AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Mengikuti


__ADS_3

Setelah lelah meracau mengungkapkan isi hatinya, Setya beranjak keluar kamar, sebelum keluar ia menyelimuti tubuh Arif dengan selimut. Lalu mengecup kening Arif sekali lagi.


''Tidur yang nyenyak, Sayang.'' ungkapnya dengan perasaan lebih plong dari tadi. Lalu ia melangkah keluar sambil menghapus sisa-sisa air mata yang berada di pipi dan sudut matanya.


Begitu sudah tiba di luar kamar, ia melihat dua orang penjaga yang di tugaskan oleh Shanum untuk menemani dirinya menjaga Arif sedang merokok dan meneguk sebotol minuman yang mengandung alkohol. Setya menghampiri mereka lalu ikut bergabung duduk bersama mereka.


''Nona Shanum masih belum kembali?'' tanya Setya.


''Belum. Mana tu bocah? Masih tidur juga dia?''


''Ia dia masih tidur.''


''Ini minum, Bro. Wajah lo tegang banget sih, Bro.''


''Iya. Santai aja Bro, kita nggak akan ketahuan dan ketangkep. Nona Shanum itu orang kaya, mudah baginya untuk melindungi tempat ini dari incaran polisi dan orang-orang yang ingin membantu tuh Bocah.'' timpal penjaga yang satu lagi dengan kepala bergoyang ke kiri ke kanan. Ia seperti hampir mabuk karena terlalu banyak minum. Setya hanya membalas ucapan mereka dengan anggukan kecil. Lalu ia berjalan ke arah jendela yang terbuka. Ia berdiri di sana sambil melihat pemandangan di luar ruangan, pemandangan yang menampakkan pohon-pohon besar dengan daun-daun lebat yang bergoyang dan sebagian ada yang gugur terkena tiupan angin. Matahari berangsur menghilang di balik awan, berganti dengan bulan yang perlahan keluar. Malam akan segera datang. Saat Setya tengah fokus melihat keluar, tiba-tiba ponsel yang ada di saku jaket kulitnya berdering, Setya mengambilnya cepat lalu melihat siapa gerangan yang menghubungi dirinya. Di layar ponsel yang menyala, nampak nama Siska tertera di sana. Setya tersenyum kecil lalu mengangkat nya cepat.


''Mas, masih di tempat kerja?'' tanya Siska langsung.


''Iya, Dek. Malam ini sepertinya Mas tidak akan pulang. Kamu jaga diri baik-baik, ya, di rumah.''


''Lho kok gitu? Padahal aku udah rindu. Aku tadi udah berbelanja ke pasar beli baju dan daster seksi untuk dinas malam kita.'' ucap Siska terdengar malu-malu.


''Iya namanya juga kerja sama orang, Dek. Mas harus nurut perintah Atasan. Daster seksinya kamu pake nunggu Mas pulang aja, ya.''


''Iya. Emang kamu kerja apaan sih, Mas?''


''Kemarin 'kan sudah Mas jelaskan kalau Mas bekerja sebagai penjaga di rumah mewah dan megah.''

__ADS_1


''Oh, iya, ya.''


''Hellen mana? Udah pulang dia?''


''Hellen udah pulang. Sekarang dia lagi ada di kamar. Kamu baik-baik, ya, di sana.''


''Ya sudah. Kamu juga, Dek. Akur-akur sama Hellen, ya. Kalau begitu Mas tutup dulu.''


''Iya, Mas.'' setelah Siska mengatakan itu, Setya langsung memutuskan panggilan. Ia ingin menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, namun lagi-lagi ponselnya berdering. Kali ini yang menghubungi nya adalah Shanum. Setya mengangkat panggilan itu cepat.


''Iya, Shanum.''


''Mana tuh Bocah? Masih rewel juga dia? Di sana aman-aman saja 'kan?''


''Arif masih tidur. Di sini aman-aman saja Shanum.''


''Baik Shanum.''


Setya menyimpan kembali ponselnya. Lalu ia mulai menutupi satu persatu jendela dan pintu utama. Setelah selesai menutup pintu, Setya berjalan lagi ke kamar, sebelum masuk ke kamar ia memasang kembali topengnya untuk jaga-jaga takut Arif melihat nya. Begitu sudah sampai di dalam kamar ternyata benar dugaannya. Arif nampak telah bangun, ia duduk di atas kasur dengan kedua tangan memeluk lutut. Wajahnya menunduk.


''Sudah bangun kamu rupanya.'' ucap Setya dengan suara di samarkan.


''Lepaskan aku, Om. Aku mohon. Aku ingin ketemu Bunda. Kata Bunda, Bunda dan Papa akan segera memberi Adik bayi untukku. Aku ingin ketemu mereka.'' ucap Arif mendongak melihat wajah Setya yang tertutup topeng. Mata nya nampak sendu, ia terlihat begitu memohon untuk di lepaskan. Sedangkan Setya tersenyum kecut mendengar perkataan Arif, ''Ternyata Hanifa sekarang tengah hamil. Ah ... Ternyata hatiku masih saja sakit mengetahui kenyataan yang sebenarnya.'' ucap Setya di dalam hati.


''Om, lepaskan aku.'' ulang Arif mengiba, dengan kedua tangan di katupkan di depan dada. Setya hanya mampu menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Ia merasa amat bersalah karena telah memisahkan Arif dari Hanifa.


''Ya sudah, Om akan melepaskan kamu asalkan kamu mau makan.'' ujar Setya.

__ADS_1


''Aku mau, aku mau makan, Om. Tapi beneran, ya, Om akan melepaskan aku dan mengembalikan aku kepada Bunda setelah aku selesai makan.''


''Iya.'' ucap Setya berbohong. Lalu ia berjalan ke dapur untuk mengambil nasi beserta lauk dan minuman. Setelah selesai mengambil semua itu, ia menghampiri Arif lagi


''Sini, Om suapin.'' tawar Setya.


''Tidak usah Om. Biar aku makan sendiri saja.'' balas Arif. Ia mengambil alih piring yang ada di tangan Setya. Lalu ia mulai menyantap makanan itu dengan lahap dan cepat. ''Hore, hore, aku akan segera pulang.'' gumamnya sambil memasukkan nasi ke mulut. Setya hanya mampu menatap pemandangan yang ada di depan matanya dengan air mata mengenangi pelupuk.


***


Di tempat berbeda, Shanum mengendarai kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi. Tanpa ia sadari, di belakang nya sebuah mobil tengah mengikuti nya.


''Nanti setelah aku tiba, perlahan akan aku siks4 anak mu Hanifa. Kau pasti akan nangis darah saat tahu anak kesayangan mu itu sedang tidak baik-baik. Akan aku buat dia menangis menjerit minta tolong kepada mu. Lalu akan aku kirimkan vidio nya ke ponsel mu. Kau hanya mampu menyaksikan penderitaan nya lewat ponsel. Tapi kau tidak mampu menolong nya. Hahaha ... Cerdas nggak tuh ide aku. Dan karena kamu yang selalu memikirkan putra mu yang aku culik, kamu akan merasa stres, dan berubah jadi jelek karena kamu tidak mempedulikan penampilan mu lagi. Kamu juga tidak akan fokus lagi mengurus Malik dan Malik pun akan merasa bosan denganmu dan setelah itu Malik akan meninggalkan mu lalu memilih aku yang lebih cantik dan lebih segala-galanya dari kamu. Hahaha ... Senang nya hatiku.'' racau Shanum sambil tertawa jahat. Ia menduga-duga sendri apa yang akan terjadi selanjutnya. Dugaan-dugaan yang hanya menyenangkan hatinya sementara.


Di dalam mobil yang berada jauh sedikit dari mobilnya, orang suruhan Malik mulai menghubungi Malik.


''Tuan, kami sekarang tengah mengikuti wanita yang bernama Shanum.'' lapor orang suruhan Malik.


''Baiklah. Menuju ke mana kalian sekarang? Tolong kirimkan lokasinya.'' balas Malik.


''Baiklah Tuan. Akan aku kirimkan lokasinya lewat chat.'' lalu panggilan terputus.


Di dalam kamar, Malik tersenyum penuh harap sambil memandangi layar ponselnya. Hanifa yang sedang berbaring di dada bidang sang suami bangun seketika begitu dapat kabar itu.


''Mas akan keluar sebentar, Sayang.'' ucap Malik mengecup mesra kening Hanifa.


''Baiklah. Hati-hati Mas. Aku akan selalu mendoakan kalian.'' balas Hanifa. Malik mengangguk kecil, lalu ia mengambil jaket kulit nya, ia memakai nya cepat. Setelah itu ia berjalan keluar kamar. Begitu sudah sampai di lantai bawah, ia memanggil Abdillah. Mereka lalu berangkat bersama-sama dalam satu buah mobil.

__ADS_1


Next?


__ADS_2