
Setelah mengetahui memang Alena adalah kembaran Alisa itu gadis yang membuat kakaknya Simon lumpuh dan tidak bisa jalan, kini Raya semakin dekat dengan Alisa. Dan berpikir akan membuat Alena marah.
Ya dia berencana memang membuat Alisa merubah nasib dan penampilannya, selain dia juga merasa kasihan dengan Alisa yang selaku di buly oleh teman-temannya. Dia memang ingin membuat Alena marah dan iri pada Alisa.
Dengan menjadikan Alisa model di rumah produksi milik kakaknya Symonesta Stars, terbukti memang Alisa itu cerdas dan pintar menjadi model. Sampai dia jadi model terkenal sekarang. Raya sendiri merasa senang, meski memang dia sengaja jadi manager Alisa.
Setiap gayanya juga alami tidak di buat-buat, sangat foto genik. Alisa memang tubuhnya sangat tinggi semampai serta bisa di bilang sangat ideal bagi perempuan setiap laki-laki. Hanya saja memang Alisa di tutupi dengan sifat pendiamnya itu dan karena wajah cacatnya.
Makanya Raya sangat antusias mendaftarkan Alisa di Symonesta Stars. Karena pada saat itu juri langsung di datangkan dari luar negeri untuk menilai langsung para kontestan kecantikan. Dan terbukti Alisalah pemenangnya.
Memang ada permainan Raya untuk masuk ke kontes itu, namun Alisa jadi pemenangnya murni juri Pamela Emerson model internasional. Dan Alisa berhak juara.
Falsh back off
Tidak seperti gosip yang di sebarkan oleh Alena. Dan kini Raya belum membalaskan perlakuan Alena pada kakaknya. Dalam hati dia akan membalas semua yang di lakukan Alena, baik pada kakaknya atau pun pada Alisa.
"Raya, bagaimana dengan Alena sekarang?" tanya Anindya pada Raya.
"Aku belum menemukan cara untuk menghancurkan Alena. Saat ini aku masih fokus dengan Alisa yang sebentar akan mengikuti kontes model di Singapura mewakili agensi kita." jawab Raya.
"Emm, baguslah. Kamu fokus pada Alisa, biar Alena aku yang mengawasi. Aku akan memberikan job sebagai awal mula ketenarannya, setelah itu kita akan terjunkan langsung dia." ucap Anindya.
"Iya kak, terserah kak Anin aja. Aku akan fokus pada Alisa." kata Raya lagi.
_
Kini persiapan Alisa untuk mengikuti kontes model di Singapura beberapa minggu lalu akan jadi hari-hari yang sibuk. Di samping Alisa kursus bahasa Inggris untuk memperlancar komunikasinya dengan para model Asia dan Australia. Karena memang kontes itu hanya model yang berasal dari Asia dan Australia.
Ini awal yang baik bagi Alisa, sehingga dia bisa mengembangkan karirnya di kancah internasional. Alisa juga tidak berharap banyak, tapi dia hanya ingin menambah wawasan saja dan menambah teman seprofesi.
"Apa yang harus aku siapkan, Raya?" tanya Alisa.
"Tidak ada yang perlu kamu siapkan, semua sudah di siapkan oleh mnanjemen Symonesta Stars. Tinggal siapkan mental dan kursus bahasa Inggrismu agar lebih lancar. Karena itu juga bisa di nilai juga oleh juri, berarti kamu siap untuk bersaing dengan mereka yang sesama prosesional." jawab Raya.
"Baiklah, sebelum berangkat ke Singapura aku ingin libur satu hari saja. Boleh kan?" tanya Alisa.
"Tentu saja, biar kamu segar dan ceria nanti di kontes itu tanpa beban." jawab Raya.
Keduanya kini sudah masuk ke dalam studio untuk bersiap melakikan latihan selanjutnya.
Setelah selesai latihan, kini Alisa menunggu Richrad di parkiran. Saat ini suasana sudah sepi, Raya juga sudah pulang karena dia pikir Alisa sudah bersama dengan Richard.
Alisa duduk di kursi tunggu hanya sendiri, sesekali terlihat pegawai managen dan agensi lalu lalang di malam hari itu. Sambil bermain ponsel, Alisa tidak tahu kalau ada seseorang yang berdiri dengan angkuh di depannya.
Baru setelah Alisa di injak kakinya dengan keras, dan terkejut. Alisa mendongak siapa yang menginjak kakinya dengan keras.
__ADS_1
"Alena? Apa-apaan kamu?!" teriak Alisa menatap Alena heran.
Alena menatap Alisa dengan sinis sambil bersedekap. Wajah kesal pada Alisa terlihat jelas sekali.
"Kamu semakin sombong ya, kamu mengusir mama dari rumahmu sendiri? Mentang-mentang sudah sukses jadi model, kamu mengusir mama dari rumahmu sendiri. Kamu tahu, itu mama kamu. Tapi kamu malah mengusirnya dengan jahat." ucap Alena dengan keras.
Membuat orang yang sempat lewat dan memperhatikan keduanya. Tidak lupa ponselnya siap beroperasi menjadi wartawan dadakan dan merekam perdebatan mereka.
"Siapa yang mengusir mama?" tanya Alisa heran.
"Ya kamulah, minggu kemarin mama ke rumahmu. Dia minta uang sama kamu, kamu ngga kasih uang sama mama justru kamu mengusir mama seperti mengusir gembel di jalanan." kata Alena ketus.
Alisa menatap sekeliling, dia yakin ini jebakan Alena untuk memancing amarahnya dan seketika dia akan memukulnya. Tapi Alisa bukan orang bodoh. Dia pun berdiri dan mendekat pada Alena, kini dia tidak lagi di tindas oleh Alena meski hanya ucapan saja.
"Alena, kamu membuat drama lagi? Ini sudah malam." ucap Alisa tenang.
"Ooh, sekarang pun kamu juga mengusirku seperti gembel?"
"Apa aku seperti orang yang sedang memgusirmu seperti gembel. Atau memang kamu mau aku usir juga seperti gembel yang selalu menggangku?" kata Alisa berbisik.
Dan wajah Alena mengeras, dia pun tanpa sadar menarik rambut Alisa dengan kencang dan mendorongnya juga.
Seketikan tangan kekar Richard menggenggam tanga Alena dengan kuat. Dia menatap tajam ke arah Alena, tangannya masih memegang lengan Alena.
"Kamu mau menganiayai kekasihku?" tanya Richard dengan wajah penuh amarah.
"Ya, dia kekasihku. Dan kamu jangan sekali-kali menganiaya kekasihku, jika itu terulang lagi kamu yang akan aku buat menyesal Alena." kata Richard lagi.
Kamera tersembunyi yang di pasang oleh Alena pun tentu saja merekam kejadian itu. Rupanya dia sengaja membuat rekaman itu untuk di jual pada wartawan yang ingin menjatuhkan Alisa.
Dan kini Alena yang kaget karena Richard malah membela Alisa, lebih mengejutkan lagi Richard mengaku Alisa adalah kekasihnya.
"Richard, apa yang kamu katakan?"
"Heh, kamu tidak akan tahu. Tapi sekarang kamu sudah tahu, karena memang itu adalah kenyataannya. Dan sekarang jika kamu masih saja mengganggu Alisa, ingat akan balasan dariku. Camkan itu Alena." ancamRichard pada Alena.
Dan nyali Alena menciut, dia menatap Alisa kecut. Dan lalu pergi dari hadapan Alisa dan Richard dengan perasaan kesal dan cemburu menjadi satu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Richard merapikan rambut Alisa.
"Aku ngga apa-apa." jawab Alisa.
Kini keduanya pun pergi, tapi saat Alisa melangkah kakinya dia meringis. Ternyata sepatu Alena yang tadi menginjak kakinya sengaja dengan high heel agar bisa menancap tajam ke kaki Alisa.
"Auw."
__ADS_1
"Ada apa, apa yang sakit?" tanya Richard panik.
"Kakiku sakit, tadi di injak oleh Alena sebalum dia menarik rambutku." jawab Alisa melepas sepatunya.
Dan terlihat kaki antara kelingking dan jari manis terlihat merah, Richard memegang kaki Alisa. Dia lalu berinisiatif untuk menggendong Alisa, tapi Alisa menolaknya.
"Aku ngga mau di gendong." kata Alisa.
"Kenapa? Kaki kamu kan sakit."
"Ngga apa-apa, aku jalan sepatuku di lepas aja. Bias kok jalan."
"Yakin?"
"Iya. Sudah jangan terlalu berlebihan, ini cuma memar sedikit aja kok."
"Ya udah, jalannya pelan aja. Jangan buru-buru."
Richard pun menuntun tangan Alisa, dia membimbing Alinsa sampai ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aku akan membuat perhitungan dengan Alena." kata Richard.
"Ngga usah, biarkan dia. Nanti juga dia sadar sendiri kok." kata Alisa menenangkan Richard.
"Tapi kamu akan seperti itu lagi, di aniaya lagi. Aku ngga terima." kata Richard lagi.
"Sudah, jangan khawatir. Aku tadi melawan Alena, aku juga berpikir ngga mau di tindas terus oleh Alena. Sekarang ayo pulang, aku lelah banget hari ini."
"Maaf ya, aku datang telat." ucap Richard menyesal.
Alisa hanya tersenyum saja, lalu mengecup pipi Richard agar dia tidak merasa bersalah terus.
Richard pun tersenyum dan menghela nafas lega. Dia lalu menjalankan mesinnya dan melajukan mobilnya untuk mengantar Alisa pulang.
_
_
_
Promo novel bagus nih kakak..
mampir ya, ceritanya seru lho... Karya Muda An****n**a**..
__ADS_1
\=> jangan lupa like and komen 😊😊