AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Menjenguk Setya


__ADS_3

Hanifa dan Arif duduk di dalam mobil yang tengah melaju, mobil yang di kemudi oleh Pak Agus. Di depan mobil mereka, nampak sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang, Pak Agus mengikuti motor itu. Motor yang di kemudi oleh Hellen, dengan sang Ibu berboncengan dibelakangnya, tangan Ibunya tampak bergantung pada pinggang Hellen. Selama beberapa bulan Hellen bekerja di perusahaan cabang milik keluarga Shanum, akhirnya ia dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit uang hasil kerjanya, dan uang itu ia belikan motor sebagai penyambung langkahnya agar lebih mudah pergi kemana-mana. Beruntungnya Shanum tidak memecat Hellen setelah ia di tangkap polisi waktu itu, sepertinya Shanum telah melupakan seorang Hellen. Berbicara mengenai Shanum, apakah dia sudah bebas dari penjara saat ini? Dan bagaimana kehidupan nya setelah bebas dari penjara?


***


Setelah mengemudi lumayan jauh, akhirnya rombongan Hanifa berhenti di parkiran Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, rumah sakit jiwa yang terdapat di kawasan Jakarta Barat. Salah satu rumah sakit jiwa terbaik dan terbesar di Ibukota.


Mereka lalu berjalan dengan saling berdampingan melewati lorong-lorong rumah sakit, saat memasuki rumah sakit tadi, Arif sempat heran dan merasa takut melihat orang-orang dewasa dengan berpenampilan aneh. Ada yang rambutnya acak-acakan, ada yang menjerit-jerit tak karuan dengan kedua tangan di pegang perawat, ada seseibu yang menimang boneka dengan disertai senandung kecil, dan banyak lagi perilaku aneh orang dewasa yang membuat Arif takut dan bertanya-tanya di dalam hati, kenapa mereka? Pikirnya. Karena ini kali pertama Arif memasuki rumah sakit jiwa.


''Masih jauh, Bu?'' tanya Hanifa saat ia tengah berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, tangannya berada di pinggang, ia merasa pinggang nya begitu pegal karena berjalan cukup jauh.


''Tidak Hanifa, itu di depan ruangannya.'' balas Ibunya Setya.


Dan benar saja, setelah itu mereka berbelok memasuki sebuah ruangan. Begitu sudah sampai di dalam ruangan, Hanifa dan Arif di buat kaget melihat penampilan seorang pria yang tengah duduk meringkuk di sudut ruangan. Pria yang tak memakai baju, ia hanya memakai celana panjang, celana khas pasien RSJ. Tubuhnya yang kurus menampakkan tulang-tulang dada dan rusuknya, rambutnya sudah panjang hingga bahu dan penampilan sungguh amat menyedihkan. Hanifa dan Arif dibuat pangling, mereka sampai tak mengenali sosok Setya lagi. Tangan Arif bergantung pada tangan sang bunda, ia merasa takut sama Ayahnya sendiri.


''Hanifa, Arif ....''


''Hanifa, Arif ...''


''Huhuhu ... Hiks!''

__ADS_1


Gumam Setya lirih yang bisa di dengar oleh rombongan Hanifa. Wajahnya menunduk, sepertinya ia belum menyadari akan kehadiran Hanifa dan yang lainnya. Rombongan Hanifa masih berdiri di tempat semula, melihat Setya dari jarak sedikit jauh.


''Begitulah, Hanifa. Mas Setya selalu menyebut nama kamu dan Arif sepanjang hari, bahkan saat tidur pun Mas Setya sering mengigau menyebut nama kalian, begitulah kata sang suster yang menanganinya.'' ucap Hellen lirih dengan dada terasa sesak melihat keadaan sang kakak.


''Dan, Mas Setya juga begitu sulit makan, tiap kali di kasih makan, ia selalu meminta makan bareng kamu dan Arif. Kamu bisa lihat sendiri, 'kan? Tubuhnya sudah begitu kurus. Mas Setya sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya di masa lalu terhadap kamu dan Arif. Kamu mau memaafkannya, 'kan?'' ucap Hellen lagi, ia menatap Arif dan Hanifa bergantian dengan mata berkaca-kaca. Hanifa dan Arif mengangguk kecil. Hanifa juga ikut sedih melihat kondisi Setya saat ini, begitu juga Arif. Setelah itu mereka berjalan menghampiri Setya.


''Setya,'' panggil Ibunya. Tapi Setya tak menyahut.


''Mas,'' panggil Hellen lagi. Tetap saja Setya tak merespon. Setelah itu Hanifa ikut bersuara.


''Mas Setya ...'' panggil Hanifa dengan nada suara begitu lembut. Bukan apa-apa, tak ada lagi keinginannya untuk kembali bersama Setya, tak ada lagi cinta di hatinya untuk Setya, semuanya telah ia curahkan kepada sang suami seorang. Hanifa melakukan itu semata-mata hanya karena kasihan, hanya demi kemanusiaan, ia merasa ikut prihatin melihat kondisi sang mantan suami.


''Ka-kalian, ka-lian masih mau menemui aku?'' ucap Setya terbata, ia berdiri, lalu ia berjalan hendak memeluk Hanifa. Dengan cepat Hanifa mengelak.


''Stop!'' seru Hanifa dengan kedua tangan ia letakkan di depannya, sebagai tanda Setya tak boleh mendekat lagi. Setya menunduk lesu, setelah itu ia menatap Arif lekat, lalu ia memeluk Arif dengan cepat dan erat. Setya tak mampu berkata-kata, hanya air matanya yang berlinang, dan dengan memeluk Arif ia merasa sedikit tenang.


''Ayah sudah makan?'' tanya Arif. Ia merasa kasihan dengan sang Ayah, karena saat mereka berpelukan Arif bisa merasakan tulang-tulang Setya yang menonjol. Setya menggeleng.


''Kenapa? Kalau tidak makan nanti Ayah semakin kurus dan Ayah bisa mati.'' ucap Arif polos. Setya tak membalas ucapan Arif. Tetapi ia bisa mendengar dengan jelas ucapan sang putra.

__ADS_1


''Ayah sekarang makan, ya, biar Arif temenin,'' ucap Arif lagi dengan senyum simpul. Setya mengangguk cepat seraya menatap ke arah Hanifa.


''Bunda juga akan menemani Ayah makan, tapi Ayah nggak boleh sentuh Bunda.'' ucap Arif dengan penekanan di akhir kalimat.


''Ke-napa? A-aku mau peluk ....'' ucap Setya terbata dengan wajah sedih.


''Nggak boleh, Ayah. Nanti Papa marah!'' balas Arif lagi. Arif tahu, saat ini hanya Malik lah yang boleh memeluk bundanya. Dimata Arif, hanya Malik lah pria dewasa yang berhak atas diri sang Bunda. Begitulah yang ia tahu, karena saat di rumah ia sering melihat Papanya dan sang bunda saling berpelukan mesra.


Hanifa merasa terharu melihat sang putra yang sudah tumbuh semakin dewasa. Ia bahkan tak menyangka sang putra sudah bisa melindunginya.


Setya lalu kembali duduk di lantai, Ibunya mengambil makanan yang terdapat di atas nakas, makanan yang memang di siapkan oleh perawat untuk Setya makan.


''Ini, kamu bujuk Ayah, ya, supaya Ayah mau makan.'' ucap Ibu Setya pelan kepada Arif seraya menyerahkan piring yang berisi makanan.


''Baiklah, Nek.'' balas Arif sembari mengambil piring. Lalu Arif duduk di depan Setya.


''Ini, makan, Yah ....'' Arif menyodorkan sendok yang berisi nasi dan sayuran hijau. Setya membuka mulutnya lebar-lebar, lalu ia makan dengan wajah tersenyum simpul. Sesekali ia melirik ke arah Hanifa yang duduk di atas kursi yang tidak jauh darinya. Rasanya ia sangat ingin memeluk Hanifa. Seakan ia lupa kalau Hanifa sudah menjadi istri dari seorang Malik.


Hanifa yang sadar Setya yang tengah mencuri-curi pandang kearah nya merasa sedikit takut, ia merasa was-was, takut kalau Setya nekat menerkamnya. Maklum, Setya saat ini sudah tidak waras. Akhirnya Hanifa permisi keluar, ia berniat menghubungi sang suami.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2