Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
86. Detik-Detik Penangkapan Alena


__ADS_3

Alena membawa Alisa pergi ke hotel yang dia pikirkan adalah Alisa harus di jual dan sidah tidak suci lagi seperti dirinya. Dengan begitu, dia akan mendapatkan uang banyak juga.


Tapi melajunya mobil Alena menuju hotel yang tidak di.ketahui oleh siapapun, ternyata di belakang mobil Alena sudah ada mobil Richard yang melaju kencang, sesekali mobil Richard menabrakkan mobil Alena. Tentu saja Alena kaget dia menoleh ke belakang, dan ternyata mobil Richard mengejarnya.


"Sial! Richard mengejarku, berarti dia tahu aku membawa kekasihnya. Heh, baiklah kita lihat seberapa lihai membawa mobilnya." kata Alena.


Alena menginjak gas dengan kencang, mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Kini mobil Richard ketinggalan jauh di belakang Alena beberapa kilo meter.


"Waah, dia lati dengan kencang. Dia pikir mengendarai dengan cepat tidak bisa aku kejar. Alisa, sadarlah sayang." gumam Richard.


Lalu Richard pun melaju dengan kencang mobilnya, mengejar Alena yang lari kencang bagai kesetanan. Kedua mobil itu saling berkejaran, hampir menabrak beberapa mobil yang berpapasan. Sampai sumpah serapah dari dalam mobil lain terus berdatangan.


Satu mobil datang ingin menabrak mobil Alena, kini mobil Alena di kepung sisi kanan kiri dua mobil agar tidak bisa lari lebih jauh.


"Sial! Mobil siapa itu?" kata Alena.


Dia melihat satu mobil hitam, tapi tidak di kenal milik mobil siapa itu. Dan mobil itu terus memepet mobil Alena, Alena menginjak gas mobilnya dan malaju kencang. Di susul kembali oleh mobil hitam itu dan menabrakkan bamper mobilnya, hingga Alena terkejut.


Ingin sekali Alena membelokkan mobilnya ke arah hotel yang tadi dia lewati, tapi ternyata mobil Richard dan mobil hitam itu seolah menutup jalannya.


Sampai akhirnya, Alena mengerem mendadak di sebuah rest area yang sepi. Dia berhenti di sana, ingin tahu siapa yang berada di dalam mobil hitam tersebut. Kedatangan mobil itu pun mendadak dan sangat cepat.


Mobil Alena menghadap jalan, di hadang dengan mobil hitam dan juga Richard. Kini Richard keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Alena yang masih berada di dalam mobilnya.


Brug! brug!


Richard menggebrak pintu mobil Alena, agar Alena keluar dan menyerahkan Alisa padanya.


"Keluar kamu Alena!" teriak Richard.


Lama Alena di dalam mobil menyaksikan Richard terus memukuli pintu mobilnya, bahkan menendangnya.


"Alena!"


Alena pun keluar, dia membuka pintu mobilnya dan menatap tajam pada Richard.


"Kenapa kamu merusak mobilku?!"


"Lepaskan Alisa!"


"Hah! Dia adikku, aku bebas mau membawanya kemana saja. Kamu jangan coba-coba menghalangiku membawanya pada laki-laki lain!"

__ADS_1


Richard ingin menampar pipi Alena, tapi rupanya Alena melawan dan menantang.


"Apa?! Kamu mau memukulku hah?!"


"Dasar saudara tidak tahu diri! Manuisa berhati setan, saudara sendiri mau kamu jual pada laki-laki hidung belang. Punya dendam apa kamu sama Alisa? Apa salah dia?!"


"Aku benci Alisa! Aku sangat membencinya, gadis sialan itu telah merebut semua impianku!" teriak Alena dengan sengit.


Kedua orang yang sedang berseteru itu tidak sadar kalau Alisa telah bangun dari pingsannya. Dia melihat Alena dan Richard sedang berseteru. Dia pun keluar dari dalam mobil, dan satu tangan menarik lengannya.


Richard melihat Alisa sudah keluar dan di bawa oleh Raya yang baru saja tiba di sana.


Kini mobil berdatangan dan keluar semua orang-orang dalam mobil. Mereka seperti meliput kejadian tersebut dan memotret Alena yang sebagai model.


Alena terkejut, kenapa banyak sekali kamera mengarah padanya dan memotret wajahnya.


"Hei, ada apa ini hah?!" teriak Alena.


"Mbak Alena, apakah anda benar akan menjual adik anda pada laki-laki di klub malam itu?" tanya salah satu wartawan di sana.


"Siapa yang mau menjual adik sendiri? Kalia ngawur pertanyaannya." kata Alena geram.


"Menurut informasi, anda sering sekali mempekerjakan model untuk menjadi pemuas laki-laki yang ada di klub-klub malam."


"Kata siapa? Jangan sembarangan ya mas kalau bicara!"


"Tapi banyak yang bilang seperti itu, dan buktinya juga sudah ada."


"Mana buktinya?" tantang Alena.


Dia benar-benar terpojok, kali ini hanya itu yang dia gunakan untuk menyangkal kalau dia tidak seperti itu. Dan ada satu orang maju, menaburkan ke arah Alena kertas di atasnya.


Lembaran kertas yang berisikan percakapan sebuah chat media sosial antara Alena dan beberapa model. Para wartawan itu mengambil satu persatu lembaran kertas itu dan membacanya dengan teliti.


"Waah, ternyata benar juga. Mbak Alena itu ternyata jadi mucikari model ya." kata wartawan lain.


"Waah, pekerjaan model hanya kedok belaka. Pekerjaannya sangat busuk sekali." kata yang lain menimpali.


Alena penasaran tulisan apa yang ada di lembaran kertas itu. Dan betapa terkejutnya dia, ternyata kertas itu berisi chatannya dengan para model meminta dan menyuruhnya menemui laki-laki di klub malam. Di sana juga ada yang bertuliskan tarif setiap malam pada modelnya.


Wajah Alena merah padam menahan malu dan marah. Satu orang yang Alena tahu maju ke depan, dia menatap laki-laki maju kedapan itu dengan tatapan memanas dan marah.

__ADS_1


"Jadi itu ulah kamu?" tanya Alena pada Simon.


"Kamu pantas di masukkan ke dalam penjara, menjadi mucikari bagi model dan juga pelayan klub malam untuk melayani laki-laki hidung belang. Polisi akan membawamu dan menjebloskanmu ke dalam penjara Alena. Semua bukti kuat sudah saya laporkan ke tangan pihak berwajib." kata Simon dengan sengit.


"Kamu membalas dendam padaku Simon?!" teriak Alena.


"Lebih tepatnya aku sangat berambisi ingin memasukkanmu ke dalam penjara. Karena sudah merugikan banyak model dan mencemarkan nama baik agensiku. Dan kamu tahu sendiri kan, mereka sudah aku pecat. Perbuatan menjijikan bagi perempuan cantik dan anggun sepertimu, tidak menyangka sekali."


"Kamu puas menjebloskanku dalam penjara? Kamu marah karena membuatmu menjadi laki-laki lumpuh? Hahah, pengecut sekali."


Tak lama dua orang polisi menahan Alena, dia lalu meringkusnya dan di bawa ke dalam mobil petugas kepolisian.


Richard kini merasa lega, begitupun Alisa serta Raya. Alisa mendekat pada Richard dan memeluknya erat. Hampir saja dia di bawa Alena kembali dan di serahkan pada laki-laki yang membayar Alena.


"Syukurlah, kamu selamat. Aku takut saudaramu itu nekat sekali, dia benar-benar di kuasai oleh ambisi dan kebencian padamu." kata Richard.


"Aku selalu bodoh, kenapa aku percaya dengan petugas tadi di kantor agensi."


"Dia kenapa?"


"Dia bilang aku ada yang mencari dan menunggu di luar. Untung aku langsung menelepon Raya dan dia sepertinya langsung menghubungimu."


"Aku baru sampai setelah Alena keluar dari parkiran dan aku tidak tahu dia membawamu pergi." kata Richard.


Raya dan Thomas serta Simon mendekat. Mereka bersyukur Alena kembali selamat dari Alena yang nekat itu.


"Kamu tidak apa-apa Alisa?" tanya Raya yang kini sedang memeluknya.


"Ya, terima kasih ya. Jika bukan karena kamu, mungkin aku sudah tidak, ...."


"Sudahlah, aku panik ketika kamu teriak menyebut Alena. Jadi aku langsung hubungi pacarmu." kata Raya.


Alisa tersenyum, sekali lagi dia sangat beruntung dan bersyukur telah selamat dari kebencian Alena padanya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2