Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
82. Pemanggilan Model


__ADS_3

Simon sudah mendapatkan data model yang di naungi oleh Alena untuk mencari lelaki hidung belang sebagai pekerjaan sampingan. Dan ternyata sudah ada sepuluh orang model yang di pegang Alena.


Simon tampak marah, kenapa sampai sebanyak itu? Dengan mudahnya Alena mengajak mereka, tapi juga para model itu ternyata menyukai apa yang mereka kerjakan di luar jam kerja jadi model di agensi Simon.


"Jadi sebanyak itu?" tanya Raya kaget.


"Iya, mereka ada sepuluh model. Dan kesepuluh model itu semuanya dengan sukarela ikut apa yang Alena lakukan. Mereka ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat." kata Simon.


"Heemm, lalu apa yang akan kakak lakukan? Bukti sudah ada di tangan. Apa yang akan kakak berikan pada mereka yang memang aktif melakukan pekerjaan sampingan itu." tanya Raya.


"Belum tahu, kakak masih bingung. Sebenarnya itu hak mereka mau melakukan apa ketika jam kerja yang di tetapkan oleh manajemen kita pada mereka, tapi jika sampai sebanyak itu. Kakak memang harus bertindak, setidaknya menyuruh mereka sadar." ucap Simon.


Raya diam, dia membenarkan ucapan Simon. Dia pun berpikir, ikut mencari tahu bagaimana solusi untuk mengatasi masalah itu.


"Kak, apa kita tanya satu-satu saja?" tanya Raya.


"Itu rasanya sulit, dan akan semakin tertutup mereka." jawab Simon.


Kembali, Elana terdiam. Dia terus berpikir bagaimana solusinya.


"Bagaimana kalau kita jebak aja kak. Sepertinya itu sangat bagus, soalnya nanti kita katakan pada mereka untuk keluar dari agensi ini. Aku takut nanti semua orang di luar sana, terutama para pengusaha kaya yang mencari kepuasan dari model-model itu akan jadi bumerang buat kita. Lebih baik memang membuat rancana menjebak mereka."


"Tapi nanti ada wartawan yang meliput, kamu tahu sendiri jika satu wartawan tahu akan menyebar dengan cepat."


"Tapi itu tidak bisa di biarkan kak, nanti Alena semakin merajalela. Semua model yang baik akan ikut-ikutan seperti mereka."


"Ya, baiklah. Kita panggil mereka yang baru mengikuti jejak Alena. Kita tunjukkan bukti pada mereka, kalau mau masih di agensi tinggalkan pekerjaan sampingan itu. Bagi yang sudah lama, kita nanti panggil semua dan langsung kita keluarkan." kata Simon dengan tegas.


Kali ini dia tidak mau lagi terus membiarkan Alena memperdaya modelnya untuk ikut pekerjaan yang dia untung sendiri tapi sangat merugikan agensi dan juga modelnya.


"Baiklah, kamu nanti sore kumpulkan model yang sudah kakak tandai orang-orangnya. Ini berkas dan juga beberapa bukti mereka terlibat kegiatan seperti itu." kata Simon memyerahkan berkas pada Raya.


"Apa tidak sebaiknya kakak aja yang memanggil mereka? Kan itu bisa menegaskan kalau perbuatan mereka itu sudah di ketahui oleh pimpinan direktur." ucap Raya.


"Bagi yang masih baru biar kamu saja yang menangani dengan Anindya. Mereka masih baru dan pasti akan sangat malu sekali. Tapi beri mereka peringatan untuk berhati-hati selama masih jadi model Symonesta Stars."


"Kakak memberi mereka kesempatan?"


"Aku sudah bilang, bagi yang masih baru mengikuti jejak Alena dan jadi anak buahnya kamu dan Anindya yang menangani, tapi memberi peringatan pada mereka. Jika mereka masih mengikuti Alena, terpaksa kamu peringatkan dia untuk di keluarkan dari manajemen kita. Dari tadi kakak sudah bilang, bagi yang baru mengikuti saja. Nanti yang sudah lama mengikuti Alena, biar aku yang langsung memecatnya." kata Simon.


"Oh, oke. Kalau begitu nanti sore aku panggil mereka semua, meski ada yang libur akan aku panggil. Tapi sekarang aku mau berunding dulu dengan kak Anindya." kata Raya.

__ADS_1


"Ya, sebaiknya secepatnya kamu lakukan. Aku mendapat selentingan dari para pengusaha kalau model dari agensi kita semua bisa di sewa untuk tidur semalam. Itu sangat merugikan kita nantinya." kata Simon.


"Iya kak, saya keluar dulu."


"Hemm."


Raya keluar dari ruangan Simon, beberapa kali dia menggelengkan kepala. Karena terkejut sudah banyak yang mengikuti jejak Alena.


_


Sesuai dengan jadwalnya, Raya dan Anindya memanggil tiga model yang baru masuk dan beberapa bulan ada di agensinya. Kini Raya, Anindya dan juga Alisa ikut melihat dan bertanya kenapa mereka ikut dengan Alena. Mencari tahu alasan kenapa mereka mau ikut.


Tak berapa lama, pintu di ketuk dari luar. Raya pun beranjak membuka pintu. Karena dia ingin tahu wajah model tersebut.


Anindya, Alisa dan juga Raya penasaran. Meski mereka kadang melihat sekilas lalu karena tidak terjun di tempat studio. Tapi Alisa sedikit paham, hanya saja dia tidak menyangka ketiga model yang pernah dia bimbing ikut terlibat bisnis kotor Alena.


"Silakan masuk, dan sebutkan nama kalian satu persatu." kata Anindya pada ketiga model baru itu.


"Iya kak."


Ketiganya duduk di sofa saling berdampingan. Duduk di kursi sebelah mereka ada Alisa dan juga Raya, sedangkan Anindya memghadap ketiganya sambil menatap wajah satu persatu dengan dingin.


"Kalian tahu kenapa saya memanggil kalian?" tanya Anindya pada ketiganya.


"Tidak kak." jawab mereka.


"Oke, kenalkan nama kalian."


"Saya Rani, di samping kiri saya Nela dan sebelah kanan saya Dewi." jawab Rani memperkenalkan diri dan teman-temannya.


"Hemm, kalian belum tahu ya kenapa saya memanggil kalian?" tanya Anindya.


"Tidak kak." jawab mereka serempak.


Anindya pun mengambil berkas dan juga laptopnya. Dia memperlihatkan laptop itu pada ketiganya.


"Lihat baik-baik ya, setelah video ini selesai beri alasan kenapa kalian melakukannya." kata Anindya.


Alisa, Raya dan Anindya melihat sikap ketiganya yang gugup dan cemas.


Anindya masukkan flashdisk ke laptop dan memutarkan video yang terlihat memang tidak jelas karena suasana di sana gelap dan hanya lampu sorot disko saja. Tapi wajah-wajah satu persatu terlihat di kamera bahwa mereka ada di video tersebut sedang mendapingin laki-laki hidung belang. Kadang tangan model itu meraba bagian dada laki-laki tersebut.

__ADS_1


Tentu saja ketiganya terkejut, kenapa perbuatannya itu ada di video Anindya. Mereka saling menatap dan ketakutan.


Ada beberapa video saling bergantian ketika meninggalkan klub malam dan memasuki hotel di sebelah klub malam itu.


"Coba berikan alasan kenapa kalian ada bersama laki-laki para penjaja cinta semalam?" tanya Anidya.


Diam. Mereka menunduk dan masih diam karena takut.


"Rani, berikan alasannya kenapa kamu melakukan itu?" tanya Anindya.


"Emm, saya di ajak kak." jawab Rani.


"Siapa yang mengajak?"


"Emm, kakak model senior."


"Siapa namanya?"


"Kak Alena."


"Apa hanya itu alasan kalian? Hanya di ajak? Tapi kenapa hampir setiap malam?"


"Saya butuh uang untuk kebutuhan hidup kak."


"Hah! Pasti itu alasan kalian kebutuhan hidup. Kalian tidak sabar mendapatkan hal yang lebih besar dan baik."


Diam, ketiganya diam kembali. Anindya kesal, dia benar-benar kesal sekali.


"Oke, saya tidak mau berdebat lagi. Itu memang urusan kalian, tapi kalian masih jadi model agensi kami. Meski yang kalian lakukan itu adalah di luar jadwal syuting dan pemotretan. Tapi jika terlalu banyak orang yang mengikuti cara kotor untuk mendapatkan uang lebih cepat dan banyak. Kini saya tahu, dan akan memutuskan kalian. Sekarang saya tanya, jika kalian masih ingin jadi model hentikan kegiatan itu. Tapi jika kalian ingin lebih cepat dapat uang dan lebih banyak dengan menekuni pekerjaan haram tersebut, silakan kalian keluar dari agensi Symonesat Stars. Saya tunggu jawabannya besok sore, pikirkan baik-baik. Masa depan kalian itu lebih baik dari pada menjadi seorang pelacur menjajakan cinta pada laki-laki hidung belang di setiap malam di klub dan kafe-kafe." ucap Anindya tegas.


Dia sudah terlanjur marah, pasalnya Simon juga mengatakan kegiatan mereka itu sudah di ketahui oleh pengusaha dan banyak yang mengolok kalau agensi Symonesta Stars adalah sarang model yang bisa di sewa semalam.


Setelah memberi ultimatum seperti itu, ketiga model tersebut pun keluar. Raya, Alisa dan Anindya berharap semua bisa di tangani. Terutama menjerat Alena yang sudah mencemarkan nama baik agensi Symonesta Stars.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2