
Siang berganti malam, dan hari-hari pun berganti minggu. Kini tibalah hari di mana Abdillah dan Hamidah akan melangsungkan pernikahan mereka, ikatan sakral bernilai ibadah terpanjang di dalam hidup.
Di dalam kamarnya, Hamidah terlihat sangat cantik dengan riasan yang sederhana, sesuai dengan permintaannya, ia ingin wajahnya di make up dengan make yang biasa saja, tidak terlalu menor dan mencolok, sesuai dengan kepribadiannya yang sederhana. Gaun pengantin bewarna putih dan jilbab bewarna senada dengan mahkota di atas kepala semakin menambah kesan keanggunannya, ia tersenyum simpul menatap pantulan dirinya di depan cermin, saat mengingat wajah sang calon suami, tiba-tiba ia merasa ada desiran halus di dadanya di sertai wajahnya yang mendadak merah merona. Ia tidak menyangka, ternyata Abdillah adalah calon suaminya, ia merasa begitu beruntung bisa dicintai oleh pria seperti Abdillah, pria yang sungguh baik dan tentunya bertanggungjawab.
Rian dan Santi, setelah perdebatan kecil waktu itu, tidak pernah lagi Santi datang mengunjungi rumah keluarga Andra, pernah suatu ketika Ainun mengunjungi rumah Santi untuk mengabari tentang pernikahan Hamidah, tapi adiknya itu malah bersikap cuek dan tidak memperdulikan keberadaan Ainun, Ainun hanya bisa mengelus dada melihat sikap angkuh dan keras kepala sang adik yang tak pernah berubah dari dulu, sedari mereka masih anak-anak. Sementara Rian, ia masih bersikap seperti biasa terhadap Andra dan Ainun. Karena memang, Rian merupakan pria yang memiliki kepribadian yang baik, tidak seperti Mama nya yang gila dengan harta, tahta dan begitu terobsesi untuk merebut harta keluarga Andra.
''Mau kemana kamu, Rian?'' tanya Santi ketika ia melihat anak laki-lakinya itu telah bersiap dengan kemeja dan celana panjangnya. Rian tampak begitu tampan.
''Aku mau ke rumah Tante Ainun, Ma. Aku akan menghadiri pernikahan sepupuku. Apakah Mama tidak akan ke sana?'' ucap Rian apa adanya.
''Berhentilah menyebut wanita kampung itu sebagai sepupu mu!'' sanggah Santi menatap putranya dengan mata sedikit melotot.
''Apa salahnya, Ma. Hamidah memang sepupu aku. Cobalah rubah sifat ke kekanak-kanakan Mama itu. Aku sudah capek melihat Mama yang selalu memasang wajah sangar dan selalu berprasangka buruk terhadap orang-orang terdekat Mama, Hamidah itu sungguh keponakan, Mama.'' ucap Rian santai sambil menggulung lengan kemejanya yang panjang hingga ke siku. Sedangkan Mamanya semakin naik pitam mendengar ucapan Sang putra yang sudah berani membantah nya.
''Beraninya kamu membantah ucapan Mama sekarang?!'' seru Santi berkacak pinggang.
''Bukan begitu, Ma. Apa salahnya kita ikut bahagia dengan kebahagiaan yang tengah mendera keluarga Om Andra dan Tante Ainun. Bukankah selama ini mereka sudah sangat baik terhadap kita, selama ini Om dan Tante sudah mencukupi semua kebutuhan kita, bahkan lebih. Dan aku juga diizinkan oleh mereka untuk menjadi orang penting di perusahaan milik mereka. Sementara Papa kandung aku, kemana dia? Kemana pria tak bertanggung jawab itu, Ma!'' ucap Rian dengan nada lebih keras seraya menatap Mamanya lekat.
Setelah Rian mengucapkan kata-kata itu, Mamanya hanya diam terperangah mendengar penuturan sang putra yang tak pernah di sangka-sangkanya Rian akan berani berkata seperti itu, karena selama ini Rian lebih banyak diam dan selalu menuruti apa yang dikatakan oleh dirinya. Tetapi semua perkataan Rian memang benar adanya, selama ini Andra dan Ainun memang begitu baik terhadap putranya dan dirinya.
__ADS_1
Rian akhirnya berlalu dari hadapan Mama nya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju rumah keluarga Andra. Sedari kecil, Rian memang telah tumbuh tanpa di dampingi sosok seorang Ayah kandung. Ayahnya telah pergi meninggalkan dirinya dan Mama nya hanya karena wanita lain. Dan sampai sekarang Rian tidak pernah lagi bertemu dengan sang Ayah kandung. Yang ia tahu, selama ini hanya Andra dan Ainun lah yang sangat peduli terhadap dirinya. Andra bahkan seringkali menjemput nya saat ia masih sekolah di taman kanak-kanak dulu. Sosok Rian dan nasib Rian kecil mungkin tidak kalah jauh seperti nasib Arif saat ini, bedanya Arif mempunyai Ibu kandung dan Ayah asuh yang sangat baik terhadapnya. Sementara Rian, sampai saat ini sang Mama masih betah menjanda dan menjadikan keluarga Andra sebagai mesin ATM nya.
Setelah mengemudi lumayan jauh, akhirnya Rian tiba di tujuan, rumah keluarga Andra tampak telah ramai dengan kendaraan yang berjejer rapi di parkiran, tidak hanya itu, di halaman rumah yang luas itu juga telah berdiri tenda kekinian dan hiasan berupa bunga-bunga, serta meja-meja yang tertata rapi. Setelah memarkirkan mobilnya, Rian langsung saja masuk ke dalam rumah keluarga Andra, di dalam tampak sudah lumayan ramai dengan kerabat dekat mereka. Melihat kehadiran Rian, mereka menyapa Rian dengan ramah, tidak ada satupun di antara kerabatnya yang menanyakan keberadaan Santi, karena mereka sudah tahu tentang tabiat Santi yang sedikit aneh. Mempelai pria masih belum datang, Rian bernafas lega, karena ia tidak terlambat datang.
''Rian, akhirnya kamu datang juga, Om tunggu-tunggu dari tadi, Om kira kamu nggak bakalan datang, Nak.'' sapa Andra sembari menepuk-nepuk kecil baju Rian.
''Aku pasti datang, Om. Tapi Mama, Maaf, Mama ku tidak bisa datang, Om.'' balas Rian merasa sedikit bersalah atas ketidakhadiran sang Mama.
''Kamu memang anak yang baik. Tidak apa-apa, Om sama Tante sudah mengerti.''
''Terimakasih, Om. Eh, pengantin wanitanya mana nih, Om?'' tanya Rian dengan senyum sumringah.
''Ayo, Om.''
Lalu Rian dan Andra naik ke lantai atas menuju kamar Hamidah. Begitu sudah sampai di kamar Hamidah, Ainun yang melihat kehadiran Rian lalu menghampiri sang keponakan setelah nya ia memeluk erat tubuh tegap Rian. Rian pun balas memeluk sang Tante.
''Terimakasih sudah berkenan datang anak baik.'' ucap Ainun tulus sembari mengelus punggung Rian. Meskipun sang adik kandung tidak datang, tapi ia bersyukur, sang keponakan kandung bisa datang. Satu lagi yang Ainun syukuri, ia merasa amat bersyukur karena Rian tidak memiliki sifat angkuh seperti Mama nya.
''Iya, Tante. Tante kayak sama siapa saja.'' balas Rian.
__ADS_1
''Terimakasih sudah datang, Kak.'' ucap Hamidah lagi.
''Sama-sama, Dek. Selamat, ya, semoga kamu bahagia selalu. Dan rumah tangga kalian berjalan dengan harmonis serta selalu diberkahi oleh ridho Allah SWT.'' Rian mengelus pucuk kepala Hamidah, doanya tulus tanpa ada kepura-puraan.
''Bareng aja gimana kita?'' goda Hamidah tersenyum kecil.
''Bareng apanya?'' tanya Rian bingung, begitu juga Ainun dan Andra.
''Bareng-bareng kita nikahnya.'' jawab Hamidah sambil terkekeh kecil.
''Hehehe, Kakak belum ada calon.'' Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ainun dan Andra tersenyum senang melihat keakraban yang terjalin antara Hamidah dan Rian.
''Kakak mu ini ganteng doang Hamidah, tapi untuk urusan asmara dia belum berpengalaman sama sekali.'' ucap Andra berkata benar, karena Rian memang tidak punya kekasih.
''Om bisa aja.''
Saat mereka tengah asyik mengobrol, tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka, mengabari kalau sang mempelai pria sudah datang. Hamidah dan yang lainnya bersiap turun untuk menyambut kedatangan rombongan Abdillah, dan tidak lama lagi Akad akan di mulai.
Sedangkan di halaman rumah keluarga Andra, Abdillah berjalan pelan dengan di dampingi oleh Sarah dan Hanifa. Abdillah memakai pakaian serba putih, sedangkan rombongan Hanifa memakai pakaian bewarna mocca, pakaian seragam yang mereka jahit khusus untuk pernikahan Abdillah dan Hamidah. Perut Hanifa terlihat semakin membuncit, wajahnya terlihat berseri-seri, selama mengandung, Hanifa terlihat semakin cantik dengan tubuhnya yang lebih berisi. Malik dan Arif berjalan di belakang Abdillah. Lalu setelah itu, mereka melihat Hamidah dan keluarganya telah berdiri di ambang pintu utama, menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
Bersambung.