AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Hari Pernikahan bagian 2


__ADS_3

Malik telah duduk bersila di depan penghulu dengan Mama nya berada di samping dirinya dan beberapa kerabat dan teman dekat juga datang menemani, turut menjadi saksi di hari pernikahan dia dan Hanifa. Berulang kali Malik menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan, ia merasa amat gugup dan grogi. Malik terlihat sangat tampan dengan busana pengantin serba putih yang begitu pas di tubuhnya. Tidak lama setelah itu Hanifa muncul di hadapannya, Malik menatap calon Istrinya itu dengan mata berbinar kagum, Hanifa sangat cantik, semua tamu yang hadir memuji kecantikan Hanifa. Wajar saja, Hanifa yang pada hari-hari biasa tidak pernah bermake-up dan hari ini wajahnya yang cantik di makeup sempurna oleh MUA handal membuat wajahnya begitu berubah menjadi lebih cantik dan membuat pangling siapa saja yang melihatnya. Tamu-tamu yang hadir memberi jalan agar Hanifa bisa lewat dan duduk berdampingan dengan Malik.


Setelah itu akad nikah akan segera di mulai, Abdillah yang akan menjadi wali nikah Hanifa juga tidak kalah tampannya. Sesekali mata Abdillah dan Hamidah berserobok karena Hamidah duduk tepat di samping Hanifa. Hamidah melempar senyum kecil ke arah Abdillah begitu juga Abdillah. Selama Hamidah bekerja di butik milik Hanifa, hubungan dirinya dan Abdillah bisa di bilang cukup dekat dan saling terbuka, mereka sudah begitu akrab. Karena sering kali saat mereka sedang bekerja sama dalam membantu mengurus semua keperluan untuk acara pernikahan Hanifa dan Malik mereka tidak sungkan mengobrol cukup lama dan saling meminta pendapat, tentang mana yang cocok dan mana yang tidak. Karena sebagian keperluan untuk acara resepsi, Hanifa mempercayakan kepada Abdillah dan Hamidah untuk mengurusnya.


''Baiklah, sekarang mari kita mulai ijab Kabul nya. Tapi sebelum itu ada baiknya kita membaca alfatihah, agar pernikahan bisa berjalan lancar dan membawa keberkahan di dalam rumahtangga yang dibina oleh Tuan Malik dan Hanifa.'' ucap penghulu, ''Alfatihah ...'' lanjutnya. Lalu semua tamu undangan yang rata-rata beragama islam membaca surah Al-fatihah. Setelah itu tangan Malik dan Abdillah saling berjabat, Abdillah bisa merasakan tangan Malik yang sebegitu dingin, ia tahu atasan yang sebentar lagi akan menjadi adik ipar nya itu pasti merasa sangat grogi. Abdillah tersenyum mantap ke arah Malik sambil mengangguk kepala, memberi kode agar Malik lebih rikeks.


''Bissmillahirrohmanirrohim. Saudara Malik bin Mukhtar Zafeer, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik perempuan saya Hanifa Wulandari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu milyar rupiah di bayar tunai.''


''Saya terima nikah dan kawinnya Hanifa Wulandari binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.'' Malik berucap lancar dengan satu tarikan nafas.


''Bagaimana para saksi, sah?'' tanya Pak Penghulu sambil memutari pandangannya ke arah para tamu sekaligus saksi.


''Sah!'' jawab para tamu undangan bersamaan.


''Alhamdulillah.'' ramai suara terdengar.


Malik menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia menangis haru, susah payah dia menahan air mata dan isakan. Begitu juga Hanifa. Mereka sama-sama merasa amat bahagia dan lega. Lalu Hanifa dan Malik duduk saling berhadapan, Hanifa mengambil tangan Malik lalu mengecup takzim, setelah itu gantian Malik yang mengecup kening Hanifa. Doa-doa di dalam hati selalu mereka panjatkan, berharap rumah tangga mereka yang mereka awali dengan penuh cinta dan kebahagiaan akan tetap berjalan baik-baik saja kedepannya, tetap berdiri kokoh saat badai menerpa, karena masing-masing rumah tangga pasti punya ujian tersendiri, Hanifa dan Malik berharap rumah tangga mereka akan tetap belayar hingga hanya maut yang memisahkan dan setelah kematian mereka berharap akan di pertemukan kembali. Mama Malik juga merasa begitu haru, ia merasa amat bahagia melihat anak laki-laki semata wayangnya telah resmi menjadi seorang suami, menjadi imam dan kepala rumah tangga. Abdillah pun juga, ia berharap Malik bisa menjaga sang adik, dan menyayangi sang adik dan sang keponakan sebagaimana dirinya.


Setelah semua urusan pernikahan selesai, Hanifa dan Malik masuk ke kamar pengantin untuk mengganti pakaian mereka dengan pakaian pesta.


''Sayang, sini biar Mama bantu.'' tawar Sarah lembut saat ia melihat Hanifa sedikit kesulitan membuka resleting gaun pernikahan di bagian punggung. Karena tim wedding organizer yang mengurus pakaian pesta Hanifa lagi di luar.

__ADS_1


''Baik, Ma.'' Jawab Hanifa. Lalu Sarah berdiri tepat di belakang Hanifa. Mereka berdiri di depan sebuah cermin besar.


''Mama merasa sangat bahagia Hanifa, akhirnya sekarang telah kamu resmi menjadi menantu Mama.''


''Iya Ma. Aku juga merasa sangat bahagia.'' balas Hanifa. Hanifa menatap cermin, di dalam cermin ia melihat Malik tengah menatapnya lekat dengan mata di kedip-kedipkan. Hanifa menunduk malu, jantungnya berdebar tak karuan melihat kelakuan pria yang baru beberapa menit menjadi suaminya itu. Ia masih merasa mimpi bisa memiliki suami seperti Malik. Kali ini nama Setya benar-benar telah terhapus sempurna di hatinya. Seorang Malik telah berhasil menaklukkan Hanifa.


''Malik, kamu keluar dulu. Biar Hanifa ganti baju lebih dulu.'' ujar Sarah kepada Malik.


''Lihat dikit boleh lah, Ma. 'kan udah halal.'' goda Malik cengengesan masih tetap menatap Hanifa.


''Kamu tenang aja, ada waktunya untukmu. Tapi sekarang belum boleh. Sabar dulu. Sana keluar.'' Sarah balik menggoda Malik.


''Waktunya kapan, Ma?''


''Kapan waktunya yangg?'' tanya Malik lembut. Hanifa menunduk malu dengan wajah merona mendengar obrolan Ibu dan anak.


''Udah, udah. Sana keluar, kamu membuat Hanifa malu aja.'' ucap Sarah. Sarah juga tidak sabar, ia ingin Malik dan Hanifa segera memberikan seorang cucu untuknya, memberi adik untuk Arif, agar Arif ada temannya.


***


Di luar, di halaman rumah yang di huni oleh Hanifa. Halaman luas yang di tumbuhi bunga-bunga segar bermekaran, di sana nampak orang-orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, mereka menyiapkan makanan, minuman dan tempat duduk untuk para tamu. Para tamu undangan satu persatu sudah mulai berdatangan. Pesta di adakan di luar ruangan atau Outdoor. Hanifa dan Malik sengaja membuat konsep Outdoor, karena menurut mereka lebih hidup dan lebih segar saja di bandingkan di dalam ruangan, seperti di hotel-hotel. Beruntungnya cuaca sangat mendukung, tidak terlalu panas dan juga tidak mendung. Hanifa dan Malik telah duduk di pelaminan.

__ADS_1


''Kamu cantik sekali hari ini istri ku.'' bisik Malik lirih di telinga Hanifa. Suaranya terdengar begitu menggoda. Membuat bulu kuduk Hanifa sedikit meremang.


''Terimakasih Tuan.'' balas Hanifa.


''Tuan apaan! Masih ingat tidak dengan janji mu waktu itu?! Coba ulangi lagi.''


''Terimakasih Sayang.'' ucap Hanifa sedikit sebel tapi juga malu. Karena dari tapi Malik terus saja menggodanya.


''Nah begitu dong yangg'' Malik berucap sambil menggenggam lembut tangan Hanifa. Lagi-lagi ulah Malik berhasil membuat jantung Hanifa berpacu cepat.


''Bunda, Papa ...'' Arif datang dengan berlari kecil ke arah Hanifa dan Malik, di ikuti Mama Malik di belakangnya. Lalu Arif duduk di tengah-tengah diantara Hanifa dan Malik, sedangkan Sarah Mama Malik duduk di samping Hanifa. Tidak lama setelah itu Abdillah datang dan duduk di samping Malik. Mereka mengobrol kecil, lalu setelahnya mereka sibuk menyambut tamu undangan yang datang tanpa henti.


***


Setya dan Siska duduk di dalam Bus, di kursi bagian belakang sekali. Mereka duduk lesu, membayangkan bagaimana suasana di pernikahan Hanifa nanti. Setya berharap nanti, Hanifa, Abdillah dan Arif tidak melihat keberadaannya di pesta, karena kalau sampai mereka melihatnya, pastilah Setya akan merasa malu sekali dan tidak ada harga diri.


''Ah sudahlah, lama-lama kepalaku bisa pecah kalau terus memikirkan Hanifa dan Arif. Nanti aku 'kan bisa sembunyi-sembunyi di sana, tamu undangan pasti ramai. Ingat, tujuanku ke sana hanya untuk mengisi perutku yang lapar agar bisa bertahan hidup dan untuk melihat Arif dan Hanifa dari jarak jauh, bukan untuk ketemu langsung sama mereka.'' batin Setya menenangkan dirinya.


''Apa setelah ini aku pulang aja, ya, aku balik kampung aja. Rasanya kalau begini terus aku bisa mati kelaparan hidup bersama Mas Setya yang pengangguran. Ah ... Menyedihkan sekali nasibku. Atau bagaimana kalau aku mencari pria baru saja, pria yang punya pekerjaan dan kaya. Aku kan masih cantik, tidak seharusnya aku hidup sengsara seperti ini. Niatku ke Jakarta kan ingin mencari uang banyak untuk membahagiakan kedua orangtuaku yang sudah renta dan juga untuk membantu hidup saudara ku yang pas-pasan, aku tidak ingin menambah beban pikiran mereka dengan mengenalkan Mas Setya yang kere kepada mereka.'' batik Siska dengan rencananya kedepan.


Tidak lama setelah itu Bus yang membawa mereka berhenti tepat di depan sebuah pagar tinggi menjulang yang terbuka lebar, yang di kiri kanan nya di jaga oleh Security. Mereka telah sampai di tempat tujuan. Setya dan Siska menatap kagum bangunan yang ada di depan mereka, bagi Setya dan Siska, rumah yang di huni oleh Hanifa sangatlah wah. Satu persatu rombongan yang satu Bus sama Setya dan Siska sudah keluar dari Bus. Setya dan Siska mengikuti dari belakang. Mereka lalu berjalan memasuki halaman rumah yang luas. Dari kejauhan mereka bisa melihat keramaian, pelaminan, kursi-kursi tamu dan tamu-tamu yang berjalan hilir mudik ada juga tamu-tamu yang tengah menyantap hidangan yang tersedia. Setya berjalan menunduk dengan kaki sedikit gemetar, jantung berdegup tak karuan. Tidak pernah terlintas dipikirannya selama ini kalau ia bakalan datang ke acara pesta pernikahan sang mantan yang pernah ia hina, ia rendahkan dan ia campakkan tanpa perasaan. Bayang-bayang saat ia membentak Hanifa dan Arif pada suatu malam terus menari-nari di kepalanya, membuat rasa penyesalannya semakin dalam. Air mata kesedihan Arif dan Hanifa waktu itu sungguh tak berarti apa-apa untuknya.

__ADS_1


***


Bersambung. Like dan komen, ya.


__ADS_2