AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Pura-pura tidur


__ADS_3

Di saat Intan tengah gelisah memikirkan di mana sang suami berada. Sementara sang suami yang begitu ia risaukan keberadaan nya tengah duduk santai di apartemen milik Vira. Entah apa yang ada di pikiran Rian, hingga bisa-bisanya ia melangkahkan kaki ke apartemen milik Vira. Wanita yang jelas-jelas bukan muhrimnya.


''Mau lagi, Pak?'' tanya Vira lembut dengan tatapan menggoda. Tubuhnya meliuk-liuk seperti cacing kepanasan. Piyama yang ia pakai begitu terbuka, menampakkan bentuk tubuh yang begitu seksi dan menantang.


''Iya, kalau masih ada.'' kata Rian seraya memegang kepalanya.


''Tentu masih ada dong, Pak. Baiklah, kalau begitu aku permisi kebelakang dulu, ya, Pak.'' ucap Vira lagi tersenyum bahagia. Ia merasa bahagia dengan kehadiran Rian di rumahnya.


''Baiklah Vira.'' ucap Rian dengan nada sedikit ngelantur. Ia merasa kepalanya terasa begitu berat dan pusing, karena ia terlalu banyak minum minuman yang mengandung alkohol, meskipun minuman kaleng yang di suguhkan oleh Vira merupakan minuman yang mengandung sedikit alkohol, tapi kalau di minum dalam jumlah banyak, tentu akan membuat siapa saja yang mengkonsumsi nya menjadi sedikit oleng. Rian memilih bertamu ke apartemen milik Vira saat ia tidak dapat mengendalikan amarahnya ketika ia mendengar obrolan sang Mama tadi siang dengan seseorang melalui sambungan telepon. Rian sudah tahu dengan siapa sang Mama berbicara. Rian merasa malu ketika mengetahui kenyataan kalau sang Mama masih belum berubah. Sang Mama yang sudah ia anggap baik akhir-akhir ini ternyata masih tetap sama seperti dulu, matrealistis, dan hanya memikirkan harta semata tanpa peduli perasan orang lain.


''Ini, Pak.'' ucap Vira seraya meletakkan minuman di atas meja. Mereka tengah duduk di atas sofa yang terdapat di ruangan tempat biasa nya Vira bersantai, di sofa yang berhadapan dengan televisi.


''Terimakasih banyak, maaf merepotkan mu Vira.''


''Tidak apa-apa, Pak. Aku senang Bapak mau berkunjung ke apartemen milikku.''


''Saat sedang tidak di perusahaan dan tidak bekerja, ada baiknya kamu jangan memanggil aku dengan sebutan Bapak. Aku merasa lebih tua kalau kamu terus memanggil aku dengan sebutan itu.'' kata Rian seraya terkekeh kecil.


''Lalu, aku harus panggil apa dong?'' balas Vira genit dengan nada di buat manja. Vira semakin terpesona dengan ketampanan Rian, apalagi Rian telah membuka dua kancing kemeja bagian atas miliknya, karena Rian merasa sedikit gerah. Bagian dadanya telah terlihat setengah, membuat Vira menelan saliva, pesona suami orang semakin membuat nya mabuk kepayang.

__ADS_1


''Mas saja.'' ucap Rian singkat sambil meneguk satu kaleng minuman lagi.


''Em apa tidak apa-apa?'' tanya Vira.


''Tidak.''


''Istri Mas bagaimana? Nanti dia marah.''


''Tidak akan. Pernikahan kami terjadi tanpa adanya cinta. Dia tidak mencintai ku dan akupun begitu.'' ujar Rian lagi yang berhasil menciptakan garis melengkung pada bibir Vira. Vira merasa punya banyak kesempatan untuk merebut Rian dari Intan.


''Baiklah kalau begitu, Mas.'' ucap Vira seraya semakin merapatkan posisi duduknya di dekat Rian. Vira mengambil tissu, lalu dengan pelan ia menghapus sisa-sisa keringat yang ada di kening Rian.


''Aku hanya ingin membantu Mas, diamlah, dan izinkan aku untuk membersihkan keringat yang ada di kening, Mas.'' ucap Vira lagi seraya tersenyum nakal. Ia membusungkan dua gundukan kenyal miliknya tepat di dada bidang Rian. Hingga Rian bisa merasakannya benda lembut itu. Tak dapat di pungkiri, sebagai pria normal, tentu Rian merasa tergoda dan terpancing. Hasrat kejantanannya tiba-tiba bangkit begitu saja karena ulah nakal Vira.


''Sudah?'' tanya Rian berusaha meredamkan gejolak yang ia rasakan.


''Belum, Mas.'' balas Vira dengan nada mendes4h manja. Hembusan nafasnya menerpa wajah tampan Rian. Tangannya yang memegang tissu masih sibuk membersihkan keringat Rian yang tak seberapa.


''Minggir lah, aku bisa sendiri dan sepertinya malam sudah semakin larut, aku harus pulang.'' ucap Rian sedikit mendorong tubuh Vira agar menjauh darinya. Vira yang mendapat perlakuan seperti itu merasa kaget, tapi setelah itu ia malah semakin nekat, ia malah semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Rian, hingga tubuh mereka kembali menempel. Bahkan ia telah memeluk Rian. Vira menatap bibir Rian dengan begitu bernafsu, rasanya ia ingin melahap bibir itu.

__ADS_1


***


Di tempat berbeda, di dalam kamarnya, Intan baru selesai mengerjakan sholat malam. Setelah sholat, ia menengadah, menatap jam yang menempel di dinding kamar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat, tapi Rian masih belum pulang juga. Intan semakin gelisah, firasatnya merasakan ada hal yang tidak beres sama sang suami. Di tengah-tengah rasa gelisah nya, ia terus berkomat-kamit, membaca sholawat nabi, beristighfar, serta berdoa untuk keselamatan sang suami, dan memohon agar sang suami selalu di jaga dari orang-orang yang berniat jahat, di mana pun sang suami berada. Setulus itu Intan terhadap Rian, tak ada bosan-bosannya ia mendoakan Rian dari beberapa tahun yang lalu.


Setelah selesai dengan doa-doanya. Intan melepaskan mukenanya, lalu setelah itu ia berjalan ke arah jendela kamar, ia ingin memastikan lagi kepulangan sang suami.


Tidak lama setelah itu, ia melihat mobil sang suami berjalan melaju di halaman rumah. Intan seketika memasang wajah senyum, senyum kelegaan.


''Alhamdulillah. Akhirnya kamu pulang juga, Mas. Terimakasih ya Allah.'' gumam Intan. Lalu ia berbaring di atas kasur. Ia akan pura-pura tidur. Ia tidak ingin menunjukkan rasa cintanya yang begitu besar terhadap sang suami. Karena, menurut kebanyakan orang, pria itu semakin di kejar semakin menjauh, maka lebih baik pura-pura cuek saja. Supaya harga diri tidak dianggap murah. Itulah taktik yang ingin Intan lakukan sekarang.


Intan menajamkan pendengarannya dengan mata ia pejamkan. Tidak lama setelah itu ia mendengar suara langkah kaki semakin mendekat ke arah pinta kamarnya. Dan dalam hitungan ketiga, suara pintu kamar di buka bisa ia dengar dengan jelas. Sang suami yang ia tunggu-tunggu kepulangannya dari tadi akhirnya masuk kamar juga.


''Uek, ueeekkk ...'' Rian saat ini telah berada di kamar mandi, ia memuntahkan isi perutnya, mungkin efek karena kebanyakan minum. Intan yang masih pura-pura tidur hanya mampu menahan diri agar tidak berlari ke kamar mandi. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali melihat keadaan sang suami. Ia merasa cemas.


''Ah, sialan! Bisa-bisanya imanku jadi lemah begini hingga aku minum terlalu banyak.'' gumam Rian. Ia melepaskan satu persatu pakaiannya, lalu setelah itu ia menghidupkan shower dan Rian menyirami seluruh tubuh nya dengan air hangat, supaya ia bisa merasakan tubuhnya lebih segar. Setelah selesai, Rian mengambil handuk lalu melilit pada pinggang nya. Ia keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang lebih baik dari tadi.


''Sudah tidur kamu ternyata, maafkan aku Intan.'' Rian duduk di pinggir kasur seraya menatap wajah Intan dengan begitu lekat. Lalu setelah itu ia mengelus rambut Intan dengan begitu lembut. Intan yang di perlakukan seperti itu susah payah menahan diri nya agar tidak bergerak barang sedikitpun. Ia harus pura-pura tidur untuk melihat bagaimana sikap Rian yang sebenarnya terhadap dirinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2