
Lihatlah, begitu mudah nasib berbalik arah. Karena kesalahannya terhadap anak dan istrinya dulu, sekarang ia harus kembali ke fase awal. Memulai hidup dari nol dengan penuh kepahitan dan cibiran.
''Goyang nya yang lincah dong. Kalau diam aja 'kan nggak ada asyik-asyiknya sama sekali. Boring banget!''
''Mama, aku mau Badut yang itu aja.''
''Maaf, nggak ada uang kecil untukmu, karena anakku nggak tertarik sama sekali dengan mu.'' seseibu yang bertubuh gemuk dan balita berusia empat tahun berlalu dari hadapan Setya setelah mengomel Setya. Di balik kostum Badut, Setya hanya bisa menahan diri agar selalu bersabar menjalani profesi barunya.
Sudah tiga hari ini Setya menjalani profesi sebagai Badut. Karena tidak punya pekerjaan sama sekali ia terpaksa menemui Yusuf dan orangtua Yusuf. Ia meminta agar mereka berbaik hati memberinya pinjaman kostum Badut. Setya juga berjanji akan memberikan uang setoran dengan rutin kepada mereka.
Setya melangkahkan kaki gontai, lalu ia duduk di pinggir trotoar.
''Ah ... Sesusah ini ternyata jadi Badut. Sepertinya aku harus banyak bersabar.''
''Pengap, panas, dan sedikit sulit membawa kostum yang lumayan besar ini. Belum lagi tubuhku yang masih kaku untuk di goyang-goyangkan.''
''Malam ini baru segini, padahal sudah satu jam aku berada di sini. Dua puluh ribu, lumayan lah.'' gumam Setya pelan dengan senyum getir menatap mata uang dua puluh ribu yang telah usang dan lembek. Ia mendongak, menatap langit malam yang tanpa bintang, hanya ada bulan sabit yang hampir menghilang di balik awan. Sepertinya malam ini akan turun hujan. Angin malam semakin berhembus kencang. Setya berdiri, lalu berjalan lagi ke arah keramaian. Berharap akan ada lagi pengunjung yang mau di hibur dan berfoto dengan nya.
''Sekarang aku baru merasakan apa yang pernah Hanifa dan Arif rasakan dulu. Ternyata karma tak semanis kurma. Pahit sungguh pahit.'' gumam Setya di dalam hati seraya melangkah gontai.
Setya, Siska dan Hellen sudah kembali ke Jakarta dari beberapa hari yang lalu. Hellen meminta ikut karena katanya ia akan mencari kerja di Jakarta, sedangkan Ibunya tidak ikut. Ia tetap tinggal di kampung, karena Setya tidak ingin menyatukan Istri dan Ibunya tinggal di dalam satu atap. Karena Ibunya yang tidak bisa akur sama sang Istri.
***
Di kediaman Malik.
Semua penghuninya sedang berbahagia karena dapat kabar baik yang telah mereka tunggu-tunggu. Setelah tadi di kantor Hanifa memuntahkan segala sesuatu yang ia makan, dengan sigap Malik membawa sang istri ke dokter, setelah melakukan pemeriksaan, sang dokter mengatakan kalau Hanifa positif hamil. Rasa haru begitu dirasa Malik, ia bersorak girang lalu bersujud syukur di ruang periksa. Membuat sang dokter yang memeriksa tersenyum bahagia begitu juga Hanifa.
''Kamu jangan capek-capek, ya, Sayang. Ini makanannya di makan, ya.'' ucap Sarah. Ia mengantarkan hidangan makan malam ke kamar Hanifa. Lalu meletakkan di nakas.
''Mama suapin, ya?'' tawarnya lagi. Malik yang duduk di samping sang istri tersenyum hangat melihat kedekatan Mama dan istrinya.
''Mama nggak usah repot-repot, aku bisa ambil sendiri makanan di bawah, Ma.'' sahut Hanifa merasa tidak enak. Ia duduk bersandar di dinding ranjang.
''Mama tidak repot, Sayang. Lihatlah, wajah mu terlihat pucat. Jadi beristirahat lah. Kalau kamu butuh apa-apa panggil Mama aja. Mama akan selalu ada untukmu.'' ucap Sarah lembut sambil menyuapi sedikit demi sedikit nasi bertemankan rebusan sayur bayam.
__ADS_1
''Aku akan selalu ada juga.'' sahut Malik.
''Aku juga.'' timpal Arif.
''Aku juga dong pastinya.'' seru Abdillah. Mereka semua berkumpul di kamar dengan wajah cerah.
''Hahaha iya, kita semua akan selalu ada untukmu Hanifa.'' kata Sarah dengan senyum merekah.
''Terimakasih semuanya. Aku sayang kalian.'' balas Hanifa dengan mata berkaca-kaca. Ia sekarang merasa hidupnya telah sempurna dengan kehadiran sang suami, mertua, anak dan kakak yang begitu menyayangi nya.
Setelah makanannya habis, Sarah pamit keluar, di ikuti Abdillah. Sekarang di dalam kamar yang luas tinggalkan Malik, Arif dan Hanifa.
''Bunda sakit apa?'' tanya Arif polos. Ia merebahkan kepalanya di pundak Hanifa.
''Bunda hanya kecapean saja, Sayang.'' balas Hanifa.
''Tapi kata Papa, Bunda sakit karena pengen beli adik baru untuk Arif.'' ujar Arif lagi seraya melihat ke arah Malik yang duduk di sampingnya.
''Ih ... Mas, anak sekecil Arif jangan di kasih tahu dulu perihal kehamilan aku. Ia belum ngerti apa-apa.'' gumam Hanifa lirih berbisik di telinga Malik.
''Ya sudah terserah kamu aja deh.''
''Ibu hamil nggak boleh galak-galak.''
''Nggak galak kok.''
''Kalian lagi ngomongin apa?'' tanya Arif. Ia merasa tubuhnya sedikit sesak karena di himpit oleh Malik dan Hanifa. Matanya sudah terasa berat, ia sepertinya akan segera tidur.
''Kita nggak ngomongin apa-apa jagoan.'' sahut Malik. Lalu Malik mengecup pucuk kepala Arif dan Hanifa secara bergantian. Mata Arif telah terpejam. Ia telah tidur dalam sekejap.
''Hay Sayang. Baik-baik di perut Mama, ya.'' ucap Malik lirih membelai perut rata Hanifa.
***
Di kamar hotel, Shanum mengotak-atik laptop dan ponselnya. Tadi ia menemukan kedua benda itu di dalam mobilnya. Saat ia selesai berbicara sama Arumi, ia hendak kembali ke hotel. Eh, saat ia hendak duduk di kemudi, ia melihat kedua benda berharga miliknya itu telah berada di sana. Ia yakin sekali seseorang telah mengembalikan benda itu dengan sengaja.
__ADS_1
''Argh ... Brengsek! Apa kataku, ini semua pasti ulah Malik. Semua foto-foto yang telah aku simpan begitu lama sudah lenyap semuanya. Tidak ada lagi sesuatu yang bisa aku jadikan alasan untuk mengancam Malik agar ia menikahi aku.'' gumam Shanum merasa amat kesal.
''Eh, tapi tenang saja. Aku bukanlah tipe wanita yang gampang menyerah. Sepertinya besok aku akan memulai semua rencana yang telah aku pikirkan.'' gumamnya lagi tersenyum penuh arti.
***
Di tempat berbeda, Ameera duduk sendiri di sebuah kafe. Ia tengah menunggu kedatangan Yusuf. Ameera sengaja mengajak Yusuf untuk ketemuan, karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Ia duduk tidak tenang, ujung kaki dan tangan nya terasa dingin. Sepertinya apa yang ingin dia katakan begitu penting sehingga membuat nya resah gelisah.
Setelah menunggu tidak terlalu lama, akhirnya Yusuf datang juga. Yusuf berjalan pelan menghampiri Ameera.
''Maaf membuat mu menunggu.'' ucap Yusuf.
''Aku kira kau tidak bakalan datang.''
''Pasti datang lah. Tidak baik mengingkari janji.''
''Kamu mau minum apa? Biar aku pesan.''
''Minuman seperti biasa.''
''Oh, oke.'' Ameera memesan teh hangat untuk Yusuf. Sedangkan ia memesan es boba.
''Malam-malam gini nggak bagus minum minuman yang dingin-dingin.'' ucap Yusuf begitu minuman mereka datang. Ia dan Ameera duduk saling berhadapan.
''Hehehe iya, lain kali tidak lagi.'' sahut Ameera mengangguk kecil.
''Kamu mau ngomong apa Ameera?'' tanya Yusuf to the point.
''Em ... Aku ...'' Ameera terlihat gugup dan ragu. Ia menunduk kepalanya. Tarikan nafasnya terdengar tak beraturan.
''Iya, kenapa? Katakanlah.'' ucap Yusuf dengan nada lembut. Ia menatap Ameera lekat. Wajah tampan nya terlihat sangat teduh. Membuat Ameera semakin salah tingkah karena terkagum-kagum.
''Aku, aku menc ....''
Bersambung.
__ADS_1