
Di sebuah ruangan yang khusus disiapkan untuk melangsungkan akad, ruangan yang terlihat indah dengan dekorasi serba putih, serta dengan bunga-bunga mawar putih yang semakin menambah kesan keindahan di ruangan itu. Abdillah, Hamidah dan yang lainnya telah duduk dengan khidmat memenuhi ruangan. Sebentar lagi Abdillah akan mengucapkan kata-kata yang akan mengikat dirinya dan Hamidah menjadi sepasang suami istri. kata-kata yang bukan hanya sekedar kata, tapi merupakan janji suci yang begitu sakral di hadapan para saksi dan dihadapan Allah SWT tentunya .
Abdillah menarik nafas dalam, lalu setelah itu tangannya dan tangan Andra saling menjabat, Abdillah mengatur nafas nya agar nanti tiba pada gilirannya ia bisa berucap dengan lancar, ia menatap Andra lekat ketika Andra mengucapkan kata ijab dan ia juga mendengarkannya dengan begitu khusuk. Setelah Andra selesai mengucapkan kata ijab, dengan begitu yakin dan lancar Abdillah melanjutkan dengan kata qabul, hanya dengan satu tarikan nafas saja ia berhasil mengucapkan kata qabul tanpa ada kesalahan, ''Saya terima nikah dan kawinnya Hamidah binti Andra Prewira dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 100 juta rupiah di bayar tunaaaaiii.''
Setelah Abdillah mengucapkan kata-kata itu, terlihat kelegaan di wajah Hamidah dan para saksi yang ada di ruangan itu. Lalu penghulu menanyakan dan memastikan lagi.
''Bagaimana, sah?''
''Sah ...'' jawab para saksi yang hadir dengan bersamaan. Semua orang di ruangan itu mengusap wajah mereka dengan tangan, bersyukur ijab qabul berjalan dengan lancar.
Setelah itu Abdillah dan Hamidah duduk saling berhadapan, Hamidah mengecup punggung tangan Abdillah dengan begitu hormat dan penuh syukur, lalu gantian Abdillah mengecup kening Hamidah dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang dengan di saksikan orangtua dan orang-orang terdekat mereka. Keduanya saling menatap lekat dengan penuh kekaguman, Abdillah begitu kagum melihat sang istri yang begitu cantik dengan riasan tipis, Hamidah pun begitu kagum melihat sang suami yang begitu tampan. Akhirnya Hamidah dan Abdillah telah resmi menjadi sepasang suami istri. Hanifa merasa bahagia melihat sang Kakak telah menemukan tambatan hatinya, bahkan tanpa ia sadari air matanya telah mengenangi pelupuk. Sekarang tidak ada lagi yang menganggu pikirannya, dirinya dan sang Kakak sama-sama telah bahagia karena telah menemukan pasangan yang tepat, dan insyaAllah pasangan terbaik dan diridhoi Allah. Malik selalu setia berada di samping sang istri, menepuk-nepuk kecil punggung sang istri saat ia melihat sang istri berusaha menahan tangis karena haru.
Setelah itu dilanjutkan lagi dengan pesta, Hamidah dan Abdillah telah mengganti pakaian mereka dengan pakaian pesta, mereka telah berdiri di pelaminan dengan senyum merekah menyambut tamu-tamu undangan yang hadir mengucapkan selamat kepada mereka, tidak tertinggal Yusuf dan Ameera juga. Mereka juga hadir di pesta pernikahan Hamidah dan Abdillah.
''Selamat, ya, untuk kalian berdua, semoga samawa.'' ucap Yusuf dengan senyum simpul.
''Iya, terimakasih sudah hadir Yusuf dan Ameera. Semoga setelah ini kalian segera menyusul.'' balas Abdillah dengan doa yang tulus. Sedangkan Hamidah hanya diam dengan mengulas senyum semanis mungkin kepada Yusuf dan Ameera. Hamidah menggeleng pelan mengingat dirinya dulu yang begitu mengagumi sosok Yusuf, tapi sekarang ia tidak merasakan apa-apa lagi terhadap Yusuf, perasaan itu sudah berganti menjadi perasaan biasa, perasaan terhadap seorang teman, karena seluruh hati dan rasa cintanya telah ia curahkan kepada Abdillah seorang.
''Doakan saja yang terbaik, ya, Abdillah.'' timpal Ameera. Dulu, Ameera dan Abdillah juga sempat dekat.
__ADS_1
''Amin.'' balas Abdillah dan Hamidah bersamaan.
***
Malam harinya, rumah keluarga Andra sudah terlihat sepi, hanya tersisa beberapa kerabat dekat, dan para pelayan yang sibuk membersihkan sisa-sisa pesta. Rombongan Hanifa juga sudah pulang, karena kondisi Hanifa yang gampang lelah karena kandungannya yang sudah mulai membesar.
Di halaman rumah, Andra melepas kepulangan sang keponakan, sang keponakan yang sudah di anggapnya seperti anak sendiri. Setelah berbincang-bincang dengan Abdillah, Rian pamit pulang, dan Abdillah pun naik ke lantai atas.
''Terimakasih, Rian. Sepanjang hari kamu telah menghadiri pesta pernikahan Hamidah, dan Om lihat kamu juga sibuk membantu para pelayan.'' Andra menepuk-nepuk bahu Rian.
''Sama-sama, Om. Aku senang melakukannya. Kalau begitu aku pulang dulu.''
''Iya, Om. Aku pamit.''
Andra menatap mobil yang perlahan menjauh meninggalkan nya sambil berucap di dalam hati, ''Besok saat kau sudah menemukan wanita yang tepat untuk mendampingi mu, Om janji Om akan menjadi orang terdepan yang akan membantu mu, orangtua yang akan selalu ada untukmu.'' ucap Andra yakin.
Setelah itu Andra masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju kamarnya, menghampiri sang istri dan merebahkan dirinya di atas kasur, karena tubuhnya terasa lumayan lelah setelah berkecimpung dan mengobrol-ngobrol bersama tamu undangan yang merupakan teman dan kerabatnya.
Di kamar yang berbeda, Hamidah sedang membersihkan wajahnya yang di lapisi makeup dengan tissue pembersih wajah. Ia duduk di depan cermin meja rias, tangannya bergerak pelan menyapu tissue ke seluruh wajahnya. Sedangkan Andillah lagi di kamar mandi, membersihkan dirinya. Hamidah tak bisa fokus membersihkan wajahnya, ia merasa sedikit gugup dengan jantung berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ia bingung harus bersikap bagaimana nanti saat Abdillah selesai mandi, ini kali pertama ia sekamar dengan seorang pria, pria yang di cintainya dan pria yang sudah resmi menjadi suaminya.
__ADS_1
''Duh, tenang. Bersikap seperti biasa saja napa sih.'' gumam Hamidah pelan mengsugesti dirinya. Tidak lama setelah itu terdengar suara pintu terbuka, Hamidah menoleh ke arah asal sumber suara, dan benar saja, ia melihat Abdillah keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, handuk putih melilit pinggang nya. Rambutnya basah, semakin menambah ketampanannya. Membuat Hamidah semakin salah tingkah.
''Astaugfirullahhalazim.'' Hamidah berkata di dalam hati sembari mengelus dada, ia menutup matanya sekilas.
''Sayang, gih, giliran kamu lagi yang mandi.'' Abdillah berkata dengan nada pelan dan begitu lembut, ia menghampiri sang istri, lalu ia mengecup pucuk kepala sang istri. Hamidah yang mendapat perlakuan seperti merasa kaget semakin gugup.
''Em, iya, Mas. Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu.'' ucap Hamidah, setelah itu ia berjalan sedikit berlari ke kamar mandi. Abdillah hanya mampu menggeleng kepala dengan senyum simpul melihat tingkah aneh sang istri. Setelah itu Abdillah mengambil koko dan kain sarung, lalu membentang sajadah. Ia juga menyiapkan mukena untuk Hamidah. Malam ini ia akan melakukan sholat Sunnah, Dalam kisah yang dituturkan oleh Abu Sa'id Maula, terdapat anjuran untuk menunaikan ibadah salat sunah bersama pasangan setelah menikah dan sebelum melakukan hubungan suami istri. Ini untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT agar pernikahan berlangsung dengan harmonis dan bahagia.
“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkan lah dia salat dua rakaat di belakangmu” (HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah)
Abdillah pun sama, selama menunggu Hamidah selesai mandi, ia juga merasa sedikit gugup.
***
Di tempat berbeda, seorang wanita duduk sendirian di teras rumah sembari menatap ke langit malam yang di penuhi bintang-bintang. Gundah, ia merasa begitu gundah. Bagaimana tidak, ia sudah mengetahui perihal pernikahan pria yang amat ia cintai selama ini. Sakit, hatinya terasa sakit begitu ia mengetahui itu, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya bisa ikhlas, dengan harapan pria yang di cintainya akan selalu bahagia.
''Berbahagialah, Abdillah. Kau memang pantas mendapatkan wanita baik-baik. Lagian Mas Setya sudah terlalu banyak berulah, membuat onar di keluargamu. Aku dan kamu sampai kapanpun takkan pernah bersatu. Itu takkan mungkin.'' gumam Hellen di dalam hati.
Selama beberapa minggu ini Hellen begitu sibuk bekerja dan mengurus Setya, karena Setya sudah di pindahkan ke rumah sakit jiwa. Kondisi kejiwaan Setya semakin bertambah parah, hanya nama Hanifa dan Arif yang selalu ia sebut disepanjang harinya.
__ADS_1
Bersambung.