
Sampai di depan rumah Raya, Thomas menghentikan mobilnya dan menoleh ke arah Raya yang diam menunduk.
"Sudah sampai, cepatlah turun." kata Thomas.
Raya menoleh, dia menatap Thomas dengan kecewa lalu mengangguk.
"Ya, aku akan turun. Emm, apa besok kamu sudah berangkat ke Kalimantan lagi?" tanya Raya.
"Ya, besok jam sembilan. Karena jam sebelas aku ada rapat di sana." jawab Thomas datar.
"Ooh, begitu ya."
"Kenapa?"
"Ngga apa-apa, hanya bertanya. Ya sudah, aku turun. Terima kasih atas tumpangannya dan makan malamnya."
"Emm."
Raya sekali lagi menoleh ke arah Thomas, terasa berat dia ingin turun. Ingin dia mengatakan sesuatu padanya.
"Thomas aku....."
"Halo?"
Suara telepon Thomas berdering, mengurungkan niat Raya untuk bicara. Sedangkan Thomas sibuk dengan teleponnya, Raya pun tidak meneruskan niatnya untuk bicara pada Thomas. Dia keluar dari mobil Thomas.
Berjalan dengan gontai masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan mobil Thomas sudah melaju dengan kencang meninggalkan Raya yang masih bingung dengan hatinya.
Dia segera masuk ke dalam rumah dan ke kamarnya untuk mandi. Pikirannya masih pada Thomas yang sejak dia mengatakan masih terlalu cepat membuat Thomas berubah jadi dingin.
Raya berbaring setelah mandi, pikirannya melayang jauh tentang perasaannya pada Thomas. Benarkah dia juga mencintai Thomas? Tapi kenapa perubahan sikap Thomas itu membuatnya sakit.
Tanpa pikir panjang, Raya mengambil ponselnya dan akan menghubungi Thomas, kali ini dia ingin memastikan hatinya pada Thomas. Di cari nomor Thomas dan menghubunginya, tapi ternyata nomor Thomas tidak aktif.
Hati Raya semakin cemas, dan kecewa. Dia benar-benar sakit setelah menghubungi Thomas ternyata tidak aktif nomornya.
"Thomas, maafkan aku." ucap Raya lirih.
_
Esok paginya, Raya bangun lebih pagi. Jam delapan dia sudah bersiap untuk pergi ke apartemen Thomas untuk memastikan kalau dia juga ternyata menyukai Thomas juga, sebelum terlambat mengatakan dan Thomas akan pergi selamanya.
"Raya, kamu mau kemana sudah rapi begitu pagi-pagi?" tanya Simon yang juga ternyta sudah rapi mau di terapi.
"Aku ada perlu kak, ini masalah hati yang harus di selesaikan." jawab Raya merapikan bajunya.
Simon mengerutkan keningnya, aneh atas apa yang di katakan Raya.
"Masalah hati?" gumam Simon heran.
__ADS_1
Raya bergegas pergi dan dia langsung naik mobilnya, tanpa menghiraukan kakaknya yang memangglnya entah mau apa.
Raya melajukan mobilnya dengan cepat, die berpikir harus minta maaf pada Thomas dan juga mengatakan kalau dia juga sebenarnya menyukai Thomas.
Mobil melaju menuju apartemen Thomas yang cukup jauh dari rumah Raya. Dan pagi begini, suasana jalan cukup macet karena orang berangkat ke kantor semua dan suara deru mesin motor dan mobil saling bersahutan.
Raya melirik jam di tangannya, rasa lapar karena belum sarapan dia tahan karena takut telat bertemu dengan Thomas, sekarang waktunya jam setengah sembilan pagi.
Suara dering ponsel Raya, nama Anindya tertera di sana. Raya tidak menjawabnya karena dia sedang buru-buru dan tidak bisa di ajak bicara. Dering ponselpun berhenti, Raya melihat masih terjebak macet. Dia memukul stir mobilnya karena jalanan belum terurai.
"Ck, kenapa ini macet sangat menyebalkan sekali sih. Kenapa juga aku harus kesal sama dia yang mengacuhkanku semalam. Aaaargh! Thomas, kamu suskes membuatku seperti ini." teriak Raya.
Tak lama mobil mulai bisa melaju, dengan cepat Raya menjalankan mobilnya menuju apartemen Thomas. Semoga saja belum terlambat, pikir Raya.
Sampai di depan gedung apartemen mewah itu, Raya menghentikan mobilnya. Dia segera turun dari mobil dan menuju kantor pos satpam di depan.
"Pak, apa penghuni apartemen bernama Thomas sudah keluar ya?" tanya Raya pada satpam.
Satpam mengerutkan dahinya, dia tidak tahu penghuni bernama Thomas. Raya juga bingung menerangkannya.
"Pak Thomas? Yang seperti apa ya bu orangnya?" tanya satpam.
Raya tampak berpikir, tidak mungkin dia menyodorkan gambar Thomas di ponselnya. Karena dia sendiri tidak punya.
"Ibu punya fotonya? Dan mau apa ibu tanya pak Thomas?" tanya satpam lagi.
"Ya sudahlah pak, maaf mungkin saya salah." kata Raya dengan lesu.
Dan sebuah mobil berhenti di samping mobil Raya, pengemudi mobil itu memperhatikan Raya yang sedang memandang gedung apartemen tempat tinggalnya. Dia pun tersenyum senang, lalu dia keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Raya yang tidak tahu dia mendekat.
Di tariknya tangan Raya untuk masuk ke dalam mobilnya dengan cepat. Raya kaget, dia melihat siapa yang menariknya dengan paksa dan cepat untuk masuk ke dalam mobil.
Meski terkejut, Raya senang dan merasa malu. Ternyata Thomas belum berangkat ke bandara. Raya di masukkan di jok belakang dan Thomas juga masuk. Mereka duduk saling menatap penuh rasa.
Tak lama tatapan keduanya saling mengunci, lama mereka saling menatap penuh kerinduan dan kini tatapan itu beralih pada bibir masing masing dan wajah keduanya pun mendekat. Bibir itu saling bertaut dan mengecap, melepaskan rindu yang memang sejak semalam berkecamuk di dada. Terutama Raya, dia merasa sangat takut jika benar Thomas tidak akan menemuinya lagi.
Keduanya masih saling menikmati manisnya sentuhan bibir masing-masing, hingga Thomas melepas ciumannya itu dan mengelap bibir Raya yang basah karena salivanya. Raya menunduk, dia sangat malu sekali. Lalu Thomas memeluk Raya dengan erat.
"Aku tahu kamu mencintaiku Raya, aku tahu." kata Thomas dalam dekapannya pada Raya.
Raya membalas pelukan Thomas dengan erat, dia kini merasa lega. Sudah cukup hatinya gelisah semalam saja.
"Maafkan aku, aku terlalu malu mengatakan tentang perasaanku sama kamu." ucap Raya.
"Ya, ngga apa-apa. Makanya biar aku saja yang mengatakannya kalau aku sangat mencintaimu, cukup kamu ungkapkan dengan sikapmu. Bagiku itu cukup, karena aku sangat tahu kamu mencintaiku." ucap Thomas.
Raya tersenyum, dia memang sangat malu mengakuinya. Namun kini dia juga yakin kalau hatinya benar mencintai Thomas.
"Aku cinta kok sama kamu." ucap Raya malu-malu.
__ADS_1
"Hahah, ya aku tahu." kata Thomas semakin mengeratkan pelukannya.
Tak lama, Thomas melepas pelukannya dan menatap Raya. Terdengar suara kruyuuk dari dalam perut Raya, hingga dia malu sekali.
"Kamu belum sarapan?" tanya Thomas.
"Belum, aku langsung kesini ingin menemuimu sebelum kamu berangkat ke Kalimantan." ucap Raya dengan wajah bersemu merah.
"Duh, manis banget ya, takut kehilangan aku sampai ngga sempat sarapan dulu." kata Thomas membelai pipi Raya.
"Karena aku ngga mau merasa bersalah dan menyesal terus dengan perasaanku sama kamu." ucap Raya.
Baiklah, kalau begitu ayo kita cari bubur ayam di pinggir jalan sekitar sini." ucap Thomas.
"Tapi kamu nanti ketinggalan pesawat."
"Aku naik pesawat domestik, jadi jam berapa aja bisa kok. Yang penting perut kamu tidak protes terus minta di isi makanan." kata Thomas lagi.
Raya tersenyum malu, dia lalu mengangguk cepat. Keduanya pun turun dari mobil untuk cari bubur ayam pinggir jalan sekitar apartemen itu.
"Aku takut kehilangan kamu, Thomas." kata Raya setelah mereka sudah duduk di depan gerobak bubur ayam.
"Aku tahu, makanya tadi malam aku hanya mengetes kamu aja."
Dahi Raya mengkerut, apa maksud dari ucapan Thomas?
"Maksud kamu apa?"
"Lupakan, setelah ini aku akan menemui papamu."
"Emm, kamu tahu. Satu bulan lagi papa dan mama merayakan unversary pernikahan mereka ke empat puluh lima."
"Oh ya? Kalau begitu sekalian juga ya."
"Apa?"
"Emm, ngga. Nanti ngga surprise lagi."
Raya pun cemberut dengan ucapan Thomas yang membuat penasaran. Thomas tersenyum senang telah membuat Raya berwajah lucu seperti itu.
Bubur pesanan mereka telah datang, lalu keduanya makan dengan lahap sambil bercerita apa pun tentang masalah masing-masing.
_
_
promo lagi nih guys, novel bagus patut di coba yaa...😉😊
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤