AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Kediaman Hanifa dan Malik


__ADS_3

Beberapa minggu ini rumah megah dan mewah itu terdengar ramai dengan tawa bahagia dan canda ceria. Bagaimana tidak, seorang gadis cantik dan menggemaskan telah lahir ke dunia dari rahim Hanifa. Para penghuni rumah begitu bersuka cita, dengan kehadiran bayi mungil yang lebih dominan mirip ke Papanya, Malik.


Selama proses persalinan, Hanifa mengalami banyak sekali kendala. Mulai dari Hanifa yang kesulitan melahirkan secara normal, hingga terpaksa ia harus melahirkan secara sesar, karena tidak ada pilihan lain lagi. Sesudah bayinya berhasil di keluar kan pun, Hanifa mengalami pendarah hebat, hingga membuat Malik dan yang lainnya begitu mengkhawatirkan keadaan nya. Beruntungnya sang dokter yang menangani bisa mengatasi pendarahan Hanifa dengan cepat. Hingga nyawa Hanifa masih bisa tertolong. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi kepada Malik. Mungkin Malik akan merasa sangat terpukul lalu stres.


***


Pagi hari yang cerah, hari Senin.


"Hallo Aisya sayang, Papa berangkat kerja dulu, ya. Baik-baik di rumah, jangan rewel, ya, anak baik. Papa titip Mama sebentar.'' ucap Malik seraya mengelus pipi sang putri. Ia memandangi sang putri dengan penuh kasih sayang. Bibirnya melengkung sempurna.


''Selamat pagi Adikku sayang, Kakak pergi ke sekolah dulu, ya. Nanti kita main lagi saat Kakak udah pulang.'' ucap Arif lagi seraya mengelus pucuk kepala sang Adik.

__ADS_1


''Iya Papa dan Kakak Arif ganteng. Aisya tunggu kepulangan kalian. Jangan nakal-nakal, ya.'' balas Hanifa dengan menirukan suara khas anak-anak. Lalu setelah itu mereka tertawa kecil. Sarah yang berada di kamar yang sama pun ikut tertawa penuh arti. Mama Malik merasa begitu lega dan bahagia melihat keakraban anak mantunya serta cucunya. Ia harap setelah ini tidak akan ada lagi orang-orang yang berniat jahat yang ingin merusak rumah tangga Malik dan Hanifa.


''Sudah, sudah ... Sana berangkat, nanti kalian terlambat.'' ucap Sarah. Karena Malik dan Arif masih saja menatap ke arah bayi Aisya yang berbaring di atas kasur bayi. Padahal waktu terus berjalan.


''Siap, Oma.''


''Siap, Mama.'' Jawab Malik dan Arif bersamaan dengan tangan sengaja mereka letakkan di kening. Mereka berdiri tegap.


Lalu setelah itu Malik dan Arif keluar dari kamar dengan saling bergandengan. Mereka begitu akrab. Dan Arif pun sudah tumbuh semakin besar. Sekarang Arif sudah duduk di kelas satu SD.


''Sayang, beristirahatlah. Biar Mama yang menjaga Aisya.'' ucap Sarah saat tinggal dia, Hanifa dan baby Aisya yang berada di dalam kamar.

__ADS_1


''Iya, Ma. Terimakasih, ya, Ma. Karena Mama sudah begitu baik dan perhatian kepada ku.''


''Kamu kayak bicara sama siapa aja, Hanifa. Kamu itu sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri.''


''Sekali lagi terimakasih banyak, Ma.''


''Iya.''


Setelah itu Hanifa dan Sarah saling berpelukan. Hubungan menantu dan mertua itu begitu harmonis. Jarang-jarang ada yang seperti mereka. Biasanya mertua dan menantu tidak bisa akur, karena masalah sepele. Masalah uang, kasih sayang, atau apalah yang menyangkut sang putra dan sang suami yang katanya tidak bisa bersikap adil. sang putra dan sang suami memiliki tanggung jawab masing-masing pada keduanya, yaitu antara orang tua dan sang istri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2