
Pukul sepuluh pagi, di jalanan yang sepi yang dikiri kanannya di tumbuhi pohon-pohon, seorang wanita berjilbab pasmina tampak tengah kesal, ia berdiri didekat mobil dengan wajah tak bersahabat. Cuaca sangat cerah, panas mulai terik semakin menambah rasa kesalnya.
''Duh, kenapa pakai acara kempes segala sih?! mana sidangnya akan segera di mulai sekitar setengah jam lagi. Aku tidak mungkin tidak datang. Klien aku membutuhkan aku. Lagian kenapa juga harus kempes di jalanan yang sepi begini, aku harus minta tolong sama siapa? Mudah-mudahan saja ada kendaraan lain yang lewat.'' gumam Ameera sambil menendang ban mobil yang kempes. Saat ini ia tengah menangani kasus seperti biasa, kasus perceraian. Ia lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, ia berniat menghubungi ojek online agar ia sampai di tempat tujuannya waktu. Saat ia mau menghubungi salah satu nomer, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depannya.
Tit!
Ameera sedikit kaget, hampir saja ponsel yang ada di tangannya terjatuh. Ia menatap kearah mobil, memastikan siapakah yang ada di dalam mobil. Setelah itu pintu mobil terbuka, seorang pria tampan keluar dari dalam mobil.
''Maaf kalau mengagetkan. Ada apa, Mbak? Apakah Ada yang bisa saya bantu?'' tanya pria itu sopan, sekarang ia sudah berdiri di depan Ameera.
''Em iya, nggak apa-apa Mas. Mm ... Ini, ban mobil aku kempes, padahal aku harus pergi ke suatu tempat tepat waktu.'' balas Ameera, berharap pria itu mau membantunya.
''Kalau begitu biar saya antar.'' tawar pria itu tanpa ragu. Ia merasa kasihan melihat Ameera.
''Nggak usah, aku tidak mau merepotkan Mas.'' tolak Ameera sedikit gengsi. Padahal sebenarnya ia sangat mengharapkan bantuan.
''Tidak apa-apa. Lagian aku tidak sedang terburu-buru.'' lagi, pria itu berkata dengan sangat sopan, senyum simpul terbit di wajahnya.
''Baiklah. Tunggu sebentar, aku ingin mengambil beberapa barang aku yang ada di mobil.'' akhirnya Ameera menerima tawaran pria yang belum ia tahu namanya itu.
''Baiklah. Saya tunggu di mobil.'' pria itu berjalan ke arah mobilnya.
Setelah beberapa menit Ameera masuk kedalam mobil, beberapa berkas ia dekap erat.
''Mau saya antar ke mana?'' tanya pria itu mulai memutar setir.
''Ke kantor pengadilan, Mas. Kantor pengadilan terdekat.''
''Mbak ini pengacara?'' pria itu membaca tag nama yang ada di pakaian Ameera.
''Iya. Em ... Mas siapa namanya?''
''Wah, ternyata Mbak wanita hebat. Perkenalkan nama saya Yusuf. Nama Mbak sendiri siapa?'' ucap Yusuf. Matanya fokus kedepan.
''Nama yang bagus. Nama aku Ameera.''
''Oh, nama Mbak juga bagus.''
__ADS_1
Setelah saling berkenalan, Ameera dan Yusuf terus mengobrol, bercerita tentang pekerjaan mereka dan apa saja. Obrolan keduanya mengalir begitu saja. Tidak terasa Yusuf sudah mengantarkan Ameera ke tempat tujuan.
''Terimakasih banyak Mas Yusuf.'' ucap Ameera ketika ia sudah keluar dari dalam mobil. Ia berdiri di dekat jendela mobil Yusuf.
''Iya sama-sama.''
''Nanti aku hubungi, aku akan mentraktir Mas Yusuf segelas kopi atau teh sebagai ungkapan terimakasih aku atas tumpangan nya.''
''Tidak usah terlalu berlebihan, saya ikhlas.''
''Ah ... Tidak berlebihan kok. Ya sudah kalau begitu aku masuk.''
''Iya.''
''Hati-hati.'' ucap Ameera dengan senyum simpul.
''Baiklah.''
Setelah itu Yusuf melajukan mobilnya meninggalkan Ameera, Ameera menatap mobil yang semakin menjauh, hingga mobil itu hilang dari pandangannya. Yusuf akan pergi kesebuah kampus. Beberapa hari ini ia baru saja di angkat menjadi seorang Dosen di sebuah universitas. Sejak lamarannya di tolak oleh Hanifa, Yusuf semakin fokus menuntut ilmu, bekerja, dan menjadi seorang pengajar. Ia menyibukkan dirinya, semua itu ia lakukan agar ia bisa melupakan Hanifa, mengubur semua harapannya terhadap Hanifa. Saat lamarannya di tolak, ia merasa hatinya sangat sakit, semangat hidupnya pupus sudah. Tapi, dengan cepat ia berserah diri kepada yang maha kuasa, meminta pertolongan agar ia bisa ikhlas menerima kenyataan. Meminta agar ia bisa melupakan Hanifa dengan mudah.
****
''Mas, sepertinya hujan akan segera turun. Aku takut.'' ucap Siska manja saat ia mendengar suara desauan angin di luar. Ia berbaring di atas lengan Setya, ia mendekap tubuh pria yang masih belum halal untuknya itu. Tapi, mereka sudah seperti pasangan suami istri saja. Mereka tidak takut terkena azab.
''Jangan takut Sayang, Mas 'kan ada di sini. Mas akan selalu ada di samping kamu.'' balas Setya lembut, matanya menatap Siska lekat, ia mengelus rambut Siska yang terurai sedikit berantakan, lalu ia mengecup pucuk kepala Siska berulang kali. Setya benar-benar sudah terpikat sama pesona Siska. Siska yang di perlakukan seperti itupun merasa sangat senang.
''Mas, kapan kita akan pergi dari Villa ini? Dan kapan Mas akan menikahi aku? Aku takut Mas, aku takut ... Hamil.'' ucap Siska lagi. Selimut tebal menutupi tubuh keduanya. Tubuh yang polos tanpa pakaian.
''Bersabarlah Sayang. Untuk beberapa minggu ini kita akan tetap menetap di Villa ini, bukankah Villa ini terasa begitu nyaman dan menenangkan. Kita bebas mau ngapain saja tanpa ada yang mengganggu. Mas perlu waktu untuk memastikan keadaan di luar telah aman.'' Setya berbicara dengan pikiran menerawang jauh.
''Ih . . . Aku yakin, Mas. Arumi itu tidak akan mencari dan menuntut apa-apa dari kamu, harta dia banyak. Lagian kita 'kan cuma mengambil sedikit saja uangnya. Sekarang rekening kamu yang biasa di gunakan untuk mentransfer uang hasil dari restoran miliknya juga sudah ia bekukan. Jadi bersikap biasa dan santai-santai saja, Mas. Kalau dia menuntut kamu meminta kamu mengembalikan uangnya yang telah kita pakai, Mas ancam saja dia, Mas katakan kalau Mas tidak akan pernah menceraikan dia, dengan cara begitu dia akan menyerah dan mengiklaskan semua uangnya yang telah kita pakai. Karena dia tidak akan mungkin mau lagi sama Mas setelah apa yang Mas lakukan terhadapnya. Dan begitu Mas menjatuhkan talak kepadanya, Mas bisa menikahi aku. Setelah itu kita akan hidup bahagia, dengan sisa uang yang ada pada Mas, kita akan menikah dan membuka sebuah ruko di kampung tempat tinggal aku. Orangtuaku pasti senang.'' ucap Siska panjang lebar sambil berkhayal. Setya masih setia mendengarkan, ia mengangguk-angguk kepalanya, setuju dengan ucapan Siska.
''Kamu benar juga ya, Sayang, ternyata kekasih Mas sangat pintar.'' puji Setya dengan senyum mengembang. Setelah itu ia ke kamar mandi, ia akan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Siska masih betah berada di bawah selimut. Di luar, hujan turun dengan begitu derasnya. Di atas nakas yang ada di kamar, tampak ponsel milik Setya tergeletak di sana, di layar ponsel debu-debu sudah menetap di sana. Bagaimana tidak, sudah tiga hari semenjak kedatangannya di Villa, ia tidak pernah menyentuh benda pipih miliknya itu, ia terlalu takut, takut kalau Arumi menghubungi nya dan meminta semua harta yang telah ia bawa kabur. Termasuk mobil.
Saat Setya sedang mandi dan Siska yang masih meringkuk di bawah selimut, tanpa mereka ketahui ternyata beberapa orang telah diam-diam menyelinap masuk ke dalam Villa.
''Bersikap tenang Arumi. Ingat kondisi mu belum sembuh total. Kamu cukup menjadi penonton saja, biar Papa yang memberi pelajaran kepada Setya.'' titah Papa Arumi lirih. Sekarang mereka tengah berdiri di depan pintu kamar. Arumi mengangguk kecil, ia memakai pakaian serba hitam, celana jeans panjang dan jaket kulit. Rambutnya di ikat kuda. Empat orang berbadan kekar berdiri di dekat mereka, empat orang yang di bayar Arumi untuk membantunya memberi pelajaran kepada Setya. Selama tiga hari ini Arumi dan Papa nya begitu kesulitan mencari keberadaan Setya. Berkat teman Siska yang bekerja di Restoran miliknya akhirnya Arumi bisa mengetahui keberadaan Setya dan Siska. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi, begitu ia mengetahui keberadaan Setya, ia langsung berangkat bersama rombongannya, ia ingin menyelesaikan semua urusannya dan Setya.
__ADS_1
Tok, tok, tok!
Pintu terdengar di ketuk berulang kali dari luar, Siska yang meringkuk di bawah selimut langsung bangun, ia mengambil pakaiannya, memakainya cepat.
''Siapa sih? Ganggu aja! Tapi, tumben-tumbenan ada yang mengetuk pintu kamar, apa Bapak penjaga Villa, ya? Ah ... Kok aku jadi takut gini, ya.'' gumam Siska. Ia menatap daun pintu, tangannya yang satu berada di tengkuk. Setelah itu terdengar suara pintu di buka, Setya keluar dari kamar mandi, handuk bewarna putih melilit pinggang nya. Siska menatap ke arah Setya.
''lho, udah bangun ternyata.'' ucap Setya.
''Mas, itu ...'' Siska menunjuk pintu.
''Apa Sayang?'' tanya Setya santai, ia berjalan ke arah lemari mengambil pakaiannya.
Tok, tok, tok.
Lagi-lagi terdengar suara pintu di ketuk. Setya akhirnya mengerti apa yang di maksud oleh Siska. Setya memakai pakaiannya dengan cepat. Ia memakai kaos bewarna putih dan celana santai selutut.
''Siapa?'' teriak Setya, ia berjalan kearah pintu.
''Mas,'' ucap Siska, Siska berdiri di belakang Setya.
''Jangan takut Sayang.'' Setya menenangkan Siska.
''Siapa?!'' Setya berteriak lagi. Namun tetap tidak ada jawaban. Sementara pintu terus diketuk, semakin lama semakin kuat.
Brak, brak, brak!
Kali ini pintu kamar telah di dobrak dari luar. Siska berdiri gemetar, Setya pun sama. Setelah itu pintu kamar terbuka lebar. Setya begitu kaget, ia menatap wanita dan pria yang ada di depannya dengan mata melotot seakan tak percaya. Ia juga mengucek matanya.
Arumi dan Papa nya semakin melajukan langkah ke arah Setya dan Siska. Senyum sinis mereka tunjukkan kepada Setya.
Setelah itu.
Bugh!
Tinjuan Papa Arumi mendarat sempurna di pipi Setya, pria lima puluh tahunan itu sudah tidak dapat mengendalikan emosi melihat wajah Setya yang di anggap nya begitu menjijikkan.
.....
__ADS_1
Bersambung.
Bagaimana kelanjutan? Tungguin, ya.