AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Emot love


__ADS_3

Di saat Arumi masih saja mengoceh dengan terus mengaku kepada Sarah kalau dia adalah calon istri Abdillah, sementara Hamidah mencoba bersikap santai, fokusnya dari tadi tertuju ke layar ponselnya, tangannya bergerak lincah di atas layar dengan wajah tersenyum simpul. Ia lagi berbalas pesan dengan Abdillah.


''Masih di rumah sakit sekarang?'' tanya Abdillah di sertai emot tersenyum.


''Masih.''


''Aku sudah meminta orang suruhan ku untuk mengantar mu, kalau kamu pengen pulang ke butik.''


''Sungguh? Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot. Aku bisa pulang naik taksi atau kendaraan umum lainnya.''


''Iya, dari tadi aku sudah memberi perintah. Mungkin orang suruhan ku itu sedang menunggu mu di parkiran rumah sakit. Aku nggak merasa di repotkan. Aku senang melakukan sesuatu untuk mu.''


''Baiklah, terimakasih banyak Abdillah.'' balas hamidah lagi di sertai emot tersenyum lebar.


''Nggak usah berterima kasih, tadi 'kan aku yang menjemput mu di butik, jadi aku harus bertanggungjawab dengan mengantarkan mu kembali ke butik.''


''Tapi kenapa kamu malah menyuruh orang suruhan mu untuk mengantarkan aku ke butik, kenapa tidak diri mu saja?'' tulis Hamidah disertai emot cemberut.


''Hehehe, maaf, aku lagi sibuk di kantor. Sebenarnya sih aku pengen banget jadi supir mu, mengantar mu kemana saja yang kamu mau, tapi .... Keadaan nggak memungkinkan saat ini.'' balas Abdillah lagi disertai emot tersenyum dan emot permintaan maaf.


''Baiklah aku mengerti, sekali lagi terimakasih banyak Abdillah.''


''Iya, sama-sama ustadzah Hamidah.''


''Iisshh ...''


'' ..... '' Abdillah membalas lagi dengan emot love berbaris tiga. Melihat itu, Hamidah sedikit salah tingkah di buatnya, wajahnya mendadak menghangat. Ia tak membalas lagi karena bingung harus membalas apa. ''Masak aku harus balas dengan emot yang sama, ah ... Tidak! Jadi wanita itu harus mahal dan punya harga diri, aku nggak boleh ke ge'eran hanya karena Abdillah mengirim emot love. Tapi apa maksudnya coba mengirim pesan gini?'' Hamidah berbicara di dalam hati. Lalu ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


Tiba-tiba Arumi menjatuhkan pantatnya di sofa, di samping Hamidah, Hamidah melempar senyum simpul ke arah Arumi.


''Kamu udah lama di sini?'' tanya Arumi terdengar tak suka.


''Lumayan.'' jawab Hamidah singkat.


''Kamu tadi lagi ngapain? Lagi berbalas pesan sama siapa? Aku lihat kamu begitu sibuk dengan ponsel mu.''


''Mm ... Adalah, aku lagi berbalas pesan sama seseorang.'' jawab Hamidah masih dengan senyumannya yang menghiasi bibir.


''Siapa?'' tanya Arumi sedikit mendesak.


''Rahasia lah. Kepo banget sih!'' balas Hamidah santai.


''Dasar gadis tua, sok banget sih!'' ucap Arumi menyindir Hamidah dengan nada lirih seperti berbisik. Ia takut Hanifa dan Sarah akan mendengar nya.

__ADS_1


''Lho, kok sewot sih?'' ujar Hamidah heran.


''Suka-suka aku lah. Kamu 'kan memang gadis tua, nggak laku-laku.'' jawab Arumi lagi berbisik tepat di telinga Hamidah. Hamidah mengelus dadanya pelan, mengontrol emosi nya yang hampir saja terpancing mendengar perkataan Arumi.


''Nyebut, nyebut ... Mending aku jadi gadis tua, tidak terburu-buru untuk menikah, aku lebih baik menunggu jodoh yang benar-benar tepat datang pada waktu yang tepat pula. Dari pada jadi janda, janda muda, masih muda menjanda, 'kan ngenes banget! Udah dua kali lagi menjanda.'' balas Hamidah tak mau kalah dengan berbisik juga di telinga Arumi, ia sebenarnya terpaksa mengatakan itu, tapi sepertinya orang seperti Arumi harus di bantah dan di lawan agar ia sadar. Setelah mengatakan itu, Hamidah lalu berjalan menghampiri Hanifa dan Sarah yang berada di dekat brankar Arif, Hamidah bergabung bersama mereka. Sedangkan Arumi, Wajahnya memerah menahan amarah mendengar apa yang Hamidah katakan. Ia merasa amat kesal. Kedua tangannya mengepal erat.


Setelah mengobrol bersama Hanifa dan Sarah , Hamidah pamit akan pulang.


''Aku kembali ke butik dulu, ya, Hanifa, Tante,'' ucap Hamidah lembut.


''Iya, Teh. Hati-hati di jalan, ya.'' balas Hanifa.


''Eh ... Tapi kamu pulang sama siapa Hamidah?'' tanya Sarah.


''Ah ... Iya, Teteh pulang di antar Pak Agus aja, ya.'' tawar Hanifa.


''Nggak usah. Kata Abdillah dia sudah memberikan perintah kepada orang suruhannya untuk mengantar Teteh ke butik.'' jawab Hamidah dengan nada sedikit di keras kan. Sengaja, ia ingin Arumi mendengarkannya. Benar saja, setelah mengatakan itu, Arumi yang tadi sedang fokus dengan ponselnya lalu melihat ke arah Hamidah. Terlihat sekali ia melihat Hamidah dengan tatapan tidak suka.


''Ehem ... Sepertinya ada perkembangan ni.'' goda Hanifa tersenyum manis. Ia lupa, mungkin perkataan nya bisa saja membuat Arumi terluka.


''Lho, mana yang bener nih, calon nya Abdillah Hamidah atau Arumi?'' tanya Sarah heran, tatapannya tertuju kepada Hamidah lalu beralih ke Arumi. Sedangkan Arumi, wajahnya terlihat semakin tak bersahabat.


''Aku sama Abdillah cuma temenan aja, Tante.'' balas Hamidah lembut.


Lalu setelah itu Hamidah berlalu keluar dari kamar Arif. Tapi sebelum itu, ia mengecup kening Arif pelan, Arif masih tidur.


Hamidah berjalan dengan langkah kaki sedang melewati lorong-lorong rumah sakit, saat berpapasan sama orang-orang yang ada di rumah sakit, ia melempar senyum simpul. Hamidah memang se-ramah itu orangnya. Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya ia sampai di parkiran rumah sakit, di parkiran rumah sakit ia celingak-celinguk melihat orang yang akan mengantar nya. Saat ia tengah berdiri menatap satu persatu kendaraan, seorang pria dengan tubuh tinggi atletis, masih muda, menghampiri nya.


''Non Hamidah?'' tanya pria itu menatap Hamidah lekat.


''Iya, aku sendiri. Kamu orang suruhannya Abdillah?'' sahut Hamidah.


''Iya. Ayo, Non.'' pria itu berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di antara mobil-mobil yang lain.


Hamidah mengikuti langkah pria itu, saat sudah berada di dekat mobil, pria itu membuka pintu mobil bagian belakang untuk Hamida.


''Silahkan masuk, Non.'' ucap pria itu ramah.


''Iya, terimakasih.'' balas Hamidah sambil masuk ke dalam mobil. Pria itu mengangguk kecil seraya tersenyum simpul. Lalu pria itu masuk ke dalam mobil juga, memegang kemudi, Setelah itu ia menginjak pedal gas, memutar setir lalu mobil melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Saat di dalam perjalanan, Hamidah tiba-tiba ingin mengunjungi rumahnya sebentar, rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Ia merasa rindu sama suasana rumah sederhana nya itu, rumah sederhana yang banyak meninggalkan kenangan manis antara dirinya, Hanifa dan Arif.


''Em ... Mas, bisa antar aku ke alamat ini?'' sapa Hamidah dengan suara sedikit keras. Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada pria yang mengemudi, di layar ponsel tersebut tertulis alamat rumahnya. Pria itu menoleh, memperhatikan alamat itu dengan seksama, lalu menjawab.


''Oh, tentu bisa, Non.'' sahut pria itu mantap.

__ADS_1


''Baiklah.'' Hamidah tersenyum. Selama dalam perjalanan, pria itu fokus menyetir, sedangkan Hamidah bersholawat nabi dan beristighfar di dalam hati. Ia memang terbiasa melakukan itu di mana dan kapan saja saat ia tak sibuk-sibuk amat.


Setelah mobil melaju cukup jauh, akhirnya mobil berbelok masuk ke jalanan yang ukurannya hanya muat satu mobil saja. Di perjalanan, mobil yang membawa Hamidah melewati rumah Yusuf, Hamidah tidak sengaja melihat Yusuf yang akan memasuki mobilnya yang ada di dalam gerbang, Hamidah melihat nya sekilas, tetapi ia merasa ada yang aneh dengan hatinya. Biasanya saat ia melihat Yusuf, jantung nya akan berdesir halus, berdebar tak karuan, tapi kali ini tidak. Ia merasa biasa saja.


Tidak lama setelah itu mobil berhenti tepat di depan rumah nya. Hamidah turun dari mobil, ia meminta agar pria yang ada di dalam mobil menunggu nya sebentar.


''Tunggu sebentar, ya.'' ucap Hamidah.


''Lama juga tak apa.'' jawab pria itu.


Setelah itu Hamidah mengambil kunci yang ada di dalam tasnya, lalu membuka gembok, begitu gembok terbuka ia masuk ke dalam rumah.


''Duh, sudah berdebu semuanya.'' gumam Hamidah seraya menempelkan jari telunjuknya ke meja yang berdebu. Lalu ia berinisiatif untuk membersihkan rumahnya sebentar.


''Lama juga tak apa, begitu 'kan katanya tadi. Bolehlah aku bersih-bersih sebentar. Kebersihan 'kan sebagian dari iman. Kalau rumah ku ini di biarkan berdebu seperti ini bisa-bisa debunya semakin banyak, nanti malah jadi sarang jin dan setan. Iihhh serem.'' gumam Hamidah bergidik ngeri. Ia lalu mengganti pakaian nya dengan pakaian rumahan, lalu ia mulai menyapu setiap sisi rumah, mengelap meja dan perabotan yang tak seberapa, ia juga menyapu teras rumah. Saat ia menyapu teras rumah, orang suruhan Abdillah menggeleng kepala melihat Hamidah, pria itu lalu mengangkat ponselnya lalu memotret Hamidah diam-diam. Setelah itu ia mengirimkan foto Hamidah kepada Abdillah.


''Ini, Bos. Sepertinya Non Hamidah lagi bersih-bersih.''


''Itu bukan seperti nya, Bambang. Tapi Hamidah beneran lagi bersih-bersih. Terimakasih atas kiriman fotonya. Kamu ikuti semua apa yang ia mau, ya.'' balas Abdillah di sertai emot ketawa.


''Hehehe, baik, Bos.'' balas pria yang bernama Bambang lagi di sertai dengan emot ketawa juga.


Hamidah nampak masih menyapu di teras, beberapa orang tetangga nya menyapanya, mereka mengobrol sebentar beramah tamah dan juga melepas rindu. Setelah menyapu dan mengobrol, Hamidah akan masuk ke dalam rumah kembali, namun tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nya.


''Mbak Hamidah ....'' panggil orang tersebut. Hamidah menoleh ke asal sumber suara.


''Siska, apa kabar kamu? kapan kembali ke Jakarta? Karena setahu aku, waktu itu kamu dan Setya 'kan pulang kampung.'' ucap Hamidah.


''Alhamdulillah baik Mbak. Mbak sendiri bagaimana kabarnya? Udah lama, Mbak. Kami kembali ke Jakarta udah lumayan lama. Mbak 'kan jarang pulang ke sini, makanya Mbak nggak tahu.''


''Alhamdulillah aku juga sehat dan baik-baik saja. Eh, iya, ya. Aku emang udah lama tidak pulang ke sini. Em ... Setya mana?''


''Aku nggak tahu suami ku ada di mana, Mbak.''


''Lho, kok gitu?'' tanya Hamidah heran. Hamidah lalu membimbing Siska agar mereka mengobrol di dalam. Saat sudah duduk lesehan di atas tikar, Siska melanjutkan kata-katanya lagi.


''Iya, Mbak. Mas Setya udah tiga hari nggak pulang ke rumah, aku nggak tahu sekarang dia ada di mana, katanya ia pergi kerja, tapi mulai dari tadi malam nomernya tidak aktif-aktif. Aku begitu gelisah memikirkan nya Mbak.''


''Emangnya Setya sekarang kerja apa?'' tanya Hamidah menatap Siska lekat.


''Aku nggak tahu, Mbak.'' jawab Siska lirih dengan wajah begitu sedih. Hamidah jadi bingung dibuatnya. Ia bingung harus bagaimana menanggapi curhatan Siska. Saat mereka berdua masih sama-sama diam dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Bambang memanggil Hamidah.


''Permisi, Non. Maaf menggangu, itu ... Sepertinya ada polisi sedang mencari tetangga sebelah.'' seru Bambang. Hamidah dan Siska saling berpandangan sesaat lalu mereka langsung berdiri, mereka berjalan keluar rumah untuk melihat apa yang di katakan Bambang. Ternyata benar, dua orang pria berseragam polisi lengkap sedang berdiri di depan pintu rumah Siska.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2