AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT

AIR MATA SEORANG ISTRI DI BALIK KOSTUM BADUT
Pov Hanifa


__ADS_3

Aku tidak habis pikir sama wanita yang suka merebut suami orang, mengapa mereka sebegitu terobsesi sama pria yang jelas-jelas sudah mempunyai tambatan hati yang halal. Mereka memiliki paras yang cantik, memiliki harta yang berlimpah, lalu urusan pria mengapa selera mereka begitu rendah. Rela menjatuhkan harga diri demi merebut pria yang beristri.


***


Selesai sholat Isya, Mas Malik menceritakan dan menjelaskan semuanya kepada ku, semua yang terjadi di perusahaan tadi siang. Saat bercerita, kentara sekali suamiku merasa amat kesal sama tindakan gegabah dan kurang ajar Shanum. Ternyata wanita itu belum kapok juga.


''Terus gimana lagi, Mas?'' tanya ku. Suamiku berbaring di pangkuan ku. Aku mengelus lembut rambutnya yang hitam. Sesekali ia mengecup perutku yang masih rata.


''Mas usir dia. Di bantu sama dua orang security.''


''Dia nya ngamuk?''


''Jelas lah Sayang.''


''Kayaknya dia begitu menyukai mu.''


''Hu'um. Capek juga, ya jadi orang tampan.''


''Ih ... Kepedean sekali kamu.'' aku menarik hidung bengir suami, membuat ia mengaduh kecil dengan di sertai senyum simpul.


''Tapi kamu tenang aja Sayang, hati suamimu ini sudah sepenuhnya tertambat pada mu.'' suamiku berkata dengan lembut, ia menatap ku lekat. Aku tersenyum malu, mungkin wajah ku telah memerah mendengar ucapan nya.


''Tadi bukan hanya Shanum saja yang Mas depak dari perusahaan.''


''Maksud mu? Apa ada karyawan yang berulah atau wanita lain selain Shanum yang bersikap kurang ajar dengan mu?''


''Dia karyawan di perusahaan. Karyawan yang sudah lumayan lama bekerja.''


''Masalahnya apa?''


''Mas tidak menyangka ternyata selama ini Mas telah memperkerjakan dan menggaji wanita yang memiliki hati dan mulut yang amat kotor.''


''Ihh ... Siapa sih, Mas? dan kenapa? Coba jelaskan.'' aku sedikit memaksa. Jujur aku merasa penasaran sama orang yang di maksud suamiku.


''Wanita itu namanya Renita, dia merupakan karyawati yang menjabat sebagai seorang Resepsionis di perusahaan. Tadi setelah kepergian Shanum, Mas meminta agar cctv di perusahaan di putar. Mas ingin melihat bagaimana kinerja security dan karyawan lain menangani seorang Shanum saat Shanum masuk ke dalam perusahaan. Saat Mas melihat semua rekaman cctv, Mas sungguh tidak menyangka ternyata Renita sudah amat keterlaluan mengatai-ngatai orang yang amat Mas cintai.''


''Dia mengatai aku?'' potongku.


''Iya, Sayang. Mas sungguh tidak terima. Ada juga karyawan lain yang mengiyakan ucapan nya yang kurang ajar itu. Setelah vidio itu selesai di putar, Mas berjalan dengan langkah kaki lebar menuju meja Resepsionis, tanpa ampun dan tanpa banyak berkata-kata Mas langsung menyeret Renita keluar dari perusahaan, Mas memecatnya saat itu juga, dia memohon-mohon dengan deraian air mata agar Mas tidak melakukan itu. Tapi tiada ampun bagi seseorang yang baik di depan tapi di belakang malah mengatai-ngatai yang jelek-jelek. Karyawan lain yang mengiyakan ucapan nya dan security yang lalai menangani Shanum masih mas beri peringatan dan keringanan, tapi Renita tidak pantas sama sekali mendapatkan itu!'' suami berucap geram.


''Sudah, kamu yang sabar, ya. Jangan marah-marah terus nanti cepat tua. Aku nggak apa-apa dikatai-katai. Biarlah aku dianggap jelek dimata manusia, asalkan jangan dianggap jelek di hadapan yang kuasa.'' aku mengelus dada suamiku, perlahan meredamkan sedikit rasa keselnya.

__ADS_1


''Mama mu memang wanita yang baik, Nak. Papa sungguh beruntung bisa mendapatkan nya.'' ucap Mas Malik, lagi-lagi dia mengecup perutku berulang kali. Membuat ku merasa geli.


''Udah, tidur, yuk.'' ajakku.


''Yuk ... Tapi mintak jatah Mas malam ini, ya.''


''Boleh. Tapi hati-hati dan pelan-pelan.''


''Itu pasti Sayang.'' jawab suamiku tersenyum lebar.


Setelah itu kami tidur bersama, sebelum itu tidak tertinggal kami melakukan rutinitas suami istri yang tidak bisa terlewatkan barang semalam pun, kecuali kalau aku lagi datang bulan. Suamiku selalu meminta jatahnya tiap malamnya.


***


Keesokan harinya, usai mengantarkan Arif ke sekolah, aku meminta Pak Agus untuk mengantarkan aku ke butik. Aku ingin mengunjungi butik sebentar menjelang Arif pulang. Nanti saat Arif pulang sekolah kami akan menjemput nya lagi. Mas Malik sudah memperbolehkan aku keluar rumah dengan syarat Pak Agus yang akan selalu menemani sebagai supir pribadi.


Begitu aku sampai di butik, Teh Hamidah menyambut ku antusias. Ia memeluk tubuhku berulang, akupun sama.


''Teteh kangen banget sama kamu Hanifa.'' ucapnya riang.


''Sama Teh, aku juga kangen.'' balasku.


''Duh ... Sebentar lagi ponakan Teteh akan nambah lagi. Selamat, ya.'' Teh Hamidah menatap ke arah perutku yang yang tertutup gamis bewarna hitam.


''Amin ya Allah. Teteh selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan keluarga kecilmu.''


''Eh, Teteh dari mana bisa tahu kalau aku lagi hamil? Padahal aku 'kan belum ngasih tahu ke Teteh.'' tanyaku. Karena memang saat aku dinyatakan hamil aku belum pernah berkomunikasi sama sekali sama Teh Hamidah.


''Hehehe Teteh tahu dari Mas Abdillah.'' jawab Teh Hamidah sedikit salah tingkah. Aku rasa ada yang berbeda dari wajah nya saat ia menyebut nama kakak ku itu.


''Mas Abdillah sering kesini?'' tanya ku memastikan.


''Iya. Tiap malam Kakaknya Bu Hanifa datang kesini menemui Bu Hamidah.'' tiba-tiba salah satu karyawan yang duduk di dekat kami menimpali.


''Sungguh? Kok aku nggak tahu.'' ucapku.


''Kita cuma ketemu biasa aja, kok. Ngobrol-ngobrol layaknya teman.'' sahut Teh Hamidah.


''Ohh ... Semoga saja lebih dari teman.''


''Hanifa!'' Teh Hamidah berucap dengan nada sedikit keras. Wajahnya terlihat memerah dan malu-malu.

__ADS_1


''Aku permisi dulu, Teh.'' ucapku. Lalu aku masuk kedalam ruangan ku. Ruangan yang sudah aku rindukan beberapa hari ini.


Aku rasa baru setengah jam lamanya aku berada di dalam ruangan ku. Tiba-tiba saja terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Aku bertanya sedikit berteriak, ''Siapa?'' tanyaku.


''Ini aku Hanifa, Arumi.''


''Silahkan masuk Arumi.'' balasku. Tumben-tumbenan Arumi mau bertemu dengan ku. Kira-kira ada apa, ya?


Arumi berjalan dengan langkah kaki pelan ke arahku. Saat sudah sampai di depan ku, aku mempersilahkannya untuk duduk di kursi yang telah tersedia.


''Hanifa, bagaimana? Apakah Abdillah sudah mengizinkan memberikan nomor ponselnya kepada ku?'' tanya nya to the point.


''Eh, maaf Arumi. Kayaknya Mas Abdillah masih belum mengizinkan.'' jawabku hati-hati.


''Duh, ya sudahlah. Sepertinya aku harus bersabar menunggu hatinya terbuka untukku.'' ucap Arumi menghela nafas panjang.


''Iya, sepertinya kamu memang harus banyak-banyak bersabar. Atau kalau boleh aku kasih saran, mendingan kamu jaga sikap kamu Arumi. Em begini, jangan tersinggung, ya. Kita 'kan sekarang sudah berteman.'' ucapku lagi hati-hati.


''Aku nggak akan tersinggung Hanifa.'' Arumi tersenyum simpul. Aku lihat, sekarang dia sudah banyak berubah. Ia sudah semakin cantik dengan tutur katanya yang semakin lembut.


''Arumi, sebagai seorang wanita, ada baiknya kita bersikap cuek, jaim, atau tidak terlalu berharap pada kaum pria. Wanita itu istimewa, semakin kita bersikap menjaga diri dan jarak dari pria, maka pria itu akan semakin merasa penasaran terhadap kita. Kalau pria yang benar-benar tulus mencintai kita pasti dia akan mengejar dengan berbagai cara tanpa merendahkan harga diri. Begitu juga sebaliknya. Kamu itu istimewa, bersikaplah mahal setelah ini.'' tutur ku masih dengan nada hati-hati.


''Iya. Kamu ada benarnya Hanifa.''


''Aku senang melihat kamu yang sekarang.''


''Semua berkat kamu dan pelajaran yang aku dapat saat berumah tangga sama Setya.''


''Syukurlah.''


''Eh, Hanifa ... Aku kesini ingin ngasih tahu kamu sesuatu,'' ucap Arumi, wajahnya memandangku serius.


''Apaan?'' tanya ku.


''Kemarin aku ketemu sama wanita yang bernama Shanum.''


''Oh ya?''


''Iya. Kamu tahu dia bilang apa sama aku? Dia .....


Bersambung.

__ADS_1


Yang kemarin sedikit eror manteman, makanya update nya sampai tiga gitu. Maaf, ya.


__ADS_2