Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
23. Mencari Bukti


__ADS_3

Setelah pernyataan cinta Richard pada Alisa waktu itu, kini Richard lebih sering menjemput Alisa pulang dari syuting dan kampus. Setelah selesai mengerjakan skripsi dan di acc skripsi Alisa, bulan depan Alisa sidang skripsi.


Richard berjanji akan mendampingi Alisa ketika sidang skripsi berlangsung, entah di terima atau tidak Richard oleh Alisa cintanya. Namun sepertinya Alisa tidak pernah menolak Richard yang selalu mengajaknya pergi nonton layaknya sepasang kekasih atau makan berdua.


"Richard, apakah kamu sudah mencari siapa yang membakar pabrik papamu waktu itu?" tanya Alisa ketika mereka sedang duduk di mobil setelah mereka membeli cemilan di pinggir jalan.


"Emm, aku menduga itu perbuatan omku. Setelah aku ingat kamu bilang wajahnya berkumis dan tangannya selalu bergoyang, kemungkinan dia orangnya." kata Richard.


"Iya, seingatku sih. Tapi kenapa om kamu?" tanya Alisa.


"Mungkin ingin menguasai pabrik itu, oh ya. Aku ingat paman dapat klaim asuransi dari kebakaran pabrik itu, mungkin dia mengincar klaim asuransi. Dan jumlahnya cukup besar." kata Richard.


Dia tampak berpikir, lalu dia mengekuarkan ponselnya untuk memperlihatkan wajah di cctv yang dulu dia dapat di ruang kerjanya. Lalu dia tunjukkan ponselnya pada Alisa.


"Coba kamu perhatikan laki-laki yang duduk di sofa itu, semua ciri-ciri yang kamu sebutkan dulu ada padanya." kata Richard menyerahkan ponselnya pada Alisa.


Alisa memperhatikan orang yang maksud Richard dengan teliti, setiap geraknya dan juga wajahnya. Dan tentu saja Alisa kaget, dia menatap Richard dan menyerahkan ponselnya.


"Iya, aku kira ini orangnya. Mungkin dulu dia masih muda ya, sekarang udah tua. Jadi ada perbedaannya sedikit, tapi aku ingat memang dia orangnya." kata Alisa lagi.


"Emm, berarti benar om Rendra orangnya. Aku akan cari bukti lain selain dari kamu."


"Bagaimana kalau kamu ke pabrik itu aja, siapa tahu ada bukti yang tertinggal di sana." ucul Alisa.


"Emm, benar juga. Kamu memang cerdas, terima kasih Alisa." jawab Richard.


"Ya, kan harus tuntas untuk membuktikan om kamu itu memang dalang kebakaran itu. Tapi, apakah nanti aku akan jadi saksi jika sudah masuk ke penagdilan?"


"Tentu, kamu saksi utama aku. Tapi saat ini aku akan merahasiakan kamu dari om Rendra, aku takut om Rendra berbuat menghilangkan saksi dan mencelakakan kamu." kata Richard.


Keduanya diam, mereka masih berpikir bagaimana nanti tentang bukti-bukti itu agar bisa di dapatkan. Apakah harus menyelidiki dan juga mengintai tuan Rendra.


Mereka kini sedang makan kebab di pinggir jalan yang di lumuri dengan mayones setelah berdiskusi masalah barang bukti. Alisa juga memakan kebabnya dan mayones menempel di sudut bibirnya, membuat Richard risih dan tangannya mengelap ujung bibir Alisa.


"Kamu makan kok belepotan begitu sih?" tanya Richard.


"Kebabnya terlalu besar, jadi susah makannya." jawab Alisa dengan muatan kebab di mulutnya.

__ADS_1


Dan lagi-lagi mayones menempel di bibir Alisa, kali ini wajah Richard maju dan ******* bibir Alisa yang ada mayonesnya. Tentu saja membuat Alisa kaget dan menepuk lengan Richard.


"Apa sih, kesempatan banget cium aku." kata Alisa manja.


"Haha, kamu sengaja menempelkan mayonesnya ke bibirmu. Jadi aku sekalian mengelapnya juga." kata Richard yang tangannya mengelap bibir Alisa.


"Ya udah deh, aku makannya selesai." kata Alisa merajuk.


"Segitu aja ngambek sih, tapi kamu suka kan aku cium?" goda Richard.


"Kamunya yang cari kesempatan." kata Alisa dengan wajah memerah karena malu.


Perdebatan kecil itu membuat mereka sangat manis dan lucu. Alisa yang mulai nyaman dengan Richard karena perlakuan manisnya, juga Richard yang semakin mencintai Alisa.


_


Sejak pembicaraan dengan Alisa malam itu, kini Richard bergerak cepat. Dia juga pergi ke pabrik yang sudah lama tidak beroperasi lagi pasca kebakaran itu.


Dia pergi ke pabrik sendiri, tidak dengan Jo. Asistennya itu dia suruh untuk stanbay di kantor, sedangkan dia mencari bukti di tempat kebakaran itu.


Terasa sekali suasana di dalam pabrik itu sunyi dan sangat sepi, ada hawa mencekam karena lama tidak di operasikan. Dia melihat barang-barang yang tidak bisa terbakar hanya menghitam saja karena terkena kepulan asap.


Kemudian Richard menyusuri bagian operasi di belakang, dia memperhatikan setiap sudut ruangan atau apa pun. Siapa tahu dia menemukan sesuatu yang mencurigakan. Dan di bagian pintu belakang Richard lewati.


Di sekeliling pintu terdapat beberapa bekas semburan api. Memang sudah sangat lama dan mulai pudar, tapi bekasnya masih ada meski tertutup lumut di sekelilingnya.


Richard terus berjalan menyusuri tempat itu, dia melihat dirigen minyak tergeletak di pojok bangunan. Bagian bawahnya bolong karena termakan api, serta bagian pegangan dirigen itu terdapat sarung tangan rajut yang di buang sembarangan. Dia mengambil sarung tangan rajut tersebut dan di masukkan ke dalam kantong kresek. Itu bisa jadi bukti kuat karena di sarung tangan tersebut pasti terdapat sidik jari pelaku.


Kemudian Richard kembali menyusuri bangunan, dia mengarah pada bagian listrik. Di sana listrik dengan kabel yang sengaja di putus, karena ada goresan pisau. Sehingga jika listrik di nyalakan akan bergesekan dan menjalar ke kabel yang terputus. Percikan listrik akan mengalir sembarangan dan mengenai karet kabel yang membungkus kawat tembaga.


Maka karet itu pun akan terbakar juga. Richard memotret sambungan kabel yang terputus karena di kelupas sengaja. Sehingga alibi kebakaran karena konsleting listrik pun akan jadu bukti kuat. Tapi ternyata pelaku tidak teliti, di sana masih terlihat irisan pisau atau gunting yang membekas.


Hari sudah cukup siang, jam menunjukkan pukul tiga sore hari. Setelah Ruchard sudah mengumpulkan beberapa bukti, dia lalu keluar dari pabrik tersebut dan pulang ke kantor lagi.


Dia menghubungi Jo, apakah ada yang mencarinya saat ini.


"Halo Jo, di kantor bagaimana?" tanya Richard.

__ADS_1


"Aman tuan, sekarang saya sedang bersama klien anda di kantor." jawab Jo.


"Syukurlah, oh ya. Jika klien itu tidak perlu menemuiku, aku akan ke tempat Alisa syuting." kata Richard lagi.


"Ya, silakan anda urus nona Alisa, di sini kebetulan klien kita tidak bertanya tentang anda."


"Syukurlah kalau begitu, kerjakan dengan baik tugasku."


Klik


Richard lalu menelepon Alisa, dia ingin menjemput Alisa di tempat pemotretan.


"Halo?"


"Alisa, kamu sudah selesai?"


"Alisa belum selesai, kenapa memangnya?" tanya Raya ternyata yang menjawab.


"Oh, jadi masih pemotretan?"


"Ya, perlu aku sampaikan pada Alisa sesuatu?"


"Tidak, aku hanya memastikan kalau Alisa selesai pemotretan dan mau pulang. Ya sudah, aku tutup aja."


"Ya."


Klik.


Richard menutup sambungan teleponnya, dia kembalikan ponselnya ke dashboard mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah untuk menyimpan bukti yang dia temukan di pabrik.


_


_


_


\=> Jangan lupa like dan komen ya..😊😊

__ADS_1


__ADS_2