat penampilan sang istri yang menurut nya sangat tidak enak di pandang.


''Ini daster di kasih Ibu tadi malam, ada beberapa daster seperti ini di kasih Ibu, sudah aku simpan di lemari. Kamu 'kan tahu sendiri aku membawa baju ku ke sini tidak seberapa. Cuma ada dua baju saja.'' jelas Siska.

__ADS_1


''Kok Ibu kasih kamu daster jelek begini sih. Ini seperti daster bekas nggak layak pakai.''


''Nggak apa-apa lah bekas, Mas. Yang penting masih bisa di pakai.''


''Maaf, ya, Dek. Karena sampai saat ini Mas masih belum bisa membahagiakan mu.''


''Nggak apa-apa.''


''Mas akan berusaha setelah ini. Mas akan mencari pekerjaan agar bisa membeli daster dan pakaian yang bagus untukmu.'' ucap Setya sungguh-sungguh, Siska terharu mendengar niat baik sang suami.


Siska dan Setya saling berpelukan. Namun tiba-tiba suara sang mertua terdengar berteriak lagi memanggil Siska.


''Siska ....''


''Siska!''


''Mas, aku keluar dulu, ya.'' wajah Siska berubah pias. Ia berdiri cepat.


''Iya.''


Siska berjalan dengan langkah kaki lebar menghampiri sang mertua. Setya menggeleng kepala mendengar suara sang Ibu yang begitu melengking memanggil istrinya. Menurutnya sang Ibu sama sekali tidak menghargai keberadaan istrinya dan dirinya.


"Ada apa, Bu?'' tanya Siska begitu ia sudah sampai di depan sang mertua.


''Cuci yang bersih.'' timpal Hellen.


"Dan jangan sampai ada yang lecet.'' ujar Ibu Setya lagi.


''Iya.'' Siska hanya mampu mengangguk-angguk.


''Rasain kamu, aku akan terus memberikan pekerjaan yang tidak ada henti-hentinya kepadamu selama kamu berada di rumah ini, sampai kamu lelah dan menyerah, hingga kamu pergi meninggalkan Setya dengan sendirinya. Gara-gara kamu aku kehilangan menantu kaya raya seperti Arumi.'' batin Ibu Setya tersenyum sinis. Lalu ia dan Hellen berlalu dari hadapan Siska yang terus menunduk. Mereka berjalan dengan begitu pongah.


Usai kepergian sang mertua, Arumi merendam semua pakaian kotor dengan hati terasa berat dan nelangsa.


''Dek, biar Mas bantu.'' Setya menyusul Siska ke kamar mandi. Ia tadi juga bisa mendengar apa yang Ibunya perintah kepada Sang istri.


''Tapi Mas ...''


''Tidak apa-apa. Mas bantu, ya. Izinkan Mas belajar menjadi suami yang baik. Mas tidak ingin ada penyesalan lagi di dalam hidup Mas.'' Siska mengangguk mendengar perkataan sang suami. Setelah itu mereka bekerjasama mencuci pakaian Hellen dan Ibunya.

__ADS_1


''Berat sama dipikul, ringan sama di jinjing. Mas akan selalu ada untukmu. Insyaallah kita akan selalu bersama-sama.'' ungkap Setya disela-sela mencuci.


''Terimakasih, Mas.'' Siska tersenyum lebar. Seketika rasa kesal dan lelahnya menguap begitu saja melihat sikap lembut sang suami.


***


Di tempat berbeda seorang wanita muda tengah duduk di sofa mewah di ruang tamu rumah Hanifa. Di hadapannya duduk mama Malik.


''Iya, ada perlu apa, ya? Dan kamu siapa?'' tanya Mama Malik dengan gayanya yang elegan.


''Perkenalkan, nama aku Arumi, Tante.'' Mama Malik mengangguk kecil seraya tersenyum simpul mendengar perkataan Arumi.


''Aku ke sini ingin bertemu sama Hanifa.'' ucap Arumi sopan. Kemarin ia melihat di salah satu stasiun televisi siaran yang sedang menayangkan acara pernikahan Hanifa dan Malik. Dari situlah ia tahu di mana alamat Hanifa sekarang. Niatnya ingin bertemu Hanifa adalah ingin meminta maaf atas kesalahan masalalu nya. Sesuai sama janji nya waktu itu.


''Kamu temannya menantu saya?'' selidik Mama Malik, karena ia memang tidak mengenal sosok Arumi.


''Em ... Eh, iya, Tante.'' Arumi sedikit berbohong.


''Maaf, ya, Nak Arumi. Hanifa dan yang lainnya sedang pulang kampung. Dia sekarang tidak ada di rumah.''


''Mm ... Pulang kampung?'' mata Arumi menyipit.


''Iya. Mereka ikut melayat, Kakek Arif meninggal kemarin.''


''Maksudnya Ayah dari Setya? Mantan suami Hanifa meninggal?'' tanya Arumi memastikan. Ia sedikit kaget mendengar kabar duka yang tak di sangka-sangkanya. Karena memang kemarin saat di televisi tidak ada disiarkan tentang kematian Ayah Setya.


''Iya. Nak Arumi juga mengenal Setya?''


''Iya, aku kenal Tante.''


''Oh ... Tapi, sekarang Hanifa dan yang lainnya sedang dalam perjalanan, tidak lama lagi mereka akan segera pulang. Kalau kamu mau tunggu lah di sini.''


''Nggak usah, Tante. Aku lebih baik pulang dulu. Besok aku akan ke sini lagi menemui Hanifa.''


''Oh, ya sudah. Nanti akan Tante sampaikan kepada Hanifa.''


''Iya, Tan. Aku permisi, ya.''


''Iya.''

__ADS_1


Arumi berjalan menuju mobilnya. ''Innaillahiwainnaillahirrojiun. Aku tidak menyangka ternyata Ayah pergi secepat ini.'' batin Arumi bermonolog. Lalu ia melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan sedang.


Bersambung.


__ADS_2