AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Pov Intan


__ADS_3

Aku berdiri di teras rumah, melepaskan kepergian Mas Rian, melambaikan tangan hingga mobil yang di kendarai nya berangsur menjauh, lalu hilang di balik gerbang tinggi menjulang. Kata Mas Rian dia akan mengunjungi rumah Mama Santi. Mas Rian tidak menawari aku sama sekali untuk ikut serta, padahal aku ingin sekali ikut. Tapi biarlah, aku akan selalu sabar menunggu saat-saat itu tiba. Saat Mas Rian benar-benar telah menganggap aku sebagai istrinya.


Setelah itu aku masuk ke dalam rumah, hari ini hari minggu, aku bisa bersantai di rumah sembari membereskan beberapa barang peninggalan papa, membereskan pakaian dan barang-barangnya yang lain. Nanti, beberapa barang Papa yang masih layak di gunakan akan aku sumbangkan ke panti jompo, karena papa memiliki pakaian dan barang lain yang cukup banyak. Seperti jam tangan, sepatu dan lain-lainnya.


Aku berjalan masuk ke dalam kamar Mama dan Papa. Kamar yang dulu terasa begitu hangat kini telah berubah menjadi dingin dan sunyi. Karena sang pemiliknya telah pergi untuk selama-lamanya, berpindah ke tempat peristirahatan terakhir, tempat yang kekal abadi.


Aku duduk di tepi sofa, mengambil, lalu menatap foto aku, Mama dan Papa yang terdapat di atas nakas, yang di pajang pada bingkai berukuran sedang. Rindu, aku sangat merindukan kedua orangtuaku. Meskipun Papa bukanlah orang tua kandung ku, tapi aku sudah menganggapnya seperti Papa ku sendiri. Aku tahu, semasa hidupnya, Mama dan Papa banyak sekali melakukan kesalahan, menyakiti hati Mas Rian dan Mamanya hanya karena egoisan mereka yang ingin hidup bersama. Tapi aku janji, aku yang akan menebus kesalahan mereka terhadap suamiku dan Mama mertuaku. Namaku adalah Intan, aku adalah wanita yang tangguh, mandiri dan tentunya bisa di percaya.


Saat aku hendak membuka lemari pakaian Papa, tiba-tiba ponsel yang ada di saku sweater ku bergetar. Aku mengangkat nya cepat.


''Assalamu'allaikum, Ma.'' ucapku sopan, ternyata Mama mas Rian yang menghubungi. Kira-kira ada apa? Tumben sekali Mama menelpon. Apa Mas Rian sudah sampai di rumah Mamanya. Pikirku.


''Walaikum'sallam.'' jawab suara di seberang sana terdengar ketus. Aku melipat kening, kaget sekaligus heran dengan nada suara Mama yang terdengar tak biasa, karena biasanya Mama selalu berkata dengan nada lemah lembut dan ramah, tapi kali ini terdengar berbeda. Akupun kembali duduk di tepi sofa dengan tangan memegang ponsel dan aku letakkan di dekat telinga.


''Mama tumben sekali menelpon aku. Apa ada yang bisa aku bantu, Ma?'' ucapku lagi seramah mungkin.

__ADS_1


''Kamu nggak suka, ya, kalau Mama menghubungi mu?''


''Em, Mama kenapa berkata seperti itu? Aku senang Mama menelpon ku.''


''Ya sudah, nggak perlu pakai basa-basi segala. Langsung saja, ya. Mama cuma mau mengatakan. Itu, seluruh harta yang di tinggalkan oleh Papa kandung Rian secepatnya kamu harus berikan semua surat-surat penting dan sertifikat nya kepada Rian secara langsung. Jangan di tunda-tunda lagi. Papa kalian 'kan sudah tidak meninggal.'' perkataan Mama berhasil membuat aku kaget. Harta? Bisa-bisanya Mama membicarakan masalah harta, sementara kuburan Papa masih belum kering. Dan Mama 'kan tahu sendiri, kalau semua harta peninggalan Papa memang telah di wariskan kepada Mas Rian. Apa maksud Mama coba menelpon aku lalu mendesak aku begini?


''Tapi, Ma ...''


''Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya semua harta peninggalan Papanya Rian harus di serahkan sepenuhnya untuk Rian dan atas nama Rian. Kamu tidak punya hak untuk mengatur-ngatur Rian, Intan. Sudah cukup kamu ambil kebahagiaan Rian di masa kecilnya, kamu tidak boleh mengambil perusahaan dan rumah peninggalan mantan suamiku. Itu semua hak Rian.''


''Tapi Mas Rian tidak mau bekerja di perusahaan milik almarhum Papa, Ma.''


Perusahaan dan rumah yang aku tempati sekarang adalah peninggalan dari keluarga Mama. Tapi, di sisa-sisa usia Mama, Mama menitipkan seluruh hartanya untuk Mas Rian, katanya sebagai ungkapan permintaan maafnya. Sementara aku, aku hanya kebagian dua puluh persen saja. Walaupun hanya dua puluh persen, aku merasa senang dan amat bersyukur.


***

__ADS_1


Malam harinya, suamiku tak kunjung pulang. Aku berjalan mondar-mandir di balkon kamar yang berhadapan dengan halaman. Menanti kepulangan Mas Rian.


Aku sudah mencoba menghubungi ponsel Mas Rian beberapa kali, tapi tak kunjung di angkat. Jujur, aku merasa begitu resah dan gelisah. Meskipun pernikahan kami terjadi karena perjodohan dan permintaan papa. Tapi aku benar-benar mencintai Mas Rian, aku harap Mas Rian pun merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasa. Aku harap ini pernikahan pertama dan terakhir ku. Aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta Mas Rian sebisaku, dan aku akan bersabar menghadapi sikap dinginnya.


Mas Rian adalah lelaki pertama yang berhasil membuat aku jatuh cinta, membuat ku memimpikan nya siang dan malam. Mungkin sulit di percaya, tapi itulah kenyataannya.


Dulu, saat aku masih duduk di sekolah dasar, aku sering kali melihat Papa diam-diam menatap sebuah foto di ruang kerjanya. Aku selalu mengintip apa yang tengah papa lakukan, dan foto siapa yang tengah papa tatap dengan penuh kasih sayang. Papa selalu rutin melakukan itu setiap malam nya tanpa sepengetahuan Mama. Hingga suatu malam, karena merasa begitu penasaran, aku akhirnya diam-diam menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Papa saat Papa sudah beristirahat di kamar bersama Mama. Tanpa sepengetahuan Papa dan Mama tentunya. Dulu, aku merupakan anak perempuan yang selalu ingin tahu, aku merupakan anak yang cerdas di sekolah dan selalu mendapat peringkat pertama di dalam kelas. Bahkan mendapat juara umum. Mengalahkan Kakak-kakak kelas lainnya.


Setibanya di ruang kerja papa, aku membuka laci dengan pelan dan hati-hati. Di dalam laci itu aku sering melihat papa mengambil album foto lalu setelah puas memandangi nya, papa kembali menyimpan nya di laci yang sama.


Begitu aku sudah berhasil mendapatkan album foto tersebut. Aku membukanya pelan dan perlahan. Aku begitu kaget melihat anak laki-laki seusiaku yang ada di foto itu, selain kaget, aku juga merasa mengagumi sosok anak sebayaku itu. Dia terlihat sangat tampan di mataku.


Setelah malam itu, aku pun selalu rutin masuk ke dalam ruang kerja papa dengan diam-diam. Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat foto anak laki-laki yang seakan sudah menjadi candu tersendiri untukku. Bahkan aku selalu menunggu foto terbaru nya. Karena terkadang setiap seminggu sekali, atau kalau tidak sebulan sekali akan selalu ada foto baru yang papa masukkan kedalam album.


Aku kira itu hanya rasa kagum biasa dan cinta monyet biasa. Hingga seiring berjalan nya waktu, saat aku tumbuh remaja dan semakin dewasa, kebiasaan ku untuk melihat foto-foto Mas Rian semakin bertambah. Aku semakin mengagumi sosoknya yang semakin dewasa semakin tampan dan gagah.

__ADS_1


Bahkan, saat di lingkungan sekolah dan universitas, aku sama sekali tidak tertarik sama sekali dengan pria manapun. Padahal banyak teman laki-laki yang menyatakan perasaan mereka secara langsung terhadap ku. Yang ada di hatiku hanya Mas Rian. Dan mimpi ku untuk bertemu sama Mas Rian secara langsung sungguh besar. Doa-doa ku sehabis sholat lima waktu, aku selalu meminta agar gusti Allah menjodohkan aku dengan Mas Rian, dan semoga Mas Rian tetap menutup hati dari wanita manapun. Hingga saat itu tiba, saat kami di pertemukan.


Bersambung.


__ADS_2