Akulah Malaikat Penolongmu

Akulah Malaikat Penolongmu
88. Maafkan Mama, Alisa


__ADS_3

Ibu Rosi sangat bingung, dia ingin keluar tetapi tidak bisa keluar begitu saja. Karena masih banyak wartawan berkumpul di depan rumah ibu Rosi, sejak kemarin ibu Rosi tidak berani keluar rumah.


"Bagaimana ini, aku harus menemui Alisa." kata ibu Rosi pada diri sendiri.


Dia terus mondar mandir beberapa kali untuk melihat apakah wartawan itu sudah pergi atau belum.


Hari makin siang, mungkin saja menjelang siang wartawan itu sudah pergi. Mencari makan siang atau istirahat dulu.


"Ya, sebaiknya aku keluar ketika jam makan siang saja. Mereka pasti pada istirahat di jam makan siang dan pergi untuk cari makan." katanya lagi.


Dan jam makan siang sebentar lagi, ibu Rosi mempersiapkan apa yang akan dia bawa. Tapi mungkin hanya tas dan ponselnya saja. Dia kemudian memesan taksi online agar nanti setelah dia keluar dari rumah langsung masuk ke dalam mobil taksi dan para wartawan akan kecolongan tidak bertemu dengannya.


Itulah pemikiran ibu Rosi, dia langsung memesan taksi online. Dan tak berapa lama, taksi yang dia pesan pun datang. Dengan cepat ibu Rosi keluar dari rumah dan mengunci pintunya. Dia melihat memang di depan juga agak sepi, jadi buru-buru keluar pagar dan langsung naik taksi yang sejak tadi menunggunya.


"Ibu, maaf. Boleh wawancara sebentar?" tanya salah satu wartawan yang kebetulan masih ada di sana.


Ibu Rosi naik mobilnya dan menyuruh supir segera berangkat.


"Ibu Rosi beri tanggapan mengenai pemberitaan Alena tadi malam bu." teriak wartawan tadi membuat teman-teman wartawannya ikut berlari mengejar mobil taksi itu.


"Pak, cepat jalan. Jangan berhenti, biarkan saja wartawan itu." kata ibu Rosi.


"Baik bu."


Mobil melaju pelan, karena di depan wartawan ada yang menghadangnya. Tapi pengemudi taksi itu terus menghindar para wartawan yang mengerubungi mobil taksi tersebut.


Hingga agak jauh dan tidak bisa di kejar, mobil melaju dengan kencang. Ibu Rosi pun lega, bisa terhindar dari para wartawan itu.


"Huh, akhirnya bisa lolos juga." kata ibu Rosi.


"Memangnya kenapa bu dengan wartawan itu?" tanya sang supir.


"Ngga apa-apa, saya juga tidak tahu kenapa mereka pada berkumpul di depan rumah saya." jawab ibu Rosi.


Dia tidak mau semakin banyak yang tahu siapa anaknya itu, dan kenapa para wartawan itu mengejarnya.


_


Sampai depan rumah Alisa, ibu Rosi turun dari mobil taksi online tersebut. Dia membayar sesuai tarif, lalu mengetuk pintu garasi di depan satpam.

__ADS_1


Satpam itu mendekat dan bertanya pada ibu Rosi.


"Ada apa ya bu?" tanya satpam.


"Majikanmu ada di rumah?"


"Ada, kebetulan hari ini nona Alisa sedang libur." jawab satpam itu.


"Kalau begitu, buka pintunya. Saya ingin bertemu dengan anakku." kata ibu Rosi.


Lalu satpam itu membuka pintu garasi dan membiarkan ibu dari majikannya itu masuk dan bertamu dengan anaknya.


Ibu Rosi bergegas masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintu rumah terbuka. Dia tidak tahu kalau Alisa ada kekasihnya yang sedang berkunjung. Ibu Rosi terus melangkah masuk sampai di ruang tamu, dia melihat Alisa sedang tertawa dengan Richard.


Ibu Rosi berhenti sejenak, lalu melangkah mendekat pada Alisa. Dia berhenti ketikan Alisa menatapnya juga.


"Ada apa ma?" tanya Alisa.


Dia mendekat pada ibunya, dia tahu ibunya datang untuk membicarakan masalah berita tentang Alena. Ibu Rosi menghela nafas panjang, menatap Richard yang juga melihat ke arahnya.


"Bisa mama bicara sebentar denganmu saja?" tanya ibu Rosi.


Dia lalu menoleh ke arah Richard, meminta izin meninggalkannya untuk bicara dengan ibunya.


"Pergilah." kata Richard.


Alisa pun membawa ibunya ke meja makan, di sana dia mengajak ibunya bicara.


"Duduk ma."


Ibu Rosi pun duduk, tidak ada kekesalan pada Alisa. Alisa juga duduk di depan ibunya itu, saat ini Alisa juga ingin berdamai dengan ibunya itu. Karena dia merasa kasihan dengan ibunya, yang harus sibuk menghindar dari wartawan-wartawan di rumahnya. Alisa tahu di rumah ibunya itu pasti banyak wartawan.


"Alisa, mama mau bicara masalah kakakmu. Bagaimana bisa dia masuk penjara?" tanya ibu Rosi.


"Aku tidak tahu ma, direktur agensi yang melaporkannya." jawab Alisa.


"Alisa, ibu minta tolong kamu bilang sama direktur agensimu itu untuk mencabut laporannya." kata ibu Rosi.


Alisa diam menatap ibunya, sesungguhnya dia kasihan. Dengan kasih sayang yang salah, membuat ibunya seperti itu. Dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Ma, mama tahu kenapa Alena di penjara?" tanya Alisa.


Dia pasti tahu, ibunya itu tahu apa yang di kerjakan anaknya itu. Ibu Rosi diam, dia menatap Alisa yang sendu dan terlihat kecewa padanya.


"Mama tidak begitu tahu dengan kakakmu itu, tapi tadi pagi mama melihat berita di televisi kalau kakakmu itu masuk penjara." jawab ibu Rosi.


"Ya, dia masuk penjara karena dia semalam membawaku untuk pergi ke hotel. Mama tahu mau di apakan aku ke hotel?"


Ibu Rosi menggeleng cepat, yang dia tahu memang anaknya jadi germo para model.


"Dia mau menjualku ke laki-laki hidung belang ma, dan itu yang kedua kalinya. Anak kesayangan mama itu sudah dua kali mau menjualku pada laki-laki pemuas nafsu birahi ma, di mana letak tidak bersalahnya Alena? Dia pantas mendapatkan ganjarannya, masuk penjara. Dia saudara yang berhati kejam, ma. Dan mama masih saja membela Alena, lalu aku? Aku siapa mama?" tanya Alisa.


Ibu Rosi diam, dia juga merasa bersalah. Tapi setidaknya dia berharap Alisa memaafkan kakaknya itu.


"Alisa, maafkan mama. Mama hanya kamu memaafkan kakakmu itu, walau bagaimanapun dia itu saudaramu." kata ibu Rosi.


"Aku selalu memaafkan Alena ma, tapi proses hukum tetap berlanjut. Dia tidak boleh berkeliaran lagi, dan aku juga takut akan kembali mendendam padaku." kata Alisa.


Ibu Rosi menunduk, dia pun terisak. Alisa mendekat, duduk di sebelah ibu Rosi. Selama ini dia memang sering menentang pada ibunya itu, karena ibunya masih angkuh dan membela anaknya yang salah itu.


"Sudahlah ma, biarkan Alena menerima hukumannya sesuai perbuatannya. Jika aku memaafkan Alena, tidak dengan Richard dan juga teman-temanku di agensi. Mereka sudah sangat kesal dengan Alena itu, mama jangan bersedih seperti ini. Apa yang ada dalam pikiran mama itu hanya Alena?" tanya Alisa yang penasaran, sebenarnya sebesar apa rasa sayang ibunya pada nya.


"Maafkan mama, Alisa. Mama yang salah, semua karena mama memanjakan kakakmu. Jadi dia lebih angkuh dan keras kepala." kata ibu Rosi.


Alisa memeluk ibunya, sungguh sejujurnya dia juga ingin di peluk oleh ibunya. Namun saat ini yang bersedih adalah ibunya, jadi dia yang memberi ketenangan pada ibunya.


"Aku selalu memaafkan mama, dan juga aku minta maaf kalau dulu pernah berlaku kasar sama mama." kata Alisa.


Ibu Rosi tersenyum, dia pun membalas pelukan anaknya itu. Merasa lega karena Alisa tidak seperti dulu lagi.


Dan kini yang dia cemaskan keadaan Alena di dalam penjara itu. Banyak dakwaan untuk anaknya, Alena.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2