
Setelah perkrnalan dengan para staf dan karyawan, Simon kini bisa bekerja dengan tetap. Dia tidak mau memperkenalkan dirinya pada para model atau kru dan sutradara serta produser dan juga fotografer. Tapi mereka di undang langsung ke ruangan kantornya dan berbicara apa saja yang jadi keluhan dan kekurangan dalam hal seniman di bidangnya masing-masing.
Mereka senang, ternyata bos baru memperhatikan apa yang mereka pikirkan selama ini. Seperti meminta syuting di luar kota atau melakukan sesi foto di outdoor yang memang perlu di lakukan.
Dan semua rencana dan program tersebut membutuhkan biaya yang lebih besar.
"Emm, bisa itu di lakukan. Nanti saya siapkan dananya, jangan khawatir ini demi kemajuan agensi kita kan?" tanya Simon.
"Iya pak, emm saya juga punya usul. Bagiamana kerja sama dengan pihak stasiun televisi harus lebih di tingkatkan. Karena kan film-film kita jual oleh pihak televisi." kata bagian perfilman.
"Boleh, nanti yang mengurus bagian publick relationship. Nanti yang bagian penerima produk yang mau di iklankan bisa juga menghubungi produsen perusahaan."
Pembicaraan demi pembicaraan terus bergulir. Simon menunjukkan sebagai bos yang baik dan juga kemampuan memimpin dia tunjukkan di depan semua staf, karyawan juga kru film dan kru fotografer.
Setelah pertemuan dengan para kreator seniman itu dan mendengar keluhan mereka. Kini Simon mengakhiri pembicaraannya, karena ada beberapa hal yang harus dia kerjakan.
Semua nampak keluar satu persatu dari ruangan Simon.
Raya masuk dengan Alisa untuk menemui Simon, Simon juga harus kenal dekat dengan Alisa. Karena Alisa adalah ikon Symonesta Stars. Alisa yang secara tidak langsung membesarkan nama Symonesta Satrs di kancah internasional dengan masuknya Alisa ke lima besar.
Sejak saat itu, agensi Symonesta Stars sering mendapat job model-modelnya dan juga banyak yang mendaftarkan diri jadi model di agensi itu.
"Silakan duduk, ada apa kalian kemari?" tanya Simon membuat Raya tersenyum lucu.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Alisa heran.
"Kita itu tamu, Alisa. Jadi di persilakan duduk dengan ramah oleh yang punya kantor, hahah." jawab Raya.
Simon hanya menggelengkan kepala dengan tingkah adiknya, dia juga merasa aneh. Tapi mungkin karena terbawa rapat tadi.
"Mau apa kamu Raya?" tanya Simon lagi.
"Emm, kakak tahu kan Alisa?"
"Kenapa memangnya dengan Alisa?"
"Dia kan adiknya Alena, wajahnya mirip dengan Alena meski ada perbedaan. Tapi ya, aku mau mengetes kakak sejauh apa kakak sudah melupakan Alena." ucapan konyol Raya membuat Alisa dan Simon mendengus nafas kasar.
Alisa pikir dia di ajak Raya menemui Simon untuk berkunjung saja dan mengobrol seputar model.
Dan Simon pikir, Raya masuk ke ruang kantornya dengan Alisa ada pembicaraan serius. Ternyata hanya mengetes dirinya.
"Kamu masih tidak percaya denganku?"
__ADS_1
"Ada kalanya, ucapan dari mulut itu tidak di barengi dengan suasana hati. Mulutnya bilang iya sudah tidak peduli, tapi kenyataannya hati masih kasihan, masih berharap dia kembali." ucap Raya.
Mata Simon membola, dia jengah juga dengan tingkah adiknya itu. Baru juga masuk dan bekerja dua hari, sudah di recoki adiknya.
"Kamu pikir kakakmu ini hanya main-main saja? Kakak memikirkan masa depan kakak sendiri, memang tidak mudah tapi, kakak sudah bertekad untuk menghancurkan Alena."
"Nah, kan. Masih ada rasa dalam hati. Yang aku mau kakak sudah hilang sama sekali perasaan sama Alena. Dan kemarin kakak bilang ada perempuan lain yang kakak pikirkan, siapa dia?"
"Kenapa kamu terlalu posesif sama kakak?"
"Karena aku tidak mau kakak di sakiti lagi, di sakiti sampai mental kakak juga hilang. Kalau aku seperti itu, sudah aku pecat dari dulu itu Alena. Tapi aku menunggu kakak yang bertindak."
"Ya makannya kamu sabar dan percaya sama kakak. Baru juga dua hari, kamu sudah kalangkabut." ucap Simon kesal.
Ini lama-lama adiknya yang merusak moodnya dalam bekerja, pikir Simon.
Raya menatap Simon dengan nafas memburu. Entah kenapa dia semakin posesif pada kakaknya, karena dia ingat sudah beberapa kali di kecewakan oleh Alena tapi kakaknya masih juga mengejar dan memaafkan Alena. Bahkan lebih konyol membuat kejutan yang maha dahsyat, membangun perusahaan agensi Symonseta Stars. Itu luar biasa jika di terjemahkan sebesar apa rasa cinta Simon pada Alena dulu.
"Raya, sudahlah. Kakakmu baru bekerja, percayakan padanya. Katanya kamu bilang Simon harus memegang agensinya sendiri. Kok kamu sekarang jadi tidak percaya banget sama kakak kamu." ucap Alisa.
Raya terdiam, dia tidak tahu kenapa melakukan itu pada kakaknya. Raya menarik nafas panjang, lalu dia meminta maaf pada Simon.
"Maaf kak, aku hanya khawatir kakak tersakiti lagi." ucap Raya lirih.
"Lho, kok gitu. Yang lama di sini itu aku, kakak baru masuk ke agensi ini."
"Tapi aku bosnya, aku bebas memecat siapa saja yang mengganggu pekerjaan dan pikiranku. Tidak peduli kamu itu adikku atau bukan." kata Simon ketus.
Alisa hanya tersenyum saja, dia heran dengan kakak beradik itu. Bagai kuncing dan tikus,Alisa baru tahu mereka seperti itu.
"Kalian ini, seperti kucing dan tikus. Udahlah, aku pergi aja." kata Alisa.
Dia beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Simon. Dia merasa itu urusan pribadi Raya dan Simon, jadi Alisa tidak ada urusan dengan mereka.
"Hai, Alisa. Kamu tahu Raya di mana?" tanya Thomas yang datang membawa beberapa kantong kresek berisi makanan.
"Ada di ruang kantor Simon." jawab Alisa.
"Ruang kantor Simon? Memangnya dia sudah mulai bekerja?"
"Ya, dan mereka sedang berdebat yang tidak penting." jawab Alisa.
"Memang apa yang mereka bicarakan?"
__ADS_1
"Tidak tahu, dan sepertinya kamu harus sabar dengan tingkah Raya kali ini."
"Kenapa?"
"Aku baru tahu kalau Raya posesif banget sama kakaknya, kemungkinan denganmu juga. Hihihi ...."
"Ya, selama dia benar dengan sikapnya. Tapi sepertinya lucu juga ya melihat kakak adik itu bertengkar. Hahaha ..."
"Ya, sangat lucu. Oh ya, aku ke studio dulu ya."
"Hei, kamu tidak mau makan siang bareng dengan kami barangkali? Aku bawa banyak makanan."
Alisa melihat memang di tangan Thomas banyak sekali kantong kresek. Mungkin itu makanan yang ingin di makan bersama.
"Emm, bolehlah. Ayo masuk saja ke ruangan Simon. Mungkin mereka sudah selesai menjadi kucing dan tikusnya." kata Alisa.
Thomas dan Alisa kembali masuk ke dalam ruang kantor Simon. Di susul denga Anindya bertemu di depan kantor Simon, dia memang ingin bertemu dengan Simon.
Saat buka bersama pintu itu, ternyata perdebatan belum selesai. Alisa tertawa kecil, Thomas hanya tersenyum lebar juga Anindya mengerutkan dahinya saja.
"Apa yang kalian ributkan?" tanya Anindya.
Simon menghempaskan pantatnya di kursi lagi, dia melirik adiknya lalu menatap Thomas dan Alisa.
"Besok Raya cuti kerjanya. Kamu tangani jadwal Alisa, Anindya." ucap Simon tiba-tiba.
"Apa?!"
Semua kaget dengan keputusan Simon itu, tapi rupanya Simon tidak bisa di ganggu gugat mengenai keputusannya itu.
"Jangan ada yang protes dengan keputusanku, atau kalian semua aku pecat!"
Setelah berbicara seperti itu, Simon keluar dari ruangan kantornya. Dan yang tampak bingung adalah Anindya, Raya hanya cemberut saja. Sedangkan Alisa tersenyum, lucu sekali pikirnya.
_
~~> intermezo dikit..😄😄✌✌
_
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1