AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Berbaikan


__ADS_3

Usai mengobrol bersama Abdillah, Malik naik ke lantai atas menuju kamar nya. Begitu pintu kamar ia buka, ia melihat sang istri telah berbaring di ranjang dengan posisi menyamping seperti tadi. Ia menduga-duga lagi, apakah mood sang istri masih jelek dan masih tidak mau ia ganggu. Padahal ia sudah merasa sangat merindukan sang istri, ia ingin memeluk, mengendus aroma tubuh sang istri yang seakan sudah menjadi candu tersendiri baginya. Malik menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan. Ia perlahan duduk di pinggir kasur, tepat di dekat ujung kaki Hanifa. Ia menyentuh perlahan ujung kaki Hanifa yang tidak tertutup selimut, lalu mulai mengelus, memijit kecil telapak kaki yang terasa sedikit dingin dan halus. Berharap mood Hanifa kembali normal, dan mau di ajak bicara. Hanifa menarik ujung kakinya agar Malik tak lagi menyentuh, tapi Malik malah menggelitik telapak kaki Hanifa hingga Hanifa merasa geli dan terlonjak.


''Hahaha, Mas, geli. Lepaskan! Hahaha ....'' seru Hanifa seraya tertawa ngakak. Hanifa memang paling tidak tahan kalau telapak kakinya di gelitik. Ia akan merasa amat geli yang tak tertahankan. Malik masih saja menggelitik sang istri sambil tersenyum senang, setelah merasa puas ia melepaskan kaki Hanifa.


''Mas senang lihat kamu tertawa.'' ucap Malik. Sekarang Hanifa sudah duduk di kasur. Mereka duduk saling berhadapan.


''Ih ... Nggak gitu juga caranya. Kamu bisa membuat aku mati mendadak dengan tingkah konyol mu itu.'' protes Hanifa memasang wajah cemberut.


''Hehehe maaf, yangg.'' ungkap Malik tersenyum kecil. Ia lalu meraih kedua tangan Hanifa. Lalu mengecupnya dengan lembut dan penuh kasih.


''Maaf, maaf, terus. Apa Mas memang sengaja menggelitik kaki aku seperti itu supaya aku mati dan Mas bisa menikah lagi.'' ucap Hanifa lagi sambil menarik tangannya agar Malik tidak menyentuh lagi.


''Astaufirullah, Sayang ... Kamu kenapa ngomong gitu.'' Malik menangkup rahang Hanifa, lalu menatap Hanifa lekat. Lewat tatapan mata, ia berharap Hanifa akan tahu sebesar apa rasa cinta yang ia punya, rasa cintanya begitu dalam, tak berdasar dan tak bertepi.


''Au ah!'' jawab Hanifa asal. Ia menundukkan wajah, salah tingkah karena tatapan sang suami.


''Kamu masih marah sama, Mas?'' tanya Malik tapi Hanifa tidak menjawab.


''Sayang ... Mas tahu, pengakuan Shanum kemarin pasti sangat mengagetkan dan membuat mu kecewa. Kamu pasti tidak pernah menyangka Mas akan berbuat hal sedemikian hina. Tapi, percayalah, itu semua bukan ingin Mas. Mas melakukan itu tanpa Mas sadari sepenuhnya. Hanya kamu Hanifa, hanya kamu wanita yang Mas cintai dan wanita yang berhasil mencuri hati Mas.'' tutur Malik berkata dengan sungguh-sungguh, wajahnya sedikit mengiba.


''Iya, terus sekarang bagaimana? Bagaimana cara Mas menyelesaikan masalah yang muncul karena masalalu itu?!'' tanya Hanifa.


''Kamu tenang saja, ya. Mas akan membereskan semuanya. Kamu nggak usah banyak pikiran. Yang harus kamu lakukan adalah mendoakan. Doakan supaya masalah ini cepat selesai. Dan kita bisa hidup dengan tenang dan damai tanpa adanya orang ketiga.'' tutur Malik lembut.


''Baiklah.'' balas Hanifa mengangguk kecil.


''Jadi kamu sudah memaafkan, Mas?'' Malik bertanya memastikan dengan wajah penuh harap.


''Iya.''


''Terimakasih Sayang.'' ucap Malik. Lalu ia memeluk tubuh Hanifa erat. Hanifa mengelus punggung kekar sang suami. Malam ini keduanya merasa sama-sama bahagia dan terharu. Di dalam bahtera rumah tangga, sebuah masalah ada baiknya di bicarakan, dan di selesaikan bersama-sama. Bukan malah diam dan membuat masalah semakin runyam.

__ADS_1


''Usaha lagi yukk.''


''Apaan?''


''Bikin Adik untuk Arif.''


Lalu setelah itu keduanya terhanyut lagi dalam hubungan yang melenakan. Kali ini permainan sedikit panas, pertengkaran tadi siang membuat keduanya semakin bersemangat dan bergelora. Melepas bebas semua beban dan rindu-rindu yang tertahan.


***


Di tempat berbeda.


''Bagaimana? Apakah mereka sudah baikan?''


''Sepertinya sudah.''


''Syukurlah. Ada-ada saja masalah yang datang. Padahal Hanifa baru saja merasa bahagia.''


''Kalau kamu apakah punya fans wanita?'' tanya Hamidah penasaran. Angin malam membuat ia merasa dingin, ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangan yang saling mendekap. Sesekali ia meneguk segelas teh yang masih mengepul asap.


''Nggak tahu! Pastinya nggak ada.''


''Siapa bilang nggak ada, itu, si Arumi.''


''Hah, ada-ada saja kamu.'' Abdillah menggeleng.


''Kayaknya dia beneran menyukai mu.'' ujar Hamidah meyakinkan.


''Tapi aku tidak. Mana mungkin aku bisa menyukai wanita yang pernah menoreh luka di hati Hanifa dan Arif. Wanita yang pernah menjadi penyebab hancurnya rumah tangga orang lain.''


''Kalau ngomong hati-hati, ntar kemakan omongan sendiri.'' goda Hamidah sambil tersenyum simpul. Abdillah menatap Hamidah lekat, Hamidah nampak cantik dengan jilbab bewarna hitam. Hamidah yang sadar dirinya tengah di tatap merasa salah tingkah.

__ADS_1


''Tidak mungkin.'' balas Abdillah seraya mengalihkan tatapannya. Hamidah tidak menjawab lagi.


''Eh ... Kalau begitu aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik di sini, ya. Dan jangan pernah memasukkan pria asing ke tempat ini.'' pesan Abdillah ketika pamit. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama.


''Isshh ... Aku ini wanita baik-baik taukk.'' balas Hamidah mencebik.


''Iya. Aku percaya.''


''By ...''


''Iya.'' Abdillah melambaikan tangan, Hamidah pun melakukan hal yang sama.


''Kamu itu tidak sadar, nggak sih, kalau kamu itu juga tampan. Huh ... Aneh memang.'' batin Hamidah saat mobil Abdillah berangsur menjauh. Ia memegang dadanya, entah mengapa ia merasa ada yang aneh yang ia rasa.


***


Shanum yang merasa pengap berada di kamar hotel memutuskan ke luar, ia berjalan sekitaran hotel berbintang lima yang ada di Jakarta sendirian. Mencari tempat ngopi yang di rasanya cocok, sekalian juga ia ingin menggerakkan anggota tubuhnya yang di rasanya kaku. Semenjak pulang dari butik Hanifa tadi ia hanya berdiam diri di kamar. Pantas saja malam hari ia merasa bosan berada di kamar hotel sepanjang hari.


''Kalian tidak usah ikut.'' ucapnya ketika orang suruhannya mengikuti dari belakang.


''Tapi?''


''Tidak apa-apa.'' sergahnya lagi. Kemudian dua orang, orang suruhannya yang berbadan kekar kembali ke hotel.


''Aisss .... Ayang, mana Ayang? Rasanya aku mau di temani Ayang ajah.'' gumam Shanum. Ia mengambil ponselnya yang ada di saku sweater lalu ia membuka album foto. Ia melihat fotonya bersama Malik dengan senyum getir. ''Kapan kita bisa bersama-sama, saling berdampingan ke mana saja menikmati hari.'' gumamnya lagi. Foto itu selalu ia jadikan sebagai pengobat rindunya yang tak berkesudahan.


Tanpa Shanum sadari dari tadi dua orang terus mengikuti langkahnya, dua orang memakai jaket, mereka tersenyum penuh arti melihat Shanum yang tengah memegang ponsel.


Lalu ....


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2